Kamis, 07 Februari 2013

Langit untuk Jingga #1


Setelah kepergian kakak tercintanya Rachel, jingga seakan tak menemukan lagi sosok yang paling mengerti rentang dirinya. Jingga kehilangan sebuah senyum yang dulu selalu terpancar di wajahnya. Semangat nya patah, hatinya hancur memandang nisan bertuliskan R.I.P Rachel Dinta. Pemakaman Rachel begitu khusuk, seorang imam telah membantu mengantarkan rohnya kerumah baru, disisi kanan bapa disurga. Jingga berusaha untuk tegar, ia menggeram, seolah ingin menahan butiran-butiran air mata yang ingin mengalir melewati pipinya.  Namun ia tak kuasa, butiran-butiran itu menolak perintahnya, air matanya jatuh mengalir deras membasahi wajahnya. Ia tak ingin ditinggalkan, ia ingin Rachel tetap disini, ia ingin Rachel bangun dan memeluknya. Tetapi semuanya percuma, itu hanya ilusi jingga, Rachel sudah tiada, ia sudah tenang ditempat barunya. semua yang ada dipemakaman berangsur-angsur pergi meninggalkan jingga, kini hanya tinggal jingga dan sahabatnya alena, alena sangat khawatir dengan jingga, bagaimana jingga bisa melalui semua ini tanpa Rachel, kakak yang sudah seperti penopang kehidupan jingga.
“ga, kita pulang yuk” sapa alena lembut sambil mengusap bahu jingga.
“aku mau disini aja len, aku mau nemenin kak Rachel, kasihan dia kesepian”
“ga, mau sampai kapan kamu disini, kak Rachel itu udah gak ada ga, kamu coba untuk ikhlas dong, kamu harus berusaha keluar dari ketergantungan kamu sama kakak kamu, ini sama aja kamu nyiksa diri kamu sendiri” suara alena mulai meninggi, ia geram dengan jingga yg masih saja belum bisa menerima kepergian Rachel.
Akhirnya jingga pun tersadar, tak mungkin ia terus disini, bagaimana pun ia harus pulang. Toh biarpun ia tetap disini itu tak akan bisa mengembalikan Rachel yang sudah pergi. Akhirnya jingga meninggalkan pemakaman dengan hati yang hancur, langkahnya gontai, untuk terakhir kalinya ia melihat kebelakang, kearah makam Rachel “kak, aku janji akan sering-sering jenguk kakak, jaga diri kakak baik-baik”. Air mata nya pun kembali menetes, cepat-cepat ia menghapusnya, ia tak ingin alena tau dan kembali menasehatinya, ia sudah muak mendengarkan banyak sekali nasehat hari ini.
sepanjang perjalanan menuju rumah jingga, jingga hanya menatap nanar keluar jendela mobil, melihat langit yang benar-benar gelap, seakan sebentar lagi akan menumpahkan jutaan kubik air kebumi, dalam hatinya jingga bergumam, apakah hatinya sama seperti langit saat ini, begitu mendung, dan seakan tak ada cahaya kebahagiaan yang terpancar. Apakah langit juga merasakan duka yang dialami jingga. Entahlah hanya tuhan yang tau jawaban dari semua pertanyaan konyol jingga. Titik-titik air hujan mulai menetes jatuh ke bumi, jingga melirik kearah alena, alena masih saja konsentrasi menyetir, kembali matanya tertuju keluar jendela mobil, memandang tetes demi tetes air hujan yang mengalir melewati jendela mobilnya.pikiran nya jauh menerawang ke masa lalu, masa dimana Rachel masih ada untuknya, masa dimana ia selalu menangis dipelukan rechel saat ibunya marah pada jingga. Semua itu sangat indah, saat-saat yang tak mungkin dikembalikan lagi oleh sang waktu. Sempat jingga berfikir waktu adalah pembunuh paling kejam, ia pembunuh setiap mimpi dan kebahagiaan yang jingga miliki, namun jingga tersadar waktu jugalah yang membuatnya merasakan kasih sayang seorang kakak seperti Rachel. Mobil terpakir tepat didepan sebuah rumah yang masih terpampang banyak sekali karangan bunga, banyaknya relasi dan teman dari kedua orang tua jingga yang mengirim karangan bunga itu membuat air matanya tumpah lagi, ia benci dengan semua kata-kata yang ada di papan bunga itu. Rachel masih disini masih menjaga jingga, jingga benci kenyataan ia benar-benar ingin tidur, ingin tenggelam dalam mimpi indahnya bersama Rachel, ia berlari menuju kamarnya, tidak peduli dengan tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa, tidak peduli dengan orang tuanya, ia hanya butuh pelukan hangat Rachel, jingga membanting pintu kamarnya, ia menuju kamar mandi dan menumpahkan semua tangisnya disana. Akhirnya ia menyerah, ia memutuskan membersihkan tubuhnya, lalu tertidur, jingga telah lelah menangis.
Telah seminggu jingga uringa-uringan, ia sulit sekali diajak bicara, sulit untuk disuruh makan, bahkan sulit untuk disuruh masuk sekolah. Orang tuanya sudah kehabisan akal untuk membujuk jingga, akhirnya jingga membuka mulut. Ia menghampiri papa dan mama nya yang sedang santai diruang keluarga.
“pa, ma, jingga udah mutusin jingga bakal sekolah lagi, tapi mama sama papa harus cari sekolah baru untuk jingga” gumam jingga.
“sayang, memangnya ada apa dengan sekolah lama kamu, bukan disana mengasyikkan, bukannya disana teman-teman gak pernah ada yg jahat sama jingga” ucap mama jngga menarik lembut lengan anak nya, kini jingga duduk diantara papa dan mama nya.
“menyenangkan ma, kalau gak ada bayangan kak Rachel disana, pokok nya jingga harus pindah sekolah titik”. Jingga berlari menuju kamarnya, mengunci nya rapat, tak peduli mama nya berusaha mengetuknya. Jingga kini telah banyak berubah, iya jadi pendiam, sulit sekali untuk menyunggingkan senyum manisnya, matanya selalu saja sembab dan bengkat. Akhirnya orang tua jingga memindahkan jingga kesekolah barunya, orang tuanya berharap dengan begitu jingga mampu melupakan kenangan Rachel perlahan-lahan.
Pagi itu jingga bangun lebih pagi, ini hari pertamanya kembali belajar. Hari ini ia harus masuk kesekolah barunya, sesuai dengan janjinya pada kedua orang tuanya tempo hari. Jingga beberapa kali melihat pantulan nya pada cermin, cukup rapi dengan seragam barunya. ia berjalan menuruni anak tangga, mencomot selembar roti mengoles nya dengan slai kesukaannya, lalu ia berangkat kesekolah barunya. tiba digerbang sekolah, gedung itu masih terlihat sepi, ia mencari-cari dimana kelasnya, setelah menelusuri beberapa ruangan tiba lah ia di sebuah ruangan yang cukup nyaman, dengan fasilitas belajar mengajar yang sangat lengkap. Di atas nya tertulis, kelas XI IPA 1. Ya jingga memang murid yang cerdas, setelah hasil tes, guru-guru disekolah itu memutuskan untuk memasukkan jingga pada kelas favorit. Jingga mengambil posisi di meja yang dekat dengan jendela, ia meletakkan tasnya dan mengambil sebuah kertas beserta pena dari dalam tasnya, jemari lentiknya mulai merangkai kata demi kata.
“Jika semua kebersamaan dapat direnggut dengan waktu sekejap, maka aku akan berusaha melupakannya dengan sekejap pula. My lovely sister Rachel <3”
jingga membaca kembali tulisannya, lalu dengn kesal ia meremas kertas itu dan membuang nya kearah pintu. Ia menatap tajam kertas itu, berharap dapat membakarnya dengan tatapan mata, andai jingga punya magic. Namun sayang nya jingga bukanlah seseorang yg punya kekuatan magic, kalau saja ia punya pasti saat itu ia bisa menyembuhkan penyakit Rachel. Jingga masih saja menatap kertas itu, ada langkah kaki yang perlahan mendekat, sepertinya seorang murid, karena seragam yang ia pakai sama dengan jingga. Sosok itu berhenti tepat dimana kertas yang jingga buang tergeletak tak berdaya. Jingga masih memperhatikannya, sosok itu mulai membungkuk, mencoba memungut kertas tersebut. Setelah sosok itu membungkuk sempurna barulah jingga dapat melihat wajah sosok itu, ia seorang pria, berkulit hitam, namun terlihat cool, perawakannya tinggi, dadanya bidang, dan yang lebih membuat jingga terperangah adalah matanya yang coklat dan teduh. Cowok itu memungut kertas yang baru saja dibuang oleh jingga.
“kamu ya yang buang kertas ini, dasar cewek tolol, kamu mikir gak sih berapa pohon yang ditebang untuk membuat kertas, dan dengan seenaknya kamu buang-buang kertas begini” guman cowok tersebut kepada jingga.
jingga tersentak, kesal dengan apa yang diucapkan oleh cowok tersebut, jingga tau ia salah. Namun ia tetap saja tak mau mengakuinya, ia berusaha membuat dirinya kelihatan benar didepan cowok tersebut.
“apaan sih, ya suka-suka aku dong, aku kan gak minta kertas itu dari kamu, baru ketemu udah nyolot, siniin kertasnya” jingga mencoba meraih kertas tersebut dari cowok itu dan membuangnya ke tempat sampah. Gedung sekolah berangsur-angsur ramai, beberapa murid sudah mulai masuk kekelas masing-masing, ada juga yang asik nongkrong di teras depan kelas masing-masing. Jingga masih asing dengan tempat ini maka ia memutuskan untuk duduk diam di kursinya dan membaca beberapa buku pelajaran. Sebenarnya ia tidak sedang membaca namun hanya ingin terlihat sedang sibuk sehingga ia dapat terhindar dari pembicaraan, atau obrolan teman-teman barunya.  semenjak kepergian Rachel, jingga seolah ingin mengunci dunianya, ia berusaha menghindar dengan orang-orang yang ingin memulai percakapan dengannya. Namun entah apa yg merasuki nya tadi, akhirnya jingga tersadar, tadi ia seolah tak bisa mengendalikan dirinya ketika marah pada cowok yang nyebelin itu, itu adalah kalimat yang panjang yang ia ucapkan setelah perubahan sikapnya, biasanya hanya sepatah dua patah kata yang terucap oleh bibir mungilnya. Hanya ya atau tidak.
Bel sekolah berbunyi itu tandanya pelajaran akan segera dimulai, desebelah jingga duduk seorang cewek berparas imut, jingga melirik kearah seragam cewek tersebut tertulis jelas nama chiara disana. Merasa diperhatikan oleh jingga chiara menoleh, dan mengulurkan tangannya pada jingga.
“chiara” gumamnya sambil tersenyum.
“jingga” balas ciara datar, tanpa senyum sedikitpun.
“kamu anak pindahan ya, dari mana?” balas chiara ramah.
“Ya, dari SMA Bakti Persada” balas jingga jutek.
chiara agak sedikit aneh dengan sikap jingga, ia menyapanya dengan lembut dan ramah tapi jingga membalasnya dengan cuek dan ketus. Namun sikap chiara yang memang terbilang asik tak terlalu memasukkan itu kedalam hati.

Suara langkah kaki sudah mulai mendekat, sosok seorang wanita dengan cepolan dan make up tipis di wajahnya memasuki ruang kelas jingga. Ya dia adalah bu tia, wali kelas jingga yang sekaligus mengajar mata pelajaran kimia. Jingga dipanggil kedepan kelas oleh bu tia, jingga ling-lung ia tak pernah memperkirakan harus memperkenalkan diri didepan kelas, itu artinya harus banyak kalimat yang ia ucapkan. Dengan langkah berat, jingga meninggalkan kursinya dan berjalan ke depan kelas.
“nah, anak-anak kita kedatangn murid baru dikelas kita. Jingga, silahkan perkenalkan nama kamu nak”
jingga menatap bu tia seolah memohon agar ia tak melakukan itu. ibu tia heran karena jingga hanya terdiam.
“jingga ayo nak, perkenalkan diri kamu, kemapa kamu diam ?” tegas bu tia.
“bu dia gagu kali, gak bisa ngomong” seru seseorang dari arah belakang, jingga meliriknya sinis, itu adalah cowok yang tadi yang menasehatinya.
tawa semuanya pecah, jingga semakin membenci cowok itu, dengan suara lantang ia akhirnya membuka bibir mungilnya.
“nama saya jingga dwi adinta, biasa di panggil jingga, dan saya pindahan dari SMA Bakti Persada” dalam hatinya jingga berteriak, puas kalian semua ha. Jingga menggeram tangan nya dikepal, seolah ingin sekali mendaratkan tangannya ke muka cowok menyebalkan itu.
“oke sekarang kamu boleh duduk jingga, dan anak-anak kita mulai pelajaran” tegas bu tia.
jingga berjalan dan memasang wajah kesalnya, ia duduk sambil mengambil buku kimia dari dalam tasnya, sungguh hari yang sangat buruk. Sepanjang pelajaran jingga tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran itu. jingga masih sangat kesal dengan cowok menyebalkan itu, jingga melirik kebelakang, tatapan nya tajam menuju cowok itu. seolah tau sedang diperhatikan oleh jingga, cowok itu pun mengangkat jempolnya lalu membalikkan nya. Napas jingga tertahan, sekarang seperti ada tanduk yang sebentar lagi akan keluar dari kepalanya. Dalam hatinya ia bergumam, awas lu bakal aku balas semuanya.
Akhirnya pelajaran yang terasa membosankan berlalu, jingga menuju kantin hanya sendiri, ia belum bisa membuka dunianya untuk orang-orang asing disini. Ia membeli meniuman dan makanan ringan dikantin sekolah, lalu duduk disalah satu meja. Kantin itu berseberangan langsung dengan lapangan basket, dari sana samar-samar jingga melihat si iblis yang sangat menyebalkan itu. “oooh pemain basket ternyata” gumam jingga. Ditengan asyik memikirkan cara untuk membalas rasa kesalnya pada cowok yang disebutnya iblis itu, chiara datang dan menepuk pundak jingga.
“hai jingga, boleh aku duduk disini, meja yang lain udah penuh” Tanya chiara dengan sangat ramah.
dalam hati jingga bergumam, ini anak udah di cuekin masih juga care ama aku, apa dia bisa dijadiin temen ? ahh, aku coba aja dulu.
“boleh, duduk aja chia” balas jingga mulai ramah pada jingga.
akhirnya jingga merasa ada kecocokan dengan chiara, maka jingga pun memutuskan untuk mulai membuka dunianya untuk chiara teman barunya. mereka mulai larut dalam obrolan, menceritakan tentang pelajaran yang beberapa menit sudah berlalu.
Jingga seolah mendengar suara iblis di dekatnya, benar saja iblis itu kini sangat dekat dengan jingga, iblis itu sedang membeli minuman dikantin. Dengan wajah liciknya jingga menyusun sebuah rencana, ia berdiri menuju tempat pemesanan makanan atau minuman, kini ia berdiri tepat disebelah iblis itu. jingga memesan satu gelas jus jeruk. Beruntungnya jingga, minumannya lebih dulu tiba dibandingkan dengan minuman yg dipesan oleh si iblis itu, setelah membayar minumannya jingga pun langsung melaksanakan ajang balas dendamnya. Ia sengaja menungkai kakinya sendiri seolah-olah ia terlihat hendak terjatuh. Segelas jus jeruk yang baru saja dipesan dengan suksesnya tumpah membasahi pakaian sang iblis. Jingga bersorak penuh kemenangan dalam hatinya. Hanya sepatah kata “maaf” yang keluar dari mulutnya. Ia mengambil sebuah sapu tangan lucu berwarna pink dari saku roknya dan menyerahkannya pada sang iblis.
“ini buat bersihin” ucap jingga sambil menjulurkan sapu tangan tersebut. Dalam hatinya ia bersorak sangat gembira, akhirnya bisa juga ia membalas iblis menyebalkan itu. jingga pun berlalu meninggalkan sang iblis dan kembali ke kelas bersama chiara.
“jingga, kamu kok nekat banget sih sama itu anak ?”
“peduli amat, siapa suruh dia tadi pagi buat aku malu”
“iya juga sih, sekali-sekali pantas tuh anak dapat kayak gituan, abis belagu sih. Mentang-mentang cakep seenaknya aja sama cewek” gumam chiara.
“iya chia” sambung jingga singkat.

Kali ini bel pulang yang berbunyi, akhirnya semua pelajaran telah sekesai. Itu tandanya jingga bisa tenggelam dalam mimpi-mimpinya dikamar tercintanya. Jingga berlari kecil menuju parkiran disana ia sudah ditunggu oleh mamanya, dengan semangat jingga masuk dan mobil pun melesat menuju rumahnya. Di dalam perjalanan jingga berpura-pura tidur, ia sudah mengendus kalau mamanya pasti akan banyak bertanya soal sekolah barunya. jingga sangat enggan memulai percakapan panjang. Cukup dengan chia saja dia bisa berkomunikasi seperti biasa. Setibanya dirumah, mama jingga membangunkannya, jingga buru-buru masuk ke kamarnya berganti pakaian lalu memutuskan untuk duduk menghadap ke arah jendela dengan pandangan kosong, tanpa senyum diwajahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar