Selasa, 02 April 2013

Berdamai Dengan Masa Lalu


Untuk kesekian kalinya aku berdiri disini di antara tingginya ilalang dan rerumputan. Batang-batang ilalang yang menjulang tinggi menyembunyikan tubuhku dari sengatan mentari. Ditangan ku telah tergenggam erat sebuah pena dan sepucuk kertas yang sebentar lagi akan menemaniku menjelajahi masa lalu. Otak ku memulainya. Setiap sel syarafnya mulai bekerja. Namamu berotasi disana. Berputar-putar tanpa lelah. Kenangan itu silih berganti terpapar dengan jelas dalam ingatanku. Tidak sedikitpun moment-moment masa lalu itu terlupakan oleh ku.
Balutan rasa cemas membungkus hatiku. aku yang sekarang ini bagaikan seseorang yang berjubahkan rasa sakit dan kecewa. Trauma yang mendalam membuatku berhenti mencari-cari makna sebuah cinta. Bahkan yang telah ku simpulkan sendiri , bagiku cinta hanya sebuah perasaan yang menyakitkan. Omong kosong ada orang yang mencintai kelemahanmu, semua berharap kesempurnaan.
Kata-kata pahit itu bermunculan dari memori ingatanku . Seolah-olah aku kembali mendengar kau mengucapkannya berkali-kali. Ku cari darimana datang nya asal suara itu. namun, aku tak berhasil menemukannya. Kusibak batang-batang ilalang yang menjulang itu mencari suara yang benar-benar tidak asing di telingaku. Aku  Mencari sesosok pria bermata sipit dengan bola hitam pekat di tengahnya.  Aku tetap tidak berhasil menemukan mu, menemukan bayanganmu pun aku tak mampu. Suara itu tak kunjung hilang. Aku kehabisan akal, kata-kata itu silih berganti memekakkan telingaku. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Setidaknya alam mendengarku, mereka, rumput-rumput yang tak bermata itu, aku yakin mereka bertelinga dan mampu mendengar jeritan ku, jeritan batinku.
Lututku menghujam tanah dengan keras. Aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa sakit yang menyiksa dadaku. Ratusan pisau tajam kini tengah menyayat hati ku. Tanpa ku perintahkan lagi-lagi sepasang mata ku menciptakan aliran anak-anak sungai yang melewati garis pipiku. Melodi perasaan ini terlalu kacau. Sesak yang kurasakan tak mampu lagi ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku tak mengerti betapa begitu berat perasaan ini melepaskan semua yang bukan lagi menjadi milikku. Melepas semua kebiasaan yang tidak lagi kita lakukan  bersama.
Sudah cukup lama kita tidak berkabar. Dan kini aku merindukanmu. Merindukan tawamu. Merindukan hangatnya jemarimu yang mengisi celah-celah pada jemariku. Sungguh, aku merindukan semua tentangmu, tentang ‘kita’. Aku yang dulu berjalan disampingmu kini harus mundur beberapa langkah ketika bertemu denganmu. Aku yang dahulu selalu berani menatap matamu, kini harus tertunduk lesu ketika mataku melihat jemarimu mengisi celah-celah jemari ‘NYA”.
Tak ada gunanya aku menangis. Semua sudah berlalu. Namun, tak akan ada juga yang pernah mengerti sejahat apa kau mempermainkan perasaanku. Seolah aku persis boneka. Ooh aku lupa kau seorang pria. Tak selayaknya kau memperlakukanku seperti boneka karena pria tidak bermain boneka, baiklah akan segera kuganti. Kau memperlakukan hatiku persis sebuah layang-layang yang kau tarik ulur sesukamu. Ketika kau merasa bosan maka akan kau tinggalkan begitu saja.
Saat ini aku memang masih menitikkan air mata ketika mengingatmu mengingat semua hal tentangmu. Aku sadar mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu dalam sehingga saat kau menyakitiku pun aku belum menyadarinya. Hingga luka itu benar-benar dalam dan aku baru merasakan perihnya. Akan kutunjukkan padamu bahwa aku bukan mainan mu, aku bukan selembar layangan yang dengan sesuka hatimu kau tarik dan kau ulur. Sudahlah ini air mata terakhirku, jangan pikir aku akan menangis lagi untukmu. Tidak akan pernah!
Kupikir kau terlihat serasi dengan boneka barumu itu. aku mungkin cemburu tapi setelah kupikirkan kembali aku tidak sedang cemburu. Aku hanya kasihan melihat hidupmu, miris melihat keadaanmu. Kau pikir kau berhasil mempermainkan mereka ? tidak! Kau yang kini sedang mereka permainkan. Ada saatnya kau akan membuka matamu lalu menyadari karma sedang menuju dan akan segera menyerang hidupmu.
“aku bosan, dan selama ini kau hanya ku anggap permainan. Aku tidak serius”. Aku terkekeh mengingat kata-kata itu. air mata ku telah mengering. Aku tidak lagi selemah yang kau perkirakan. Sudah tidak ada lagi air mata yang dengan Cuma-Cuma akan ku berikan padamu. Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak. Aku hanya menjaga jarak dengan seseorang yang berpeluang besar untuk menyakitiku kembali. Kau!. Kau yang aku sayangi bahkan dengan kejamnya dalam sekejap mata mampu menghancurkan setiap mimpi yang kupunya. Mimpi yang berharap akan segera kuwujudkan bersamamu.
Aah sudahlah. Sudah cukup aku menguak kisah-kisah itu kepermukaan. Aku tidak ingin sesak ini semakin mengikat paru-paruku dan menahan aliran oksigen yang menuju otakku. Aku tidak ingin lagi rasa sakit itu mengalir bersamaan dengan darahku. Jangan pernah menyesal dengan keputusanmu. Aku disini selalu memelukmu dengan doaku. Dengarkan aku! aku tidak membencimu. Sesungguhnya setiap kesalahan yang telah kau perbuat telah aku maafkan. Kini aku hanya tengah berusaha berdamai dengan rasa sakit itu. berdamai dengan mu dan berdamai dengan masa lalu.
Jangan usik aku. apa kau tau, aku nyaman menulis tentangmu. Rasa sakit ini seolah menantangku untuk terus menulis tentang kisahmu dan kisahku. Rasa sakit ini menuntun pena ku untuk bergerak menuliskan semua yang ada dipikiranku. Semilir angin ini menemaniku tenggelam bersama masa lalu. Masa lalu yang sebentar lagi akan menjadi sahabatku, sahabat penaku. Tunggu aku kelak, aku pasti akan menemuimu lagi. Semoga kita bisa bertemu disatu tempat dimasa yang akan datang. Dan aku akan berterimakasih padamu atas jasamu yang telah memberikanku semangat untuk menulis. Rasa sakit yang tak pernah aku lupakan. Kelak akan ku berikan padamu hasil dari rasa sakit yang telah kau berikan padaku. Kau pria yang dulu menyayangiku~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar