Sabtu, 21 September 2013

Sesingkat September

Untuk kesekian kali nya, lagi-lagi hujan menjadi temanku untuk meneteskan air mata. Entah mengapa hujan mampu menguras emosiku, membawaku terlarut dalam luka yang kuciptakan sendiri. semua terasa seperti beban yang membuatku sulit bernafas. Aku ingin secepatnya keluar dari zona ini. hei bisakah kamu menghentikan air mata ini ? bisakah kamu mengambil rasa sakit ini?
Salah ku, benarkah semua salah ku? Apa mencintai mu benar serumit ini? Benar sesakit ini? Mengapa semua terasa sulit saat kupikir ‘kita’ akan berjalan semudah perkiraanku. Apa yang harus kulakukan? Perasaan ini sudah terlanjur jatuh pada mu, hatiku telah terlanjur memilih mu. Ya aku tahu ini sebuah kesalahan, kesalahan yang tak semestinya kubuat. Apa kau pikir semudah itu untuk jatuh cinta lagi bahkan setelah aku merasakan luka yang sama sebelumnya, tidak! Jatuh cinta dalam definisi ku tidak semudah yang kau perkirakan sayang.
Harusnya kau paham bagaimana seharusnya memperlakukan hatiku yang baru saja sembuh. Kau memang menyembuhkan luka lama ku namun bukan berarti kau harus membuat luka baru setelah itu.
‘kita’ memang hanya berawal dari ketidak sengajaan, bermula dari perhatian melalui pesan singkat yang entah itu sungguh serius terjadi atau hanya sebatas iseng belaka, aku tak tahu pasti yang aku tahu semua bermula tanpa terduga. Ya kamu bukan orang baru bagiku, aku mengenalmu cukup baik setelah acara itu. mungkin sebelumnya aku tak pernah melakukan percakapan yang tak penting dengan mu apalagi sekedar berbasa-basi untuk menanyakan apa yang sedang kau lakukan atau sebagainya, hanya saja malam itu entah apa yang terjadi, kau mengirimi ku pesan singkat, aku membalasanya seperti biasa, singkat, tanpa bertele-tele, tanpa emoticon, dan kupikir tidak ada yang spesial dari percakapan kita semua terasa kaku bahkan terkesan terlalu formal, kau menanyakan pendapatku tentang realisasi ide yang pernah kita bahas dan aku menanggapi semua sebagaimana selayaknya seorang teman memberikan saran kepada seorang teman lainnya.
Kau memulainya, ya kau yang memulainya, entah sejak kapan kau mulai memanggilku dengan sebutan “kamu” dan begitu pula sebaliknya dengan aku. semua terjadi tanpa kita sadari. Hingga akhirnya aku sadar ada yang mulai berubah, kita mulai terasa dekat. Kupikir ini seperti pasangan lainnya, ini kah yang mereka sebut tahap pendekatan? Entahlah aku tak ingin terlalu cepat mengartikan semua ini. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan perasaanku agar tak terlalu jauh menanggapi maksud dari semua ini.
Namun, seiring waktu keformalan yang dulu selalu menjadi topic utama pesan singkat kita kini mulai berubah menjadi perhatian-perhatian sederhana yang sangat manis. Kita mulai membubuhi emoticon ditiap akhir kalimat balasan. Tanpa sadar aku mulai larut dalam perhatian sederhana yang kau tunjukkan melalui pesan singkatmu. Sunggu pada awalnya aku hanya menanggapi semua itu sebagai sesuatu yang iseng belaka, aku cukup meyakinkan diriku dan aku cukup tahu diri pria sepertimu tidak mungkin punya perasaan lebih terhadap wanita sepertiku. Dingin,kaku,bahkan terkesan cuek itulah aku.
Ketertarikan sesaat begitulah aku menyebut hubungan ‘kita’. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa ketertarikan mu terhadapku hanya terjadi sementara, hanya saja aku bukanlah tipe wanita yang lantas  menjatuhkan fonis negative terhadap pria yang mencoba mendekatiku hanya karena aku pernah terluka sebelumnya.
Sungguh pesonamu benar-benar membuat ku terpikat. Baiklah, aku mengakui bahwa kau berhasil merebut dan mengisi ruang kosong dihatiku. Ya perlahan kau mengisi tempat itu dan entah mengapa aku bisa begitu saja mempercayakan mu untuk mengisi tempat itu, padahal sebelumnya aku ingin benar-benar menutupnya.
Alasan! Aku tak tau apa yang harus ku jadikan alasan dalam mecintaimu, memang terasa begitu cepat, bahkan hanya baru beberapa minggu kedekatan kita aku sudah berani bilang ini cinta. Gila! Ini memang benar-benar gila, bahkan diwaktu sesingkat ini aku berani mengambil resiko, menyerahkan hatiku dan mempercayakannya untukmu. Entah kau pantas atau tidak untuk menerima kepercayaan itu namun hatiku tetap akan memberikan nya untukmu.
Sampai pada akhirnya hari itu aku sangat mengingat nya, hari itu tanggal 14 september, kita sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah bioskop di kota kita. Apa? Kau mengajak ku nonton hanya berdua? Apa ini semacam date? Aaah tidak, kita hanya menghabiskan waktu bersama, benar bukan?
Kau menyuruhku menunggu, sungguh itu adalah hal yang paling kubenci, 20 menit aku harus menunggumu menyelesaikan urusan mu dan aku sangat ingat waktu itu kau menghampiri ku dengan berjalan sedikit cepat. aku bisa membaca arah gerakmu, hanya saja aku berpura-pura tidak mengetahui kedatangan mu. mataku segera ku alihkan pada layar handphoneku, kemudian mencari apa yang sebenarnya tak benar-benar kucari. Aku menunggu, hingga akhirnya kau tepat berada di depanku, dengan nafas tidak teratur akibat ulahmu sendiri, aku memasang wajah kesalku dan kau tersenyum dengan wajah innocent mu.
Baiklah aku ingat, kau mengacak-ngacak rambutku yang sudah susah payah kurapikan sebelum bertemu denganmu, dan aku suka saat itu. kau punya cara tersendiri untuk meminta maaf dan aku suka cara itu. kemudian kau segera berdiri mengajak ku beranjak dari kursiku dan menuju tempat pemesanan tiket. Baiklah pilihan jatuh pada film horror, selera yang sangat buruk. Dan aku mengumpat dalam hati kenapa kita harus menonton film dengan genre yang menyeramkan.
Kita memasuki ruangan dan aah apa-apaan ini, bisakah lain kali kita memasuki studio sebelum film dimulai, ruangan itu sangat gelap, dan aku sama sekali tidak bisa berjalan dalam kegelapan seperti itu. kau menuntunku hingga ‘kita’ tiba di bangku kita.
Kau mulai memusatkan perhatian pada film, dan apa kau tau ini pengalaman pertama ku menerima ajakan seorang pria menonton film berdua.
Aku juga mulai menikmati film, ingat? Tidak benar-benar menikmati, aku tetap wanti-wanti bila mana tiba” hantu tersebut muncul. Aku tau kau melihatku dari sudut matamu, dan aku memperhatikan semua itu. kau juga tak luput dari sudut mataku. Meskipun aku tau di ruangan ini tak ada cahaya namun samar-samar aku tetap mampu melihat gurat wajahmu.
Film sudah berjalan sekitar 20 menit dan aku benci setiap adegan tersebut, kenapa hantunya menjadi sering muncul dan itu benar-benar membuat laju jantungku bertambah cepat. Aku meremas pegangan kursi dengan kuat, merasa ketakutan ketika hantu tersebut muncul kemudian memutar kepalanya tepat 3600. Baiklah kali ini aku harus menutup mataku, hei dan aku ingat saat itu tangan mu perlahan mencari tangan ku, kemudian mengisi celah-celah jariku dengan milikmu. Tepat! Kau membuatku bertambah gugup, dan yang pastinya bertambah luluh. Aku tahu kau kembali melihatku, kali ini terlihat jelas, namun aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku tetap menatap lurus kedepan.
Hei ingat saat aku bersandar di pundak mu? Ingat saat aku menyembunyikan wajah ku ke bahumu ketika aku ketakutan? aku merasa ingin mengulang semua itu, lagi dan lagi.
Aku pikir setelah semua yang kita lalui bersama aku semakin yakin bahwa ini bukan hanya ketertarikan sesaat. Aku menyayangimu sunggu menyayangi mu, rasa itu tumbuh begitu saja padahal aku sudah berusaha menekannya, menyiksanya dengan cara menyangkal perasaan itu berkali-kali. Namun, ia terlalu kuat untuk ku sembunyikan, seberapa keras pun aku mencoba untuk menekan perasaanku rasa itu tetap sama.
Aku takut untuk jujur, aku takut kau tahu segalanya kemudian pergi. Aku belum siap mengakhiri semuanya. Bisakah kita menikmati ini selamanya. Oh tidak! Ini hanya mimpi, this is just a dream.
Dan saat aku terbangun aku sadar semua telah berubah, kau berubah, kau tak lagi sama, tak lagi hangat seperti beberapa minggu yang lalu, apa yang menyebabkan mu berubah? Aku tersiksa dengan keadaan ini, sungguh semua pertanyaan yang ada dalam kepalaku membuatku merasa tertekan. Beritahu aku mengenai alasan perubahanmu. Apakah ternyata kau telah menemukan yang lain? apa kau hanya persinggahan, tempat mu mencurahkan segala tangis tapi bukan menjadi tujuan untukmu? Kalau memang ia lalu kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung? Itu lebih baik dari pada kau harus membuat ku mencari-cari jawaban seperti ini.
Tidak kah kita bisa mengulang semua hal manis itu? beritahu aku agar aku segera mengubur mimpi itu dalam-dalam. Beritahu aku agar aku tak selalu mencari dalam keheningan.
Meskipun pada akhirnya kau menyisakan luka, meskipun pada akhirnya kau menjadi topic utamaku dengan Tuhan, meskipun kau yang menjadi sebab tangisan ku pada tengah malam, aku sadar perasaan ini masih belum berubah, dia masih menunggumu dan masih menjadi persinggahan yang nyaman untukmu yang ingin segera kau jadikan tujuan.



                                                               14 september ………………………
Dari wanita yang menyayangimu
Pria bawel, aku merindukanmu,
Dan merindukan semua percakapan                                         manis kita
Aku juga merindukan kenangan manis                                 yang pernah kita ukir bersama di bulan                                 september


Jumat, 10 Mei 2013

Kita Dan Kenangan


Aku merasa waktu bergulir begitu cepat dan juga begitu lembut, hingga membuatku tak menyadari bahwa perlahan-lahan waktu membawa serta kenangan itu pergi. Tiap malam-malam gelap, doa menjadi pelarianku ketika rindu ini terlalu kuat dan tak mampu lagi ku bendung. Ada nama mu disana, di setiap kata yang terangkai indah bersamaan dengan harapan-harapanku. Kau tak pernah kulupakan dalam setiap rapalan doaku.
Sepertinya membicarakan tentang mu adalah topik utamaku dengan Tuhan, aku selalu mengusiknya, bercerita kepadanya seperti apa ‘kita’ dahulu, seperti apa kita menjalani semuanya. Aah, segalanya begitu lembut, begitu sederhana, dan begitu indah. Terkadang aku merindukan semuanya, semua hal tentang kita, selalu saja begitu, aku selalu merindukan hal-hal yang sudah berlalu dan berniat mengulangnya lagi, sekali lagi, padahal yang kurindukan adalah hal mustahil yang mungkin tak bisa diulang kembali.
Kalau aku boleh tahu, apa kabar dirimu saat ini? Sesungguhnya aku ingin tahu banyak hal tentangmu, dan berusaha, selalu berusaha mengetahuinya. Kamu tak akan pernah tahu itu, aku melakukannya dengan sangat bersih, aku berusaha melakukannya tanpa sepengetahuan mu . apa kau lupa kau pernah meledekku dengan sebutan setan kecil ? ya, sampai saat ini pun aku masih menjadi setan kecilmu, menguntit mu perlahan, dan mencintaimu dalam diam, kembali pada saat pertama kali aku jatuh cinta padamu. Manis bukan?
Seperti apapun luka yang pernah kau buat, rasanya hatiku selalu tulus memaafkannya, aku selalu berusaha mengobati luka ku sendiri, karena aku tahu hanya kau dan hanya aku yang tahu cara menyembuhkannya. aku tahu kau bukan tipe orang yang menyukai hal-hal yang aku sukai hanya karena kau menyukaiku. Aku paham kau bukan tipe orang yang terpaksa mencintai sesuatu hanya karena dia mencintaimu.
Setidaknya ketahuilah, cinta ini hadir tanpa ‘karena’ juga tanpa ‘jika’ . bukan aku yang memilihmu, tapi hatiku. kau datang dan membiusku, menusukkan cinta kemudian kau mencabutnya. Perih memang, namun ini realitanya. Selama ini aku mencintai sesuatu yang semu, sesuatu yang maya, aku hanya berpegang pada cinta yang tidak nyata. Rasa nyaman yang kau berikan cukup menipuku, atau mungkin dulu sesungguhnya cinta itu nyata, hanya saja sesuatu menjadi penghalang segalanya.
Dengarkan aku, kali ini dengarkan pernyataanku, mungkin ini terlalu biasa, bahkan terlalu konyol, mungkin ini semacam lelucon untukmu, yang menggelitik syarafmu untuk menertawaiku, buka matamu, aku masih merindukanmu. Disini aku masih bersedia menyediakan lengan untuk memelukmu, jika kau menangis, kau bisa menghubungiku lagi dan aku akan berusaha meredam tangismu, menghapus setiap air mata yang menggenang dipelupuk matamu.
Ceritakan padaku hal baru yang kau dapat disana, selain pacar barumu itu. beritahu aku kapan kau kembali, kapan kau menemuiku lagi. Astaga, aku lupa! Bahkan kau pernah bilang tak akan pernah ke kota ini lagi. Mengapa? Bisa kau jelaskan padaku? Aku tak mengerti apa alasannya. Apa begitu banyak yang melukai mu di kota ini, harus nya aku yang pergi dari sini, karena bayangan mu masih jelas, masih terlihat nyata disini.
Aku masih bertahan disini, berdiri diatas kenangan, berusaha menata hatiku, aku tahu ini sulit ditambah lagi kenangan mu tak segan-segan menggerogoti pikiran ku di waktu-waktu tertentu. Ada kalanya moment-moment khusus yang kulalui membuat ku teringat pada ‘kita’. Terkadang secuil kenangan yang terputar kembali mampu menjadi besar seketika. Aku tak bisa mengatur dan mengendalikan mereka, mereka datang dan berkembang dengan sangat cepat.
Kelak, beritahu aku alasan mu pergi. Jelaskan padaku penyebabmu berpaling, ceritakan padaku kronologi nya. Aku membutuhkan penjelasan itu, penjelasan yang tak pernah kudengar keluar dari bibirmu. Aku yakin kita tak akan bertemu lagi,di sini, dikota ini. Tapi siapa yang tahu, kelak kita kan bertemu dilain kesempatan, dilain kota. Bukan nya Tuhan sangat senang mempertemukan yang tak disangka-sangka sebelumnya, seperti halnya DIA mempertemukan mu dengan ku. Percayalah aku bisa menjaga hatiku. seperti katamu dulu, ya! Aku tak akan jatuh lagi pada kesalahan yang sama. Aku tak akan memilih bahu yang salah untuk menghapus air mataku, seperti halnya kesalahan ku mempercayakan hati ku padamu. Pastikan padaku tak ada benci di antara kita. Karena bagiku setiap cerita punya kenangan tersendiri dan aku tak mau menghadirkan kebencian pada kenangan kita.



Jumat, 26 April 2013

Aku Bukan Dirinya #2


Sama halnya dengan Gita, Gisel pun tak percaya dengan apa yang ia baca. Mereka akan pulang berdua siang ini ? ia akan pulang berdua dengan Gio kemudian pergi ke perpustakaan daerah juga berdua, hanya berdua dengan Gio ?. aah Gisel tak percaya. Berkali-kali ia membaca pesan singkat di kertas itu namun tulisan itu tetap sama. Tak ada satu huruf pun yang berubah. Gisel merasa semuanya seperti mimpi, secepat itu kah ? hanya karena pertemuan itu, pertemuan di ‘lorong laboratorium’ itu. atau sebenarnya Gio sudah tau kalau Gisel memendam sebuah perasaan yang besar terhadap Gio. Gisel pun masih mencoba menerka-nerka, konsentrasinya buyar seketika. Niat nya untuk melakukan percobaan hilang sudah, hanya karena sebuah pesan singkat dari seseorang yang ia cintai. Seseorang yang selalu ia perhatikan diam-diam. Seseroang yang selalu ia peluk dengan doanya bukan dengan lengannya. Dan seseorang yang selalu ia lihat dari kejauhan. Giovano Dirga, nama yang saat ini berputar-putar dikepalanya, bukan lagi rumus-rumus senyawa kimia, bukan lagi nomor-nomor bilangan oksidasi dan bukan lagi urutan atom di tabel periodik. Gita menatap Gisel dengan senyum termanis nya ia memeluk sahabatnya erat-erat seolah merasakan apa yang Gisel rasakan saat ini.
“Sudah saat nya sel, elu harus coba! Mau sampai kapan megang komitmen buat selalu sendiri. harapan udah di depan mata, elu harus bertindak selangkah lebih maju sekarang.” Gumam Gita meyakinkan Gisel yang perasaannya masih bertanya-tanya tentang maksud surat tersebut.
“belum gita” ujarnya lirih. “ini belum saat nya, gua gak mau terlalu berharap. Terkadang enggak semua hal indah itu disebut harapan. Gua gak mau terlanjur ngeyakinin hati gua dan ujung-ujungnya malah gua yang bakal sakit”.
“yaudah, gua gak maksa elu kok. Apapun yang elu lakuin asal elu bahagia, gua bakal ikut bahagia kok sel” seru gita sembari mengusap bahu Gisel.
“iya makasih ya ta, elu emang sahabat dari orok yang paling baik sedunia. Udah aaah, masak kita lembek kayak lemper gini kalau udah bahas masalah perasaan. Miris banget, gak seru tau. Tuh mata lu jadi makin sipit tuh, udah mirip garis malah”. Canda gisel yang menyebabkan cubitan-cubitan dari Gita di pergelangan dan bahunya.
“gisel!! Elu tadi udah janji gak akan ngeledek gua lagi”. Seketika itu juga ruangan laboratorium terasa sesak dan ingin pecah akibat suara Gita yang melengking keras. Gisel menutup telinganya dengan kedua tangan nya. Ia berusaha melindungi rumah siput dan gendang telinganya agar tidak rusak karena suara Gita yang melengking itu.
“iya, ampun Gita!” balas Gisel dengan suara yang tak kalah nyaringnya dengan suara Gita.
“Gisel, lu ngapain teriak-teriak, lu kira ini ruangan Hutan rimba apa ?”. Gita memasang wajah sok polosnya yang selalu saja membuat gisel tergelitik kemudian tertawa ketika melihat ekspresi wajah Gita yang seperti gadis idiot tersebut.
“nah kan elu duluan yang teriak-teriak kayak tarzan kelaparan ta, kok malah gua yang elu tegur. Turunin dulu tuh oktaf suara lu. Bisa hancur telinga gua kalau setiap jam dengar suara secempreng itu”.
“hahaha. Suara emas begini lu bilang cempreng, yang ada suara elu tu serak-serak becek kayak di pangkalan ojek sel. Hahaha”.
“asem lu. Udah ah cabut yuk. Lama-lama ni rungan serem juga kalau ada elu, abis suara lu kalau ketawa beda-beda tipis ama eyang nya kuntilanak ta”.
“asem lu sel”. Seru gita yang kemudian mendengus kesal dan memajukan bibir tipisnya.
Keduanya berjalan menuju kelas masing-masing. Gisel dan Gita memang tidak sekelas bahkan tidak satu jurusan. Gisel dengan otak kimianya itu pastinya memilih IPA sedangkan gita dengan jiwa sosialnya itu pastinya memilih IPS. Keduanya memang sering beradu argument tentang jurusan masing-masing. Manusiawi sih, terkadang keduanya membela jurusan masing-masing. namun, pada akhirnya keduanya menganggap jurusan apapun yang mereka pilih dan jalani saat ini, semua itu saling berhubungan dan saling berkaitan. tidak ada yang lebih hebat, karena apapun jurusannya, apapun provesinya semua itu tidak buruk kecuali provesi tersebut melanggar norma dan hukum.
*****
Gisel melangkah dengan ragu. Gedung sekolah berangsur-angsur sepi. Begitu pula dengan parkiran sekolah. Hanya tinggal beberap motor saja yang masih bertengger disana. Sosok itu sedang menunggu, menunggu jawaban surat yang tadi siang ia titipkan pada seorang cewek berembut panjang dan bermata sipit yang tak lain adalah sahabat gadis yang kini ia tunggu. Gio duduk dengan resah diatas motornya. Sedangkan gisel sendiri masih ragu untuk berjalan kearah Gio. Irama jantungnya masih sangat kacau, ia takut Gio mampu mendengar suara jantungnya yang sangat kacau itu apabila ia nekat menghampiri Gio saat ini juga. Gisel meyakinkan dirinya untuk menemui Gio, ia tak mau membiarkan orang yang ia cintai menunggu lama. Tarikan nafas yang cukup dalam sepertinya cukup untuk membuang rasa gugup yang Gisel rasakan. Kini irama jantungnya sedikit lebih teratur dan ia sudah punya keberanian lebih untuk melangkah.
“hai kak Gio, udah lama nunggu ya ?” sapa Gisel ramah.
“eeeh, hai. Enggak kok. Baru aja, paling nunggu 5 menit doang”. Gio berbohong bahkan ia telah menunggu gisel sejak bel sekolah dibunyikan. Hingga saat ini saat parkiran sekolah sudah sesepi ini mana mungkin hanya 5 menit.
Gisel mencoba mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menatap mata coklat itu. terlalu banyak getaran yang akan terjadi dan ia menghindari semua itu. “hmm, maaf udah buat kakak nunggu. Oh iya jadi kita mau kemana ?”
“kita mau ke RSJ nganterin kamu. hahaha”
“oh ya ? berarti kakak juga ikut dong. Kan kakak yang gila duluan” ledek Gisel tak mau kalah.
“tapi kamu yang lebih gila, kalau dimasukin ke perbandingan kamu 3 aku 1”.
“aaahh curang!!” suara gisel naik beberapa oktaf.
“cempreng ah suaranya, sakit nih telinga aku”. tutur gio sembari menutup kedua telinganya.
“yee, jarang-jarang loh kak dengar suara aku yang kece ulala itu. hahaha”
“nah, PeDe nya kumat, udah buruan naik deh. kamu keburu meleleh disini ntar ngeliatin muka aku yang cetar kalau kata syahrini mah”.
“lah emang kakak siapa nya syahrini ?” Tanya gisel dengan memasang wajah sok polos.
“ya itu tukang ojeknya dulu, kan sering macet jadi dia naik ojek.hahaha”.
“ooh pantesan tampang nya mirip tukang ojek kak. kak Gio tukang ojek paling top deh. hahaha”.
“hah, aduh kejebak omongan sendiri nih, kamu pinter banget sih. Padahal belum ada lho yang bisa ngalahin aku kalau lagi ledek-ledekan gini”.
“wah karena aku orang pertama aku dikasih hadiah dong ya. Harus lho!”
“yaudah naik dulu, atau mau jalan kaki.hehehe”.
Gisel pun segera naik dan duduk manis dibelakang Gio. Motor gio membelah jalanan padat kendaraan itu selama 15 menit. Selama 15 menit itu pula Gisel harus bertarung dengan polusi dan debu-debu yang dengan girang nya terbang lalu-lalang di tengah udara yang panas.
                                                          *****    
Bangunan tua itu tampak klasik tak banyak yang berubah hanya saja beberapa bagian sudah mulai rusak dan layak untuk mendapatkan renovasi. Dua anak manusia berbeda pemikiran itu menyusuri lorong-lorong tua dengan lukisan-lukisan sejarah yang menempel erat pada dindingnya. Rak-rak buku yang tingginya kurang lebih 2 meter tersusun rapi di ruangan tersebut. Tiap rak memiliki kategori masing-masing. Gisel menyusuri rak-rak puisi dan sajak sedangkan Gio sendiri menyusuri rak-rak buku kategori Musik. Keduanya pencinta seni namun berbeda aliran. Gio suka Hardrock sedangkan Gisel menyukai klasik. Gio tak terlalu suka sastra dan persajakan tapi ia mencintai seni teater. Gio dan Gisel mengambil beberapa buku dari rak-rak tersebut kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Tak seperti perpustakaan pada umumnya, pada perpustakaan ini pengunjung duduk lesehan khas zaman dulu.
“kakak baca buku apa ?” Tanya gisel memulai pembicaraan.
“ooh ini, buku sejarah tentang musik. Kamu sendiri baca buku apa ?”
“ini aku suka puisi jadi yaa aku ambil buku kumpulan puisi gitu”.
“waah berarti kamu bisa bikin puisi dong ?” Tanya Gio antusias.
“hmm, bisa sih kak tapi enggak ahli. Hahaha”.
“wah keren-keren dari biasa dan bisa pasti akan jadi ahli”
“semoga aja sih kak heheh”.
“Gisel, kamu suka teater gak ? besok ada pertunjukan di Balai Kebudayaan. Kamu mau nemanin aku nonton bareng gak ?”.
“hmm, teater ya kak ? boleh deh”.
“oke besok aku jemput kerumah kamu ya”. Gisel hanya mengangguk pelan meyetujui usul Gio.
“Gisel Jangan panggil aku kak lagi ya, kita ini seumuran loh. Cuma beda tingkatan aja”.
Gisel menegakkan wajahnya yang tadi tertunduk membaca bait-bait puisi dari buku yang ia ambil. Matanya terbelalak menatap Gio. Ia tak menyangka ternyata Gio seusia dengannya. Bahkan kini Gio memintanya untuk berhenti memanggil Gio dengan sebutan ‘kak’.
“lalu aku harus panggil apa ? gak sopan dong kalau aku panggil nama aja”.
“hahaha. Muka kamu lucu ya kalau kaget begitu, ya udah disekolah aja panggil ‘kak’ nya kalau diluar ya panggil Gio aja”.
“Tunggu dulu, aku butuh bukti kalau kamu itu seumuran sama aku, siapa tau aja kamu lagi kumat terus pengen kelihatan muda makanya kamu bilang kamu seumuran sama aku”. seru gisel penuh curiga.
“Gisel,Gisel!. Gak percayaan banget sih sama aku. ngapain juga aku pengen kelihatan muda kan emang muka aku jauh lebih muda, hahaha”. Gio pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, ia memberikan kartu tersebut pada Gisel. Gisel menerima kartu itu dengan antusias dan membaca identitas yang dideskripsikan dalam kartu tersebut.

Giovano Dirga
NIS                     : 3341
place/Birth           : Pekanbaru, 2 Februari                       1995

 





Sekali lagi Gisel menatap Gio dengan penuh rasa curiga. Sesungguh tidak semustahil yang ia pikirkan, semua bisa saja terjadi.
“tetap aja kamu yang lebih tua” ujar gisel sembari mengembalikan kartu tersebut pada Gio.
“hah, Cuma beda 4 bulan doang juga”. Seru Gio protes.
“iya tapi tetap aja Tua” sanggah gisel sembari mengejek Gio.
“ya udah deh aku ngalah,  yang lebih tua ngalah. Eh udah sore kita pulang yuk”.
“oh, ya udah bentar ya aku kembaliin buku nya ke rak dulu. Punya kamu mau sekalian gak ?” Tanya gisel menawarkan jasanya pada Gio.
“ooh, boleh deh. makasih ya gisel”.
Gisel hanya tersenyum kemudian dua kata singkat keluar dari mulutnya “sama-sama” ujarnya lembut.

Senin, 15 April 2013

no title

tidak terasa ya sudah lama kita tidak saling menyapa, sudah berbulan-bulan mata kita tak saling beradu pada satu titik yang sama. rasa nya akhir-akhir ini semua itu menghantuiku lagi. kamu sosok pria yang dulu membuat aku harus menahan napas tiap kali bertemu denganmu, kamu pria yang selalu membuat ku harus tertunduk ketika mata hitam pekat mu membidik titik terkecil pada mataku, apa kabar kamu? aku rindu senyum sinis mu, rindu tawa renyah mu, juga rindu kehadiran jemarimu yang mengisi tiap celah dijemariku. aku rindu ketika hujan datang dan aku meringkuk dalam pelukan mu. aku rindu tiap kali dingin menyusup membekukan tubuhku dan genggaman mu semakin erat pada jemariku.
kamu yang kini jauh di sudut kota sana. aku berharap kau selalu disini, tapi itu dulu. yaa dulu!. sekarang semua sudah berbeda. aku bukan lagi hantu kecil yang selalu mengikuti langkahmu. yang selalu melangkah bersama mu. dan kamu bukan lagi dalang yang tiap kali bel pulang selalu ku nanti di koridor itu, koridor sekolah tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu.
akkhh, aku mengingatnya lagi, mengingat kejadian pertama kali aku melihatmu. tak ada senyum dan tak ada sapa, aku hanya berani memperhatikan dan melihatmu dari kejauhan. ketika jarak kita sangat dekat maka aku akan mengalihkan pandanganku darimu. benar-benar kekanak-kanakan. berawal dari mading dan dilanjutkan oleh sebuah lilin. aku nyaris tak percaya ternyata cerita pertemuan kita tidak seromantis roman-roman dan kisah-kisah di sinetron ataupun dongeng.
tidak! aku tidak akan menceritakan apapun tentang pertemuan kita. aku hanya sekilas mengingatnya. selebihnya buku kecilku telah lebih dahulu mengetahui cerita panjang nya. apa kau masih ingat? tentunya tidak. aku tidak akan menarasikan nya disini. itu hanya akan membuatku kembali terpuruk kedalam kenangan-kenangan lama. apa kau tega melihatku yang nyaris sembuh ini kembali terluka lagi? apa kau bahagia melihat hati yang dulu menjadi ruangan ternyaman untuk cintamu tersayat lalu kemudian menyisakan bekas luka yang sangat dalam? sebelum kau melakukannya untuk kesekian kali aku memilih menghindar. cukup! aku tak mau merasakan sakit itu lagi.
bukan!aku bukan membenci mu, hanya saja aku masih terlalu khawatir berdekatan dengan mu. biar bagaimanapun kau masih mampu melukaiku dengan segudang kenangan itu. ada saat ketika hati benar-benar tak mampu menahan rasa rindu. aku paham cinta itu masih ada dan tersisa. aku sedang berbicara tentang realitanya. apa kau mengerti dan paham bagaimana aku menjalani semuanya dengan begitu mudah? kau akan berpikiran begitu dan memang terlihat begitu. namun, kau tak akan mengerti arti dari setiap tetesan air mata yang tiap malam harus mengalir membasahi bantalku. kau tak akan pernah paham bagaimana aku berusaha sekuat mungkin menyugesti diriku sendiri untuk melupakanmu. maksudku bukan melupakan melainkan untuk menghilangkan perasaan yang dulu pernah tumbuh dihatiku.
tiap kali namamu berotasi dikepala ku, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. kamu kini telah jauh berubah. aku mengerti dan maklum ketika kamu pun tak pernah menghubungi ku lagi. aku memang sedikit kecewa. namun,rasanya aku tidak layak untuk kecewa. kamu, mungkin tak akan pernah menyediakan perhatian untuk membaca tulisanku ini. tapi kelak aku yakin hatimu akan tergerak membaca tulisan demi tulisan yang pernah kubuat. entah itu lusa atau pun kelak tapi aku yakin hari itu pasti ada. 

Sabtu, 06 April 2013

kaki ku terasa lemas. tubuhku serasa kehilangan banyak energi. mulutku tak lagi mampu mengeluarkan banyak komentar. aku sendiri tidak begitu mengerti dengan istilah-istilah anatomi yang dijelaskan oleh dokter Clara. istilah-istilah itu sangat jarang terdengar oleh telingaku, bahkan ini kali pertama aku mendengar langsung ocehan-ocehan yang biasa ku dengar dari guru biologi ku. aku berjalan terhuyung menuju ruang ICU. seorang perawat baru saja keluar dari ruangan itu. aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa yang terbaring di dalam sana adalah ibu ku. ibuku yang selalu sabar menghadapi anak tolol seperti ku.
"sus, apa saya sudah boleh menjenguk ibu saya ?" tanyaku pada perawat berwajah bulat tersebut.
"oh, silahkan saja, pasien sudah bisa dijenguk" jawabnya ramah dengan senyum menawan. 

suara berderit kembali menggelitik syaraf telingaku. aku berusaha membuka pintu ruangan itu secara perlahan. aku tak mau mengusik ibu yang ku sayangi yang sedang beristirahat didalam sana. hentakan langkah ku perlahan membawa ku ke bibir ranjang. ada rasa tak tega melihat kondisi wanita tua yang selalu menjadi pelampiasan amarahku itu. tangan nya yang keriput ditembusi oleh selang infus. selang oksigen bertengger di hidungnya. mencari celah agar dapat mengalirkan oksigen ke paru-paru nya. 
aku berusaha menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam diriku. napas ku mulai tak mampu ku kendalikan. perintah otak ku tak lagi di gubris oleh indera pada tubuhku. aku menggit bibir bawahku sekuat yang aku bisa. namun, tetap saja ledakan itu tak mampu ku cegah. air mata itu tertumpah deras. aku menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara dan mengusik ibuku.

ketakutan ini tak mampu untuk ku lewati sendirian, terlalu gelap jalan yang harus kulalui. sosok yang seharusnya jadi kebanggan kini menghilang entah kemana, meninggalkan aku dan ibu tanpa kejelasan. semuanya berubah ketika ayah meninggalkan ku, aku benci pria dan benci cinta. hidupku berputar180 derajat, hatiku penuh luka dan dendam. itu alasan mengapa ibu kerap kali menjadi pelampiasan amarah ku. emosi yang tak dapat ku kendalikan akhirnya akan berujung pada bentakan dan kata-kata kasar yang ku layangkan terhadap ibuku.

ku usap lembut jemari yang pucat itu. hawa dingin terasa menyelimuti jemari ibu ku. "bu" ujar ku perlahan. namun, ibuku tak bergeming semuanya tetap hening. "bu, aku Lulus dan pengumuman beasiswa ku akan keluar besok, ibu masih mau mendoakan aku agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu kan ?". kalimat yang ku ucapkan seperti melayang di udara, hilang tanpa balasan, hanya saja aku tidak marah, aku tidak lagi mengumpat ibu dengan kata-kata kasar yang kerap kali ku tujukan padanya.

"bu, aku pamit pulang dulu ya, aku mau membereskan keperluan kita selama dirumah sakit, cepat sembuh bu". sesaat kemudian aku berdiri, memandang wajah sayu itu, kemudian mencium kening bundaku. lagi-lagi aku harus menahan butiran-butiran yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk mataku. aku segera keluar dari ruangan itu, rasanya tak ada luka yang lebih perih ketimbang harus mengetahui bahwa ibu yang bahkan belum sempat ku bahagia kan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

                                                                                 ****
aku tiba di rumah, ruangan ini terasa sunyi. biasanya ibu selalu duduk di kursi goyang nya sembari menyelesaikan rajutan-rajutannya. biasanya ibu menyambut ku kemudian menyiapkan makanan untuk ku. aku segera mengganti pakaian ku kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk ibu. perut ku terasa lapar, kemudian aku menuju ruang makan dan melihat sepiring nasi goreng yang tadi pagi belum sempat ku makan. aku memasukkan suapan pertama ku kedalam mulutku , rasanya masih sama, masih lezat dan aku selalu suka rasa masakan ibu walaupun tak jarang aku menyianyiakan makanan ini.

seketika rasa takut menghantui ku,kepalaku kembali memutar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Dr. Clara. kalimat-kalimat tersebut membuat ku sulit untuk bernafas. sungguh aku takut ibu pergi meninggalkan ku, sakitnya ibu tidak sesederhana penyakit demam atau flu, bahkan jelas-jelas saat ini penyakit itu bisa saja merebut ibu dariku. mulutku terasa sulit untuk mengunyah makanan ku. "apa ini juga akan menjadi sarapan terakhir yang ibu buat untukku?". "tidak, tidak" aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ibu akan segera sembuh dan kami akan bersama-sama lagi. aku segera menyelesaikan suapan terakhir ku dan segera bergegas menuju rumah sakit, aku tidak mau membuat ibu menunggu lebih lama.

sebelum tiba dirumah sakit, aku sempat menghubungi ayah, hanya saja jawaban pria bodoh itu tetap sama. "ayah akan membiayai pengobatan ibu hingga lunas kamu tak usah khawatir". aku tak memungkiri bahwa aku juga membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, hanya saja bukan itu yang benar-benar ku perlukan saat ini, aku butuh dia untuk menguatkan ku, sungguh aku tak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. ayah tak pernah berubah bahkan di tengah masalah seperti ini ia masih sibuk memikirkan egonya sendiri.

aku kembali ke ruangan ibu, tempat dimana orang yang paling ku cintai masih terbaring tanpa perubahan. ibu yang sangat gigih kini terbaring lemah tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit, tempat yang paling ia benci.
"ibu, aku janji bakal bawa ibu keluar secepatnya dari rumah sakit ini" batin ku dalam hati. seolah mendengar perkataan ku air mata ibu terjatuh seketika. ada perasaan lega dihatiku melihat ibu mulai merespon sedikit demi sedikit kata-kata yang aku ucapkan.

hari demi hari berlalu, sudah 3 bulan ibu dirawat dirumah sakit ini, dokter bilang keadaan ibu sudah mulai membaik dan sudah bisa segera di bawa pulang. hatiku bukan main girangnya ketika tahu bahwa ibu akan segera kembali kerumah. ku siapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk ibu. aku membelikan ibu roti kesukaan nya dan beberapa mawar yang telah aku susun rapi di kamar ibu.

siang itu juga setelah membereskan biaya perawatan ibu, aku membawa ibu pulang kerumah. setibanya dirumah ibu cukup terkesan dengan penyambutan kecil-kecilan yang telah aku buat, ya walaupun dengan modal sederhana dari tabungan yang sudah cukup lama aku kumpulkan. tadinya uang itu ingin aku belikan sebuah handphone baru tapi bagiku membuat ibu bahagia lebih penting saat ini. aku sadar perlakuan ku terhadap ibu selama ini sudah sangat membuatnya terluka dan aku ingin memperbaiki semua itu.

"ibu suka gak sama semuanya?" tanyaku pada ibu yang senyum nya melebar ketika pintu rumah kami kubukakan untuk nya.
"sangat nak, ibu sangat senang sekali, terimakasih ya"
"sama-sama bu sekarang ibu ke kamar ya, ibu harus istirahat" 

Rabu, 03 April 2013

mom, sorry about my mistakes #1

aku memutar gagang pintu itu dengan kasar kemudian membanting benda itu keras. wajah ku memerah menahan amarah. wanita paruh baya yang tengah duduk menyelesaikan rajutan ditangan nya menatap ku dengan wajah kaget nya. untuk kesekian kalinya tanpa pamit aku memasuki istana ku. untuk kesekian kalinya pula aku pulang tanpa terlebih dahulu mencium tangan wanita tua itu. tak ada senyum yang terpancar di wajahku senyum yang seharusnya dengan ikhlas selalu ku persembahkan untuknya. untuk wanita tua yang selalu menyertai ku.
kupandang wajahnya dari balik tirai kamarku yang tersingkap. dahulu wajahnya tidak keriput. dahulu tangannya juga tidak keriput. dahulu tak ada kacamata yang bertengger indah diwajahnya. dia bundaku. terkadang aku tak sadar ketika memperlakukannya dengan kasar. ia masih asyik merajut. bingkai foto itu aku banting keras. bukan dia penyebab amarahku, tapi entah mengapa dia yang selalu menjadi tempatku menumpahkan rasa kesalku.
ia mengelus dadanya kemudian memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. tangan keriputnya dengan teliti dan hati-hati membuang serpihan-serpihan itu pada tempatnya. dengan langkahnya yang gontai ia perlahan menuju bilik ku. "ada apa nak?" tanyanya penuh perhatian. aku tak menjawab napas ku memburu menahan emosi yang meletup-letup dihati ku. "kenapa kamu banting barang-barang kamu, nak? apa kamu sedang ada masalah ? apa ada yang bisa ibu bantu ?". aku menatapnya dengan tatapan sinis. "tidak! ibu mending keluar aja, ibu gak akan pernah mengerti masalah ku" sahut ku membentaknya.
ia mengelus rambutku beberapa kali "ya sudah kalau begitu ibu keluar, kamu jangan lupa ganti pakaian lalu makan. habis itu coba merenung dan kendalikan emosi kamu. kamu sudah dewasa, tidak sepantasnya meluapkan emosi dengan cara seperti itu" gumam perempuan tua itu dengan nada lembut, tak ada getaran amarah yang kudengar. ia masih memperlakukan ku dengan lembut. ia dengan sabar mengahadapi aku yang selalu menjawabnya dengan ketus. aku sedikit melirik kearah pintu yang perlahan tertutup. ada kekecewaan diwajahnya. aaah, ada rasa menyesal yang seketika menyelimuti perasaanku. palu gelisah itu  memakukan rasa sesal itu dengan sangat dalam dihatiku.
aku masih tak menggubris pesan terakhirnya. amarah yang sejak tadi ku pendam tak lagi mampu kutahan. ditambah lagi dengan penyesalan yang membentak hatiku. "ibu, maaf" gumamku lirih. sebutir air mata mengalir dari mataku. aku menatap kosong langit-langit kamarku. entah sudah berapa lama cat nya tidak diganti, sehingga terlihat sedikit pudar.
"tang-tang buku.. tang-tang buku..." tiba-tiba suara-suara itu bergantian melewati telingaku. berdengung kuat menggelitik syaraf-syaraf telingaku. otak ku bekerja dengan cepat, tanpa butuh waktu lama, ingatanku mengembalikan semua data-data belasan tahun yang lalu. aku tidak melihat wanita tua dengan kulit tangannya yang telah keriput. aku hanya melihat seorang ibu muda memelukku, menciumku, kemudian menimang-nimang ku keudara. jemari mungilku digenggam nya erat, seakan tak ada satupun yang boleh mengambil ku darinya, seakan tak ada seorangpun yang boleh melukai ku. "ibu, aku sayang ibu" ujar seorang anak kecil yang baru saja di belikan sepotong es krim oleh ibu muda itu. "ibu juga sayang kamu" seru ibu muda itu sembari mengusap lelehan es krim yang menetes mengotori seragam bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh putri kecil itu.
tanpa sadar aku tertidur pulas, otak ku lelah bekerja. lelah memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu yang indah itu. antara mimpi atau sadar, aku merasa ada langkah yang perlahan-lahan memasuki kamar ku. dengan perlahan dan lembut, ia menarik selimut yang ada dikaki ku kemudian menyelimuti tubuhku. aku merasakan pelukan hangat dari tubuh itu. sebutir air mata dari matanya menetes mengenai tangan ku. aku masih enggan untuk bangun dan membuka mataku. aku tau dia wanita kuat yang selalu mengajarkan ku tentang makna kehidupan. ia wanita yang selalu  berjuang menjadikan ku sebagai seseorang yang berguna. dia ibuku yang kerap kali ku perlakukan dengan kasar, yang kerap kali ku bentak, yang seharusnya semua itu tidak aku lakukan padanya. perlahan sosok itu menjauh, kemudian menghilang di balik pintu kayu itu.

*****
"bu, aku pamit" seru ku setengah berteriak, karena terburu-buru.
"loh, enggak makan dulu nak, ibu udah siapin makanan". sahut suara yang terdengar sedikit parau dari arah dapur.
"nanti saja bu, sudah terlambat. hari ini harus cepat. keburu ramai nanti susah dengar pengumuman nya. doain lulus ya bu". gumam ku sembari menenteng tas yang biasa menemani ku menuntut ilmu.
"ya sudah, hati-hati dijalan. ibu cuma bisa berdoa aja semoga anak ibu ini lulus"
"amin bu". sahutku sembari menyambut tangannya kemudian menciumnya. entah sudah berapa lama aku tidak melakukan rutinitas yang dulu selalu kulakukan. aku sendiri menyadari semakin aku beranjak dewasa semakin jarang aku melakukan hal itu.
aku tiba di gedung yang penuh dengan murid-murid berseragam sama dengan ku. hanya butuh waktu 10 menit dari rumahku menuju tempat ini. gedung yang menjadi tempatku mendapatkan ilmu.gedung yang menjadi tempatku berkutat dengan rumus-rumus sin kuadrat, hukum newton, dan lain sebagainya. beberapa diantara teman-temanku sudah berteriak histeris dan bersorak-sorak seperti orang kesurupan. aku menanggapi semuanya dengan biasa saja, hal itu bukan hal yang asing lagi bagiku. sudah berkali-kali aku melihat ekspresi itu ketika kelulusan tiba. baik ketika kelulusan kakak kelas dan bahkan kelulusan angkatan ku.
aku segera mengambil langkah seribu, sedikit berlari menuju ruangan kepala sekolah. puluhan murid sudah mengantri demi selembar surat yang menjadi penentu masa depannya. kini  tiba giliranku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tanganku mendadak berubah menjadi dingin. surat yang kini ada di genggaman ku akan menjadi penentu masa depanku, surat ini akan menjadi hadiah yang akan ku persembahkan untuk wanita yang telah berhasil mendidik ku menjadi seperti sekarang ini. LULUS! kata itu yang menjadi kesimpulan paragraf-paragraf panjang yang menurut ku terlalu bertele-tele itu.aku bersorak gembira, turut larut dengan teman-temanku yang meluapkan kegembiraannya dengan bersorak dan berteriak histeris. "ibuku berhasil" seru ku  dengan suara nyaring.
tiba-tiba getaran di saku ku yang berasal dari handphone hadiah dari ibuku menyadarkan ku dari hal-hal gila yang tengah ku lakukan bersama teman-temanku. aku mendengarkan baik-baik tiap kalimat yang disampaikan oleh sumber suara di ujung sana. sekujur tubuh ku terasa lemas, dada ku sesak. percakapan itu telah ditutup. aku merasa oksigen berhenti mengalir mengisi paru-paru ku. aku segera berlari meninggalkan keramaian itu. segera mencari angkutan apapun yang dapat membawa ku secepatnya sampai di tempat itu.

tak peduli dengan keadaan ku yang kacau, aku berlari menyusuri lorong-lorong menyeramkan itu. melewati hiruk pikuk yang terjadi di UGD. melewati puluhan perawat dengan seragam putih bersihnya. aku tiba didepan sebuah ruangan yang terkunci rapat. ada sedikit celah jendela tempat aku melongokkan wajah ku untuk sekedar mengintip kedalam ruangan tersebut. disana aku melihat beberapa perawat serta seorang malaikat dengan jubah putihnya. jubah kebesaran yang selama ini aku mimpikan. jas dokter serta gelar dokter yang sangat ingin aku raih. tangan-tangan itu berulang-ulang menghitung dan memeriksa denyut nadi sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang mungil itu. "ibu" panggil ku terisak sembari mengusap  jendela kaca di tempatku berdiri saat ini.
aku terduduk lemas di ruang tunggu. menanti pintu ruangan ICU itu terbuka. rasa sesal, sedih, dan takut berkecamuk dalam hatiku. seolah menyiksa ku dan mengiris hatiku. aku terlalu lemah menghadapi ketakutan ini sendirian. rosario tergenggam erat oleh jemariku. lantunan merdu doa ku panjatkan demi kesembuhan sosok sang ibu yang selama ini sering ku kecewakan.
gagang pintu itu terbuka, menyebabkan sedikit bunyi berderit akibat gesekan nya dengan lantai keramik yang tiap menit selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. "apa kamu saudara dari ibu tersebut?" tanya dokter yang terlihat manis dengan kaca mata berbingkai cokelat tua di wajahnya. "iya dok, saya anaknya" sahut ku dengan nada bergetar menahan tangis. "mari ikut keruangan saya ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda".
setengah mengangguk, kemudian aku mengikutinya berjalan kearah lorong yang sebelumnya sempat ku lalui. kami tiba di sebuah ruangan yang sangat rapi. ada papan nama disana. clara. Dr.Clara, nama yang indah sesuai dengan orang yang saat ini ada dihadapan ku. "silahkan duduk" ujarnya mempersilahkan ku.
"dok, sebenarnya ada apa dengan ibu saya ? tetangga saya bilang ibu saya tiba-tiba terjatuh lalu pingsan dan dilarikan kerumah sakit ini"
"saya pikir kamu sudah cukup kuat untuk mendengar ini semua, berapa usia mu?" tanya dokter clara antusias.
"17 tahun dok" jawab ku singkat.
"baik lah mau tidak mau aku harus mengatakannya, saat ini ibu mu dalam masa kritis. ia mengalami koma". mata ku terbelalak mendengar ucapan dokter clara, tak ada satupun kalimat yang bergeming dari mulutku, jantung ku semakin berdetak tak beraturan". dokter clara kembali melanjutkan penjelasannya dan aku semakin menyediakan telinga "ibu mu terserang suatu penyakit yang langka,  Multiple System Atrophy (MSA). 
dimana penyakit ini disebabkan oleh degenerasi sel-sel syaraf di otak, ya hampir mirip parkinson. penyakit ini mempengaruhi beberapa bagian otak, dan fungsi-fungsi gerakan keseimbangan tubuh".
aku tak percaya dengan apa yang kudengar. bagaimana mungkin ibuku yang terlihat sehat-sehat saja ternyata mengidap penyakit langka yang bahkan baru kali pertama kudengarkan namanya.
"lalu apa masih bisa disembuhkan, dok ?" tanyaku penuh harapan.
"entahlah, kasus ini langka. dan kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter ahli syaraf".
kalimat demi kalimat yang dikumandangkan oleh dokter Clara benar-benar bagai anak panah yang menohok perasaanku. ini lebih dari sekedar luka, perih yang kurasakan saat ini benar-benar tak dapat ku tahan lagi. aku menangis terisak. bahu mungilku naik turun seiring isakan dari bibir mungilku. hatiku mencari-cari perlindungan. namun, aku tak menemukan pelindung itu. dokter Clara mengusap lembut pundak ku "tenanglah kami akan berusaha dengan baik".


#bersambung


Selasa, 02 April 2013

Berdamai Dengan Masa Lalu


Untuk kesekian kalinya aku berdiri disini di antara tingginya ilalang dan rerumputan. Batang-batang ilalang yang menjulang tinggi menyembunyikan tubuhku dari sengatan mentari. Ditangan ku telah tergenggam erat sebuah pena dan sepucuk kertas yang sebentar lagi akan menemaniku menjelajahi masa lalu. Otak ku memulainya. Setiap sel syarafnya mulai bekerja. Namamu berotasi disana. Berputar-putar tanpa lelah. Kenangan itu silih berganti terpapar dengan jelas dalam ingatanku. Tidak sedikitpun moment-moment masa lalu itu terlupakan oleh ku.
Balutan rasa cemas membungkus hatiku. aku yang sekarang ini bagaikan seseorang yang berjubahkan rasa sakit dan kecewa. Trauma yang mendalam membuatku berhenti mencari-cari makna sebuah cinta. Bahkan yang telah ku simpulkan sendiri , bagiku cinta hanya sebuah perasaan yang menyakitkan. Omong kosong ada orang yang mencintai kelemahanmu, semua berharap kesempurnaan.
Kata-kata pahit itu bermunculan dari memori ingatanku . Seolah-olah aku kembali mendengar kau mengucapkannya berkali-kali. Ku cari darimana datang nya asal suara itu. namun, aku tak berhasil menemukannya. Kusibak batang-batang ilalang yang menjulang itu mencari suara yang benar-benar tidak asing di telingaku. Aku  Mencari sesosok pria bermata sipit dengan bola hitam pekat di tengahnya.  Aku tetap tidak berhasil menemukan mu, menemukan bayanganmu pun aku tak mampu. Suara itu tak kunjung hilang. Aku kehabisan akal, kata-kata itu silih berganti memekakkan telingaku. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Setidaknya alam mendengarku, mereka, rumput-rumput yang tak bermata itu, aku yakin mereka bertelinga dan mampu mendengar jeritan ku, jeritan batinku.
Lututku menghujam tanah dengan keras. Aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa sakit yang menyiksa dadaku. Ratusan pisau tajam kini tengah menyayat hati ku. Tanpa ku perintahkan lagi-lagi sepasang mata ku menciptakan aliran anak-anak sungai yang melewati garis pipiku. Melodi perasaan ini terlalu kacau. Sesak yang kurasakan tak mampu lagi ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku tak mengerti betapa begitu berat perasaan ini melepaskan semua yang bukan lagi menjadi milikku. Melepas semua kebiasaan yang tidak lagi kita lakukan  bersama.
Sudah cukup lama kita tidak berkabar. Dan kini aku merindukanmu. Merindukan tawamu. Merindukan hangatnya jemarimu yang mengisi celah-celah pada jemariku. Sungguh, aku merindukan semua tentangmu, tentang ‘kita’. Aku yang dulu berjalan disampingmu kini harus mundur beberapa langkah ketika bertemu denganmu. Aku yang dahulu selalu berani menatap matamu, kini harus tertunduk lesu ketika mataku melihat jemarimu mengisi celah-celah jemari ‘NYA”.
Tak ada gunanya aku menangis. Semua sudah berlalu. Namun, tak akan ada juga yang pernah mengerti sejahat apa kau mempermainkan perasaanku. Seolah aku persis boneka. Ooh aku lupa kau seorang pria. Tak selayaknya kau memperlakukanku seperti boneka karena pria tidak bermain boneka, baiklah akan segera kuganti. Kau memperlakukan hatiku persis sebuah layang-layang yang kau tarik ulur sesukamu. Ketika kau merasa bosan maka akan kau tinggalkan begitu saja.
Saat ini aku memang masih menitikkan air mata ketika mengingatmu mengingat semua hal tentangmu. Aku sadar mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu dalam sehingga saat kau menyakitiku pun aku belum menyadarinya. Hingga luka itu benar-benar dalam dan aku baru merasakan perihnya. Akan kutunjukkan padamu bahwa aku bukan mainan mu, aku bukan selembar layangan yang dengan sesuka hatimu kau tarik dan kau ulur. Sudahlah ini air mata terakhirku, jangan pikir aku akan menangis lagi untukmu. Tidak akan pernah!
Kupikir kau terlihat serasi dengan boneka barumu itu. aku mungkin cemburu tapi setelah kupikirkan kembali aku tidak sedang cemburu. Aku hanya kasihan melihat hidupmu, miris melihat keadaanmu. Kau pikir kau berhasil mempermainkan mereka ? tidak! Kau yang kini sedang mereka permainkan. Ada saatnya kau akan membuka matamu lalu menyadari karma sedang menuju dan akan segera menyerang hidupmu.
“aku bosan, dan selama ini kau hanya ku anggap permainan. Aku tidak serius”. Aku terkekeh mengingat kata-kata itu. air mata ku telah mengering. Aku tidak lagi selemah yang kau perkirakan. Sudah tidak ada lagi air mata yang dengan Cuma-Cuma akan ku berikan padamu. Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Aku hanya menjaga jarak dengan seseorang yang berpeluang besar untuk menyakitiku kembali. Kau!. Kau yang aku sayangi bahkan dengan kejamnya dalam sekejap mata mampu menghancurkan setiap mimpi yang kupunya. Mimpi yang berharap akan segera kuwujudkan bersamamu.
Aah sudahlah. Sudah cukup aku menguak kisah-kisah itu kepermukaan. Aku tidak ingin sesak ini semakin mengikat paru-paruku dan menahan aliran oksigen yang menuju otakku. Aku tidak ingin lagi rasa sakit itu mengalir bersamaan dengan darahku. Jangan pernah menyesal dengan keputusanmu. Aku disini selalu memelukmu dengan doaku. Dengarkan aku! aku tidak membencimu. Sesungguhnya setiap kesalahan yang telah kau perbuat telah aku maafkan. Kini aku hanya tengah berusaha berdamai dengan rasa sakit itu. berdamai dengan mu dan berdamai dengan masa lalu.
Jangan usik aku. apa kau tau, aku nyaman menulis tentangmu. Rasa sakit ini seolah menantangku untuk terus menulis tentang kisahmu dan kisahku. Rasa sakit ini menuntun pena ku untuk bergerak menuliskan semua yang ada dipikiranku. Semilir angin ini menemaniku tenggelam bersama masa lalu. Masa lalu yang sebentar lagi akan menjadi sahabatku, sahabat penaku. Tunggu aku kelak, aku pasti akan menemuimu lagi. Semoga kita bisa bertemu disatu tempat dimasa yang akan datang. Dan aku akan berterimakasih padamu atas jasamu yang telah memberikanku semangat untuk menulis. Rasa sakit yang tak pernah aku lupakan. Kelak akan ku berikan padamu hasil dari rasa sakit yang telah kau berikan padaku. Kau pria yang dulu menyayangiku~

Kamis, 28 Maret 2013

failed anniversary

hei, apa kabar sosok mu yang kini berada di sudut kota sana ? aku selalu berharap kau akan selalu terlihat baik-baik saja dengan ataupun tanpa hadirku. apa kamu ingat dengan hari ini pria tampan bermata pekat dan berahang kuat ? ya aku menyebutnya 'failed anniversary' . kamu pria berwajah oval dan berpipi bulat, mata mu yang sedikit sipit membuat ku mati-matian menahan perasaan ketika menatapnya. salam rindu untuk senyum dingin mu itu, di lain waktu aku ingin melihatnya lagi.
aku tak akan membahas bagaimana kita bertemu, kemudian mengenal, saling bertatapan lalu saling jatuh cinta. oh Tidak! bukan saling jatuh cinta tetapi 'bagaimana aku mencintaimu'. aku juga tidak akan membahas bagaimana kita menjalankan peran masing-masing dalam drama yang telah kita mainkan. bagimu hanya drama, tapi buat ku itu lebih dari drama. kau dengan sejuta kemisteriusan dibalik senyum dingin mu itu benar-benar membuatku luruh dan meleleh seperti bongkahan es yang terkena sengatan matahari. pesona mu benar-benar membuatku paham ternyata cinta itu indah 'awalnya'.  haruskah aku mengulang kembali kenangan pahit itu ? ah sudahlah semua telah berlalu akupun ingin segera menutup buku-buku kelabu itu.
ku dengar kamu sudah memiliki kekasih, benarkah ? wah kau memang mengagumkan hanya butuh waktu sebentar untuk kemudian memilih penggantiku. kita telah lama tidak berkabar bukan maksudku untuk menjauh tapi aku hanya merasa kehadiran ku tak lagi kamu butuhkan dalam hari-harimu.
kamu mungkin tak akan pernah membaca tulisanku ini. apalagi membaca paragraf demi paragrafnya. namun, tau kah kamu menulis tentangmu seakan mengembalikan ku dan menyeretku pada kenangan-kenangan itu. tak jarang aku bermimpi kau berdiri disisi ku kemudian memberikan ku senyuman yang paling indah dan bahkan belum pernah kau tunjukkan padaku sebelumnya. terkadang mimpi lebih indah dari kenyataannya oleh sebab itulah aku lebih senang bermimpi bersamamu dibandingkan menjalankan kenyataan yang sesungguhnya. bermimpi membuatku benar-benar merasa seolah aku melakukan suatu hal yang benar-benar nyata bersamamu.
perjuanganku menulis semua ini telah membuat semua kisah tentang dirimu berotasi kembali diotak ku. tidak mudah terlepas darimu. apa kau tau, bahkan selama ini aku telah menjadikanmu sebagai salah satu kebutuhan dalam hidupku. aah sudah lah air mataku mulai menetes kembali ketika moment-moment tak terlupakan itu melintas dan saling berganti mengisi kepalaku. kau benci wanita cengeng bukan ? baiklah! aku akan segera berhenti menangis. kita telah lama saling melepaskan, ini sangat menyebalkan lagi-agi aku merindukan suaramu. suara khas yang berbulan-bulan berdengung ria di telingaku. aku rindu caramu tertawa, caramu menatap, dan caramu mencintaiku. oh tidak! tidak! aku salah lagi, kau tidak benar mencintaiku aku terlalu yakin pada cintamu padahal hal itu semu, nyatanya aku hanya wayang yang selalu kau permainkan. ya, kau mencintaiku, mencintaku sebagai wayang pertunjukkan mu bukan kekasihmu.
ah, rasanya sudah lama tak ada yang mengisi celah-celah kecil di jemari kananku. biasanya jemari tangan mu yang mengisinya. hari ini aku tak lagi mendapat pesan singkat penuh kata-kata romatis itu ya ? wah sayang sekali, padahal aku sangat menginginkannya. ya aku tau kata-kata itu bukan milikku lagi, pasti itu telah menjadi milik gadis-gadis itu bukan ? mereka beruntung mendapatkanmu. kau sudah menemukan wayang-wayang baru ternyata. atau salah satu dari mereka telah kau pilih menjadi dalang seperti mu ? beruntungnya gadis itu, setidaknya dia tidak mengalami hal yang sama sepertiku, setidaknya dia tidak akan pernah bagaimana rasanya menjadi wayangmu.
kamu yang dulu pernah memanggilku "sayang" lembaran kalender ku kali ini tidak lagi dilingkari oleh tinta berwarna hijau. tintanya sudah ku ubah menjadi merah. tapi kamu tak perlu khawatir, hatiku masih menyimpan rongga yang cukup besar untuk tempatmu kembali. aakh, lagi-lagi aku bermimpi dan berharap sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. kamu mantan kekasihku, oh maksudku mantan dalang ku. selamat mengenang masa lalu. ini hari dimana kamu mengatakan 'cinta' kepadaku. mungkin semua sudah hilang dari ingatanmu. bahkan diriku pun pasti telah menghilang dari memorimu. tetapi aku masih menyimpan semuanya. dan akan ku putar kembali ketika aku merindukannya.

#hari ini hujan, aku takut kilatan petir yang menyambar, dulu kau yang menenangkanku, tapi kini aku harus menenangkan diriku sendiri. dulu aku berteduh bersamamu. menunggu hujan reda dibawah teduhnya pelataran gedung itu. kini tiap hujan datang aku hanya menunggu sendiri. tidak! aku menunggu hujan reda bersama bayanganmu di koridor itu. kau yang ada di sudut kota sana. aku merindukan mu, merindukan 'kita', dan merindukan masa lalu.

Selasa, 26 Maret 2013

Penyesalan


Matanya merah dan sembab. Entah sudah berapa banyak air yang menetes dan menyebabkan sungai-sungai kecil dipelupuk matanya. Ia masih belum bisa berhenti, kedua tangannya masih membungkam mulut mungilnya. Ia menangis tanpa suara. Langit-langit kamar bercat ungu pekat itu menjadi saksi bisu perpaduan antara tangis dan suara yang tercekat ditenggorokannya.
Panah itu dengan kejam tertancap sangat dalam melukai hatinya. Perasaan yang awalnya sangat ia senangi seketika berubah menjadi pisau yang menyayat pedih hatinya. Ia tak mengerti mengapa terkadang cinta dengan mudah berubah menjadi monster yang sangat kejam. Ia juga tak pernah paham mengapa waktu selalu berubah tanpa mampu ditebak oleh siapapun.
Maura mengambil sebuah foto dari diarinya, kemudian dengan kasar merobeknya menjadi serpihan-serpihan yang tak lagi berarti. “semua sudah berakhir” ucapnya terisak. Maura tak pernah menyangka ada banyak cinta yang mengisi hati kekasihnya. Maksudnya mantan kekasihnya. Setelah semua yang Maura lakukan hanya sakit hati yang Maura dapat sebagai balasan nya. Semua telah Maura lakukan, semua perhatian yang tulus selalu ia berikan pada reza yang kini telah menjadi seseorang yang masuk dalam daftar orang yang paling Maura benci dalam hidupnya.
Beberapa bulan terakhir Maura dengan sabarnya selalu mencoba memahami reza, memaafkan semua kesalahan reza, dan bahkan selalu setia menanti reza memberikan sedikit saja perhatian kepadanya. Maura  selalu saja harus mengurut dada apabila kata-kata kasar reza bermuara padanya. Maura yang selalu mencoba kuat ketika cemburu mengusiknya saat reza dengan santainya menggandeng tangan wanita lain didepan sepasang matanya.
Namun kini Maura tak lagi mampu bertahan, tak lagi mampu berdiri dengan kuat disisi reza. Ia sudah menyerah dan tak lagi bisa mentolerir kesalahan reza. Kata-kata reza bagai pil pahit yang mau tak mau harus ia telan. Ia merasa telah direndahkan, bahkan setelah semua yang sudah ia lakukan untuk reza. Hanya karena wanita itu, wanita yang tak tahu diri dan mencoba masuk mencari celah di antara Maura dan Reza. Wanita yang telah merubah Reza,  -Alya. Wanita yang akhir-akhir ini menjadi alasan perubahan Reza, Alya lah yang menjadi penyebab mengapa Reza tak lagi seperti Reza yang Maura kenal. Tak lagi seperti kekasih Maura yang selama dua tahun ini selalu memberikan perhatian dan tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar pada Maura.
Hingga pada akhirnya kata-kata itu keluar bagai fonis dari mulut Reza. Sore itu Reza dan Maura sepakat bertemu di Taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Maura datang 5 menit lebih cepat dari waktu yang telah Reza tentukan. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan Reza. Sudah setengah jam berlalu dari waktu yang Reza janjikan namun Reza tak juga terlihat muncul ditaman tersebut. Maura masih dengan sabarnya menunggu Reza. Ia mencoba membunuh rasa bosannya dengan chating via smartphone bersama Carissa.
Maura melirik jam tangan mungil yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah  dua jam lebih ia menunggu Reza. Tak ada tanda-tanda Reza akan datang. Maura memandang sekelilingnya, taman itu mulai sepi hanya tinggal dirinya dan beberapa orang saja yang masih asik menikmati pemandangan sore di taman tersebut. tak ada pesan singkat dari Reza, setidaknya untuk mengabarkan dimana dirinya sekarang. Berkali-kali Maura mencoba menelvon nomor Reza namun seperti tak ada jawaban dari Reza. Puluhan pesan singkat dari Maura pun tak ada yang terbalas.
Sekali lagi Maura memandang sekelilingnya dan ia memutuskan untuk tetap menunggu ‘Reza pasti datang’ gumamnya lirih dalam hati.
Maura melanjutkan chatingnya bersama Carissa. Ia lagi-lagi harus membunuh rasa bosan itu. rasa bosan yang tak akan pernah Reza pahami. Maura sangat benci ‘menunggu’ tapi demi Reza ia rela melakukan hal yang sangat ia benci tersebut. Carissa sudah berkali-kali mengingatkannya untuk mengakhiri semuanya dengan Reza namun Maura tak pernah menggubris pesan dari Carisaa. Cintanya pada Reza sudah membutakan matanya untuk melihat bahwa Reza telah berubah, tak lagi seperti Reza yang dulu. Carissa sendiri telah lama mencium bau pengkhianatan pada Reza tetapi tetap saja Maura tak akan pernah percaya, ia terlalu yakin pada kata-kata ‘Tulus’ yang selalu Reza ucapkan.
“ra, gua lihat Reza bareng Alya di cafĂ© dekat sekolah, mending elu pulang aja deh. gak usah nunggu bajingan itu. buat apa ra elu nunggu dia berjam-jam, mending udahin aja semuanya” bunyi sebuah pesan dari Carissa yang masuk ke inbox Maura. Hati Maura karam membaca pesan dari Carisaa. Berjam-jam ia menunggu Reza namun ternyata Reza sedang asyik berdua dengan Alya. Sebuah pengkhianatan yang tak pernah Maura percaya. Ia masih saja mencoba meyakinkan hatinya untuk terus menunggu dan menunggu. Ia berharap Reza datang dan menjelaskan semuanya pada Maura.
Sudah pukul enam sore, matahari perlahan-lahan meredup. Cahaya nya berganti menjadi kemerahan. Sosok pria dibalik kemeja merah marun itu berjalan kearah Maura. Maura tersenyum ia segera berdiri dari kursi yang sudah 4 jam lebih Ia duduki. Tak ada balasan atas senyum yang ia berikan. Hanya tatapan tajam dan wajah dingin yang menjadi balasan atas senyumnya.
“kamu datang juga akhirnya, aku udah nunggu dari tadi, kamu dari mana aja za ?” ujar Maura penuh tatapan lembut pada kekasihnya itu.
“bodoh! Siapa yang nyuruh kamu nunggu hah ? dasar cewek tolol!” bentak Reza pada Maura yang menyebabkan Maura tersentak.
“tapikan kamu yang janji bakal datang kesini dan nyuruh aku buat datang za, kata Carissa kamu tadi lagi sama Alya, gak apa-apa kok kalau kamu telat, aku gak marah”. Gumam Maura menahan emosi dan butiran-butiran kecil di ujung matanya.
“iya aku emang sama Alya, dan aku gak niat sebenarnya datang kesini. Kamu itu bodoh ya gak kayak Alya yang tegas. Ngapain sih kamu capek-capek nunggu aku, udah deh gak usah pakai nangis, air mata kamu gak ada artinya buat aku”.
“aku memang gak akan pernah berarti buat kamu za, entah kapan kamu ngerti kalau selama ini aku yang ada tiap kamu butuh bukan Alya! Aku yang selalu sabar buat nunggu kamu yang gak pernah jelas bukan Alya! Dan aku yang pacar kamu bukan Alya!” Maura mempertegas kata-katanya dan air mata itu mulai tumpah tak lagi bisa dikendalikan oleh Maura.
“iya kamu pacar aku, tapi pacar yang paling bodoh! Dan sekarang aku gak bisa lagi punya pacar kayak kamu Maura. Kamu itu terlalu sabar kamu cengeng, kenapa harus menangis buat aku ?. aku lebih pilih Alya, dan udah saat nya aku buat udahin ini semua”.
Maura mengahapus air matanya dan menatap tajam kearah mata Reza, baru kali itu Maura menatap Reza sangat lekat. “aku memang bukan Alya za, kalau dia pilihanmu silahkan saja pilih dia. Tapi ingat za jangan pernah membandingkan orang yang satu dengan orang lainnya, manusia gak ada yang sama. Dan aku bangga bisa jadi diri aku sendiri” sesaat kemudian Maura pergi meninggalkan Reza. Ia tak lagi peduli dengan apapun yang terjadi pada Reza, baginya semua sudah berakhir, Reza sudah memilih yang paling tepat untuk hidupnya.

*****
Bertahun-Tahun lamanya Maura mencoba menata kembali perasaanya. Menutup hatinya guna menyembuhkan luka yang ditorehkan oleh Reza. Tak ada lagi dendam dalam hatinya. Ia sudah mampu memaafkan masa lalunya. Ia mampu berdamai dengan kenangannya bersama Reza. Kini tak ada lagi air mata yang harus mengalir ketika Maura mengingat masa lalunya itu. hanya ada senyum dan tawa kecil ketika harus mengingat kebersamaannya dengan Reza dahulu. Butuh waktu dan perjuangan yang tak sedikit untuk berdamai dengan masa lalu. Dan Maura berhasil melewati itu semua. Ia bahkan selalu berdoa untuk Reza agar Alya menjadi pilihan yang tepat untuk Reza.
Jemari maura bersentuhan dengan pena yang amat lucu pemberian Reza ketika annive tahun pertama. Hujan membuatnya bersemangat menarikan pena itu diatas selembar kertas. Bait demi bait puisi tercipta. Suara ketukan pintu menghentikan sejenak jemarinya untuk terus menulis. Ia memastikan lagi pendengarannya. Ketukan yang kedua kembali terdengar. Buru-buru ia meninggalkan pena dan kertas yang tergeletak tak berdaya diatas meja jati tersebut.
“sebentar! Serunya dari dalam kamar mungilnya. Ia berjalan dengan cepat dan segera membuka pintu tersebut. Maura melongokkan wajah nya dari balik pintu bercat putih itu. melihat siapa yang datang Maura mundur beberapa langkah dan membenarkan kacamata minus seperempat yang bingkainya terselip indah di balik telinga dan rambutnya yang terurai.
“Reza ?” serunya memastikan. Maura masih saja menelusuri seluruh bagian tubuh Reza, ia masih belum percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Sudah sangat lama ia tak melihat sosok Reza, terakhir ia bertemu dengan Reza saat pertengkaran beberapa Tahun lalu di taman tempat mereka biasanya menghabiskan waktu bersama.
Reza sendiri masih mematung di depan pintu, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Beberapa tahun tak bertemu dengan Maura ternyata sangat banyak yang berubah. Maura yang dulu tak berkaca mata kini terlihat lebih dewasa dengan kacamata berbingkai hitam yang kini menambah hiasan diwajahnya.
“ini Reza kan ?” ucap Maura masih tak percaya.
“iya Maura ini aku Reza” gumam Reza mencoba meyakinkan Maura yang masih kelihatan tak percaya.
“memang ada yang berubah ya ?” Tanya Reza antusias.
“ah, enggak kok. Cuma kaget aja tadi. Ya udah masuk dulu yuk, gak enak ngomong diluar gini”.
Setelah mempersilahkan Reza masuk, Maura berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi foto-foto kecilnya bersama keluarganya yang kini jauh ia tinggalkan di dataran Sumatera sana. Ia menyiapkan dua gelas cappuccino kesukaannya kemuadian membawanya keruang tengah tempat diaman masa lalunya itu duduk dengan manisnya.
“ini za, maaf Cuma bisa buatin ini. Hehe, diminum ya lumayan buat bikin badan hangat, diluarkan sedang hujan” Maura berceloteh dengan ramah pada Reza.
Senyuman itu, senyuman yang Reza rindukan. Senyuman yang dulu selalu Reza lihat. Kedua lesung pipi Maura yang seakan tenggelam semakin dalam ketika senyuman itu Maura perlihatkan.
“apa kabar kamu ?” ucap reza memulai pembicaraannya.
“aku baik-baik aja. Seperti yang kamu lihat sekarang. Kamu sendiri gimana ?”.
“syukurlah. Aku juga baik-baik aja kok ra. Udah lama banget ya gak ketemu kamu. sekarang makin kelihatan dewasa aja”.
“hahaha. Bisa aja kamu za. Oh iya Alya apa kabar za ?”
“hmm, kami udah 2 bulan pisah ra. Dia udah milih yang terbaik buat dia dan itu bukan aku, ternyata selama ini bukan Cuma aku yang jadi pacar dia, ada orang lain yang ngisi hati dia ra, dia Cuma datang kalau dia butuh aku”.
“karma” gumam maura dalam hati kecilnya. “aku ikutan prihatin za, kamu tetap semangat dong. Masih banyak cewek-cewek yang tertarik sama kamu”.
“hmmm, kayaknya juga gitu ra”.
Suasana hangat tercipta begitu saja. Sangat banyak yang mereka ceritakan. Baik pengalaman satu sama lainnya maupun kenangan-kenangan mereka dulu. Maura sendiri sudah tak merasa janggal lagi ketika harus menguak masa lalunya itu ke permukaan. Ia sudah lama berdamai dengan masa lalunya itu. bagi maura tak ada yang harus dibenci, Reza orang yang pernah ia cintai apa pantas seseorang yang pernah dicintai kemudan di benci. Bagi maura membenci hanya akan membuat jarak dan membuat luka yang semakin dalam dihatinya, oleh karena itulah ia memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.
Berjam-jam mereka bergelut dengan tawa masing-masing. Larut menjadi satu karena cerita yang mereka utarakan. Hingga Maura mampu mencerna sesuatu, cahaya mata Reza. Cahaya penyesalan dan seperti sedang menginginkan sesuatu. Maura tetap tak menggubris tatapan itu. hanya saja tatapan itu semakin kuat dan maura tak bisa lagi mengelak.
Maura mengusap lembut bahu Reza. “ ada apa za ? aku menangkap sesuatu dari matamu”.
“aah, gak ada apa-apa kok ra” bantah reza mengelak.
“gak usah bohongi aku za, ungkapin aja kalau memang ada yang buat kamu resah”.
“huuuff, Ra ?” reza memanggil nama itu dengan nada yang sangat berat.
“ya ?” sahut Maura singkat.
“sebelumnya aku minta maaf ra, buat semua kesalahan aku yang udah nyakitin kamu” gumam Reza lirih.
“Reza, semua udah aku maafin. Jadi gak ada lagi yang harus dimaafin” jawab Maura sembari tersenyum manis pada Reza.
“apa masih boleh kalau aku pengen kita kayak dulu lagi ?”.
“apa aku gak salah dengar za ?” seru  Maura sembari menyeruput cappuccino hangat yang ada ditangannya.
“enggak ra, aku pengen kita kembali lagi, ngulang semuanya dari awal”.
“ Aduh za, aku gak tau deh jalan pikiran kamu itu kayak mana, tapi ini bodoh. Ini bodoh banget za”.
Reza hanya mampu tertunduk diam mendengar tanggapan mantan kekasihnya itu.
Maura bangkit dari kursinya dan meletakkan cappucinonya sesaat, kemudian kembali mengusap pelan bahu Reza yang kini kelihatan sangat kacau, terlihat dari wajahnya yang tertekuk tanpa senyum itu.
“Aku Cuma pengen kamu komit sama apa yang udah kamu perjelas Cuma itu kok za. kamu yang udah ngakhirin ‘kita’ za,  Kamu. Dan kamu gak boleh lari dari keputusan yang udah kamu ambil, apalagi sampai ingkar” ucap Maura dengan nada suaranya yang mulai meninggi.
“tapi ra aku tau aku salah ambil keputusan itu , akuuu” belum sempat Reza menyelesaikan kalimatnya, jari  telunjuk Maura Menahan bibirnya untuk meneruskan kalimat tersebut.
“ssstttt, gak boleh ada yang disesali za, keadaan yang sekarang udah beda. aku juga udah beda, aku bukan Maura yang kamu kenal lagi. Aku bukan yang dulu lagi, Maura yang cengeng dan Maura yang lembek”.
“maksud Kamu apa Ra ?”
“aku tegasin sekali lagi za, ‘kita’ itu tinggal masa lalu. Dan kamu yang mengakhiri semuanya karena kamu lebih milih Alya dibandingin aku. Sekarang setelah dia ninggalin kamu, kamu mau kembali ke aku ? Semudah itu ya za?  Kamu pikir hati aku ini apa ? permainan kamu? boneka Barbie kamu ? atau pelabuhan kamu ? yang dengan sesuka hatinya kamu pergi dan dengan sesuka hati kamu juga pengen kembali”.
kata-kata Maura bagai palu yang benar-benar menghancurkan hati Reza. Semuanya ibarat vonis yang dilayangkan hakim atas terdakwa yaitu dirinya sendiri. Maura benar, ia yang mengakhiri segalanya, biar bagaimanapun ia sadar ia pernah menyakiti hati wanita ini, wanita yang dengan sabarnya selalu memberi perhatian penuh untuknya meskipun ia sama sekali tidak pernah merespon apapun usaha yang Maura lakukan untuk dirinya. Setiap kata rindu dari Maura  hanya jadi omong kosong yang dilayangkan nya diudara. Ia telah  mengabaikan ketulusan Maura.
“Za, aku minta maaf. Tapi ‘kita’ memang udah lama aku hapus dari ingatan aku za”.
“kamu gak salah Ra, memang aku yang salah. aku yang udah hancurin semuanya bahkan aku sendiri yang udah buta gak pernah ngelihat ada kamu yang selalu tulus berdiri disamping aku, ada kamu yang selalu ngertiin aku, dan ada kamu yang selalu mecintai aku dengan Tulus”.
Maura menggenggam Jemari Reza, kemudian memeluk masa lalunya itu. Maura tak ingin luka yang ia rasakan dirasakan juga oleh Reza. Sedikitpun tak lagi ada dendam di hati Maura.
“sudah za, meskipun bukan aku tapi aku yakin ada yang lain”.
“aku berharap ada yang seperti mu Maura. Tapi setelah mingingat kata-katamu bahwa tak ada manusia yang sama maka aku memutuskan kesini untuk  memintamu kembali. Aku tak memaksamu mu Maura” kata-kata Reza meluluhkan hati Maura namun tak ada keharusan untuk kembali. Maura memang masih mencintai Reza tapi Maura tak lagi ingin merasakan kecewa.
Waktu berlalu sangat lambat, ada air mata yang mengalir dari mata Maura. Segera ia mengahapusnya. Ia tak ingin terlihat cengeng. Reza benci Maura yang cengeng.
“Maura, aku pamit pulang. Selamat jadi sahabatku ya” senyum datar itu tergaris jelas diwajah Reza.
“iya. Hati-hati dijalan ya za. Selamat jadi sahabatku juga” seru Maura.
Sebuah kecupan lembut dari Reza mendarat tepat dikening Maura. Sekali lagi Maura memeluk masa lalunya itu dengan erat. Ia telah melepaskan ia juga telah memilih. “aku dan kamu memang bukan lagi ‘kita’ tapi aku dan kamu adalah ‘sahabat’ bisik Maura perlahan dan kemudian melepaskan pelukannya.
“aku ngerti bos, sekali lagi terimakasih banyak ra”.
“sama-sama za”. Maura menatap punggung reza yang semakin lama semakin jauh dan lenyap bersamaan dengan laju mobilnya. Ia telah memutuskan yang terbaik untuk hubungan mereka. Maura tersenyum lega. Ini merupakan puncak perdamaiannya dengan masa lalunya.
Sementara Reza kini telah berada ditaman tempat terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun yang lalu. Reza tersenyum getir menatap kursi taman tempat ia sering duduk berdua dengan Maura. Ia sangat merindukan Maura yang dulu, ia rindu Maura yang tak pernah berhenti memberi perhatian padanya, ia rindu Maura yang selalu mengingatkannya banyak hal, ia Rindu air mata tulus seorang Maura, ia rindu semua tentang Maura. Maura yang telah ia sakiti, dan tanpa ia sadari Maura berubah karena kata-katanya sendiri. kata-kata yang akhirnya ia sadari sangat melukai hati Maura. Kini tak ada lagi Maura yang menunggunya dikursi taman tiap jam 3 sore. tak ada lagi Maura yang dengan bawelnya mengingatkannya tentang ini dan itu. Tak ada lagi air mata Maura yang selalu keluar ketika Maura merasa terharu. Terakhir ia melihat air mata maura adalah ketika ia melayangkan kata-kata kejam itu pada wanita itu. Air mata terperih yang harus Maura teteskan dan Reza tak mampu menghapusnya.  Dalam diam ia hanya bisa menyesal telah menyia-nyiakan wanita yang sungguh-sungguh mencintainya demia wanita yang hanya datang ketika membutuhkannya. Ia Masih mencintai Maura. Maura yang dulu juga mencintainya dengan Tulus dan sederhana tanpa banyak menuntut. Maura yang mendekapnya dengan semua kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain, bahkan dari Alya sekalipun. “Maura” gumamnya lirih. Dan sebutir air mata mengalir dari matanya.
*The End*

^Veronica Efri.L.Manurung^


Kamis, 21 Maret 2013

Aku Bukan Dirinya. #1


karena aku adalah aku, sampai kapanpun aku tak akan pernah mampu menjadi dia dan kepribadian ku tak akan bisa menyamai kepribadian nya kami berbeda~


Cairan itu tumpah begitu saja membasahi seragam kebangsaan sosok dingin dengan tubuh tinggi tersebut, untung bukan cairan berbahaya. Hanya alcohol biasa. Setidaknya alcohol tersebut menyebabkan noda kekuningan pada seragamnya. di ‘lorong laboratorium’ sepertinya tidak ada tempat yang lebih romantis dibandingkan sebuah lorong laboratorium sehingga mereka harus bertemu di tempat seperti itu. dua anak manusia dari pribadi yang berbeda itu dipertemukan oleh sebuah lorong yang sangat berjasa. Giselia velma dan Giovano dirga dua orang yang sangat jauh berbeda. Gisel sendiri merupakan sosok yang ramah, kritis, tegas, dan selalu teguh dengan komitmennya. Sikapnya yang sedikit sinis dan memiliki argument yang kuat membuatnya terkesan sangat keras kepala. Sedangkan giovano sendiri merupakan sosok yang tak mau tau, cuek, bahkan terkesan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar nya. 
Gisel yang tak sengaja menumpahkan cairan itu segera membungkuk meminta maaf.
“aduh maaf-maaf aku gak sengaja. Maaf banget lagi buru-buru soalnya”
“aduh lain kali hati-hati dong. Baju aku basah ni, kotor lagi”
“duh, gimana ya. Gini aja deh kamu bawa baju ganti kan ? nanti pulang sekolah bawa aja baju kamu ke kelas aku, nanti bakal aku cuciin”
“yaudah deh, lain kali hati-hati ya! Untung bukan larutan berbahaya, kalau kagak bisa hangus kulit ku”
“makasih banget, sekali lagi maaf ya udah buat baju kamu kotor. Maaf aku buru-buru. Aku harus ke laboratorium sekarang. Kelas aku ada di lantai dua sebelah perpustakaan. 11 Ipa 2”
Sosok gisel pun berlalu dan segera hilang tertelan oleh pintu laboratorium yang tertutup dengan cepat. Gio dengan baju yang berlumur noda alkohol segera menuju wc dan berusaha menghilangkan noda itu. sedikit berhasil namun tetap saja terlihat noda kekuningan itu di bajunya.
Tepat setelah bunyi “kriinngg” dari toa yang terdapat di tiap sudut gedung sekolah itu dibunyikan gio pun buru-buru turun kelantai dua ia membaca plangkat papan nama di tiap-tiap pintu kelas demi menemukan sebuah ruangan. Sepertinya tidak sulit untuk menemukannya karena kelas yang ia tuju tepat berada disebelah perpustakaan. Gio mencari-cari sosok itu, sosok yang tadi berjanji akan bertanggungjawab dengan perbuatan yang telah ia lakukan pada seragam gio.
“heei, eehh, ini aku Cuma mau ngasih seragam aku yang kata kamu bakal kamu bersihin” gumam gio membuka percakapan.
“eeh iya, oke aku bersihin hari ini terus besok bakal aku antarin ke kelas kamu”
“oh, oke di 12 ipa 1” seru gio sembari menunjuk kearah atas gedung sekolah itu.
“sip aku tau kok, aku kan bukan anak baru disini, nama kamu gio ya ?”
Gio mengerlingkan mata “yapp, tau darimana ?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Gisel tersenyum simpul “hah, ini dari nama yang ada diseragam kamu”.
Senyum kecut gio tergaris diwajahnya  “waduh aku pikir aku terkenal banget sampai kamu tau nama aku, eeh ternyata dari baju aku, tapi yasudahlah” seru gio sembari manggaruk-garuk kulit kepalanya karena rasa kikuk yang tiba-tiba hadir menyerangnya.
Gisel hanya tertawa kemudian pamit pulang lebih dulu. Selang beberapa saat gisel berlalu, gio pun dengan tergesa-gesa melompati anak tangga demi menuju ruang musik tepat waktu walaupun ia tahu ‘tepat waktu’ hanyalah bayangan dalam hidupnya.
“kliiikkk” suara pintu ruangan yang kelihatan sudah ramai itu dibuka oleh sosok gio yang masih ngos-ngosan akibat waktu yang mengejarnya. Seisi ruangan reflek memusatkan perhatian pada gio yang memcahkan suasana yang telah tercipta diruangan tersebut.
“kemana aja lu ? dari tadi ditungguin tau gak, tau jadwal latihan kan ? lu telat 15 menit dari waktu yang udah ditentuin gio”. Celoteh seorang cowok berambut gondrong yang kerap disapa kiki oleh teman-temannya.
“sory ki, gua ada urusan dulu tadi “.
“alah urusan apa ? cewek lagi kan ? mau sampai kapan sih lu jadi playboy cap teri ?”
Gio yang kesal langsung mengambil gitar dan mulai berlatih sendiri “lu bisa diam gak, playboy itu masa lalu gua, gak usah lu ungkit lagi. Lagian baru kali ini kan gua telat”.
“yaaap bener banget, baru kali ini lu telat Cuma 15 menit, biasa nya setengah jam. Lagian kapan sih lu bisa ngehargain waktu sedikit aja, paling enggak konsisten dong sama jadwal latihan. Kalau lu mau telat ngedate ama cewek-cewek lu ya silahkan aja, tapi enggak buat latihan!”
“terserah lu deh, gua udah bilang gua ada urusan. Makan tuh jadwal latihan ama lu. Lu cari aja gitaris baru, gua udah malas gabung ama lu!”
“yaudah sana lu pergi jauh-jauh! Gua juga udah capek ngadepin sikap lu yang acuh gak acuh. Lu pikir lu bisa ngedapetin apa yg elu mau kalau lu masih mempertahankan sifat buruk lu itu. makan tuh cuek ama lu”.
Gio membuka pintu ruangan musik itu dengan kasar lalu membantingnya dengan keras. Pikirannya kacau seketika. Ia tak mengerti mengapa semua orang tak pernah memahaminya. Ia hanya butuh sesorang yang benar-benar paham pendiriannya sebagai laki-laki. Ia tak suka komitmen ataupun aturan ia hanya ingin bebas.
****
Gisel berlari kecil menelusuri lorong demi lorong lantai terakhir gedung itu. matanya hanya tertuju pada satu ruangan ’12 Ipa 1’, yaa kelas yang terletak paling ujung itu yang akan menjadi tujuannya kali ini. Ia berdiri di depan pintu kecokelatan itu kemudian melongokkan kepalanya kedalam ruangan, berharap segera menemukan yang ia cari. Saat matanya masih liar mencari-cari sebuah sentuhan dari arah belakang mengagetkannya membuatnya secara reflek membalikkan tubuhnya.
“eeh, kak gio. Aku kirain siapa tadi”.
“aku ngagetin kamu ya ? hahaha”.
“banget! Oh iya ini sbajunya udah aku bersihin. Sekali lagi maaf banget ya kak”
“iya, udah di maafin kok tenang aja, jangan melas gitu dong mukanya. sekarang udah panggil kakak ya ? semalam masih ‘kamu’ deh perasaan. Hahaha.”
“hahaha. Iya biar rada sopanan dikit, baru tau semalam kalau kakak itu udah kelas 12. Tua”.
“jiah, tua ? umur boleh tua tapi muka always muda dong. Hahah, oh iya nama kamu siapa ?”.
Gisel berdehem kemudian mengulurkan tangan kanannya “ eheem, giselia velma, kakak gak tau ? padahal aku kan adik kelas paling top disekolah ini”.
Gio menyambut tangan gisel dan kemudian mereka tertawa sangat keras, sehingga murid-murid lain yang ada disekitar mereka serentak memalingkan wajah kearah mereka berdua.
“kak itu ketawa apa suara bom atom ? liat tuh orang-orang pada liatin kita”.
“bukan kamu salah, ini suara raksasa buto ijo lagi kentut”. Telapak tangan gio segera menutup mulut gisel yang hendak tertawa karena ulahnya sendiri.
“udah ah kak, lama-lama aku disini bisa terdaftar jadi salah satu penghuni RSJ, mending aku balik ke kelas aku aja deh, bahaya ngumpul sama kakak kelas sarap kayak kak gio mah”.
“hahahaha. Yaelah sarap-sarap gini tapi cakep kan ?. aku juga baru tau kalau adek kelas tersarap itu kamu, pantes aja terkenal”.
“makasih kak gio”. Gumam gisel singkat yang kemudian berlari-lari kecil menyusuri beberapa lorong, dan melangkahkan kakinya untuk menuruni beberapa anak tangga. Gisel kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengikuti pelajaran dikelas, berkutat dengan buku-buku di  perpustakaan, dan kembali lagi ke laboratorium untuk melakukan percobaan yang sepertinya tak ada habis-habisnya bagi gisel. Dari kejauhan tampak seseorang dengan rambutnya yang panjang dan matanya yang sangat sipit berlari kearah gisel.
“gisel, gisel! Tunggu bentar, ini ada surat buat elu, bukan surat sih isinya dikit doang”
Gisel menyipitkan matanya, ia selalu menikmati raut wajah gita ketika kekesalan gita terpancing karena ledekan gisel mengenai matanya yang sipit itu.
“giseeellll!” suara gita melengking dan naik beberapa oktaf.
“apa gita ?" sahut gisel dengan nada manja. "lu kayak mau paduan suara aja deh. eeh dari siapa suratnya”.
“bodo ah, gak akan gua kasih tahu sebelum lu janji gak bakalan ngejekin mata sipit gua lagi”.
“hahaha. Gitu aja manyun lu, mirip sama bebek mau bertelur tuh mulut. Oke-oke gua gak akan ngeledek mata sipit lu lagi deh. tapi seriusan tuh surat buat gua ?”
“ya iyalah masa buat gua, kalau buat gua ngapain gua repot-repot ngejar elu, ini dari kakak kelas yang cakep itu loh yang semalam lu ceritain ke gua yang katanya alkohol elu gak sengaja tumpah ke baju dia”.
“oh, kak gio. Mana suratnya ? jadi penasaran gua”.
Mata sipit gita mengerling sempurna, ia mulai mengendus sesuatu yang janggal pada gisel. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat di wajah gisel. Senyum sumringah ketika mendapatkan sesuatu, padahal ini hanyalah sebuah kertas apa yang begitu spesial dari kertas begini ?.
“apaan sih liatin gua kayak gitu, siniin suratnya gita”.
“lu ngaku ama gua deh, ada apa lu sama kak gio. Hayo ngaku lu kalau gak gua ketekin ni surat”. Seru gita menggoda gisel yang senyum-senyum tak menentu.
“jorok lu! Sempat lu ketekin diari kesayanganlu gua masukin comberan, nah pilih mana ?. gita siniin suratnya dong”. Gumam gisel mencoba meraih surat tersebut dari tangan gita.
“jawab dulu lu ada sesuatu ya ama kak gio ?” selidik gita penuh rasa ingin tahu.
“iih lu kepo deh, cara satu-satunya ya gua harus……..” gisel tak meneruskan kalimatnya, tangan nya sudah lebih cepat melakukan tindakan dibandingkan mulutnya. Jemari nya yang lentik menggelitik setiap senti perut gita. Ia hanya ingin segera meraih kertas itu dari gita. Ada rasa penasaran yang terlalu dalam. Rasa penasaran yang tak biasanya gisel rasakan. Ini bukan surat pertama yang ia terima selama ia berada di sekolah itu. sudah sangat banyak surat-surat yang ia terima yang terakhir ia ketahui merupakan kiriman dari beberapa cowok yang menyukainya. Namun, surat-surat sebelumnya tak begitu menimbulkan rasa penasaran seperti yang ia rasakan saat ini. Gisel memang telah lama menyukai sosok Gio, hanya saja gio yang selama ini terlihat sangat cuek bahkan terkesan sangat dingin membuat gisel harus mundur beberapa langkah ketika harus berpapasan dengan Gio. Ditambah lagi wanita-wanita yang dekat dengan Gio bukanlah wanita sembarangan, mereka cantik, supel, dan juga cerdas. Gisel memang cerdas, namun tetap saja ia merasa minder apabila harus membandingkan dirinya dengan wanita-wanita itu.
“yeah I get it” seru gisel dengan senyum lebar di wajahnya.
“curang! Lu pakai kelemahan gua, dasar!”.
“kalau gak begitu bakal panjang urusannya, udah ah gua buru-buru. hahaha”. Tawa gisel santai.
“yah gua ikut deh, ke lab kan ? lu pasti mau baca tuh surat. Gua pengen tau”.
“yah kepo banget sih. Kalau bukan sahabat gua dari orok udah gua pidana lu, mengusik privasi orang lain. Hahaha”.
“tega lu! Gini-gini kan gua sahabat lu yang paling baik sel. Yaudah ayo ke lab sekarang gua gak sabar”. Gita menarik tangan gisel agar berjalan lebih cepat menuju laboratorium. Layaknya gita sesungguhnya gisel pun penasaran dengan isi surat tersebut. Seolah sedang membuka kardus yang berisi bom, jantung gisel berdetak lebih kencang dari biasanya. Rasa penasaran itu mengalir bersamaan dengan darahnya. “gua suka gio, ta” ucapnya lirih memandang gita. Gita pun tertawa kemudian mengusap bahu gisel. “elu berhak untuk itu sel”. Keduanya pun berpelukan layak nya sepasang sahabat yang telah berabad-abad tidak bertemu. Aneh! Memang aneh namun keanehan itulah yang membuat mereka satu. Setelah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, keduanya bisa memancarkan mimik memelas yang terlihat sangat miris ketika sudah bersentuhan dengan perasaan. Cinta~.

******