Sudah seminggu jingga melalui
hari-hari disekolahnya, dan masih saja sama seperti hari-hari sebelumnya. Jingga
masih enggan untuk membuka dunianya bagi orang-orang asing itu. jingga takut
jatuh kedua kalinya. Jingga tak ingin ada rasa sakit saat harus ditinggalkan
ketika ia sudah benar-benar bertumpu pada sesorang. Hanya pada chia ia berani
membuka dirinya, itu pun hanya sebatas teman berbincang saat disekolah. Jingga belum
berani melangkah terlalu jauh untuk menceritakan semuanya pada chia, baginya
chia tetap saja masih asing.
Perselisihan antara jingga dan sang
iblis pun menjadi sangat sengit, apalagi dibidang akademik, jingga tak pernah
mau kalah dengan sang iblis. Meskipun sang iblis terlihat biasa-biasa saja,
ternyata otaknya ok juga. Hari ini ada ulangan fisika di kelas jingga. Malam harinya
jingga mati-matian belajar agar mampu mendapatkan nilai sempurna, dan bisa
mengalahkan si iblis tengik itu. jingga melotot kan matanya, berusaha
berkonsentrasi pada buku fisikanya. Namun tetap saja tak bisa, bayang-bayang
wajah si iblis melintas dikepalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
Bu ratna guru fisika mereka masuk
kelas tepat pukul 7.20. sebelumnya meja sudah di atur sedemikian rupa agar
tidak ada satupun siswa yang saling mencontek. Sepertinya bu ratna belum puas
dengan susunan meja tersebut, maka bu ratna pun menyusun nya sesuai daftar
absen. Sialnya jingga harus duduk tepat di depan si iblis. Oh iya sampai saat
ini jingga belum tau siapa nama cowok itu, baginya tak penting siapapun nama
cowok itu, jingga tetap saja ingin memanggilnya iblis. Jingga sedang
menerka-nerka, mungkin saja huruf awal nama si iblis K atau L karena kedua
huruf itu adalah huruf setelah J.
Kertas soal dan jawaban sudah mulai
dibagikan, jantung jingga dag dig dug melihat soal tersebut. Tak ada satu rumus
yang ia hafal yang masuk dalam soal tersebut. Pikirannya buntu, dengan
hati-hati ia melirik kea rah teman-temannya. Semua sedang sibuk mengerjakan
soal. Lalu jingga melirik kea rah sang iblis.
Ternyata ia juga sama pusing nya dengan jingga. Dalam hati jingga
bersorak “yeah, akhirnya kau sama
bodohnya dengan aku” . senyum sinis jingga mengakhiri lirikan nya pada sang
iblis. Dengan sisa-sisa ingatan yang ia punya ia mengerjakan soal itu. walaupun
ia tidak yakin rumus yang ia gunakan benar atau salah. Sang iblis lebih cepat 5
menit mengerjakan soal ulangan dibandingkan jingga. Jingga terperangah seperti
orang bodoh ketika melihat si iblis dengan mantapnya maju kedepan dan
mengumpulkan lembar jawabannya. Saat si iblis berpaling kebelakang reflek
jingga langsung pura-pura fokus pada jawabannya dan pura-pura mengecek nya
kembali.
Waktu ulangan hanya tersisa 15
menit lagi, sebelum mengumpulkan jawabannya jingga melakukan doa salam maria
sebanyak 3 kali. Serta ia memohon pada tuhan agar semua soal yang ia jawab
benar walaupun ia tak yakin bisa begitu. Chiara melirik jingga yang sedang
komat-kamit seperti mengucapkan mantra, ia tersenyum menahan tawa sambil
menggigit bibir bawahnya. Doa permohonan selesai, jingga dengan mantap dan
tanpa ragu maju kedepan untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Hilang sudah
bebannya untuk hari ini. Jingga tersenyum puas dan lega.
Saat istirahat jingga dan chiara
seperti biasa menuju kantin bersamaan. Namun chia tak ingin melewati lorong
kelas. Ia sengaja melewati pinggir lapangan basket untuk merencanakan sesuatu
pada sang iblis. (sebenarnya sekarang siapa yang iblis sih, okeh lanjut :D).
jingga menatap si iblis lekat-lekat seolah ingin menelannya bulat-bulat. Sesungguhnya
si iblis sudah mulai bersikap lebih tenang pada jingga. Namun entah kenapa
jingga seakan tidak rela untuk menghentikan perang sengit diantara mereka. Sang iblis melirik kearah jingga lalu
tersenyum sinis, bola basket yang ada ditangannya langsung saja ia
lemparkan kearah kaki jingga. Akibat dari perbuatannya jingga hampir saja
jatuh. Untung ada chiara yang menolongnya. Si iblis tersenyum puas dengan hasil
perbuatannya. Jingga meliriknya tajam, wajahnya merah menahan marah dan malu. Untung
saja hanya ada beberapa murid yang melihat kejadian itu. emosi jingga memuncak,
akhirnya ia memberanikan diri mendekati si iblis.
“ehh, kalau gak senang bilang dong
gak usah gitu juga caranya. jadi banci
aja sana, beraninya ama cewek” cerocos jingga panjang kali lebar.
“loh emang kamu merasa aku ngelempar bola itu ke kamu ?, kok malah marah-marah, dasar cewek aneh” balas si iblis sambil senyum-senyum.
“enak aja ngatain aku aneh, kamu tu yang aneh, ngajak berantem bilang. Sini deh, kamu pikir aku takut sama kamu ?. Udah jelas-jelas salah masih ngeles” sahut jingga dengan beraninya.
“loh emang kamu merasa aku ngelempar bola itu ke kamu ?, kok malah marah-marah, dasar cewek aneh” balas si iblis sambil senyum-senyum.
“enak aja ngatain aku aneh, kamu tu yang aneh, ngajak berantem bilang. Sini deh, kamu pikir aku takut sama kamu ?. Udah jelas-jelas salah masih ngeles” sahut jingga dengan beraninya.
“oke-oke aku minta maaf deh,
sebagai cowok tulen aku minta maaf sama cewek yang sangat cerewet ini” gumam si
iblis sambil menjulurkan tangannya meminta maaf.
“maaf-maaf, makan tu maaf. Kamu pikir
maaf kamu bisa nyembuhin kaki aku ?”. setelah itu jingga meninggalkan si iblis,
dengan kaki yang sedikit pincang ia berjalan menuju kantin. Chiara masih takjub
melihat dan mendengar kejadian yang baru saja berlalu. Tidak biasanya ia
mendengarkan kata-kata sepanjang itu keluar dari mulut jingga. Jingga yang
biasa ngomong hanya seperlunya tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang cukup
banyak.
“chia” sapa jingga sambil
mengguncang tubuh chiara.
“haah, iya jingga maaf-maaf, kaki kamu gimana ? perlu perawatan di UKS gak ?” balas chia yang baru sadar.
“haah, iya jingga maaf-maaf, kaki kamu gimana ? perlu perawatan di UKS gak ?” balas chia yang baru sadar.
“gak perlu kok, aku mau ke kelas”
sahut jingga.
“ya udah aku beliin minuman dulu ya habis itu kita kekelas”. Chia pun menuju tempat pemesanan minuman lalu memesan 2 botol minuman dan memberikannya pada jingga. Setelah itu chia membantu jingga berjalan menuju kelas.
“ya udah aku beliin minuman dulu ya habis itu kita kekelas”. Chia pun menuju tempat pemesanan minuman lalu memesan 2 botol minuman dan memberikannya pada jingga. Setelah itu chia membantu jingga berjalan menuju kelas.
Saat tiba dikelas, suasana kelas
masih sangat sepi. Chia membantu jingga duduk dikursi. Dengan hati-hati jingga
melihat kakinya, ternyata sedikit memar karena lemparan si iblis cukup keras.
“jingga, kamu aku tinggal sebentar
ya, aku mau ke wc dulu”. Gumam chiara yang buru-buru langsung menuju wc. Kini jingga
hanya sendiri dikelas. Menatap kejendela. Pandangannya kembali mengurai
ingatan-ingatan dimasa lalu. Ingatan bersama Rachel, ingatan bersama alena. Sekarang
jingga benar-benar ingin menjauh dari semuanya. Bahkan alena pun ia jauhi. Ia benar-benar
ingin kehidupan yang baru.
Jingga menyadari ada seseorang yang
memasuki ruang kelas itu. namun ia cukup enggan memalingkan pandangan dari
jendela. Jingga merasa orang itu mendekat. Dari bau tubuhnya itu bukan chia,
lalu siapa ?. tak biasanya ada orang yang mau mendekati jingga. Mereka berfikir
jingga adalah cewek aneh, bahkan terkesan idiot dengan sikapnya yang sering
diam dan bisu. “jingga, aku minta maaf ya soal yang tadi, aku benar-benar ngaku
kalau aku salah”. sebuah suara datang dari arah belakang jingga. Jingga mengenalnya.
Ya itu suara si iblis. Jingga tak menghiraukannya, ia masih sangat kesal pada
si iblis.
“jingga, aku udah minta maaf. Masa kamu gak mau maafin aku”. Ujar si iblis sedikit memohon. Namun tetap saja jingga tak sedikitpun memalingkan wajah pada si iblis. Setelah berkali-kali meminta maaf namun tidak ada respon dari jingga, akhirnya si iblis memilih meninggalkan jingga dan kembali kemejanya.
“jingga, aku udah minta maaf. Masa kamu gak mau maafin aku”. Ujar si iblis sedikit memohon. Namun tetap saja jingga tak sedikitpun memalingkan wajah pada si iblis. Setelah berkali-kali meminta maaf namun tidak ada respon dari jingga, akhirnya si iblis memilih meninggalkan jingga dan kembali kemejanya.
Jam pulang sekolah pun tiba, jingga
memilih untuk pulang terakhir. Sebelumnya ia tela menelfon mamanya memberitahu
bahwa jingga ingin pulang sendiri menggunakan taxi. Jingga berjalan menelusuri
lorong demi lorong. Setelah tiba digerbang sekolah, ia berdiri menunggu taxi. Setengah
jam ia menunggu tak ada satupun taxi yang lewat. Kaki nya sudah keram berdiri. Tiba-tiba
dari arah belakang jingga mendengar suara motor mendekat. Ia sangat takut, Isu-isu
geng motor di daerahnya cukup membuat ia menjadi paranoid. Suara itu berhenti
tepat di dekat jingga, jingga semakin takut. Tangannya mendingin.
“jingga” sapa pengendara motor itu. jingga sangat mengenal suara itu, si iblis pastinya.
“mau apaan lagi sih ? belum cukup buat kaki aku memar ? sekarang mau nakut-nakutin aku dengan belagak seperti anggota genk motor dengan ninja kamu itu ?” jawab jingga ketus.
“jingga” sapa pengendara motor itu. jingga sangat mengenal suara itu, si iblis pastinya.
“mau apaan lagi sih ? belum cukup buat kaki aku memar ? sekarang mau nakut-nakutin aku dengan belagak seperti anggota genk motor dengan ninja kamu itu ?” jawab jingga ketus.
“eh mpok nori, kamu itu bisa gak
sih sedikit aja positif thinking sama aku. Oke aku emang buat kamu memar tadi. Tapi
ngapain juga sekarang aku nakut-nakutin kamu,gak untung. Malah rugi tau gak. Kalau
kamu pingsan kan aku juga yang repot” sahut si iblis luas bagi lebar sama
dengan panjang.
“jadi kamu mau apa hah ? udah deh
percuma mau minta maaf. Gak ada maaf buat kamu. Ngerti!!!” jingga pun berlalu
dengan langkah yang sedikit pincang (pincang dibuat-buat soalnya sebenernya
kaki jingga udah gak kenapa-kenapa). Jingga melakukan itu agar si iblis semakin
merasa bersalah. Si iblis mencoba
mengejar jingga dan menawarkan jasa nya pada jingga.
“oke,oke sebagai tanda kalau aku tulus minta maafnya, aku mau deh ngelakuin apa aja yang kamu suruh” seru si iblis menarik lengan jingga.
“apa sih narik-narik, lepasin. Sakit tau. Oke kalau kamu maunya begitu. Selama seminggu kamu harus jadi kacung aku” seru jingga menerima tantangan dari si iblis.
“apa kacung?? Enak aja” iblis menimpali, merasa harga dirinya terancam direndahkan.
“dasar cowok idiot, tadi kamu yang nantangin, mau dimaafin gak sih ? kalau gak mau ya udah pergi jauh-jauh sono!!!” sahut jingga sambil mendorong tubuh si iblis.
“oke-oke aku bakal jadi KACUNG kamu selama seminggu” si iblis member penegasa pada kata Kacung.
“oke,oke sebagai tanda kalau aku tulus minta maafnya, aku mau deh ngelakuin apa aja yang kamu suruh” seru si iblis menarik lengan jingga.
“apa sih narik-narik, lepasin. Sakit tau. Oke kalau kamu maunya begitu. Selama seminggu kamu harus jadi kacung aku” seru jingga menerima tantangan dari si iblis.
“apa kacung?? Enak aja” iblis menimpali, merasa harga dirinya terancam direndahkan.
“dasar cowok idiot, tadi kamu yang nantangin, mau dimaafin gak sih ? kalau gak mau ya udah pergi jauh-jauh sono!!!” sahut jingga sambil mendorong tubuh si iblis.
“oke-oke aku bakal jadi KACUNG kamu selama seminggu” si iblis member penegasa pada kata Kacung.
“oke, sekarang berhubung dari tadi
aku nunggu taxi tapi gak ada yang nongol jadi kamu sebagai KACUNG aku harus
ngantarin aku sekarang juga” ujar jingga merasa dirinya menang.
“oke, kemana KACUNG harus mengantar tuan putri?”
“udah deh gak usah sok belaga nerima diri jadi kacung, antarin aku ke pemakaman umum Kristen sekarang”. Dengan ketus jingga menarik tangan si iblis menuju motor sang iblis.
“mau ngapain ke pemakaman ? kamu mau nguburin aku ?” Tanya si iblis kebingungan.
“udah deh, gak usah banyak nanya. Ntar kamu bakal tau juga ayo jalan” sahut jingga sambil memakai helm yang di sodorkan oleh si iblis. Jingga kemudian naik ke motor dan duduk manis menunggu hingga motor si iblis membawanya tiba di pemakaman
“oke, kemana KACUNG harus mengantar tuan putri?”
“udah deh gak usah sok belaga nerima diri jadi kacung, antarin aku ke pemakaman umum Kristen sekarang”. Dengan ketus jingga menarik tangan si iblis menuju motor sang iblis.
“mau ngapain ke pemakaman ? kamu mau nguburin aku ?” Tanya si iblis kebingungan.
“udah deh, gak usah banyak nanya. Ntar kamu bakal tau juga ayo jalan” sahut jingga sambil memakai helm yang di sodorkan oleh si iblis. Jingga kemudian naik ke motor dan duduk manis menunggu hingga motor si iblis membawanya tiba di pemakaman
****
maen lah blognya ver :D
BalasHapushahaha :D belajar jadi penulis den XD
BalasHapushahahah ada lucunya juga, hahahahaah :)
BalasHapus