Jumat, 26 April 2013

Aku Bukan Dirinya #2


Sama halnya dengan Gita, Gisel pun tak percaya dengan apa yang ia baca. Mereka akan pulang berdua siang ini ? ia akan pulang berdua dengan Gio kemudian pergi ke perpustakaan daerah juga berdua, hanya berdua dengan Gio ?. aah Gisel tak percaya. Berkali-kali ia membaca pesan singkat di kertas itu namun tulisan itu tetap sama. Tak ada satu huruf pun yang berubah. Gisel merasa semuanya seperti mimpi, secepat itu kah ? hanya karena pertemuan itu, pertemuan di ‘lorong laboratorium’ itu. atau sebenarnya Gio sudah tau kalau Gisel memendam sebuah perasaan yang besar terhadap Gio. Gisel pun masih mencoba menerka-nerka, konsentrasinya buyar seketika. Niat nya untuk melakukan percobaan hilang sudah, hanya karena sebuah pesan singkat dari seseorang yang ia cintai. Seseorang yang selalu ia perhatikan diam-diam. Seseroang yang selalu ia peluk dengan doanya bukan dengan lengannya. Dan seseorang yang selalu ia lihat dari kejauhan. Giovano Dirga, nama yang saat ini berputar-putar dikepalanya, bukan lagi rumus-rumus senyawa kimia, bukan lagi nomor-nomor bilangan oksidasi dan bukan lagi urutan atom di tabel periodik. Gita menatap Gisel dengan senyum termanis nya ia memeluk sahabatnya erat-erat seolah merasakan apa yang Gisel rasakan saat ini.
“Sudah saat nya sel, elu harus coba! Mau sampai kapan megang komitmen buat selalu sendiri. harapan udah di depan mata, elu harus bertindak selangkah lebih maju sekarang.” Gumam Gita meyakinkan Gisel yang perasaannya masih bertanya-tanya tentang maksud surat tersebut.
“belum gita” ujarnya lirih. “ini belum saat nya, gua gak mau terlalu berharap. Terkadang enggak semua hal indah itu disebut harapan. Gua gak mau terlanjur ngeyakinin hati gua dan ujung-ujungnya malah gua yang bakal sakit”.
“yaudah, gua gak maksa elu kok. Apapun yang elu lakuin asal elu bahagia, gua bakal ikut bahagia kok sel” seru gita sembari mengusap bahu Gisel.
“iya makasih ya ta, elu emang sahabat dari orok yang paling baik sedunia. Udah aaah, masak kita lembek kayak lemper gini kalau udah bahas masalah perasaan. Miris banget, gak seru tau. Tuh mata lu jadi makin sipit tuh, udah mirip garis malah”. Canda gisel yang menyebabkan cubitan-cubitan dari Gita di pergelangan dan bahunya.
“gisel!! Elu tadi udah janji gak akan ngeledek gua lagi”. Seketika itu juga ruangan laboratorium terasa sesak dan ingin pecah akibat suara Gita yang melengking keras. Gisel menutup telinganya dengan kedua tangan nya. Ia berusaha melindungi rumah siput dan gendang telinganya agar tidak rusak karena suara Gita yang melengking itu.
“iya, ampun Gita!” balas Gisel dengan suara yang tak kalah nyaringnya dengan suara Gita.
“Gisel, lu ngapain teriak-teriak, lu kira ini ruangan Hutan rimba apa ?”. Gita memasang wajah sok polosnya yang selalu saja membuat gisel tergelitik kemudian tertawa ketika melihat ekspresi wajah Gita yang seperti gadis idiot tersebut.
“nah kan elu duluan yang teriak-teriak kayak tarzan kelaparan ta, kok malah gua yang elu tegur. Turunin dulu tuh oktaf suara lu. Bisa hancur telinga gua kalau setiap jam dengar suara secempreng itu”.
“hahaha. Suara emas begini lu bilang cempreng, yang ada suara elu tu serak-serak becek kayak di pangkalan ojek sel. Hahaha”.
“asem lu. Udah ah cabut yuk. Lama-lama ni rungan serem juga kalau ada elu, abis suara lu kalau ketawa beda-beda tipis ama eyang nya kuntilanak ta”.
“asem lu sel”. Seru gita yang kemudian mendengus kesal dan memajukan bibir tipisnya.
Keduanya berjalan menuju kelas masing-masing. Gisel dan Gita memang tidak sekelas bahkan tidak satu jurusan. Gisel dengan otak kimianya itu pastinya memilih IPA sedangkan gita dengan jiwa sosialnya itu pastinya memilih IPS. Keduanya memang sering beradu argument tentang jurusan masing-masing. Manusiawi sih, terkadang keduanya membela jurusan masing-masing. namun, pada akhirnya keduanya menganggap jurusan apapun yang mereka pilih dan jalani saat ini, semua itu saling berhubungan dan saling berkaitan. tidak ada yang lebih hebat, karena apapun jurusannya, apapun provesinya semua itu tidak buruk kecuali provesi tersebut melanggar norma dan hukum.
*****
Gisel melangkah dengan ragu. Gedung sekolah berangsur-angsur sepi. Begitu pula dengan parkiran sekolah. Hanya tinggal beberap motor saja yang masih bertengger disana. Sosok itu sedang menunggu, menunggu jawaban surat yang tadi siang ia titipkan pada seorang cewek berembut panjang dan bermata sipit yang tak lain adalah sahabat gadis yang kini ia tunggu. Gio duduk dengan resah diatas motornya. Sedangkan gisel sendiri masih ragu untuk berjalan kearah Gio. Irama jantungnya masih sangat kacau, ia takut Gio mampu mendengar suara jantungnya yang sangat kacau itu apabila ia nekat menghampiri Gio saat ini juga. Gisel meyakinkan dirinya untuk menemui Gio, ia tak mau membiarkan orang yang ia cintai menunggu lama. Tarikan nafas yang cukup dalam sepertinya cukup untuk membuang rasa gugup yang Gisel rasakan. Kini irama jantungnya sedikit lebih teratur dan ia sudah punya keberanian lebih untuk melangkah.
“hai kak Gio, udah lama nunggu ya ?” sapa Gisel ramah.
“eeeh, hai. Enggak kok. Baru aja, paling nunggu 5 menit doang”. Gio berbohong bahkan ia telah menunggu gisel sejak bel sekolah dibunyikan. Hingga saat ini saat parkiran sekolah sudah sesepi ini mana mungkin hanya 5 menit.
Gisel mencoba mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menatap mata coklat itu. terlalu banyak getaran yang akan terjadi dan ia menghindari semua itu. “hmm, maaf udah buat kakak nunggu. Oh iya jadi kita mau kemana ?”
“kita mau ke RSJ nganterin kamu. hahaha”
“oh ya ? berarti kakak juga ikut dong. Kan kakak yang gila duluan” ledek Gisel tak mau kalah.
“tapi kamu yang lebih gila, kalau dimasukin ke perbandingan kamu 3 aku 1”.
“aaahh curang!!” suara gisel naik beberapa oktaf.
“cempreng ah suaranya, sakit nih telinga aku”. tutur gio sembari menutup kedua telinganya.
“yee, jarang-jarang loh kak dengar suara aku yang kece ulala itu. hahaha”
“nah, PeDe nya kumat, udah buruan naik deh. kamu keburu meleleh disini ntar ngeliatin muka aku yang cetar kalau kata syahrini mah”.
“lah emang kakak siapa nya syahrini ?” Tanya gisel dengan memasang wajah sok polos.
“ya itu tukang ojeknya dulu, kan sering macet jadi dia naik ojek.hahaha”.
“ooh pantesan tampang nya mirip tukang ojek kak. kak Gio tukang ojek paling top deh. hahaha”.
“hah, aduh kejebak omongan sendiri nih, kamu pinter banget sih. Padahal belum ada lho yang bisa ngalahin aku kalau lagi ledek-ledekan gini”.
“wah karena aku orang pertama aku dikasih hadiah dong ya. Harus lho!”
“yaudah naik dulu, atau mau jalan kaki.hehehe”.
Gisel pun segera naik dan duduk manis dibelakang Gio. Motor gio membelah jalanan padat kendaraan itu selama 15 menit. Selama 15 menit itu pula Gisel harus bertarung dengan polusi dan debu-debu yang dengan girang nya terbang lalu-lalang di tengah udara yang panas.
                                                          *****    
Bangunan tua itu tampak klasik tak banyak yang berubah hanya saja beberapa bagian sudah mulai rusak dan layak untuk mendapatkan renovasi. Dua anak manusia berbeda pemikiran itu menyusuri lorong-lorong tua dengan lukisan-lukisan sejarah yang menempel erat pada dindingnya. Rak-rak buku yang tingginya kurang lebih 2 meter tersusun rapi di ruangan tersebut. Tiap rak memiliki kategori masing-masing. Gisel menyusuri rak-rak puisi dan sajak sedangkan Gio sendiri menyusuri rak-rak buku kategori Musik. Keduanya pencinta seni namun berbeda aliran. Gio suka Hardrock sedangkan Gisel menyukai klasik. Gio tak terlalu suka sastra dan persajakan tapi ia mencintai seni teater. Gio dan Gisel mengambil beberapa buku dari rak-rak tersebut kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Tak seperti perpustakaan pada umumnya, pada perpustakaan ini pengunjung duduk lesehan khas zaman dulu.
“kakak baca buku apa ?” Tanya gisel memulai pembicaraan.
“ooh ini, buku sejarah tentang musik. Kamu sendiri baca buku apa ?”
“ini aku suka puisi jadi yaa aku ambil buku kumpulan puisi gitu”.
“waah berarti kamu bisa bikin puisi dong ?” Tanya Gio antusias.
“hmm, bisa sih kak tapi enggak ahli. Hahaha”.
“wah keren-keren dari biasa dan bisa pasti akan jadi ahli”
“semoga aja sih kak heheh”.
“Gisel, kamu suka teater gak ? besok ada pertunjukan di Balai Kebudayaan. Kamu mau nemanin aku nonton bareng gak ?”.
“hmm, teater ya kak ? boleh deh”.
“oke besok aku jemput kerumah kamu ya”. Gisel hanya mengangguk pelan meyetujui usul Gio.
“Gisel Jangan panggil aku kak lagi ya, kita ini seumuran loh. Cuma beda tingkatan aja”.
Gisel menegakkan wajahnya yang tadi tertunduk membaca bait-bait puisi dari buku yang ia ambil. Matanya terbelalak menatap Gio. Ia tak menyangka ternyata Gio seusia dengannya. Bahkan kini Gio memintanya untuk berhenti memanggil Gio dengan sebutan ‘kak’.
“lalu aku harus panggil apa ? gak sopan dong kalau aku panggil nama aja”.
“hahaha. Muka kamu lucu ya kalau kaget begitu, ya udah disekolah aja panggil ‘kak’ nya kalau diluar ya panggil Gio aja”.
“Tunggu dulu, aku butuh bukti kalau kamu itu seumuran sama aku, siapa tau aja kamu lagi kumat terus pengen kelihatan muda makanya kamu bilang kamu seumuran sama aku”. seru gisel penuh curiga.
“Gisel,Gisel!. Gak percayaan banget sih sama aku. ngapain juga aku pengen kelihatan muda kan emang muka aku jauh lebih muda, hahaha”. Gio pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, ia memberikan kartu tersebut pada Gisel. Gisel menerima kartu itu dengan antusias dan membaca identitas yang dideskripsikan dalam kartu tersebut.

Giovano Dirga
NIS                     : 3341
place/Birth           : Pekanbaru, 2 Februari                       1995

 





Sekali lagi Gisel menatap Gio dengan penuh rasa curiga. Sesungguh tidak semustahil yang ia pikirkan, semua bisa saja terjadi.
“tetap aja kamu yang lebih tua” ujar gisel sembari mengembalikan kartu tersebut pada Gio.
“hah, Cuma beda 4 bulan doang juga”. Seru Gio protes.
“iya tapi tetap aja Tua” sanggah gisel sembari mengejek Gio.
“ya udah deh aku ngalah,  yang lebih tua ngalah. Eh udah sore kita pulang yuk”.
“oh, ya udah bentar ya aku kembaliin buku nya ke rak dulu. Punya kamu mau sekalian gak ?” Tanya gisel menawarkan jasanya pada Gio.
“ooh, boleh deh. makasih ya gisel”.
Gisel hanya tersenyum kemudian dua kata singkat keluar dari mulutnya “sama-sama” ujarnya lembut.

Senin, 15 April 2013

no title

tidak terasa ya sudah lama kita tidak saling menyapa, sudah berbulan-bulan mata kita tak saling beradu pada satu titik yang sama. rasa nya akhir-akhir ini semua itu menghantuiku lagi. kamu sosok pria yang dulu membuat aku harus menahan napas tiap kali bertemu denganmu, kamu pria yang selalu membuat ku harus tertunduk ketika mata hitam pekat mu membidik titik terkecil pada mataku, apa kabar kamu? aku rindu senyum sinis mu, rindu tawa renyah mu, juga rindu kehadiran jemarimu yang mengisi tiap celah dijemariku. aku rindu ketika hujan datang dan aku meringkuk dalam pelukan mu. aku rindu tiap kali dingin menyusup membekukan tubuhku dan genggaman mu semakin erat pada jemariku.
kamu yang kini jauh di sudut kota sana. aku berharap kau selalu disini, tapi itu dulu. yaa dulu!. sekarang semua sudah berbeda. aku bukan lagi hantu kecil yang selalu mengikuti langkahmu. yang selalu melangkah bersama mu. dan kamu bukan lagi dalang yang tiap kali bel pulang selalu ku nanti di koridor itu, koridor sekolah tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu.
akkhh, aku mengingatnya lagi, mengingat kejadian pertama kali aku melihatmu. tak ada senyum dan tak ada sapa, aku hanya berani memperhatikan dan melihatmu dari kejauhan. ketika jarak kita sangat dekat maka aku akan mengalihkan pandanganku darimu. benar-benar kekanak-kanakan. berawal dari mading dan dilanjutkan oleh sebuah lilin. aku nyaris tak percaya ternyata cerita pertemuan kita tidak seromantis roman-roman dan kisah-kisah di sinetron ataupun dongeng.
tidak! aku tidak akan menceritakan apapun tentang pertemuan kita. aku hanya sekilas mengingatnya. selebihnya buku kecilku telah lebih dahulu mengetahui cerita panjang nya. apa kau masih ingat? tentunya tidak. aku tidak akan menarasikan nya disini. itu hanya akan membuatku kembali terpuruk kedalam kenangan-kenangan lama. apa kau tega melihatku yang nyaris sembuh ini kembali terluka lagi? apa kau bahagia melihat hati yang dulu menjadi ruangan ternyaman untuk cintamu tersayat lalu kemudian menyisakan bekas luka yang sangat dalam? sebelum kau melakukannya untuk kesekian kali aku memilih menghindar. cukup! aku tak mau merasakan sakit itu lagi.
bukan!aku bukan membenci mu, hanya saja aku masih terlalu khawatir berdekatan dengan mu. biar bagaimanapun kau masih mampu melukaiku dengan segudang kenangan itu. ada saat ketika hati benar-benar tak mampu menahan rasa rindu. aku paham cinta itu masih ada dan tersisa. aku sedang berbicara tentang realitanya. apa kau mengerti dan paham bagaimana aku menjalani semuanya dengan begitu mudah? kau akan berpikiran begitu dan memang terlihat begitu. namun, kau tak akan mengerti arti dari setiap tetesan air mata yang tiap malam harus mengalir membasahi bantalku. kau tak akan pernah paham bagaimana aku berusaha sekuat mungkin menyugesti diriku sendiri untuk melupakanmu. maksudku bukan melupakan melainkan untuk menghilangkan perasaan yang dulu pernah tumbuh dihatiku.
tiap kali namamu berotasi dikepala ku, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. kamu kini telah jauh berubah. aku mengerti dan maklum ketika kamu pun tak pernah menghubungi ku lagi. aku memang sedikit kecewa. namun,rasanya aku tidak layak untuk kecewa. kamu, mungkin tak akan pernah menyediakan perhatian untuk membaca tulisanku ini. tapi kelak aku yakin hatimu akan tergerak membaca tulisan demi tulisan yang pernah kubuat. entah itu lusa atau pun kelak tapi aku yakin hari itu pasti ada. 

Sabtu, 06 April 2013

kaki ku terasa lemas. tubuhku serasa kehilangan banyak energi. mulutku tak lagi mampu mengeluarkan banyak komentar. aku sendiri tidak begitu mengerti dengan istilah-istilah anatomi yang dijelaskan oleh dokter Clara. istilah-istilah itu sangat jarang terdengar oleh telingaku, bahkan ini kali pertama aku mendengar langsung ocehan-ocehan yang biasa ku dengar dari guru biologi ku. aku berjalan terhuyung menuju ruang ICU. seorang perawat baru saja keluar dari ruangan itu. aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa yang terbaring di dalam sana adalah ibu ku. ibuku yang selalu sabar menghadapi anak tolol seperti ku.
"sus, apa saya sudah boleh menjenguk ibu saya ?" tanyaku pada perawat berwajah bulat tersebut.
"oh, silahkan saja, pasien sudah bisa dijenguk" jawabnya ramah dengan senyum menawan. 

suara berderit kembali menggelitik syaraf telingaku. aku berusaha membuka pintu ruangan itu secara perlahan. aku tak mau mengusik ibu yang ku sayangi yang sedang beristirahat didalam sana. hentakan langkah ku perlahan membawa ku ke bibir ranjang. ada rasa tak tega melihat kondisi wanita tua yang selalu menjadi pelampiasan amarahku itu. tangan nya yang keriput ditembusi oleh selang infus. selang oksigen bertengger di hidungnya. mencari celah agar dapat mengalirkan oksigen ke paru-paru nya. 
aku berusaha menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam diriku. napas ku mulai tak mampu ku kendalikan. perintah otak ku tak lagi di gubris oleh indera pada tubuhku. aku menggit bibir bawahku sekuat yang aku bisa. namun, tetap saja ledakan itu tak mampu ku cegah. air mata itu tertumpah deras. aku menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara dan mengusik ibuku.

ketakutan ini tak mampu untuk ku lewati sendirian, terlalu gelap jalan yang harus kulalui. sosok yang seharusnya jadi kebanggan kini menghilang entah kemana, meninggalkan aku dan ibu tanpa kejelasan. semuanya berubah ketika ayah meninggalkan ku, aku benci pria dan benci cinta. hidupku berputar180 derajat, hatiku penuh luka dan dendam. itu alasan mengapa ibu kerap kali menjadi pelampiasan amarah ku. emosi yang tak dapat ku kendalikan akhirnya akan berujung pada bentakan dan kata-kata kasar yang ku layangkan terhadap ibuku.

ku usap lembut jemari yang pucat itu. hawa dingin terasa menyelimuti jemari ibu ku. "bu" ujar ku perlahan. namun, ibuku tak bergeming semuanya tetap hening. "bu, aku Lulus dan pengumuman beasiswa ku akan keluar besok, ibu masih mau mendoakan aku agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu kan ?". kalimat yang ku ucapkan seperti melayang di udara, hilang tanpa balasan, hanya saja aku tidak marah, aku tidak lagi mengumpat ibu dengan kata-kata kasar yang kerap kali ku tujukan padanya.

"bu, aku pamit pulang dulu ya, aku mau membereskan keperluan kita selama dirumah sakit, cepat sembuh bu". sesaat kemudian aku berdiri, memandang wajah sayu itu, kemudian mencium kening bundaku. lagi-lagi aku harus menahan butiran-butiran yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk mataku. aku segera keluar dari ruangan itu, rasanya tak ada luka yang lebih perih ketimbang harus mengetahui bahwa ibu yang bahkan belum sempat ku bahagia kan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

                                                                                 ****
aku tiba di rumah, ruangan ini terasa sunyi. biasanya ibu selalu duduk di kursi goyang nya sembari menyelesaikan rajutan-rajutannya. biasanya ibu menyambut ku kemudian menyiapkan makanan untuk ku. aku segera mengganti pakaian ku kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk ibu. perut ku terasa lapar, kemudian aku menuju ruang makan dan melihat sepiring nasi goreng yang tadi pagi belum sempat ku makan. aku memasukkan suapan pertama ku kedalam mulutku , rasanya masih sama, masih lezat dan aku selalu suka rasa masakan ibu walaupun tak jarang aku menyianyiakan makanan ini.

seketika rasa takut menghantui ku,kepalaku kembali memutar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Dr. Clara. kalimat-kalimat tersebut membuat ku sulit untuk bernafas. sungguh aku takut ibu pergi meninggalkan ku, sakitnya ibu tidak sesederhana penyakit demam atau flu, bahkan jelas-jelas saat ini penyakit itu bisa saja merebut ibu dariku. mulutku terasa sulit untuk mengunyah makanan ku. "apa ini juga akan menjadi sarapan terakhir yang ibu buat untukku?". "tidak, tidak" aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ibu akan segera sembuh dan kami akan bersama-sama lagi. aku segera menyelesaikan suapan terakhir ku dan segera bergegas menuju rumah sakit, aku tidak mau membuat ibu menunggu lebih lama.

sebelum tiba dirumah sakit, aku sempat menghubungi ayah, hanya saja jawaban pria bodoh itu tetap sama. "ayah akan membiayai pengobatan ibu hingga lunas kamu tak usah khawatir". aku tak memungkiri bahwa aku juga membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, hanya saja bukan itu yang benar-benar ku perlukan saat ini, aku butuh dia untuk menguatkan ku, sungguh aku tak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. ayah tak pernah berubah bahkan di tengah masalah seperti ini ia masih sibuk memikirkan egonya sendiri.

aku kembali ke ruangan ibu, tempat dimana orang yang paling ku cintai masih terbaring tanpa perubahan. ibu yang sangat gigih kini terbaring lemah tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit, tempat yang paling ia benci.
"ibu, aku janji bakal bawa ibu keluar secepatnya dari rumah sakit ini" batin ku dalam hati. seolah mendengar perkataan ku air mata ibu terjatuh seketika. ada perasaan lega dihatiku melihat ibu mulai merespon sedikit demi sedikit kata-kata yang aku ucapkan.

hari demi hari berlalu, sudah 3 bulan ibu dirawat dirumah sakit ini, dokter bilang keadaan ibu sudah mulai membaik dan sudah bisa segera di bawa pulang. hatiku bukan main girangnya ketika tahu bahwa ibu akan segera kembali kerumah. ku siapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk ibu. aku membelikan ibu roti kesukaan nya dan beberapa mawar yang telah aku susun rapi di kamar ibu.

siang itu juga setelah membereskan biaya perawatan ibu, aku membawa ibu pulang kerumah. setibanya dirumah ibu cukup terkesan dengan penyambutan kecil-kecilan yang telah aku buat, ya walaupun dengan modal sederhana dari tabungan yang sudah cukup lama aku kumpulkan. tadinya uang itu ingin aku belikan sebuah handphone baru tapi bagiku membuat ibu bahagia lebih penting saat ini. aku sadar perlakuan ku terhadap ibu selama ini sudah sangat membuatnya terluka dan aku ingin memperbaiki semua itu.

"ibu suka gak sama semuanya?" tanyaku pada ibu yang senyum nya melebar ketika pintu rumah kami kubukakan untuk nya.
"sangat nak, ibu sangat senang sekali, terimakasih ya"
"sama-sama bu sekarang ibu ke kamar ya, ibu harus istirahat" 

Rabu, 03 April 2013

mom, sorry about my mistakes #1

aku memutar gagang pintu itu dengan kasar kemudian membanting benda itu keras. wajah ku memerah menahan amarah. wanita paruh baya yang tengah duduk menyelesaikan rajutan ditangan nya menatap ku dengan wajah kaget nya. untuk kesekian kalinya tanpa pamit aku memasuki istana ku. untuk kesekian kalinya pula aku pulang tanpa terlebih dahulu mencium tangan wanita tua itu. tak ada senyum yang terpancar di wajahku senyum yang seharusnya dengan ikhlas selalu ku persembahkan untuknya. untuk wanita tua yang selalu menyertai ku.
kupandang wajahnya dari balik tirai kamarku yang tersingkap. dahulu wajahnya tidak keriput. dahulu tangannya juga tidak keriput. dahulu tak ada kacamata yang bertengger indah diwajahnya. dia bundaku. terkadang aku tak sadar ketika memperlakukannya dengan kasar. ia masih asyik merajut. bingkai foto itu aku banting keras. bukan dia penyebab amarahku, tapi entah mengapa dia yang selalu menjadi tempatku menumpahkan rasa kesalku.
ia mengelus dadanya kemudian memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. tangan keriputnya dengan teliti dan hati-hati membuang serpihan-serpihan itu pada tempatnya. dengan langkahnya yang gontai ia perlahan menuju bilik ku. "ada apa nak?" tanyanya penuh perhatian. aku tak menjawab napas ku memburu menahan emosi yang meletup-letup dihati ku. "kenapa kamu banting barang-barang kamu, nak? apa kamu sedang ada masalah ? apa ada yang bisa ibu bantu ?". aku menatapnya dengan tatapan sinis. "tidak! ibu mending keluar aja, ibu gak akan pernah mengerti masalah ku" sahut ku membentaknya.
ia mengelus rambutku beberapa kali "ya sudah kalau begitu ibu keluar, kamu jangan lupa ganti pakaian lalu makan. habis itu coba merenung dan kendalikan emosi kamu. kamu sudah dewasa, tidak sepantasnya meluapkan emosi dengan cara seperti itu" gumam perempuan tua itu dengan nada lembut, tak ada getaran amarah yang kudengar. ia masih memperlakukan ku dengan lembut. ia dengan sabar mengahadapi aku yang selalu menjawabnya dengan ketus. aku sedikit melirik kearah pintu yang perlahan tertutup. ada kekecewaan diwajahnya. aaah, ada rasa menyesal yang seketika menyelimuti perasaanku. palu gelisah itu  memakukan rasa sesal itu dengan sangat dalam dihatiku.
aku masih tak menggubris pesan terakhirnya. amarah yang sejak tadi ku pendam tak lagi mampu kutahan. ditambah lagi dengan penyesalan yang membentak hatiku. "ibu, maaf" gumamku lirih. sebutir air mata mengalir dari mataku. aku menatap kosong langit-langit kamarku. entah sudah berapa lama cat nya tidak diganti, sehingga terlihat sedikit pudar.
"tang-tang buku.. tang-tang buku..." tiba-tiba suara-suara itu bergantian melewati telingaku. berdengung kuat menggelitik syaraf-syaraf telingaku. otak ku bekerja dengan cepat, tanpa butuh waktu lama, ingatanku mengembalikan semua data-data belasan tahun yang lalu. aku tidak melihat wanita tua dengan kulit tangannya yang telah keriput. aku hanya melihat seorang ibu muda memelukku, menciumku, kemudian menimang-nimang ku keudara. jemari mungilku digenggam nya erat, seakan tak ada satupun yang boleh mengambil ku darinya, seakan tak ada seorangpun yang boleh melukai ku. "ibu, aku sayang ibu" ujar seorang anak kecil yang baru saja di belikan sepotong es krim oleh ibu muda itu. "ibu juga sayang kamu" seru ibu muda itu sembari mengusap lelehan es krim yang menetes mengotori seragam bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh putri kecil itu.
tanpa sadar aku tertidur pulas, otak ku lelah bekerja. lelah memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu yang indah itu. antara mimpi atau sadar, aku merasa ada langkah yang perlahan-lahan memasuki kamar ku. dengan perlahan dan lembut, ia menarik selimut yang ada dikaki ku kemudian menyelimuti tubuhku. aku merasakan pelukan hangat dari tubuh itu. sebutir air mata dari matanya menetes mengenai tangan ku. aku masih enggan untuk bangun dan membuka mataku. aku tau dia wanita kuat yang selalu mengajarkan ku tentang makna kehidupan. ia wanita yang selalu  berjuang menjadikan ku sebagai seseorang yang berguna. dia ibuku yang kerap kali ku perlakukan dengan kasar, yang kerap kali ku bentak, yang seharusnya semua itu tidak aku lakukan padanya. perlahan sosok itu menjauh, kemudian menghilang di balik pintu kayu itu.

*****
"bu, aku pamit" seru ku setengah berteriak, karena terburu-buru.
"loh, enggak makan dulu nak, ibu udah siapin makanan". sahut suara yang terdengar sedikit parau dari arah dapur.
"nanti saja bu, sudah terlambat. hari ini harus cepat. keburu ramai nanti susah dengar pengumuman nya. doain lulus ya bu". gumam ku sembari menenteng tas yang biasa menemani ku menuntut ilmu.
"ya sudah, hati-hati dijalan. ibu cuma bisa berdoa aja semoga anak ibu ini lulus"
"amin bu". sahutku sembari menyambut tangannya kemudian menciumnya. entah sudah berapa lama aku tidak melakukan rutinitas yang dulu selalu kulakukan. aku sendiri menyadari semakin aku beranjak dewasa semakin jarang aku melakukan hal itu.
aku tiba di gedung yang penuh dengan murid-murid berseragam sama dengan ku. hanya butuh waktu 10 menit dari rumahku menuju tempat ini. gedung yang menjadi tempatku mendapatkan ilmu.gedung yang menjadi tempatku berkutat dengan rumus-rumus sin kuadrat, hukum newton, dan lain sebagainya. beberapa diantara teman-temanku sudah berteriak histeris dan bersorak-sorak seperti orang kesurupan. aku menanggapi semuanya dengan biasa saja, hal itu bukan hal yang asing lagi bagiku. sudah berkali-kali aku melihat ekspresi itu ketika kelulusan tiba. baik ketika kelulusan kakak kelas dan bahkan kelulusan angkatan ku.
aku segera mengambil langkah seribu, sedikit berlari menuju ruangan kepala sekolah. puluhan murid sudah mengantri demi selembar surat yang menjadi penentu masa depannya. kini  tiba giliranku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tanganku mendadak berubah menjadi dingin. surat yang kini ada di genggaman ku akan menjadi penentu masa depanku, surat ini akan menjadi hadiah yang akan ku persembahkan untuk wanita yang telah berhasil mendidik ku menjadi seperti sekarang ini. LULUS! kata itu yang menjadi kesimpulan paragraf-paragraf panjang yang menurut ku terlalu bertele-tele itu.aku bersorak gembira, turut larut dengan teman-temanku yang meluapkan kegembiraannya dengan bersorak dan berteriak histeris. "ibuku berhasil" seru ku  dengan suara nyaring.
tiba-tiba getaran di saku ku yang berasal dari handphone hadiah dari ibuku menyadarkan ku dari hal-hal gila yang tengah ku lakukan bersama teman-temanku. aku mendengarkan baik-baik tiap kalimat yang disampaikan oleh sumber suara di ujung sana. sekujur tubuh ku terasa lemas, dada ku sesak. percakapan itu telah ditutup. aku merasa oksigen berhenti mengalir mengisi paru-paru ku. aku segera berlari meninggalkan keramaian itu. segera mencari angkutan apapun yang dapat membawa ku secepatnya sampai di tempat itu.

tak peduli dengan keadaan ku yang kacau, aku berlari menyusuri lorong-lorong menyeramkan itu. melewati hiruk pikuk yang terjadi di UGD. melewati puluhan perawat dengan seragam putih bersihnya. aku tiba didepan sebuah ruangan yang terkunci rapat. ada sedikit celah jendela tempat aku melongokkan wajah ku untuk sekedar mengintip kedalam ruangan tersebut. disana aku melihat beberapa perawat serta seorang malaikat dengan jubah putihnya. jubah kebesaran yang selama ini aku mimpikan. jas dokter serta gelar dokter yang sangat ingin aku raih. tangan-tangan itu berulang-ulang menghitung dan memeriksa denyut nadi sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang mungil itu. "ibu" panggil ku terisak sembari mengusap  jendela kaca di tempatku berdiri saat ini.
aku terduduk lemas di ruang tunggu. menanti pintu ruangan ICU itu terbuka. rasa sesal, sedih, dan takut berkecamuk dalam hatiku. seolah menyiksa ku dan mengiris hatiku. aku terlalu lemah menghadapi ketakutan ini sendirian. rosario tergenggam erat oleh jemariku. lantunan merdu doa ku panjatkan demi kesembuhan sosok sang ibu yang selama ini sering ku kecewakan.
gagang pintu itu terbuka, menyebabkan sedikit bunyi berderit akibat gesekan nya dengan lantai keramik yang tiap menit selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. "apa kamu saudara dari ibu tersebut?" tanya dokter yang terlihat manis dengan kaca mata berbingkai cokelat tua di wajahnya. "iya dok, saya anaknya" sahut ku dengan nada bergetar menahan tangis. "mari ikut keruangan saya ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda".
setengah mengangguk, kemudian aku mengikutinya berjalan kearah lorong yang sebelumnya sempat ku lalui. kami tiba di sebuah ruangan yang sangat rapi. ada papan nama disana. clara. Dr.Clara, nama yang indah sesuai dengan orang yang saat ini ada dihadapan ku. "silahkan duduk" ujarnya mempersilahkan ku.
"dok, sebenarnya ada apa dengan ibu saya ? tetangga saya bilang ibu saya tiba-tiba terjatuh lalu pingsan dan dilarikan kerumah sakit ini"
"saya pikir kamu sudah cukup kuat untuk mendengar ini semua, berapa usia mu?" tanya dokter clara antusias.
"17 tahun dok" jawab ku singkat.
"baik lah mau tidak mau aku harus mengatakannya, saat ini ibu mu dalam masa kritis. ia mengalami koma". mata ku terbelalak mendengar ucapan dokter clara, tak ada satupun kalimat yang bergeming dari mulutku, jantung ku semakin berdetak tak beraturan". dokter clara kembali melanjutkan penjelasannya dan aku semakin menyediakan telinga "ibu mu terserang suatu penyakit yang langka,  Multiple System Atrophy (MSA). 
dimana penyakit ini disebabkan oleh degenerasi sel-sel syaraf di otak, ya hampir mirip parkinson. penyakit ini mempengaruhi beberapa bagian otak, dan fungsi-fungsi gerakan keseimbangan tubuh".
aku tak percaya dengan apa yang kudengar. bagaimana mungkin ibuku yang terlihat sehat-sehat saja ternyata mengidap penyakit langka yang bahkan baru kali pertama kudengarkan namanya.
"lalu apa masih bisa disembuhkan, dok ?" tanyaku penuh harapan.
"entahlah, kasus ini langka. dan kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter ahli syaraf".
kalimat demi kalimat yang dikumandangkan oleh dokter Clara benar-benar bagai anak panah yang menohok perasaanku. ini lebih dari sekedar luka, perih yang kurasakan saat ini benar-benar tak dapat ku tahan lagi. aku menangis terisak. bahu mungilku naik turun seiring isakan dari bibir mungilku. hatiku mencari-cari perlindungan. namun, aku tak menemukan pelindung itu. dokter Clara mengusap lembut pundak ku "tenanglah kami akan berusaha dengan baik".


#bersambung


Selasa, 02 April 2013

Berdamai Dengan Masa Lalu


Untuk kesekian kalinya aku berdiri disini di antara tingginya ilalang dan rerumputan. Batang-batang ilalang yang menjulang tinggi menyembunyikan tubuhku dari sengatan mentari. Ditangan ku telah tergenggam erat sebuah pena dan sepucuk kertas yang sebentar lagi akan menemaniku menjelajahi masa lalu. Otak ku memulainya. Setiap sel syarafnya mulai bekerja. Namamu berotasi disana. Berputar-putar tanpa lelah. Kenangan itu silih berganti terpapar dengan jelas dalam ingatanku. Tidak sedikitpun moment-moment masa lalu itu terlupakan oleh ku.
Balutan rasa cemas membungkus hatiku. aku yang sekarang ini bagaikan seseorang yang berjubahkan rasa sakit dan kecewa. Trauma yang mendalam membuatku berhenti mencari-cari makna sebuah cinta. Bahkan yang telah ku simpulkan sendiri , bagiku cinta hanya sebuah perasaan yang menyakitkan. Omong kosong ada orang yang mencintai kelemahanmu, semua berharap kesempurnaan.
Kata-kata pahit itu bermunculan dari memori ingatanku . Seolah-olah aku kembali mendengar kau mengucapkannya berkali-kali. Ku cari darimana datang nya asal suara itu. namun, aku tak berhasil menemukannya. Kusibak batang-batang ilalang yang menjulang itu mencari suara yang benar-benar tidak asing di telingaku. Aku  Mencari sesosok pria bermata sipit dengan bola hitam pekat di tengahnya.  Aku tetap tidak berhasil menemukan mu, menemukan bayanganmu pun aku tak mampu. Suara itu tak kunjung hilang. Aku kehabisan akal, kata-kata itu silih berganti memekakkan telingaku. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Setidaknya alam mendengarku, mereka, rumput-rumput yang tak bermata itu, aku yakin mereka bertelinga dan mampu mendengar jeritan ku, jeritan batinku.
Lututku menghujam tanah dengan keras. Aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa sakit yang menyiksa dadaku. Ratusan pisau tajam kini tengah menyayat hati ku. Tanpa ku perintahkan lagi-lagi sepasang mata ku menciptakan aliran anak-anak sungai yang melewati garis pipiku. Melodi perasaan ini terlalu kacau. Sesak yang kurasakan tak mampu lagi ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku tak mengerti betapa begitu berat perasaan ini melepaskan semua yang bukan lagi menjadi milikku. Melepas semua kebiasaan yang tidak lagi kita lakukan  bersama.
Sudah cukup lama kita tidak berkabar. Dan kini aku merindukanmu. Merindukan tawamu. Merindukan hangatnya jemarimu yang mengisi celah-celah pada jemariku. Sungguh, aku merindukan semua tentangmu, tentang ‘kita’. Aku yang dulu berjalan disampingmu kini harus mundur beberapa langkah ketika bertemu denganmu. Aku yang dahulu selalu berani menatap matamu, kini harus tertunduk lesu ketika mataku melihat jemarimu mengisi celah-celah jemari ‘NYA”.
Tak ada gunanya aku menangis. Semua sudah berlalu. Namun, tak akan ada juga yang pernah mengerti sejahat apa kau mempermainkan perasaanku. Seolah aku persis boneka. Ooh aku lupa kau seorang pria. Tak selayaknya kau memperlakukanku seperti boneka karena pria tidak bermain boneka, baiklah akan segera kuganti. Kau memperlakukan hatiku persis sebuah layang-layang yang kau tarik ulur sesukamu. Ketika kau merasa bosan maka akan kau tinggalkan begitu saja.
Saat ini aku memang masih menitikkan air mata ketika mengingatmu mengingat semua hal tentangmu. Aku sadar mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu dalam sehingga saat kau menyakitiku pun aku belum menyadarinya. Hingga luka itu benar-benar dalam dan aku baru merasakan perihnya. Akan kutunjukkan padamu bahwa aku bukan mainan mu, aku bukan selembar layangan yang dengan sesuka hatimu kau tarik dan kau ulur. Sudahlah ini air mata terakhirku, jangan pikir aku akan menangis lagi untukmu. Tidak akan pernah!
Kupikir kau terlihat serasi dengan boneka barumu itu. aku mungkin cemburu tapi setelah kupikirkan kembali aku tidak sedang cemburu. Aku hanya kasihan melihat hidupmu, miris melihat keadaanmu. Kau pikir kau berhasil mempermainkan mereka ? tidak! Kau yang kini sedang mereka permainkan. Ada saatnya kau akan membuka matamu lalu menyadari karma sedang menuju dan akan segera menyerang hidupmu.
“aku bosan, dan selama ini kau hanya ku anggap permainan. Aku tidak serius”. Aku terkekeh mengingat kata-kata itu. air mata ku telah mengering. Aku tidak lagi selemah yang kau perkirakan. Sudah tidak ada lagi air mata yang dengan Cuma-Cuma akan ku berikan padamu. Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Aku hanya menjaga jarak dengan seseorang yang berpeluang besar untuk menyakitiku kembali. Kau!. Kau yang aku sayangi bahkan dengan kejamnya dalam sekejap mata mampu menghancurkan setiap mimpi yang kupunya. Mimpi yang berharap akan segera kuwujudkan bersamamu.
Aah sudahlah. Sudah cukup aku menguak kisah-kisah itu kepermukaan. Aku tidak ingin sesak ini semakin mengikat paru-paruku dan menahan aliran oksigen yang menuju otakku. Aku tidak ingin lagi rasa sakit itu mengalir bersamaan dengan darahku. Jangan pernah menyesal dengan keputusanmu. Aku disini selalu memelukmu dengan doaku. Dengarkan aku! aku tidak membencimu. Sesungguhnya setiap kesalahan yang telah kau perbuat telah aku maafkan. Kini aku hanya tengah berusaha berdamai dengan rasa sakit itu. berdamai dengan mu dan berdamai dengan masa lalu.
Jangan usik aku. apa kau tau, aku nyaman menulis tentangmu. Rasa sakit ini seolah menantangku untuk terus menulis tentang kisahmu dan kisahku. Rasa sakit ini menuntun pena ku untuk bergerak menuliskan semua yang ada dipikiranku. Semilir angin ini menemaniku tenggelam bersama masa lalu. Masa lalu yang sebentar lagi akan menjadi sahabatku, sahabat penaku. Tunggu aku kelak, aku pasti akan menemuimu lagi. Semoga kita bisa bertemu disatu tempat dimasa yang akan datang. Dan aku akan berterimakasih padamu atas jasamu yang telah memberikanku semangat untuk menulis. Rasa sakit yang tak pernah aku lupakan. Kelak akan ku berikan padamu hasil dari rasa sakit yang telah kau berikan padaku. Kau pria yang dulu menyayangiku~