aku memutar gagang pintu itu dengan kasar kemudian membanting benda itu keras. wajah ku memerah menahan amarah. wanita paruh baya yang tengah duduk menyelesaikan rajutan ditangan nya menatap ku dengan wajah kaget nya. untuk kesekian kalinya tanpa pamit aku memasuki istana ku. untuk kesekian kalinya pula aku pulang tanpa terlebih dahulu mencium tangan wanita tua itu. tak ada senyum yang terpancar di wajahku senyum yang seharusnya dengan ikhlas selalu ku persembahkan untuknya. untuk wanita tua yang selalu menyertai ku.
kupandang wajahnya dari balik tirai kamarku yang tersingkap. dahulu wajahnya tidak keriput. dahulu tangannya juga tidak keriput. dahulu tak ada kacamata yang bertengger indah diwajahnya. dia bundaku. terkadang aku tak sadar ketika memperlakukannya dengan kasar. ia masih asyik merajut. bingkai foto itu aku banting keras. bukan dia penyebab amarahku, tapi entah mengapa dia yang selalu menjadi tempatku menumpahkan rasa kesalku.
ia mengelus dadanya kemudian memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. tangan keriputnya dengan teliti dan hati-hati membuang serpihan-serpihan itu pada tempatnya. dengan langkahnya yang gontai ia perlahan menuju bilik ku. "ada apa nak?" tanyanya penuh perhatian. aku tak menjawab napas ku memburu menahan emosi yang meletup-letup dihati ku. "kenapa kamu banting barang-barang kamu, nak? apa kamu sedang ada masalah ? apa ada yang bisa ibu bantu ?". aku menatapnya dengan tatapan sinis. "tidak! ibu mending keluar aja, ibu gak akan pernah mengerti masalah ku" sahut ku membentaknya.
ia mengelus rambutku beberapa kali "ya sudah kalau begitu ibu keluar, kamu jangan lupa ganti pakaian lalu makan. habis itu coba merenung dan kendalikan emosi kamu. kamu sudah dewasa, tidak sepantasnya meluapkan emosi dengan cara seperti itu" gumam perempuan tua itu dengan nada lembut, tak ada getaran amarah yang kudengar. ia masih memperlakukan ku dengan lembut. ia dengan sabar mengahadapi aku yang selalu menjawabnya dengan ketus. aku sedikit melirik kearah pintu yang perlahan tertutup. ada kekecewaan diwajahnya. aaah, ada rasa menyesal yang seketika menyelimuti perasaanku. palu gelisah itu memakukan rasa sesal itu dengan sangat dalam dihatiku.
aku masih tak menggubris pesan terakhirnya. amarah yang sejak tadi ku pendam tak lagi mampu kutahan. ditambah lagi dengan penyesalan yang membentak hatiku. "ibu, maaf" gumamku lirih. sebutir air mata mengalir dari mataku. aku menatap kosong langit-langit kamarku. entah sudah berapa lama cat nya tidak diganti, sehingga terlihat sedikit pudar.
"tang-tang buku.. tang-tang buku..." tiba-tiba suara-suara itu bergantian melewati telingaku. berdengung kuat menggelitik syaraf-syaraf telingaku. otak ku bekerja dengan cepat, tanpa butuh waktu lama, ingatanku mengembalikan semua data-data belasan tahun yang lalu. aku tidak melihat wanita tua dengan kulit tangannya yang telah keriput. aku hanya melihat seorang ibu muda memelukku, menciumku, kemudian menimang-nimang ku keudara. jemari mungilku digenggam nya erat, seakan tak ada satupun yang boleh mengambil ku darinya, seakan tak ada seorangpun yang boleh melukai ku. "ibu, aku sayang ibu" ujar seorang anak kecil yang baru saja di belikan sepotong es krim oleh ibu muda itu. "ibu juga sayang kamu" seru ibu muda itu sembari mengusap lelehan es krim yang menetes mengotori seragam bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh putri kecil itu.
tanpa sadar aku tertidur pulas, otak ku lelah bekerja. lelah memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu yang indah itu. antara mimpi atau sadar, aku merasa ada langkah yang perlahan-lahan memasuki kamar ku. dengan perlahan dan lembut, ia menarik selimut yang ada dikaki ku kemudian menyelimuti tubuhku. aku merasakan pelukan hangat dari tubuh itu. sebutir air mata dari matanya menetes mengenai tangan ku. aku masih enggan untuk bangun dan membuka mataku. aku tau dia wanita kuat yang selalu mengajarkan ku tentang makna kehidupan. ia wanita yang selalu berjuang menjadikan ku sebagai seseorang yang berguna. dia ibuku yang kerap kali ku perlakukan dengan kasar, yang kerap kali ku bentak, yang seharusnya semua itu tidak aku lakukan padanya. perlahan sosok itu menjauh, kemudian menghilang di balik pintu kayu itu.
kupandang wajahnya dari balik tirai kamarku yang tersingkap. dahulu wajahnya tidak keriput. dahulu tangannya juga tidak keriput. dahulu tak ada kacamata yang bertengger indah diwajahnya. dia bundaku. terkadang aku tak sadar ketika memperlakukannya dengan kasar. ia masih asyik merajut. bingkai foto itu aku banting keras. bukan dia penyebab amarahku, tapi entah mengapa dia yang selalu menjadi tempatku menumpahkan rasa kesalku.
ia mengelus dadanya kemudian memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. tangan keriputnya dengan teliti dan hati-hati membuang serpihan-serpihan itu pada tempatnya. dengan langkahnya yang gontai ia perlahan menuju bilik ku. "ada apa nak?" tanyanya penuh perhatian. aku tak menjawab napas ku memburu menahan emosi yang meletup-letup dihati ku. "kenapa kamu banting barang-barang kamu, nak? apa kamu sedang ada masalah ? apa ada yang bisa ibu bantu ?". aku menatapnya dengan tatapan sinis. "tidak! ibu mending keluar aja, ibu gak akan pernah mengerti masalah ku" sahut ku membentaknya.
ia mengelus rambutku beberapa kali "ya sudah kalau begitu ibu keluar, kamu jangan lupa ganti pakaian lalu makan. habis itu coba merenung dan kendalikan emosi kamu. kamu sudah dewasa, tidak sepantasnya meluapkan emosi dengan cara seperti itu" gumam perempuan tua itu dengan nada lembut, tak ada getaran amarah yang kudengar. ia masih memperlakukan ku dengan lembut. ia dengan sabar mengahadapi aku yang selalu menjawabnya dengan ketus. aku sedikit melirik kearah pintu yang perlahan tertutup. ada kekecewaan diwajahnya. aaah, ada rasa menyesal yang seketika menyelimuti perasaanku. palu gelisah itu memakukan rasa sesal itu dengan sangat dalam dihatiku.
aku masih tak menggubris pesan terakhirnya. amarah yang sejak tadi ku pendam tak lagi mampu kutahan. ditambah lagi dengan penyesalan yang membentak hatiku. "ibu, maaf" gumamku lirih. sebutir air mata mengalir dari mataku. aku menatap kosong langit-langit kamarku. entah sudah berapa lama cat nya tidak diganti, sehingga terlihat sedikit pudar.
"tang-tang buku.. tang-tang buku..." tiba-tiba suara-suara itu bergantian melewati telingaku. berdengung kuat menggelitik syaraf-syaraf telingaku. otak ku bekerja dengan cepat, tanpa butuh waktu lama, ingatanku mengembalikan semua data-data belasan tahun yang lalu. aku tidak melihat wanita tua dengan kulit tangannya yang telah keriput. aku hanya melihat seorang ibu muda memelukku, menciumku, kemudian menimang-nimang ku keudara. jemari mungilku digenggam nya erat, seakan tak ada satupun yang boleh mengambil ku darinya, seakan tak ada seorangpun yang boleh melukai ku. "ibu, aku sayang ibu" ujar seorang anak kecil yang baru saja di belikan sepotong es krim oleh ibu muda itu. "ibu juga sayang kamu" seru ibu muda itu sembari mengusap lelehan es krim yang menetes mengotori seragam bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh putri kecil itu.
tanpa sadar aku tertidur pulas, otak ku lelah bekerja. lelah memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu yang indah itu. antara mimpi atau sadar, aku merasa ada langkah yang perlahan-lahan memasuki kamar ku. dengan perlahan dan lembut, ia menarik selimut yang ada dikaki ku kemudian menyelimuti tubuhku. aku merasakan pelukan hangat dari tubuh itu. sebutir air mata dari matanya menetes mengenai tangan ku. aku masih enggan untuk bangun dan membuka mataku. aku tau dia wanita kuat yang selalu mengajarkan ku tentang makna kehidupan. ia wanita yang selalu berjuang menjadikan ku sebagai seseorang yang berguna. dia ibuku yang kerap kali ku perlakukan dengan kasar, yang kerap kali ku bentak, yang seharusnya semua itu tidak aku lakukan padanya. perlahan sosok itu menjauh, kemudian menghilang di balik pintu kayu itu.
*****
"bu, aku pamit" seru ku setengah berteriak, karena terburu-buru.
"loh, enggak makan dulu nak, ibu udah siapin makanan". sahut suara yang terdengar sedikit parau dari arah dapur.
"nanti saja bu, sudah terlambat. hari ini harus cepat. keburu ramai nanti susah dengar pengumuman nya. doain lulus ya bu". gumam ku sembari menenteng tas yang biasa menemani ku menuntut ilmu.
"ya sudah, hati-hati dijalan. ibu cuma bisa berdoa aja semoga anak ibu ini lulus"
"amin bu". sahutku sembari menyambut tangannya kemudian menciumnya. entah sudah berapa lama aku tidak melakukan rutinitas yang dulu selalu kulakukan. aku sendiri menyadari semakin aku beranjak dewasa semakin jarang aku melakukan hal itu.
aku tiba di gedung yang penuh dengan murid-murid berseragam sama dengan ku. hanya butuh waktu 10 menit dari rumahku menuju tempat ini. gedung yang menjadi tempatku mendapatkan ilmu.gedung yang menjadi tempatku berkutat dengan rumus-rumus sin kuadrat, hukum newton, dan lain sebagainya. beberapa diantara teman-temanku sudah berteriak histeris dan bersorak-sorak seperti orang kesurupan. aku menanggapi semuanya dengan biasa saja, hal itu bukan hal yang asing lagi bagiku. sudah berkali-kali aku melihat ekspresi itu ketika kelulusan tiba. baik ketika kelulusan kakak kelas dan bahkan kelulusan angkatan ku.
aku segera mengambil langkah seribu, sedikit berlari menuju ruangan kepala sekolah. puluhan murid sudah mengantri demi selembar surat yang menjadi penentu masa depannya. kini tiba giliranku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tanganku mendadak berubah menjadi dingin. surat yang kini ada di genggaman ku akan menjadi penentu masa depanku, surat ini akan menjadi hadiah yang akan ku persembahkan untuk wanita yang telah berhasil mendidik ku menjadi seperti sekarang ini. LULUS! kata itu yang menjadi kesimpulan paragraf-paragraf panjang yang menurut ku terlalu bertele-tele itu.aku bersorak gembira, turut larut dengan teman-temanku yang meluapkan kegembiraannya dengan bersorak dan berteriak histeris. "ibuku berhasil" seru ku dengan suara nyaring.
tiba-tiba getaran di saku ku yang berasal dari handphone hadiah dari ibuku menyadarkan ku dari hal-hal gila yang tengah ku lakukan bersama teman-temanku. aku mendengarkan baik-baik tiap kalimat yang disampaikan oleh sumber suara di ujung sana. sekujur tubuh ku terasa lemas, dada ku sesak. percakapan itu telah ditutup. aku merasa oksigen berhenti mengalir mengisi paru-paru ku. aku segera berlari meninggalkan keramaian itu. segera mencari angkutan apapun yang dapat membawa ku secepatnya sampai di tempat itu.
tak peduli dengan keadaan ku yang kacau, aku berlari menyusuri lorong-lorong menyeramkan itu. melewati hiruk pikuk yang terjadi di UGD. melewati puluhan perawat dengan seragam putih bersihnya. aku tiba didepan sebuah ruangan yang terkunci rapat. ada sedikit celah jendela tempat aku melongokkan wajah ku untuk sekedar mengintip kedalam ruangan tersebut. disana aku melihat beberapa perawat serta seorang malaikat dengan jubah putihnya. jubah kebesaran yang selama ini aku mimpikan. jas dokter serta gelar dokter yang sangat ingin aku raih. tangan-tangan itu berulang-ulang menghitung dan memeriksa denyut nadi sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang mungil itu. "ibu" panggil ku terisak sembari mengusap jendela kaca di tempatku berdiri saat ini.
aku terduduk lemas di ruang tunggu. menanti pintu ruangan ICU itu terbuka. rasa sesal, sedih, dan takut berkecamuk dalam hatiku. seolah menyiksa ku dan mengiris hatiku. aku terlalu lemah menghadapi ketakutan ini sendirian. rosario tergenggam erat oleh jemariku. lantunan merdu doa ku panjatkan demi kesembuhan sosok sang ibu yang selama ini sering ku kecewakan.
gagang pintu itu terbuka, menyebabkan sedikit bunyi berderit akibat gesekan nya dengan lantai keramik yang tiap menit selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. "apa kamu saudara dari ibu tersebut?" tanya dokter yang terlihat manis dengan kaca mata berbingkai cokelat tua di wajahnya. "iya dok, saya anaknya" sahut ku dengan nada bergetar menahan tangis. "mari ikut keruangan saya ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda".
setengah mengangguk, kemudian aku mengikutinya berjalan kearah lorong yang sebelumnya sempat ku lalui. kami tiba di sebuah ruangan yang sangat rapi. ada papan nama disana. clara. Dr.Clara, nama yang indah sesuai dengan orang yang saat ini ada dihadapan ku. "silahkan duduk" ujarnya mempersilahkan ku.
"dok, sebenarnya ada apa dengan ibu saya ? tetangga saya bilang ibu saya tiba-tiba terjatuh lalu pingsan dan dilarikan kerumah sakit ini"
"saya pikir kamu sudah cukup kuat untuk mendengar ini semua, berapa usia mu?" tanya dokter clara antusias.
"17 tahun dok" jawab ku singkat.
"baik lah mau tidak mau aku harus mengatakannya, saat ini ibu mu dalam masa kritis. ia mengalami koma". mata ku terbelalak mendengar ucapan dokter clara, tak ada satupun kalimat yang bergeming dari mulutku, jantung ku semakin berdetak tak beraturan". dokter clara kembali melanjutkan penjelasannya dan aku semakin menyediakan telinga "ibu mu terserang suatu penyakit yang langka, Multiple System Atrophy (MSA).
tak peduli dengan keadaan ku yang kacau, aku berlari menyusuri lorong-lorong menyeramkan itu. melewati hiruk pikuk yang terjadi di UGD. melewati puluhan perawat dengan seragam putih bersihnya. aku tiba didepan sebuah ruangan yang terkunci rapat. ada sedikit celah jendela tempat aku melongokkan wajah ku untuk sekedar mengintip kedalam ruangan tersebut. disana aku melihat beberapa perawat serta seorang malaikat dengan jubah putihnya. jubah kebesaran yang selama ini aku mimpikan. jas dokter serta gelar dokter yang sangat ingin aku raih. tangan-tangan itu berulang-ulang menghitung dan memeriksa denyut nadi sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang mungil itu. "ibu" panggil ku terisak sembari mengusap jendela kaca di tempatku berdiri saat ini.
aku terduduk lemas di ruang tunggu. menanti pintu ruangan ICU itu terbuka. rasa sesal, sedih, dan takut berkecamuk dalam hatiku. seolah menyiksa ku dan mengiris hatiku. aku terlalu lemah menghadapi ketakutan ini sendirian. rosario tergenggam erat oleh jemariku. lantunan merdu doa ku panjatkan demi kesembuhan sosok sang ibu yang selama ini sering ku kecewakan.
gagang pintu itu terbuka, menyebabkan sedikit bunyi berderit akibat gesekan nya dengan lantai keramik yang tiap menit selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. "apa kamu saudara dari ibu tersebut?" tanya dokter yang terlihat manis dengan kaca mata berbingkai cokelat tua di wajahnya. "iya dok, saya anaknya" sahut ku dengan nada bergetar menahan tangis. "mari ikut keruangan saya ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda".
setengah mengangguk, kemudian aku mengikutinya berjalan kearah lorong yang sebelumnya sempat ku lalui. kami tiba di sebuah ruangan yang sangat rapi. ada papan nama disana. clara. Dr.Clara, nama yang indah sesuai dengan orang yang saat ini ada dihadapan ku. "silahkan duduk" ujarnya mempersilahkan ku.
"dok, sebenarnya ada apa dengan ibu saya ? tetangga saya bilang ibu saya tiba-tiba terjatuh lalu pingsan dan dilarikan kerumah sakit ini"
"saya pikir kamu sudah cukup kuat untuk mendengar ini semua, berapa usia mu?" tanya dokter clara antusias.
"17 tahun dok" jawab ku singkat.
"baik lah mau tidak mau aku harus mengatakannya, saat ini ibu mu dalam masa kritis. ia mengalami koma". mata ku terbelalak mendengar ucapan dokter clara, tak ada satupun kalimat yang bergeming dari mulutku, jantung ku semakin berdetak tak beraturan". dokter clara kembali melanjutkan penjelasannya dan aku semakin menyediakan telinga "ibu mu terserang suatu penyakit yang langka, Multiple System Atrophy (MSA).
dimana penyakit ini disebabkan oleh degenerasi sel-sel syaraf di otak, ya hampir mirip parkinson. penyakit ini mempengaruhi beberapa bagian otak, dan fungsi-fungsi gerakan keseimbangan tubuh".
aku tak percaya dengan apa yang kudengar. bagaimana mungkin ibuku yang terlihat sehat-sehat saja ternyata mengidap penyakit langka yang bahkan baru kali pertama kudengarkan namanya.
"lalu apa masih bisa disembuhkan, dok ?" tanyaku penuh harapan.
"entahlah, kasus ini langka. dan kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter ahli syaraf".
kalimat demi kalimat yang dikumandangkan oleh dokter Clara benar-benar bagai anak panah yang menohok perasaanku. ini lebih dari sekedar luka, perih yang kurasakan saat ini benar-benar tak dapat ku tahan lagi. aku menangis terisak. bahu mungilku naik turun seiring isakan dari bibir mungilku. hatiku mencari-cari perlindungan. namun, aku tak menemukan pelindung itu. dokter Clara mengusap lembut pundak ku "tenanglah kami akan berusaha dengan baik".
#bersambung
aku tak percaya dengan apa yang kudengar. bagaimana mungkin ibuku yang terlihat sehat-sehat saja ternyata mengidap penyakit langka yang bahkan baru kali pertama kudengarkan namanya.
"lalu apa masih bisa disembuhkan, dok ?" tanyaku penuh harapan.
"entahlah, kasus ini langka. dan kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter ahli syaraf".
kalimat demi kalimat yang dikumandangkan oleh dokter Clara benar-benar bagai anak panah yang menohok perasaanku. ini lebih dari sekedar luka, perih yang kurasakan saat ini benar-benar tak dapat ku tahan lagi. aku menangis terisak. bahu mungilku naik turun seiring isakan dari bibir mungilku. hatiku mencari-cari perlindungan. namun, aku tak menemukan pelindung itu. dokter Clara mengusap lembut pundak ku "tenanglah kami akan berusaha dengan baik".
#bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar