Untuk kesekian kalinya aku
berdiri disini di antara tingginya ilalang dan rerumputan. Batang-batang
ilalang yang menjulang tinggi menyembunyikan tubuhku dari sengatan mentari.
Ditangan ku telah tergenggam erat sebuah pena dan sepucuk kertas yang sebentar lagi
akan menemaniku menjelajahi masa lalu. Otak ku memulainya. Setiap sel syarafnya
mulai bekerja. Namamu berotasi disana. Berputar-putar tanpa lelah. Kenangan itu
silih berganti terpapar dengan jelas dalam ingatanku. Tidak sedikitpun
moment-moment masa lalu itu terlupakan oleh ku.
Balutan rasa cemas membungkus
hatiku. aku yang sekarang ini bagaikan seseorang yang berjubahkan rasa sakit
dan kecewa. Trauma yang mendalam membuatku berhenti mencari-cari makna sebuah
cinta. Bahkan yang telah ku simpulkan sendiri , bagiku cinta hanya sebuah
perasaan yang menyakitkan. Omong kosong ada orang yang mencintai kelemahanmu,
semua berharap kesempurnaan.
Kata-kata pahit itu bermunculan
dari memori ingatanku . Seolah-olah aku kembali mendengar kau mengucapkannya
berkali-kali. Ku cari darimana datang nya asal suara itu. namun, aku tak
berhasil menemukannya. Kusibak batang-batang ilalang yang menjulang itu mencari
suara yang benar-benar tidak asing di telingaku. Aku Mencari sesosok pria bermata sipit dengan bola
hitam pekat di tengahnya. Aku tetap
tidak berhasil menemukan mu, menemukan bayanganmu pun aku tak mampu. Suara itu
tak kunjung hilang. Aku kehabisan akal, kata-kata itu silih berganti memekakkan
telingaku. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Setidaknya alam mendengarku,
mereka, rumput-rumput yang tak bermata itu, aku yakin mereka bertelinga dan
mampu mendengar jeritan ku, jeritan batinku.
Lututku menghujam tanah dengan
keras. Aku tak lagi mampu menahan gejolak rasa sakit yang menyiksa dadaku.
Ratusan pisau tajam kini tengah menyayat hati ku. Tanpa ku perintahkan
lagi-lagi sepasang mata ku menciptakan aliran anak-anak sungai yang melewati
garis pipiku. Melodi perasaan ini terlalu kacau. Sesak yang kurasakan tak mampu
lagi ku ungkapkan dengan kata-kata. Aku tak mengerti betapa begitu berat
perasaan ini melepaskan semua yang bukan lagi menjadi milikku. Melepas semua
kebiasaan yang tidak lagi kita lakukan
bersama.
Sudah cukup lama kita tidak
berkabar. Dan kini aku merindukanmu. Merindukan tawamu. Merindukan hangatnya
jemarimu yang mengisi celah-celah pada jemariku. Sungguh, aku merindukan semua
tentangmu, tentang ‘kita’. Aku yang dulu berjalan disampingmu kini harus mundur
beberapa langkah ketika bertemu denganmu. Aku yang dahulu selalu berani menatap
matamu, kini harus tertunduk lesu ketika mataku melihat jemarimu mengisi
celah-celah jemari ‘NYA”.
Tak ada gunanya aku menangis.
Semua sudah berlalu. Namun, tak akan ada juga yang pernah mengerti sejahat apa
kau mempermainkan perasaanku. Seolah aku persis boneka. Ooh aku lupa kau
seorang pria. Tak selayaknya kau memperlakukanku seperti boneka karena pria
tidak bermain boneka, baiklah akan segera kuganti. Kau memperlakukan hatiku
persis sebuah layang-layang yang kau tarik ulur sesukamu. Ketika kau merasa
bosan maka akan kau tinggalkan begitu saja.
Saat ini aku memang masih
menitikkan air mata ketika mengingatmu mengingat semua hal tentangmu. Aku sadar
mungkin hanya perasaanku saja yang terlalu dalam sehingga saat kau menyakitiku
pun aku belum menyadarinya. Hingga luka itu benar-benar dalam dan aku baru
merasakan perihnya. Akan kutunjukkan padamu bahwa aku bukan mainan mu, aku
bukan selembar layangan yang dengan sesuka hatimu kau tarik dan kau ulur.
Sudahlah ini air mata terakhirku, jangan pikir aku akan menangis lagi untukmu.
Tidak akan pernah!
Kupikir kau terlihat serasi
dengan boneka barumu itu. aku mungkin cemburu tapi setelah kupikirkan kembali
aku tidak sedang cemburu. Aku hanya kasihan melihat hidupmu, miris melihat
keadaanmu. Kau pikir kau berhasil mempermainkan mereka ? tidak! Kau yang kini
sedang mereka permainkan. Ada saatnya kau akan membuka matamu lalu menyadari
karma sedang menuju dan akan segera menyerang hidupmu.
“aku bosan, dan selama ini kau
hanya ku anggap permainan. Aku tidak serius”. Aku terkekeh mengingat kata-kata
itu. air mata ku telah mengering. Aku tidak lagi selemah yang kau perkirakan.
Sudah tidak ada lagi air mata yang dengan Cuma-Cuma akan ku berikan padamu. Aku
tidak membencimu. Sama sekali tidak. Aku hanya menjaga jarak dengan seseorang
yang berpeluang besar untuk menyakitiku kembali. Kau!. Kau yang aku sayangi
bahkan dengan kejamnya dalam sekejap mata mampu menghancurkan setiap mimpi yang
kupunya. Mimpi yang berharap akan segera kuwujudkan bersamamu.
Aah sudahlah. Sudah cukup aku
menguak kisah-kisah itu kepermukaan. Aku tidak ingin sesak ini semakin mengikat
paru-paruku dan menahan aliran oksigen yang menuju otakku. Aku tidak ingin lagi
rasa sakit itu mengalir bersamaan dengan darahku. Jangan pernah menyesal dengan
keputusanmu. Aku disini selalu memelukmu dengan doaku. Dengarkan aku! aku tidak
membencimu. Sesungguhnya setiap kesalahan yang telah kau perbuat telah aku
maafkan. Kini aku hanya tengah berusaha berdamai dengan rasa sakit itu.
berdamai dengan mu dan berdamai dengan masa lalu.
Jangan usik aku. apa kau tau, aku
nyaman menulis tentangmu. Rasa sakit ini seolah menantangku untuk terus menulis
tentang kisahmu dan kisahku. Rasa sakit ini menuntun pena ku untuk bergerak
menuliskan semua yang ada dipikiranku. Semilir angin ini menemaniku tenggelam
bersama masa lalu. Masa lalu yang sebentar lagi akan menjadi sahabatku, sahabat
penaku. Tunggu aku kelak, aku pasti akan menemuimu lagi. Semoga kita bisa
bertemu disatu tempat dimasa yang akan datang. Dan aku akan berterimakasih
padamu atas jasamu yang telah memberikanku semangat untuk menulis. Rasa sakit
yang tak pernah aku lupakan. Kelak akan ku berikan padamu hasil dari rasa sakit
yang telah kau berikan padaku. Kau pria yang dulu menyayangiku~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar