Aku merasa waktu bergulir begitu cepat dan juga begitu lembut,
hingga membuatku tak menyadari bahwa perlahan-lahan waktu membawa serta
kenangan itu pergi. Tiap malam-malam gelap, doa menjadi pelarianku ketika rindu
ini terlalu kuat dan tak mampu lagi ku bendung. Ada nama mu disana, di setiap
kata yang terangkai indah bersamaan dengan harapan-harapanku. Kau tak pernah
kulupakan dalam setiap rapalan doaku.
Sepertinya membicarakan tentang mu adalah topik utamaku
dengan Tuhan, aku selalu mengusiknya, bercerita kepadanya seperti apa ‘kita’
dahulu, seperti apa kita menjalani semuanya. Aah, segalanya begitu lembut,
begitu sederhana, dan begitu indah. Terkadang aku merindukan semuanya, semua
hal tentang kita, selalu saja begitu, aku selalu merindukan hal-hal yang sudah
berlalu dan berniat mengulangnya lagi, sekali lagi, padahal yang kurindukan
adalah hal mustahil yang mungkin tak bisa diulang kembali.
Kalau aku boleh tahu, apa kabar dirimu saat ini?
Sesungguhnya aku ingin tahu banyak hal tentangmu, dan berusaha, selalu berusaha
mengetahuinya. Kamu tak akan pernah tahu itu, aku melakukannya dengan sangat
bersih, aku berusaha melakukannya tanpa sepengetahuan mu . apa kau lupa kau
pernah meledekku dengan sebutan setan kecil ? ya, sampai saat ini pun aku masih
menjadi setan kecilmu, menguntit mu perlahan, dan mencintaimu dalam diam,
kembali pada saat pertama kali aku jatuh cinta padamu. Manis bukan?
Seperti apapun luka yang pernah kau buat, rasanya hatiku
selalu tulus memaafkannya, aku selalu berusaha mengobati luka ku sendiri,
karena aku tahu hanya kau dan hanya aku yang tahu cara menyembuhkannya. aku
tahu kau bukan tipe orang yang menyukai hal-hal yang aku sukai hanya karena kau
menyukaiku. Aku paham kau bukan tipe orang yang terpaksa mencintai sesuatu
hanya karena dia mencintaimu.
Setidaknya ketahuilah, cinta ini hadir tanpa ‘karena’ juga
tanpa ‘jika’ . bukan aku yang memilihmu, tapi hatiku. kau datang dan membiusku,
menusukkan cinta kemudian kau mencabutnya. Perih memang, namun ini realitanya.
Selama ini aku mencintai sesuatu yang semu, sesuatu yang maya, aku hanya
berpegang pada cinta yang tidak nyata. Rasa nyaman yang kau berikan cukup
menipuku, atau mungkin dulu sesungguhnya cinta itu nyata, hanya saja sesuatu
menjadi penghalang segalanya.
Dengarkan aku, kali ini dengarkan pernyataanku, mungkin ini
terlalu biasa, bahkan terlalu konyol, mungkin ini semacam lelucon untukmu, yang
menggelitik syarafmu untuk menertawaiku, buka matamu, aku masih merindukanmu.
Disini aku masih bersedia menyediakan lengan untuk memelukmu, jika kau
menangis, kau bisa menghubungiku lagi dan aku akan berusaha meredam tangismu,
menghapus setiap air mata yang menggenang dipelupuk matamu.
Ceritakan padaku hal baru yang kau dapat disana, selain
pacar barumu itu. beritahu aku kapan kau kembali, kapan kau menemuiku lagi.
Astaga, aku lupa! Bahkan kau pernah bilang tak akan pernah ke kota ini lagi.
Mengapa? Bisa kau jelaskan padaku? Aku tak mengerti apa alasannya. Apa begitu
banyak yang melukai mu di kota ini, harus nya aku yang pergi dari sini, karena
bayangan mu masih jelas, masih terlihat nyata disini.
Aku masih bertahan disini, berdiri diatas kenangan, berusaha
menata hatiku, aku tahu ini sulit ditambah lagi kenangan mu tak segan-segan
menggerogoti pikiran ku di waktu-waktu tertentu. Ada kalanya moment-moment
khusus yang kulalui membuat ku teringat pada ‘kita’. Terkadang secuil kenangan
yang terputar kembali mampu menjadi besar seketika. Aku tak bisa mengatur dan
mengendalikan mereka, mereka datang dan berkembang dengan sangat cepat.
Kelak, beritahu aku alasan mu pergi. Jelaskan padaku
penyebabmu berpaling, ceritakan padaku kronologi nya. Aku membutuhkan penjelasan
itu, penjelasan yang tak pernah kudengar keluar dari bibirmu. Aku yakin kita
tak akan bertemu lagi,di sini, dikota ini. Tapi siapa yang tahu, kelak kita kan
bertemu dilain kesempatan, dilain kota. Bukan nya Tuhan sangat senang
mempertemukan yang tak disangka-sangka sebelumnya, seperti halnya DIA
mempertemukan mu dengan ku. Percayalah aku bisa menjaga hatiku. seperti katamu
dulu, ya! Aku tak akan jatuh lagi pada kesalahan yang sama. Aku tak akan
memilih bahu yang salah untuk menghapus air mataku, seperti halnya kesalahan ku
mempercayakan hati ku padamu. Pastikan padaku tak ada benci di antara kita. Karena
bagiku setiap cerita punya kenangan tersendiri dan aku tak mau menghadirkan
kebencian pada kenangan kita.
Beruntung kali pria itu ya
BalasHapus