Rabu, 27 Februari 2013

Waktu dan Jarak adalah malaikatku

binar senja sudah terlihat menuju tempat peristirahatannya. dan kemudian sang rembulan bersama para bintang menggantikan tugasnya. mentari terlihat lelah. sudah seharian ia menari bersama langit dan bersama burung-burung yang mencoba menembus awan. kau yang duduk disebelahku mampu melihat nya. kita masih melihat senja berlalu dan menatap nya bersama-sama. kau menatapku, lalu tersenyum "kau sama indahnya dengan senja yang tergantung dilangit itu" gumam mu memujiku. "kau bohong! seruku, mana mungkin aku mampu mengalahkan indahnya sang senja. "hati mu mampu mengalahkannya". aku hanya mampu tersenyum mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir indahnya.
"apa kau masih ingat kejadian hari itu ?" suara mu tiba-tiba mengejutkan ku yang sedang terbuai dengan ranumnya sang senja. "apa?" sahutku singkat. "kau lupa ? hari itu, hari dimana kau dan aku terikat menjadi satu ?" bukankah tanggalnya sama seperti saat ini ?" gumammu mengingatkanku. aku terbeliak, mataku menyipit dan dalam hati aku mengutuk diriku yang sudah mulai pikun. bahkan usiaku saat ini masih sangat belia untuk satu kata itu "pikun". atau aku hanya lupa, bukankah lupa tidak ada obatnya, ahh sudahlah semakin aku membahasnya semakin aku meraa bersalah.
aku menatap dia yang kini mulai merapatkan posisi duduknya denganku. ada guratan kecewa diwajahnya. matanya muai redup, ahh aku menghancurkan hari ini. dengan rasa bersalah aku menatapnya. mencoba meminta maaf atas kesalahan fatal yang ku lakukan. "kau marah padaku ? maaf karena aku lupa soal ini, dan soal hari ini!. bukankah kau yang mengatakannya padaku, tak penting bagaimana cara kita memaknai hari jadi, melainkan bagaimana kita menjalankan hari-hari sebagai sepasang yang telah dijadikan oleh Tuhan". kau hanya memandang wajahku, lalu menghadap ke atas, kembali menatap langit yang mulai gelap. sesaat kemudian telunjuk mu mengarah pada salah satu bintang yang paling terang namun hanya bercahaya sendirian dan jauh dari bintang lainnya lalu kau menatap mata ku "aku tak marah padamu, kau benar sayang, cinta bukan bagaimana kita merayakan hari jadi. melainkan bagaimana kita menjalani hari-hari kita sebagai sepasang yang telah di jadikan Tuhan". kau bergumam sambil menunjuk kearah bintang itu, dan aku penasaran. "untuk apa menunjuk bintang itu". kau hanya tersenyum dan memelukku, semakin lama pelukmu semakin erat. aku tak mengerti apa yang terjadi padamu, yang kurasa ada sesuatu yang membuatmu gelisah. "kelak aku akan sama seperti bintang itu, bercahaya namun menyendiri, aku memang berada dikeramaian, namun semua pasti sepi. tanpa mu, tanpa pelukanmu, tanpa senyumanmu, dan bahkan tanpa omelan mu yang telah mewarnai hari-hariku selama ini". kata-katamu membuatku semakin kebingungan, aku mencoba mencari-cari makna perkataanmu, namun tak ku temukan. lalu aku berusaha bertanya, berharap kau menjelaskannya padaku. "aku tak mengerti, apa maksudmu. bukannya aku selalu disini. bukannya aku selalu untukmu, selalu membuka telinga ketika kau butuh didengarkan, dan selalu melebarkan tangan ketika kau butuh pelukkan ?". kau hanya terdiam, dan menatap mataku dalam-dalam. aku benci menatap matamu!, kau tau kenapa ?. karena matamu begitu mudah meluluhkan ku, mata mu dengan mudahnya mencuri sebanyak-banyaknya cinta yang kupunya. semakin dalam kau menatapku, semakin sulit aku terlepas darimu. aku benar-benar kecanduan. siapa dirimu sebenarnya ? kau bahkan melebihi zat adiktif yang digencar-gencarkan oleh ahli-ahli biologi dan kimia.
kau masih terdiam, tak ada kata-kata yang bergeming dari mulutmu. aku masih menunggu. dengan sabar menunggu kau menjelaskan hal itu padaku. kau mulai berbicara, dengan bahasa tubuhmu. aku tau kau resah. tapi apa? bisa kau jelaskan padaku?. "aku akan pergi, setidaknya berpisah ratusan kilometer darimu. apa kau bisa menjaga dirimu ? apa kau bisa menjaga cinta yang ku tinggalkan disini, dihatimu ?". kau mengatakannya dengan begitu siap. apa semua ini telah kau rencanakan ?. kau tau apa rasanya mendengarkan hal itu ?. tidak! bahkan kau tak akan pernah merasakan nya. aku hanya mampu terdiam, tak mampu menjawab banyak. seluruh sel-sel tubuhku masih mencoba mencerna kata-kata yang barusan kau ucapkan. memoriku mengulang kata-katamu berkali-kali. cukup! aku muak, ini begitu sulit. bagaimana mungkin kau yang biasanya hadir disini, disisiku dan bahakan berjalan bersamaku tiba-tiba menghilang, menjauh, dan bahkan berjarak ?. bagaimana mungkin kau yang tak pernah terlepas dari bidikan mataku tiba-tiba menghilang ?
"ini lelucon ?" tanyaku mencoba meyakinkan semuanya. "tidak!" sahutmu singkat. aku bergeming, kembali melihat langit. inikah waktunya untuk berpisah ? atau inikah waktu yang sedang mengujiku ?. kau mencoba meyakinkan ku, kau bilang semuanya tak akan seburuk yang aku perkirakan. mengapa tidak berani mencoba, seru hati kecilku. "aku siap! aku bisa! dan aku akan mencoba kuat, berapa lama kau pergi ?". kau mulai tersenyum kembali, mungkin itu senyum terakhir yang kulihat. "kupikir hanya untuk beberapa saat. mungkin akan sedikit lebih lama. namun aku janji, aku pasti mengunjungi mu disini". lengan ku tak lagi kuat bertahan, aku memelukmu dan berharap kau bisa merasakan resah yang kurasakan. meskipun semuanya tak mungkin lagi tercegah, kepergianmu pasti akan membuatku harus menyesuaikan diri kembali. aku harus beradaptasi dengan keadaan baru. keadaan dimana tanpa melihat dan mendengar bahkan menyentuhmu.
"kembali secepatnya" gumamku terisak dalam pelukmu. kau memelukku dengan erat lalu membisikkan sesuatu ditelingaku, "aku janji, secepatnya akan kembali. sabar menungguku disini, dan aku akan berjuang mengalahkan jarak disana". kupikir semuanya cukup. kejadian ini membuatku mengerti bahwa cinta bukan berarti harus selalu melihat, harus selalu mendengar dan harus selalu saling bersentuhan.
keadaan telah mengajarkanku bahwa cinta soal perasaan, bukan soal fisik, materi, atau yang lainnya. terkadang kita memang membutuhkan kenyamanan, namun semuanya bisa terwujud, bahkan dirimu sendiri mampu membuat kenyamanan untukmu. bahkan jarak juga terkadang merasakan bagaimana seseorang yang merindukan pasangannya. dan waktu akan menjadi malaikat yang berjuang mempertemukan keduanya~

Selasa, 26 Februari 2013

Antar Jarak Dan Cinta (LDR)

aku melihat lagi matahari yang sama seperti yang terbit di hari-hari sebelumnya. teriknya masih sama seperti beberapa bulan yang lalu. ingatanku tepat jatuh dimasa lalu. hari itu mentari sedang terik-teriknya. aku mengeluh padamu berharap kau beri keteduhan. kau tak melakukannya, kau hanya tersenyum simpul kepadaku. mata hitam pekatmu menatapku dalam-dalam "sebentar lagi pasti akan hujan" gumam mu saat itu.
lenganmu yang kokoh melingkar dibahuku, saat itu kita masih mampu berjalan beriringan. seketika hujanpun turun. awalnya hanya tetes demi tetes dan bahkan tak mengurungkan niat kita untuk terus melangkah. namun semakin lama langit mengeluarkan air yang lebih banyak lagi. hujan deras tak terbendung, langkah kita terhenti di ruangan itu.
bau khas antara tanah yang beradu dengan gemercik air hujan menyebar menusuk hingga ke paru-paruku. aku hafal betul baunya. dalam sekejap hujan mampu menusukkan hawa dingin hingga ke tulang-tulangku. aku menatap mu, sekedar memandang wajahmu, guratan lelah terpancar disana. kau bersandar diantara dinding dan mengehela nafas panjang.
mata kita kembali beradu pandang, setidaknya untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya kau meraih tanganku lalu menghangatkannya dalam genggamanmu. sederhana bukan ? itulah cinta yang kudapat darimu. "kenyamanan" seperinya kata itu terlukis dengan sendirinya ketika kebersamaan membawaku bersama mu.
kini waktu tlah jauh membawa kenangan itu. sekejap mata semuanya berubah. jarak ? itukah kau jarak ?. kau kah yang kini ada diantara Cinta ?. kita masih berada di kolong langit yang sama bahkan masih melihat bulan yang sama. namun tempat kita telah berbeda. bahkan ketika hujan mengguyur kota ku kau tak merasakan kedinginan yang sama seperti yang kurasakan. sekejam itukah waktu berputar ? sekejam itukah jarak memisahkan ?.
terkadang melihat mereka tersenyum dengan pasangannya, hati ku hanya mampu bertahan. kau mengajarkan ku bagaimana caranya bertahan. apa kau pun melakukan hal yang sama ? apa kau juga bertahan untukku ? bahkan ketika cinta menyatukan kita, lalu jarak memisahkan ini semua, aku yakin rindu ini telah mengajarkan kita bagaimana caranya bersabar dan bertahan.
kadang ketika rindu menyerangku bertubi-tubi, ketika itu pula kau menghilang secara tiba-tiba. menghilang seolah kau adalah cahaya bintang yang redup. sesaat kemudian kau hadir kembali, seolah senyum yang telah kau renggut kau kembalikan lagi dengan utuh. terkadang aku ingin menyerah dengan semua ini. lalu seorang pengecutkah aku jika aku tak mampu mengalahkan jarak ?. selemah itukah aku ketika aku harus menyerah hanya karena jarak ratusan kilo meter yang terbentang di antara kita ? kupikir tidak!.
tanpa harus kukatakan aku telah membuktikannya. aku menyayangimu bukan sekedar kata-kata pamungkas yang kerap kali disampaikan seseorang pada pasangannya. bagiku aku menyayangi mu adalah pembuktian melalui penantian, setia dan percaya padamu. meskipun sering kali cemburu datang menghampiri namun itu karena kau terlalu jauh dariku. bahkan sejujurnya saat ini, saat rindu sudah sangat menggunung, aku ingin kau ada disini dan meyakinkan ku bahwa semuanya baik-baik saja.

Minggu, 24 Februari 2013

Sampai Kapan Aku Harus Bertahan ?

mata hitam pekatmu pernah menatapku lekat-lekat. setiap detail tubuh mu benar-benar membuat guncangan hebat di sekujur tubuhku. apa kau tau matamu meneduhkan setiap udara panas yang mengusik ku ?. apa kau tak menyadari bahwa guratan senyum diwajahmu itu yang membuatku tak pernah berhenti menatapmu.
lalu dimana kau kini ? kau pergi bukan ? bahagiakah kau melihatku terpuruk dalam kesendirian seperti ini ?. jika memang ya, mengapa kau berikan aku kenyamanan. seolah kau taruh harapan bahwa kau akan selalu berada disisi ku selamanya ?. aku tak tahu seperti apa perasanmu. namun ku tekankan padamu. perasaan ini sudah tumbuh seiring perhatian yang kau berikan kepadaku. berhenti membuatku berharap. berhenti membuatku menunggu.
kau bahkan tak tahu seperti apa seharusnya memperlakukan ku ? apakah semudah itu meninggalkan ku ? berkali-kali kau hancurkan, aku masih bisa bangkit dan tersenyum. berkali-kali kau lukai aku masih mampu tegar dan sembuh. bahkan berkali-kali kau bunuh mimpiku, aku masih mampu berjuang untuk hidup kembali. untuk apa ? kau pikir untuk apa ku lakukan semua itu ? tidak kah kesederhanaan cintaku sedikit mengusik hasrat mu ?.
kau tau, aku seolah berperan sendirian dalam drama ini. kau menumpukan semua beban ini padaku. jangan berikan kenyamanan itu jika kau sendiri tak pernah mengharapkan ku. jangan jadikan aku persinggahan mu. kau tak akan mengerti betapa tersiksanya menahan rindu. bahkan kau tak tau bagaimana khayalku membawa aku terbang jauh melampaui batas kesadaranku. mimpi yang telah lama ku bangun kini hanya bisa kuratapi, bersama ketidakpastian yang tak berujung ini.
lalu sampai kapan ? sampai kapan aku harus selalu menunggu seperti ini ? sampai kapan aku harus bertahan untukmu yang bahkan tak pernah memberikan kejelasan padaku.
apa kau pernah berpikir untuk mencintaiku ? apa setiap kata "sayang" yang kudengar tulus dari hatimu ? atau itu hanya sebuah panggilan yang "wajib" diutarakan oleh setiap pasangan seperti kita ? "sayang?" mengapa harus ada kata-kata itu ?. sudah hampir 100 hari aku tak mendengarnya lagi. kemana ? kemana kau yang selalu tersenyum ketika aku berhasil menyelesaikan tantangan mu ?. "sayang" benarkah itu suatu kata kewajiban, lalu apa maksud binar mata tulusmu ketika bertatapan langsung kepadaku ? kebohongan kah semua itu ? atau  ini bagian dari drama kita.
apa kau mampu mendengarnya ? yaa, hatiku memanggilmu. berharap segera terjadi pertemuan. sanggupkah kau penuhi pintaku ?. kita saling mencintai bukan ? atau hanya aku yang terlalu yakin kalau kau juga mencintaiku ? bisa kau terangkan semua teori menyebalkan ini kepadaku ?. ini lebih rumit sayang, bertahun-tahun aku mengenal ratusan rumus dan ini rumus tersulit yang harus ku selesaikan. jangan selalu membuatku salah paham tentangmu. lakukan apa yang memang layak kau lakukan. berehnti menyakitiku dengan harapan-harapan yang bahkan tak pernah kau penuhi. berhenti menyogokku dengan janji-janji seperti itu. kau pikir aku anak kecil ? setidaknya aku tak butuh lagi lolipop ditanganku untuk meredam tangis. setidaknya aku tak butuh lagi janji-janji palsu untuk segera menghibur kesepian yang kurasa. kau tau itukan. pahami setiap kata-kataku.
apa karena perbedaan ini, lalu kau menyerah begitu saja. kau bilang tak ingin melukaiku. apa kau sadar ini lebih menyakitkan. setidaknya kau jelaskan padaku seperti apa perasaanmu saat ini. sehingga aku tak mesti melulu bertanya apakah kau benar mencintaiku ?. dan juga tak melulu bertanya sampai kapah aku harus bertahan untukmu~

Sabtu, 23 Februari 2013

yang pengen cerita Langit Untuk Jingga dilanjutin. tulis komentar saran atau kritik nya buat tulisan saya ya :) terimakasih :)

Selasa, 12 Februari 2013

Langit Untuk jingga #5



Pagi itu jingga sedang duduk termenung di bangku taman belakang rumahnya. Ia sedang menikmati udara minggu pagi yang sejuk. Rambut panjangnya yang tergerai indah perlahan terbelai oleh hembusan angin. Langit yang mengamatinya dari tadi hanya senyum-senyum sendiri menyaksikan gadis nya itu. meskipun jingga selalu terlihat seperti orang aneh ketika sedang termenung namun tetap saja langit menyayanginya. Jingga belum juga sadar bahwa langit ada disana. Akhirnya langit berjalan menuju bangku yang di duduki jingga. sekarang ia tepat berada di belakang jingga namun, jingga belum juga menyadari keberadaannya.
“ada kucinggggg terbanggggggggggg” teriakan langit mengagetkan jingga.
“eeeehh terbanggg, kuuccingg, maannaaaa, kucccingg terbaaanng” seru jingga latah.
langit tertawa puas melihat ekspresi jingga “hahahahaha, aduh cantik-cantik latah ternyata”.
“langiitttttttt apaan banget deh, gak lucu tau, aahh gak suka tau”. Cerocos jingga menyadari dirinya pasti sangat terlihat bodoh di depan langit barusan.
“hahahah, upss dia marah. Yah gitu doang marah. Ini hari minggu loh anak tuhan gak boleh marah-marah. Sekolah minggu dulu sana. Hehehe”
“kamu tuh yang perlu sekolah minggu biar di ajarin untuk gak usil sama orang” ujar jingga kesal.
langit terus saja menggoda jingga “yah manyun deh, kalau manyun gini makin jelek. Jadi gemes. Hahaha. Mana pipi bakpao nya ? jingga bakpao. Heheh”.
“langit udah deh, usil banget sih sama aku. Gak ada romantis-romantisnya deh. orang kalau datang itu ucapin syalom kek, ini malah ngucapin ada kucing terbang. Koplak”
“siapa bilang aku gak romantic, nih aku buktiin ya kalau aku romantis” tantang langit pada jingga.
“yah mana ? buktiin dong. Omdo nih kamu. omong doang tong kosong nyarrrr…” belum selesai jingga mengucapkan kata-katanya sebuah kecupan lembut mendarat dikening nya. Yaa, langit mengecup kening jingga. Membuktikan bahwa ia juga bisa bersikap romantis pada jingga.
langit melebarkan senyumnya pada jingga “pagi jingga, happy Sunday. Jessus bless you”.  Jingga hanya bisa tersenyum dengan apa yang baru saja ia alami. Benar-benar sebuah kejutan yang membuat jantungnya hampir terjatuh. Ia cepat-cepat menemukan kesadarannya sebelum langit meledeknya lagi.
langit mencubit pipi jingga lembut “kalau nyambut aku pakai senyum kayak begini kan enak dilihat, ini pagi-pagi aja aku udah dikasih sarapan omelan. Mending kalau di kasih omelet. heheh”.
“kalau mau aku senyum begini jangan usil dong” seru jingga yang langsung memeluk langit. matanya langsung tertuju pada tangan langit yang menggenggam sebatang mawar merah.
jingga langsung melepas pelukannya “langit, kok bawa bunga. Buat siapa ?”
“ya buat kamu lah nona cantik, tadi rencananya mau kasih nanti terus mau cium kamu lagi. Hehehe. Tapi udah ketahuan duluan. Ya udah dikasih sekarang aja deh”.
jingga menerima bunga dari langit dan langsung mencubit lengan langit “genit kamu, emang semudah itu cium-cium jingga dwi adinta ini. Hehehe”
melihat jingga seperti sekarang ini langit benar-benar bahagia. Jingga sepertinya sudah kembali menjadi dirinya sendiri. sudah bisa tersenyum. Dan perlahan-lahan sudah bisa melupakan luka masa lalunya.
“makasih banyak ya langit” jingga berbisik di telinga langit.
langit merasa heran “untuk apa jingga ?”
jingga tersenyum “untuk kucing terbangnya. Hahahahah”.  Langit pun ikut tertawa, keduanya benar-benar terlarut dalam kehangatan yang mereka ciptakan sendiri. bahagia itu sederhana. Hanya butuh sedikit polesan kenyamanan. Tak perlu benda mewah dan sesuatu yang mahal untuk menciptakan kebahagiaan.
“sekarang kamu mandi, terus aku mau bawa kamu ke satu tempat” seru langit sambil mengusap lembut rambut jingga.
jingga menyipitkan matanya “kita mau kemana ? terus aku harus dandan gimana ?”
“hahaha, ngapain pakai dandan segala sih ? yang penting sopan dan rapi. Cepetan ya jam setengah 9 pokoknya udah harus selesai. Aku tunggu di ruang tamu aja”.
“sok misterius kamu!! heheh”  seru jingga sambil berlalu membawa bunga mawar ditangannya dan segera mandi lalu bersiap-siap untuk pergi bersama langit.
                sudah setengah jam langit menunggu jingga dan sekarang sudah jam 8 lewat 20 menit. Jingga belum juga muncul-muncul. Langit mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat foto-foto yang terpajang di rungan itu. mulai dari foto keluarga jingga, foto Rachel, foto seseorang yang pernah disebut jingga sahabatnya yaitu alena.  Dan yang paling menarik perhatian Langit adalah foto seorang anak kecil berusia 2 tahun dan foto seorang bayi yang masih terbungkus dalam bedongan. Langit memperkirakan anak yang berusia 2 tahun itu adalah Rachel, dan bayi kecil yang imut itu adalah jingga. di foto itu Rachel terlihat seperti ingin menggendong jingga yang sedang menangis. Sangat lucu sekali. Langit mengehentikan kegiatannya ketika sebuah suara menyapanya.
“udah siap nih, mau langsung berangkat?” Tanya jingga. langit hanya terdiam seolah tak percaya dengan apa yang saat ini sedang ia lihat. Jingga benar-benar terlihat manis sekali. Tak ada goresan make up diwajahnya. Balutan dress soft pink selutut yang dipadukannya dengan cardigan putih ¾ benar-benar cocok dengan kulit putihnya yang mendukung.
“hei, kok bengong sih ? mau langsung berangkat atau enggak ?”.
langit tersadar dari lamunan nya “iya-iya kita langsung berangkat aja jingga” seru langit.
“tapi kita mau kemana sih, mau makan ya ?” jingga mencoba menebak.
“hahaha, idih makan mulu, gak sadar tuh pipi udah lebih besar dari pada bakpao ?, udah gak usah nanya-nanya atau pun nebak deh. ini tempatnya lebih seru dari pada tempat makan. Lebih ngenyangin juga. Kamu duduk manis aja ya pakai helm nya nih”. Langit memberikan helm pada jingga dan kemudian berangkat ke tempat yang sudah ia rencanakan.
                sepanjang perjalanan mereka selalu saja tertawa. Tergelitik oleh lelucon yang mereka buat sendiri. lelah yang biasa dirasakan Langit ketika harus mengendarai motor nya tak pernah lagi ia rasakan. Semua berkat Jingga, jingga mampu mencairkan suasana yang beku ketika mereka sudah kehabisan bahan untuk di tertawakan. Tak ada lagi sedih yang terpancar di wajah jingga. semua sudah tergantikan dengan senyum dan tawa kecil saat sebuah kebersamaan tercipta di antara dia dan Langit. semua terasa begitu nyaman. Jingga sudah menemukan dirinya yang dulu hilang. Ia sudah menemukan kembali penyangganya yang dulu patah. Dan sekarang tak ada lagi alasan untuk menyakiti dirinya sendiri karena masa lalu. Semua sudah di lengkapi oleh langit. perlahan posisi Rachel mulai tergantikan oleh langit. dan jingga menyadari ada rasa yang lebih dari sebuah persahabatan diantara mereka.
                tempat yang mereka tuju samar-samar mulai terlihat. Sebuah lonceng besar dan salib menggantung di puncak tertinggi tempat itu. bangunannya tidak begitu mewah namun sangat klasik. Halamannya luas membentang. Langit memarkirkan motornya di halaman yang memang khusus di buat untuk tempat parkir. Jingga masih takjub dengan tempat ini. Di halaman sebelah kanan tempat itu ada sebuah danau kecil yang tak kalah indahnya dengan danau yang ada di bukit yang sering di datangi oleh langit dan jingga. antara halaman depan dan pintu masuk terdapat sebuah kolam dan diatasnya dibangun jembatan kecil seperti di taman tempat jingga biasa bermain. Benar-benar sangat indah ini jingga baru menemukan Gereja seindah itu. umatnya cukup ramai dan sangat ramah. Baru beberapa menit jingga dan langit berada disana namun sudah ada beberapa umat yang sekedar member salam dan menyapa mereka. Suasananya sangat akrab, seperti semua yang ada di tempat ini adalah saudara.
                langit dan jingga melangkah memasuki gedung Gereja. Pemandangan di dalam tak kalah indahnya dengan pemandangan diluar gereja. Lagi-lagi jingga memuji tempat itu, benar-benar sangat nyaman dan hening. Patung Yesus dan Maria berdiri kokoh disisi kanan dan kiri Altar. Lukisan-lukisan tentang perjalanan Yesus terpajang rapi di dinding-dinding bangunan Gereja itu. Langit dan jingga duduk di barisan bangku sebelah kanan dan mereka memilih bagian tengah. Setelah mengucapkan doa permohonan sambil berlutu masing-masing kembali duduk di tempatnya. Lonceng yang bergantung di atap bagian puncak gereja berbunyi beberapa kali, sebagai tanda misa minggu segera dimulai. Seluruh umat berdiri dan melakasanakannya dengan khusuk. Misa berjalan dengan sangat khusuk dan hening dan dipimpin oleh seorang imam. Tiba saatnya Liturgi Ekaristi semua umat mengucapkan doa Syukur Agung bersamaan.
                 Kini semua umat mulai membuat barisan untuk menyambut komuni. Langit mengikuti jingga menyambut komuni. Jingga heran ketika langit ikut menyambut komuni. Selama ini Jingga tidak tahu bahwa langit itu menganut agama katolik dan sama seperti dirinya. Langit dan jingga kembali ke kursinya setelah menyambut roti kehidupan itu. mereka mengucapkan doa dan permohonan masing-masing didalam hatinya. Sebuah moment yang tak pernah disangka oleh jingga. ini lebih menyenangkan dari pada harus ketempat makan atau pun mall. Kebersamaan dirumah Tuhan lebih mengenyangkan, benar apa yang dikatakan Langit padanya sebelum berangkat tadi.
                Misa selesai, sebuah lagu penutup mengiringi langkah para petugas misa hari itu. setelah memohon pada Tuhan dan memanjatkan doa, Langit dan jingga serta seluruh umat berangsur-angsur meninggalkan gedung gereja itu. ada rasa tak ingin cepat-cepat pergi dari sana dalam hati jingga. ia masih ingin berada ditempat itu dan menikmati tiap kenyamanan yang diberikan oleh suasana yang tercipta disana. Langit seolah mengerti dengan keinginan Jingga, ia masih membiarkan Jingga menikmati keindahan Gereja itu.
“Langit, makasih banyak untuk hari ini” seru jingga kepada Langit.
Langit tersenyum “kali ini untuk apa ?”
jingga pun tertawa “hahah tenang kali ini bukan untuk Kucing terbang lagi, tapi makasih banyak udah ngenyangin aku yang lapar dan haus sama Sabda Tuhan ini”.
“sama-sama, aku juga senang bisa ke Gereja bareng kamu. tadi mama kamu bilang kamu udah jarang banget ke gereja semenjak kejadian itu. jadi aku punya inisiatif sendiri untuk bawa kamu kesini”.
“iya aku udah lama banget gak mijakin kaki aku di rumah Tuhan, kangen banget rasanya. Dulu aku ke gereja bareng sama Rachel. Dan sekarang udah ada kamu yang gantian nemenin aku. Makasih banyak ya Langit”.
Langit menggenggam tangan jingga dan mengusap lembut punggung tangannya “jingga, apapun yang buat kamu nyaman pasti bakal aku usahain. kamu gak usah takut, mulai hari ini kita akan sering datang ketempat ini. Aku yang akan nemenin kamu ke gereja dan kemana pun mulai saat ini”.
jingga tersipu pada langit, pipinya merona merah “thanks langit, gak ada lagi yang bisa aku ucapin. Tapi dari mana kamu tau kalau ada gereja sebagus ini ?”.
“Dulu aku tinggal di daerah sini langit, jadi waktu aku kecil setiap minggunya aku ibadah disini”
“wah, indah banget tempatnya. Benar-benar nyaman. Udah jam segini. Gereja juga udah mulai sepi kita pulang yuk” gumam jingga.
“ya udah beneran mau langsung pulang nih ? gak mau jalan-jalan dulu sama Langit yang kece ini ?, ntar kangen loh. Hahhaha”.
jingga duduk di motor lalu mencubit lengan jingga “udah deh gak usah sok dikangenin, gak bakal ada yang kangen tuh”
“beneran ya, nanti jangan sms atau telfon aku terus ngajak jalan, hahaha”
“Langitttt!!!! Ngeselin banget sih, ayuk jalan panas nih kalau gak jalan-jalan”
“alesan aja nih, padahal adem banget kan ada di dekat langit kece gini. Matanya neduhin lagi. Coklat bening. Hahaha”
“uuhh sombong!!” seru jingga.
                perlahan-lahan motor langit berlalu semakin jauh meninggalkan gereja yang  nyaman itu, jingga pun berguman dalam hatinya “aku pasti datang kesini lagi minggu depan”. Sepanjang perjalanan jingga hanya terdiam. Langit tau apa yang bisa membuat jingga kembali girang dan penuh tawa. Maka langit pun membawa jingga ke taman out bond. Jingga yang awalnya ingin pulang merasa heran di bawa ke tempat itu.
“kita ngapain kesini” Tanya jingga.
“mau nyeburin kamu ke kolam buaya, ya mau main wahana nya dong Jingga” ujar langit menarik hidung jingga.
“sakit!!, tuhkan ilang mancungnya. Emang disini ada buaya ya ? kok aku gak lihat ada pawangnya. Ohh astaga pawangnya kan lagi berdiri disebelah aku. Hahahaha”. Tawa jingga meledek Langit.
“idih, setidaknya aku berhasil jinakin buaya betina nya nih, yang suka ngamuk, terus suka diem kayak lagi ngeram telur. Hahahah”
“Ledekin aja terus. Ampe puas. Jahat banget iih”.
sekarang tawa langit yang pecah “hahaha, ayuk sekarang kita mau main apa ?”
“aku mau main itu, tapi yang model bebek. Heheh” seru jingga sambil menunjuk ke arah sebuah kolam tempat bermain sepeda air.
“hahaha. Ihh permainan anak kecil banget. Gak seru ah. Nyebrang pakai jembatan tali dong seru”.
“gak mau aku takut ketinggian. Naik itu aja” jingga mempertahankan pilihannya.
“ya udah deh kita naik itu, tapi habis itu harus nurut sama pilihan aku”. Langit pun mengalah dan mengikuti jingga memainkan wahana sepeda air. Cukup seru karena Langit selalu salah mengemudikannya. Sehingga Jingga pun ikut mengemudi. Tawa ceria keduanya kembali terpancar. Tanpa mereka sadari kebersamaan mereka membuat perasaan itu semakin besar. Perasaan untuk takut kehilangan satu sama lain pun semakin besar pula. Mereka sudah bermain di beberapa wahana.  Keduanya sangat lelah dan memutuskan untuk berhenti bermain. Langit duduk bersandar disebuah batang pohon dan jingga mengikutinya.
“aku capek Langit” seru jingga.
“aku juga capek, kamu tiduran pakai bahu aku aja sini, biar gak sakit kepalanya. Kalau tidur di kayu gitu kan gak nyaman”.
“ya udah, lumayan juga ada bau gratis. Heheh”.
“dasar!!!”.
                Jingga merebahkan kepalanya di bahu langit. mencoba mengambil posisi senyaman mungkin. Langit melingkarkan tangannya pada pinggang jingga dan berusaha membuatnya nyaman. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menambah kesejukan di tempat itu. semakin lama bersama Langit, jingga semakin menemukan titik dari perasaannya, sekarang ia mengerti bahwa perasaan yang ia miliki lebih dari sekedar sayang pada seorang teman. Ia mencintai Langit dan juga menginginkannya. Langit sudah membuatnya nyaman. Semua yang ada pada Langit seolah anugerah yang juga membuat suatu perubahan pada diri jingga.  Langit benrar-benar berhasil mengobati luka di hati jingga. bahkan tanpa ia sadari perlahan-lahan ia menutupi jejak luka itu dengan kisah-kisah baru yang ia lukiskan bersama jingga.
“langit, selama aku kenal sama kamu. aku belum pernah dengar kamu cerita tentang siapa diri kamu. ya setidaknya tentang keluarga kamu ke aku”.
“hmmm, kamu mau dengar soal aku ? kamu yakin jingga ? aku takut kalau kau dengar soal ini kamu bakalan benci sama aku”. Gumam langit tak yakin.
jingga mengangkat kepalanya dan menatap mata cokelat milik orang yang ia sayangi itu. “kenapa aku harus benci ? apa kamu pernah mendengar orang yang membenci kenyamanan nya ?”
langit terlihat bingung “maksudnya apa jingga?”
jingga memalingkan wajahnya dan menatap jauh kearah kolam “kamu itu kenyamanan buat aku Langit, Gak peduli dimana pun tempatnya gak peduli gimana pun keadaannya kamu yang udah berhasil buat aku nyaman. Dan yang terparah aku udah berhutang banyak sama kamu. udah berapa banyak obat yang kamu transfer ke tubuh aku untuk nyembuhin luka masa laluku sampai aku benar-benar sembuh total dan bisa ceria lagi”.
langit tertawa mendengar penjelasan jingga “kok dijadiin utang sih, kan udah dibayar lunas tadi. Kan tadi kamu udah mau nemanin aku main wahana yang menantang”.
“Langit,, aku lagi serius tau!! Kenapa dibawa becanda?” gumam jingga.
“huuufff” Langit menarik nafas panjang seperti ada sebuah beban yang mengikat paru-parunya.
“papa aku itu udah lama meninggal jingga, aku memang anak tunggal. Papa meninggal ketika usiaku 6 tahun. Sejak saat itu mamaku sama sepertimu. Berubah menjadi pendiam bahkan sulit untuk membujuknya kembali ceria. Semua perusahaan dan harta keluarga kami disita karena keuangan perusahaan benar-benar kacau. Mama sempat frustasi dan jatuh sakit. Sedangkan aku harus kuat dan menjalani semuanya itu sendiri. sesungguhnya aku belum sanggup buat menghadapi keadaan serumit itu. aku berusaha mati-matian membujuk keluarga papa agar mau membantu kami. Namun tidak ada respon yang baik dari mereka. Bahkan mereka tidak lagi menganggap kami ini saudara. Ya, papa memang sempat memiliki masalah dengan saudara-saudaranya. Akhirnya, aku dan mama harus pindah kesebuah kontrakan kecil di dekat gereja yang tadi kita datangi. Enam tahun kami hidup sangat susah disana. Dan mama berangsur-angsur kembali menemukan keceriaannya seperti dulu. Selama 6 tahun pula mama bekerja keras membangun usaha dengan uang yang tersisa dan mengumpulkan uang untuk melunasi hutang keluarga kami yang sempat ditinggalkan papa. Ketika aku lulus dari SD mama bilang ia sudah bisa melunasi 80% hutang kami dan kami sudah bisa pindah kerumah lama kami. Perusahaan papa kembali bangkit dan mama yang mengelolanya. Tak lama setelah itu mama benar-benar melunasi utang-utang yang ditinggalkan papa. 2 tahun kemudian mama menikah lagi, awalnya aku menolak mentah-mentah pernikahan mama. Aku takut papa tiriku hanya akan memanfaatkan mama demi kepentingan bisnis. Namun mama orangnya keras. Aku gak mampu buat cegah keinginan mama. Saat ini aku punya satu adik perempuan kecil berusia 4 tahun dari hasil pernikahan mama yang kedua. Beberapa bulan belakangan ini papa tiriku mulai bersikap kasar pada mama, dan ia sempat terlibat perkelahian dengan ku. Aku tak suka ia membentak dan memukuli mama. Maka saat itu kepalan tinjuku mendarat beberapa kali kemukanya. Mama pun tak tahan lagi dengan sikap papa tiriku dan memilih untuk bercerai. Saat ini mama berjuang sendiri lagi dan berusaha fokus untuk aku dan kairen serta hanya ingin mengelola perusahaan untuk bekal aku dan kairen”.
                mata langit mulai berkaca-kaca, ia menahan tangisnya didepan jingga. jingga memeluk nya erat seolah berusaha mentransfer kekuatan yang ia miliki kepada langit. benar-benar ingin saling menguatkan dan benar-benar ingin saling melengkapi satu sama lainnya. Itulah yang dilakukan oleh langit dan jingga. sepasang jiwa yang pernah benar-benar terluka disembuhkan dengan cara mereka masing-masing. Berbagi ketika mereka mersa beban yang harus ditanggung terlalu berat untuk dipikul sendiri. dan menangis ketika merasa sesuatu itu perlu untuk ditangisi. Langit pun memeluk erat tubuh mungil Jingga seakan tak rela moment-moment seperti ini begitu cepat berlalu dan dicuri oleh sang waktu.
senja sudah hadir, keduanya sudah berada dirumah jingga. mama Jingga menawarkan untuk makan malam bersama. Langit seolah telah menjadi bagian baru di keluarga Jingga. orang tua Jingga yang selama ini mendambakan seorang anak laki-laki seolah memperoleh anak baru yaitu Langit. mereka memperlakukan langit seperti  anak mereka sendiri. Jingga tersenyum lega ketika orang tuanya bisa menerima kehadiran Langit. Langit bukan saja orang pertama yang bisa menggantikan posisi Rachel tapi ia juga cowok pertama yang Jingga cintai.
                setelah selesai makan malam dan ngobrol sebentar bersama orang tua jingga, Langit pamit untuk pulang.  jingga mengantar langit ke gerbang rumahnya. Disana ada sepasang hati yang tidak rela untuk segera berpisah. Masih ada keinginan untuk mengulang canda dan kebersamaan yang terjadi pada hari ini. Langit seolah mengerti bahasa tubuh jingga dan paham makna ekspresi wajahnya. Iya memeluk jingga dan kemudian menggenggam tangan jingga.
“sudah gak usah manyun gitu dong, besok pawang buaya bakal main kesini lagi bawa kucing terbang.hehehe”. ujar Langit sambil mengusap pipi jingga lembut.
“janji ya besok main lagi, awas kalau gak datang. Aku marah!!” ancam jingga.
“iya, besok siap-siap ya, aku mau kenalin kamu sama mama dan kairen. Jadi dandan yang cantik ya nona manis. Hehe”.
“aku kan tanpa dandan udah cantik. Oke deh besok aku bakal dandan mirip Barbie ya”.
“hahaha. Mana ada Barbie matanya item gosong kayak gini. Ya udah jangan manyun. Aku pulang dulu ya jingga”. sebuah kecupan mendarat mesra di kening jingga.
“yah ada pembuka ada penutup nih dasar!!. Hehehe”
langit hanya tertawa mendengar seruan jingga. “hati-hati ya Langit” teriak jingga ketika perlahan-lahan motor langit berlalu menjauh dari rumahnya. Jingga pun masuk kerumah dan beristirahat. Mencoba mengulang kembali hari-hari nya yang indah di dalam mimpi.
                ****





Senin, 11 Februari 2013

Langit Untuk Jingga #4



Jingga berlari menuruni anak tangga di tangan kanan nya ada beberapa buku, tangan kirinya menenteng sepatu, pagi ini ia terlambat bangun. 5 menit lagi jam 07.00 dan langit pasti segera jemput. Jingga buru-buru memakai sepatunya dan merapikan rambutnya yang masih berantakan. Ia menuju meja makan. Baru saja menyeruput susu dan menggigit sedikit roti suara motor dari depan rumahnya sudah terdengar. “ma,pa, jingga berangkat dulu ya, bareng temen aja, nanti pulangnya juga. Daaaaa”
jingga kemudian berlari menemui langit . sebuah senyum termanis tergaris diwajahnya.
“haii langit, udah siap buat berangkat atau mau sarapan dulu ?” sapa jingga lembut.
“tumben kalem, biasa udah nyerocos kayak ibu-ibu kost. Hehehe. Gak usah deh, naik gih ntar telat, aku sarapan disekolah aja”. Seru langit.
“yee, dikalemin protes, di omelin protes mau nya apaan sih ?”
“hahaha, tuhkan udah nyerocos lagi. Udah gih naik udah jam 7.05 loh”
“iya, sabar dikit napa. Cepetan jalan.”
“pegangan ga, kita mau ngebut lagi nih”.
“apa ga ? kamu panggil aku ga ? aku gak mau di panggil itu. panggil jingga”. ujar jingga ketus.
                Langit memacu motornya dengan kecepatan standar, baru kali ini ia pergi lebih pagi. Suasana kota terasa lebih adem kalau pergi sepagi ini. Belum ada kemacetan dan jalan juga belum terlalu ramai. Biasanya langit berangkat 10 menit sebelum bel masuk. Jingga yang duduk dibelakang nya tiba-tiba hanya terdiam. Biasanya jingga bakalan ngajak langit ngobrol atau ngusilin langit dengan ledekan-ledekannya. Tiba-tiba terlintas ide gila di pikiran langit. Ia menaikkan kecepatan motornya. Sontak saja jingga ingin terjatuh dan langsung memeluk langit. Langit tertawa, rencana nya berhasil. Hari ini gantian ia yang mengerjai jingga. jingga masih memeluk namun tak ada suara lengkingan seperti biasanya. Langit heran dengan perubahan sikap jingga. akhirnya langit pun terdiam. Ia merasa bersalah telah memperlakukan jingga seperti tadi. Mungkin saja saat ini mood jingga sedang tidak baik. Tapi karena apa ? rasanya tadi sebelum berangkat jingga masih baik-baik saja. Bahkan sangat ramah pada langit. Entahlah, langit benar-benar sangat bingung.
                Langit dan jingga tiba pukul 07.16 menit disekolahnya. Jingga langsung turun dari motor langit, dan berjalan lebih dulu menuju kelas. Tanpa ucapan terimakasih, tanpa senyum, bahkan tanpa satu katapun. Langit yang merasa perubahan sikap jingga sangat tidak wajar segera mengejar jingga. ia menarik lengan jingga ketika jingga hampir tiba di depan kelas mereka.
“jingga, tunggu!!, kamu kenapa sih kok tiba-tiba diam kayak gini ? marah sama aku ?”
“aku gak apa-apa” sahut jingga singkat.
“jelas kamu kenapa-kenapa, buktinya kamu kayak gini. Gak biasanya kamu kayak gini, aku ada salah ? tolong jelasin dong”.
“udah lah langit, aku lagi gak mau debat, sekarang lepasin tangan aku. Aku capek”
“tapi jingga…..”
                tanpa paduli dengan langit jingga langsung saja masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Lagi-lagi seperti orang idiot. Sama seperti pertama kali ia masuk ke kelas itu. matanya menatap kosong kearah jendela. Langit merasa tak puas diperlakukan begitu. ia tak terima jika jingga marah padanya namun tanpa alasan apa pun. Akhirnya langit memberanikan diri untuk duduk disebelah jingga. tak ada reaksi apapun dari jingga.
“ga….” Sapa langit pada jingga.
“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU GA LANGIT!!!!, PANGGIL AKU JINGGA”. ujar jingga dengan nada tinggi dan tatapan sinis pada langit. Keadaanya seperti menahan amarah dan tangis. Langit tak tega melihat keadaan wanita yang ada dihadapan nya saat ini. Benar-benar sangat kacau. Ia memang baru mengenalnya selama 2 minggu. Bahkan dengan perkenalan yg tak layak disebut sebagai perkenalan. Ia tau ia pernah merasa kesal pada gadis ini. Namun di balik semua itu ada sebuah rasa yang mulai tumbuh perlahan-lahan dari tiap perlakuan gadis itu padanya. Cacian, kata-kata kasar, cemooh, ejekan, tangisan, senyumannya. Semua yang jingga perbuat pada langit membuat langit menyayanginya.
                Langit tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin memeluk jingga saat ini juga. Tetapi setelah langit mempertimbangkannya, langit memutuskan untuk keluar kelas dan meninggalkan jingga sendiri. Langit berpikir mungkin jingga membutuhkan waktu untuk sendiri. Jingga benar-benar tak habis pikir dengan sikap langit. Dia yang menyebabkan jingga begini. Tanpa rasa bersalah ia pergi meninggalkan jingga. benar-benar kondisi yang sulit. Mereka berdua saling berbeda pendapat dan salah paham. Jingga membenci keadaan seperti ini, langit sudah mengangkat luka lama kembali kepermukaan. “ga” adalah panggilan khusus dari Rachel. Dan hanya alena dan kakaknya Rachel yang boleh menggunakan itu. langit kembali menyebutkan kata “ga” untuk memanggil jingga. dan itu sama artinya mengembalikan jingga ke masa lalunya. Jingga menyeka air matanya. Rasa kesalnya sudah memuncak pada langit. ia muak dan semakin marah pada langit.
                langit sendiri masih sangat merasa bersalah pada jingga. ia sebenarnya belum mengerti betul apa kesalahannya. Namun sikap jingga tadi mempertegas ada yang salah pada ucapannya. Langit menyeka keringat di dahinya. Sudah bermain basket sampai lelah pun tak bisa juga menghilangkan fokus pikirannya pada jingga. ia meremas botol bekas air mineral yang baru saja ia minum. Seolah menumpahkan semua kekesalannya pada botol bekas itu. langit tertunduk, ia ingin marah pada dirinya sendiri. Baru saja jingga mulai bersikap baik padanya. Namun ia sudah membuatnya marah kembali. Akhirnya langit bertekat membawa jingga ke tempat semalam. Mencoba meminta maaf pada jingga di tempat itu. langit tau, jingga akan lebih tenang saat berada disana. 
                Bel pulang sekolah berbunyi, langit benar-benar tak fokus pada pelajaran dari awal hingga pelajaran terakhir. Begitu juga dengan jingga, ia sendiri ogah-ogahan untuk mengikuti pelajaran setelah mood nya benar-benar dirusak oleh langit. langit membereskan buku-bukunya lalu keluar lebih dulu dari pada jingga. langit menunggu jingga di tempat biasa. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya jingga menghampiri langit.
“gak usah anter aku pulang, aku naik taxi aja” seru jingga.
“tapi kenapa kamu masih marah sama aku ? maaf jingga aku gak tau kalau itu salah, kamu gak pernah bilang soal itu. jadi aku gak tau” seru langit sambil berusaha membenarkan dirinya.
“udah gak usah di bahas lagi, aku capek berdebat. Aku mau pulang”
“tunggu jingga” seru langit dan menarik pergelangan tangan jingga. “aku mau bawa kamu ke tempat kemarin. Setidaknya kamu bisa nenangin diri disana, kali ini kamu jangan nolak. Aku Cuma mau nenangin kamu” ujar langit.
“ya udah aku ikut kamu”. jingga dan langit pun langsung berangkat ke tempat itu. sepanjang perjalanan jingga masih tetap diam seperti tadi pagi. Setelah sampai langit langsung saja menarik tangan jingga menaiki bukit. Jingga terdiam saat lengan langit merangkulnya.
“menangislah kalau itu perlu, sekarang didepan kita ada alam bebas yang bakal dengarin kamu tanpa protes. teriak kalau kamu memang pengen teriak. Keluarin semua yang mengganjal dihati kamu”  ujar langit lembut di telinga jingga. mata jingga memusat pada danau di dekat tebing itu. ia melihat ada rakit kecil disana. Sepertinya tak ada pemilik.
“langit, aku pengen naik rakit itu” seru jingga sambil menunjuk kearah danau.
“kamu yakin ? oke kita akan naik rakit kalau memang kamu pengen. Tapi maafin aku terlebih dahulu”
“masalah ini tolong dilupain sebentar ya, aku pengen naik rakit dulu. Nanti kalau udah selesai naik rakit. Aku bakal jelasin semuanya”. Sahut jingga.
                langit membantu jingga menuruni bukit. Mereka berdua berjalan beriringan melewati jalan sempit di tengan pepohonan rindang menuju danau kecil itu. tangan langit tak pernah terlepas menggenggam tangan jingga. dan mereka berdua tak sadar hal itu.
“jingga pelan-pelan, awas nanti kamu nyebur kedanau kalau gk bisa jaga keseimbangan badan” seru langit membantu jingga naik ke rakit.
“danau ini gak ada buaya nya kan, kalau ada aku gak jadi naik rakitnya deh” sahut jingga was-was.
“tenang ini bukan danau yang terhubung ke hulu sungai atau kemana pun. gak akan ada buaya nya. Danau ini terbentuk benar-benar dari mata air yang ada didasarnya. Makanya airnya jernih begini”.
“langit kamu yang kemudiin ya aku gak bisa, aku gak pernah naik rakit” jawab jingga polos.
“iya, lagian mana mungkin aku nyuruh kamu. aku tau tenaga kamu itu gak seberapa buat ngemudiin rakit ini. Hehehe”.
“udah deh jangan nyebelin, cepetan  jalanin rakitnya”
“iya-iya bawel banget sih”
                langit perlahan-lahan mendayung rakit itu ke tengah danau. Kayu panjang itu ditancapkannya kedasar danau dan mendorong rakit itu berangsur-angsur manjauhi pinggir danau. Jingga masih saja tenang, ia takut bergerak. Seolah takut jatuh dan tertelan buaya. Padahal tadi langit sudah menjelaskan bahwa disana tidak ada buaya. Langit sengaja menghentikan rakitnya ditengah danau. Saat ini ia berdiri bagian tengah rakit bersama jingga. ia menggenggam kedua tangan jingga, seolah sedang memeluk jingga dari belakang. Hal itu ia lakukan agar saat jingga kehilangan keseimbangan jingga tidak akan terjatuh.
“langit, ini tempat kok indah banget ya. Semuanya satu paket. Ada bukitnya. Ada pohon-pohon. Ada danau juga. Aku nyaman disini”
“hahahaha, iya aku juga nyaman disini. Ini tempat ternyaman yang pernah aku temui jingga. Yaa walaupun gak seindah tempat-tempat liburan yg terkenal, tempat ini punya daya tarik tersendiri. Dan gak terjamah siapa pun kecuali aku dan keluarga aku” sahut langit.
“aku pengen teriak, boleh aku teriak disini ?” ujar jingga pada langit.
“hahaha, kamu tuh lucu banget sih. Teriak aja. Kenapa harus minta izin sama aku ?”
“aaaaaa,kaaaaaaakk racheeeeeeeeeeeeeeelll, kakaaaaaak di manaaaaaaaaaaaaaa ?” teriakan jingga menggema di sekitar danau. Suaranya dipantulkan oleh bukit yang ada di depan mereka.
“gimana udah lega ? teriakan kamu kuat juga ya, untung tuh pohon-pohon gak tumbang. Hehehe” langit menggoda jingga dengan canda nya.
“udah, lega banget malah. Resek deh kalau itu pohon tumbang  bagus dong. Kita bisa buat rakit yang lebih besar.hehehe”
“sekarang mau teriak lagi?”
“iya aku mau teriak nama langit. hehehe”
“ya udah teriak gih, aku juga mau teriak nama jingga. heheh”
“langiiittttttttttttt” teriak jingga kembali menggema.
“jinggaaaaaaaaaaaa” balas langit ikut berteriak.
                keduanya lalu tertawa lepas, seakan sebuah beban terlepas dari diri masing-masing. Jingga meminta langit untuk kembali ke bukit. ia ingin menjelaskan masalah yang sudah membuatnya uring-uringan pada langit satu harian ini. Langit pun menuruti keinginan wanita yang sudah hampir mengisi penuh hatinya itu. langit membawa rakit itu ke pinggir danau lalu kembali naik ke bukit. setibanya dibukit langit mengajak jingga untuk naik kerumah pohon. Karena dari atas sana langit dan jingga akan lebih leluasa untuk melihat pemandangan indah disekeliling bukit itu.
“naik duluan gih” langit menwarkan jingga untuk naik terlebih dahulu.
jingga menggelengkan kepalanya “ gak mau ahh, bolot deh, ntar enakan dikamu dong bisa ngintip dari bawah”
langit tertawa “iya aku lupa, maaf. Kalau gitu aku duluan yang naik. Tapi nanti kamu bisa naik kan ?” Tanya langit khawatir.
“bisa, kamu tenang aja. Kalau manjat ginian doang mah kecil”
“sombong!!” seru langit mencubit pipi jingga lembut.
                keduanya sudah berada dirumah pohon duduk sangat dekat dan saling menatap dengan pemandangan dihadapan mereka. Keduanya masih terdiam. Seolah tersihir dengan apa yang di suguhkan oleh tempat itu. jika dilihat keduanya memang serasi. Yang satu tinggi yang satu lagi sedikit lebih pendek. Yang satunya  putih yang satunya hitam manis. Yang satu matanya berwarna hitam gelap. Dan yang satunya coklat bening. Terlihat saling melengkapi.
Jingga pun mengawali pembicaraan “langit, apa menurutmu aku ini bodoh ?”.
langit menatapnya matanya “tidak, kamu gak terlihat seperti orang bodoh” jawab langit.
“tapi aku merasa aku terlihat bodoh, dengan diam dan gak mau membuka diri aku sendiri buat orang lain yang ingin berteman sama aku”.
langit meraih jemari jingga dan meremasnya dengan lembut “aku tau kamu punya alasan untuk itu jingga, jadi sekarang aku mau kamu terbuka sama aku. Aku janji aku bisa di percaya”
“awalnya aku gak percaya ada kasih sayang saat aku dilahirkan, aku ini sebuah kesalahan langit. orang tua ku awalnya tak menginginkan aku. Mereka menginginkan bayi laki-laki. Namun setelah kelahiran ku, Rachel yang hanya beda 2 tahun usianya denganku sangat menyayangi aku. Ia salah satu alasan mengapa mama mempertahankan ku. Aku tumbuh dan besar bersama dengan Rachel. Mama mulai menyayangiku ketika aku berumur 5 tahun. Meskipun aku ngerasa kasih sayang buat Rachel beda banget sama kasih sayang buat aku tapi aku tetap bersyukur. rachel ibarat malaikat buat aku. Dia yang ada saat aku benar-benar butuh seseorang. Kasih sayang dia itu bener-bener tulus. Dan aku ngerasa dia kakak paling perfect di dunia ini”. Jingga menjelaskan semuanya pada langit air matanya tumpah seketika. Langit berusaha menenangkannya, ia memeluk jingga dan mengusap rambutnya. Saat ini gadisnya benar-benar kembali ke luka masa lalu ia sendiri tak akan mampu jika harus menjadi diri jingga yang bahkan tak pernah diharapkan hadir didunia ini.
“nangis sepuasnya jingga, tumpahin semuanya, aku disini dan aku janji gak akan pergi”.
jingga masi terlarut dalam tangisnya. Setelah merasa cukup tenang ia melanjutkan ceritanya kembali.
“dan yang paling parah, aku dan Rachel pernah bolos sekolah. Dan pulang kesorean. Sampai dirumah mama marah besar sama aku. Mama mukulin aku dan bilang kalau aku ini memang gak pantas buat dilahirkan. Mama sedikit pun gak marah sama Rachel. Rachel berusaha ngebela aku didepan mama. Tapi percuma mama udah benar-benar murka sama aku. Setelah pukulan mama berhenti aku masuk kamar. Rachel datang dan meluk aku, dia yang ngobatin luka-luka aku. Disana aku ngerasa Rachel itu bukan Cuma sekedar kakak tapi juga ibu. Rachel itu pembawaannya dewasa. Banyak banget yang dia ajarin ke aku tentang arti kehidupan ini. Mungkin semenjak mama mukulin aku waktu itu mama sadar kalau aku ini juga anaknya. Maka mama pun mulai mencoba menyamakan aku dengan Rachel. Aku gak sedikitpun respect sama perubahan mama. Bagi aku Cuma Rachel yang benar-benar tulus. Cuma janji Rachel yang benar-benar nyata. Aku hidup di atas harapan yang aku tumpukan pada Rachel. Aku juga pernah sakit parah. kedua ginjal aku gak bisa berfungsi sempurna Dan itu membuat aku harus rutin cek up dan cuci darah dengan bantuan alat medis. Rachel lagi-lagi jadi malaikat buat aku. Mama dan papa ku udah berusaha buat cegah dia donorin ginjalnya untuk aku. Tapi Rachel memang kakak yang sempurna. Kakak yang gak rela kehilangan dan ngeliat adiknya terluka dan kesakitan. dia tetap nekat buat donorin salah satu ginjalnya untuk ku. Dia orang yang udah nyelamatin nyawa aku. Saat ini hidup aku seakan bagian dari hidup dia. Sampai akhirnya Rachel sakit dan 3 minggu yang lalu ia pergi ninggalin aku. Aku benar-benar kecewa, tertekan, benar-benar terluka saat seorang kakak yang udah kasih aku kehidupan pergi buat selamanya. Saat itu aku sadar hidup ini hanya pemberian. Dan aku begini karena protesku terhadap kepergian Rachel. Aku gak berani buat percaya sama orang lain. Aku gak mau komunikasi sama orang lain. Aku benar-benar nutup kehidupan aku sendiri. Dan aku sadar aku bodoh udah ngelakuin hal itu. aku begini karena aku takut sebuah harapan dihancurkan oleh rasa kecewa. Aku takut kehilangan kembali”.
                jingga tak lagi menangis ketika harus mengingat kembali masa lalu nya. Ia sudah merasa lebih kuat. Ia merasa langit memberikan kekuatan lewat pelukannya. Ia hanya tersenyum getir ketika bayang-bayang Rachel melintas dipikirannya. Dan kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Langit mendengarkannya dengan antusias.
“dan kamu tau langit, aku marah karena kamu manggil aku “ga”. Mungkin aku tau ini konyol tapi panggilan itu hanya digunakan oleh Rachel dan alena. Aku Cuma gak mau kembali ke masa lalu. Aku memang benar-benar ingin mengubur semua masa lalu itu. aku gak mau ada cinta dari masa lalu yang akan nyakitin aku saat ini. Aku gak mau cinta masa lalu kembali melukai kehidupan baru ku”.
                Langit tersenyum pada jingga dan mengusap lembut kedua pipi jingga.  “jingga, gak semua masa lalu itu harus dilupakan. Dan gak semua masa lalu itu harus dikubur dalam-dalam. Akan lebih indah kalau kamu bisa hidup berdampingan dengan masa lalu kamu. coba belajar menerima semuanya dan aku yakin masa lalu itu pasti jadi lebih indah. Aku tau kamu pernah terluka, tapi mau sampai kapan kamu nutup diri kamu sendiri ?. semua yang ada di dunia ini suatu saat nanti memang harus diambil oleh tuhan. Dan kamu tau ketika tuhan mengambil seseorang itu suatu hari nanti dia pasti menggantinya dengan mempertemukan kamu dengan seseorang yang baru. Percaya sama diri kamu sendiri. Kamu bisa keluar dari luka ini. Cuma kamu yang bisa ngerubah luka kamu jadi sebuah kebahagiaan”.
                kata-kata langit seolah obat yang perlahan-lahan mengobati luka yang sangat dalam di hati jingga. setelah beberapa minggu mengenal langit dan setelah beberapa hari lebih dekat dengan langit, jingga merasa ada sesuatu pada diri langit yang membuatnya merasa nyaman ketika berada di dekat langit. dari tiap kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut langit seolah mentransfer kekuatan baru untuk jingga. zona nyaman sudah terbentuk di antara mereka berdua. Mereka saling menyayangi namun masih ragu untuk saling mengungkapkan. Keduanya hanya mampu menyimpan sampai tiba waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan.
                                                                         *****

Jumat, 08 Februari 2013

Langit untuk Jingga #3


                Tempat itu masih sama seperti 3 minggu yang lalu. Jingga berjalan menyusuri jalan setapak. Ada beberapa makan baru yang masih merah disekitar makam Rachel. Sedangkan makam Rachel sendiri sudah ditumbuhi beberapa rumput liar. Jingga langsung berlutut menghadap makan itu. mengusap nisan nya dan mulai sedikit meneteskan air matanya. Setelah 3 minggu kepergian Rachel baru hari ini jingga berani lagi datang kemakam Rachel. Si iblis yang mengikut dari belakang jingga terheran-heran melihat jingga yang biasanya sangat ketus, cuek, dan super emosional itu bisa menangis dan mellow seperti itu. sang iblis menyadari hatinya bergetar melihat jingga dalam keadaan seperti itu, ada rasa kasihan dan rasa ingin menenangkan jingga. Namun si iblis merasa itu tak perlu ia lakukan. Ia ingin jingga meluapkan semua emosinya dalam tangis. Sang iblis ingin beban bathin yang dirasakan jingga mampu berkurang setelah ia menangis. Jingga tak kuasa menahan tangis yang tercekat di tenggorokannya. Ia ingin berteriak namun ia malu pada dirinya sendiri. Selemah itukah dia hingga tidak bisa merelakan sosok yang sudah pergi. Tangannya bergetar mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam tasnya. Sebelum ia sampai dipemakaman tadi ia sempat membeli bunga tabur. Dengan perlahan ia taburkan bunga-bunga itu ke atas makam Rachel.
“kak, ini aku jingga,  Maaf aku baru bisa jenguk kakak. Kakak baik-baik aja kan ?” gumam jingga terisak. Ia masih saja mengusap nisan Rachel. Seakan berharap nisan itu menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut mungil jingga.
                 Tak terasa sudah 1 jam lebih jingga ada di pemakaman itu. hingga akhirnya ia lelah dan memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman itu. ketika melihat sekelilingnya jingga baru sadar si iblis ada disana. Ia lupa kalau tadi ia berangkat kepemakaman bersama si iblis. jingga kasihan juga melihat si iblis yang kelelahan atau mungkin bosan menunggunya. Perlahan-lahan jingga mendekati si iblis yang sedang tidur bersandar dibawah sebuah pohon rindang disekitar makam Rachel. Timbul rencana usil dipikirannya. Ia mengambil air mineral dari tas nya lalu membasahi sedikit tangannya. Kemudian ini mencipratkan tetesan air itu kemuka si iblis. sontak si iblis bangun dan berteriak “hujan,hujan,hujan” jingga tertawa melihat rencana nya berhasil. Wajah nya yang sembab ketika tertawa sehabis menangis terlihat lebih lucu. Muka si iblis langsung merah karena murka pada jingga. Jingga baru bersiap-siap ingin lari namun sebuah tangan sudah menarik lengannya. Jingga masih saja tertawa.
“eehhh, kamu itu kok usil banget sih. Gak bisa apa ngeliat orang senang ?” guman si iblis kesal.
“hahaha, kamu tu aneh tidur di kuburan kok jadi kesenangan. Dasar idiot” balas jingga meledek si iblis.
“oke,oke aku aneh. Ngalah deh. jadi udah selesai ni ? mau kemana lagi ?” Tanya sang iblis.
“terserah kamu deh, tapi jangan langsung pulang ya, aku males dirumah, kita jalan-jalan aja dulu”
“oke, aku tau tempat yang paling nyaman buat orang yang pengen nenangin pikiran” seru si iblis.
“tumben pinter, ya udah buruan jalan. Ngapain lama-lama disini” balas jingga sambil bejalan lebih dulu meninggalkan si iblis yang masih mengumpulkan nyawa. Setelah merasa cukup sadar si iblis pun mengikuti jingga dari belakang. Akhirnya mereka meninggalkan pemakaman dan pergi ke tempat yang di janjikan oleh si iblis.
                 tempat itu sedikit mendaki seperti bukit sepanjang jalan menuju kesana di penuhi dengan ilalang. Pikiran negatif jingga kembali muncul.
“eehh, ngapain bawa aku ke tempat beginian ? mau macem-macem sama aku ya ?” ujar jingga ketus.
“heh, kamu itu bisa gak sih mikir itu yang positif sedikit ? aku kan udah janji mau bawa kamu ke tempat yang tenang, yaa ini tempat nya. Tenang aja deh aku gak nafsu kok buat macam-macam sama kamu”.
“ini tempat apaan sih, aku baru tau ada tempat beginian. Awas aja kalau kamu macem-macem sama aku”
“udah deh bawel, mending kunci deh tuh mulut. Jalan aja. Ntar juga tau tempatnya gimana”.
                Setelah sampai di puncak tempat tersebut barulah jingga menyadari bahwa tempat itu benar-benar indah. Didepan nya terhampar jelas pohon-pohon dan tanaman-tanaman liar lainnya. Ia merasa bisa menyentuh langit dari tempat itu. di antara bukit dan pohon-pohon di seberang ada sebuah genangan air seperti danau namun ukuran nya lebih kecil dari pada danau. Air nya sangat jernih. Jingga merasa dirinya menyatu dengan alam. Tempat ini benar-benar menenangkan, si iblis benar, ia memang menyukai tempat ini. Di tempat jingga dan si iblis berdiri terdapat pohon rindang yang besar dan diatasnya terdapat pula rumah pohon. Jingga suka rumah pohon. Dari kecil ia selalu minta dibuatkan rumah pohon namun orang tuanya tak pernah membuat rumah pohon untuk jingga.
                Jingga memejamkan matanya, menghirup udara sejuk itu dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia seolah sedang mencuci udara kotor yang ada di paru-parunya. Saat jingga membuka matanya si iblis sudah kembali tertidur di atas rumput-rumput yang lembut itu. jingga kesal, biar bagaimana pun ia tak ingin menikmati tempat ini sendiri. Lalu ia mencoba mengusik tidur siiblis. Jingga memotong sedikit batang rumput lalu menggelitik daun telinga si iblis. si iblis yang kegelian akhirnya menyerah dan bangun. Ia kesal tidurnya selalu saja diganggu oleh jingga.
“kamu itu suka banget sih ganggu kesenangan orang, baru aja mau mimpi indah. Udah di gangguin” cerocos si iblis.
“heheheh, masa aku harus bengong sendiri, temenin cerita dong”
“oke-oke aku bangun nih. Melek nih. Dasar pengganggu”.
si iblis pun memutuskan bangun dan duduk bersandar di dekat pohon. Jingga pun mengikuti si iblis dan duduk bersandar juga disebelah si iblis. jingga merasa ada sesuatu yang berbeda saat di bersama si iblis. sangat jauh berbeda ketika ia berkomunikasi dengan chiara atau siapapun. Sang iblis seolah mampu membuat mulut jingga lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Ada kehangatan yang menyelimuti jingga saat berdebat dengan si iblis. itu yang membuat jingga tak ingin menghentikan perdebatan diantara mereka.
“iblis, sampai sekarang aku belum tau nama kamu” seru jingga memulai lagi percakapan yang sempat terhenti.
“astaga, kamu gak tau aku ? bolot banget sih ? aku heran deh kamu begok atu kuper ?”
“yee, santai aja dong mulut nya, gak usah ngatain juga kale. Kan bagi aku kamu gak penting”
“oooh jadi sekarang udah penting dong, kan kamu udah mau nanya nama aku” sahut si iblis antusias.
“gak usah GR deh, kalau gak mau ngasih tau juga gak apa-apa, tapi kamu harus terima dengan lapang dada di panggil iblis”
“gabriel langit witama “ seru si iblis sambil menyodorkan tangan kanan nya.
“jingga dwi adinta” menjabat tangan kanan si iblis. kemudian tawa keduanya pecah. Mereka seperti orang yang baru bertemu. Padahal sudah 2 minggu saling bertengkar mulut.
“jadi aku panggil kamu jingga, dan panggil aku langit” sahut si iblis.
“oke sekarang iblis berubah jadi langit, hahahaha”
“dasar, untung aku gak sejahat itu sampai merubah namamu”
“maaf, ternyata nama kamu bagus juga Gabriel langit witama. Setau aku Gabriel itu malaikat pembawa kabar sukacita jadi apa arti nama kamu ?”
“artinya, malaikat pembawa kabar bahagia dari langit” langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak. Jingga sampai sakit perut dengan lelucon yang mereka buat sendiri.
                Tak terasa hari sudah semakin sore. langit mencoba membujuk jingga untuk pulang. Namun jingga menolak ia ingin melihat sunset dari bukit itu. ia ingin menikmati detik-detik matahari meninggalkan bumi. Langit terpaksa menurutinya, sebelum sebuah teriakan-teriakan yang memekakkan telinga mendarat tepat di rumah siput telinganya dan mengoyak gendang telinganya. Setelah matahari benar-benar pergi meninggalkan bumi dan bersembunyi di balik langit gelap, barulah jingga memutuskan untuk pulang. Jingga membutuhkan petunjuk jalan, reflek ia menggenggam tangan langit, ia sebenarnya takut gelap. Namun, jika tadi ia memutuskan untuk pulang saat hari masih terang, maka ia pasti akan melewatkan moment-moment indah itu. setelah mereka sampai di tempat langit memarkirkan motornya. Langsung saja jingga memakai helm yang disodorkan oleh langit lalu kembali duduk manis dibelakang langit. Langit memacu motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membuat jingga ketakutan. jingga memukul pundak langit dan mencubit lengannya. Ia hampir saja jatuh saat tiba-tiba langit ngerem mendadak.
“langit, kamu mau buat aku mati jantungan ?”
“kenapa sih jingga, kan biar cepat sampai rumah kamu”
“iya tapi gak gini juga, aku mati ketakutan dibelakang. Santai aja kan bisa”
“ok, maafkan kacung mu ini ya tuan putri”. Akhirnya langit melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah jingga. ia memelankan laju motornya sekarang. Rumah bercat abu-abu putih sudah terlihat didepan mata. Jingga turun dari kursi penumpang dan menyerahkan helmnya pada langit.
“thanks banget ya ngit, gak mau masuk dulu ?” Tanya jingga.
“gak usah deh, lain kali aja. Lagian udah malam juga”.
“oh ya udah. Oh iya besok bisa jemput aku lagi gak. Hehehe. Aku males pergi bareng mama”
“hmm, bisa kok mau dijemput jam berapa ?”
“jam 7.00 ya, abisnya kalau lewat dari jam 7.00 jalanan macet”
“oke deh, sampai besok ya jingga. aku pulang dulu”. Langit pun berlalu, jingga masih menunggu di depan pagar rumahnya, tersenyum mengingat kejadian hari ini. Setelah langi benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya barulah ia masuk kerumahnya.
                Jingga masih merasakan sisa-sisa kenyamanan yang tadi telah ia raih. Bukan tempat itu yang membuatnya merasa nyaman. Tetapi kebersamaan yang tercipta saat tawa dan perdebatannya bersama langit menjadi hal-hal baru yang menghiasi dunianya. Jingga merasa pondasi nya yang runtuh perlahan-lahan dibangun kembali. Saat ini ada sosok seorang langit yang mulai mengisi kekosongan dalam hatinya. Yang dulu hanya diisi oleh kasih sayang dari Rachel. Seketika itu pula ia teringat pesan terakhir Rachel padanya. “bahwa ketika tuhan mengambil kepunyaan mu di dunia ini, maka yakin lah ia akan menggantinya dengan kepunyaan baru”. Mungkinkah maksud Rachel itu ketika Rachel di ambil oleh tuhan dan tuhan saat ini menggantinya dengan kehadiran langit. Entahlah hanya tuhan yang tau, jingga membiarkan semuanya berjalan sesuai urutan yang tuhan mau. Ia merasa tak layak mengatur rencana sesuai egonya. Biar bagaimana pun kehidupan ini adalah pemberian tuhan. Tak ada seorang pun yang tau jalan apa yang telah tuhan tentukan bagi kehidupannya.
                Setelah merenung jingga memutuskan mandi lalu makan malam. Sebelum tidur ia sempat menulis beberapa kalimat dalam notes kecilnya. “aku ingin kau seperti matahari, meskipun kau harus pergi meninggalkanku, namun kau tak akan lupa bersinar lagi pada esok harinya. Aku ingin kau seperti bintang. Yang menerangiku ketika saat-saat tergelap datang menyelimutiku.semua keindahan itu ada padamu. ~langit”. Jingga membaca tulisannya sekali lagi, ia tersenyum lalu memandang kearah langit. Setelah puas memandang langit yang penuh bintang malam itu, maka jingga pun memutuskan untuk istirahat. Esok pagi langit akan menjemputnya tepat pukul 7.00 dan ia harus bangun lebih pagi.
****