Sabtu, 28 Juni 2014

cerita ini mungkin sedikit mengarah kepada sesuatu hal yang tabu, semoga bermanfaat bagi yang telah menyediakan waktu untuk berkunjung ke blog saya dan menyempatkan untuk membaca sedikit cerita yang telah saya post.
suatu hari seorang anak kecil berusia 8 tahun merasa hidupnya sempurna. ia punya saudara dan orang tua yang lengkap. kasih sayang yang ia dapat dari orang tuanya pun tak pernah kurang. semua keinginan nya selalu terpenuhi dan diberikan oleh kedua orang tuanya. sampai suatu ketika ia melihat pertengkaran hebat antara ayah dan ibunya. dalam tidurnya ia sadar bahwa keluarganya tak lagi se damai dahulu. semua telah berubah, sayup-sayup ia dengar kata perempuan lain dari mulut sang ibu, di usianya yang masih kecil ia tak mengerti penyebab pertengkaran tersebut, hanya satu yang ia tahu keluarganya tak lagi sama, tak lagi seindah dulu, ada jarak yang membentang luas diantara mereka. sampai suatu ketika sang anak beranjak dewasa, ia mulai mengerti soal cinta, perasaan nya telah tumbuh dan menjadi matang untuk memahami gejolak yang ia rasakan terhadap lawan jenisnya. sampai suatu ketika ia dihadapkan pada sebuah persoalan yang ia rasa tak asing baginya, ya kata 'perempuan lain' dahulu ia pernah mendengar kata itu, dan kini ia mengerti apa maksud dari kalimat tersebut. rasa sakit, perih, dan hancur yang ia rasakan. ia kemudian sadar bahwa hal serupa lah yang dulu dirasakan oleh sang ibu. sebuah pengkhianatan dari orang yang dicintai. perselingkuhan memang menyisakan luka yang tidak semua orang dengan mudah melupakannya. begitu pula dengan seorang anak yang pernah mengalami hal tersebut dalam keluarganya. sesuatu yang menyangkut dengan pengkhianatan akan menjadi trauma terberat baginya. memang memaafkan tak sesulit menyembuhkan rasa sakit. tapi akan lebih baik jika sebuah keluarga terhindar dari pengkhianatan, begitu pula dengan suatu hubungan. andai cinta bisa membuat wanita cukup dengan 1 pria, kenapa cinta tidak bisa membuat pria cukup dengan 1 wanita. hargai pasangan sebagaimana dia menghargai anda, karena sekali anda melukai perasaan wanita, akan sangat sulit baginya untuk pulih seperti sedia kala. semua kembali kepada pribadi masing-masing. Tuhan menciptakan wanita dan pria sederajat, namun fakta yang terlihat adalah wanita dan pria sangat lah berbeda, wanita dan pria punya cara masing-masing dalam mencintai, punya cara masing-masing dalam melupakan. semuanya kembali kepada kita, bagaimana cara kita menghormati perbedaan itu dan menjadikan nya sempurna. sempurna tidak harus mendua :) 

Sabtu, 21 September 2013

Sesingkat September

Untuk kesekian kali nya, lagi-lagi hujan menjadi temanku untuk meneteskan air mata. Entah mengapa hujan mampu menguras emosiku, membawaku terlarut dalam luka yang kuciptakan sendiri. semua terasa seperti beban yang membuatku sulit bernafas. Aku ingin secepatnya keluar dari zona ini. hei bisakah kamu menghentikan air mata ini ? bisakah kamu mengambil rasa sakit ini?
Salah ku, benarkah semua salah ku? Apa mencintai mu benar serumit ini? Benar sesakit ini? Mengapa semua terasa sulit saat kupikir ‘kita’ akan berjalan semudah perkiraanku. Apa yang harus kulakukan? Perasaan ini sudah terlanjur jatuh pada mu, hatiku telah terlanjur memilih mu. Ya aku tahu ini sebuah kesalahan, kesalahan yang tak semestinya kubuat. Apa kau pikir semudah itu untuk jatuh cinta lagi bahkan setelah aku merasakan luka yang sama sebelumnya, tidak! Jatuh cinta dalam definisi ku tidak semudah yang kau perkirakan sayang.
Harusnya kau paham bagaimana seharusnya memperlakukan hatiku yang baru saja sembuh. Kau memang menyembuhkan luka lama ku namun bukan berarti kau harus membuat luka baru setelah itu.
‘kita’ memang hanya berawal dari ketidak sengajaan, bermula dari perhatian melalui pesan singkat yang entah itu sungguh serius terjadi atau hanya sebatas iseng belaka, aku tak tahu pasti yang aku tahu semua bermula tanpa terduga. Ya kamu bukan orang baru bagiku, aku mengenalmu cukup baik setelah acara itu. mungkin sebelumnya aku tak pernah melakukan percakapan yang tak penting dengan mu apalagi sekedar berbasa-basi untuk menanyakan apa yang sedang kau lakukan atau sebagainya, hanya saja malam itu entah apa yang terjadi, kau mengirimi ku pesan singkat, aku membalasanya seperti biasa, singkat, tanpa bertele-tele, tanpa emoticon, dan kupikir tidak ada yang spesial dari percakapan kita semua terasa kaku bahkan terkesan terlalu formal, kau menanyakan pendapatku tentang realisasi ide yang pernah kita bahas dan aku menanggapi semua sebagaimana selayaknya seorang teman memberikan saran kepada seorang teman lainnya.
Kau memulainya, ya kau yang memulainya, entah sejak kapan kau mulai memanggilku dengan sebutan “kamu” dan begitu pula sebaliknya dengan aku. semua terjadi tanpa kita sadari. Hingga akhirnya aku sadar ada yang mulai berubah, kita mulai terasa dekat. Kupikir ini seperti pasangan lainnya, ini kah yang mereka sebut tahap pendekatan? Entahlah aku tak ingin terlalu cepat mengartikan semua ini. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan perasaanku agar tak terlalu jauh menanggapi maksud dari semua ini.
Namun, seiring waktu keformalan yang dulu selalu menjadi topic utama pesan singkat kita kini mulai berubah menjadi perhatian-perhatian sederhana yang sangat manis. Kita mulai membubuhi emoticon ditiap akhir kalimat balasan. Tanpa sadar aku mulai larut dalam perhatian sederhana yang kau tunjukkan melalui pesan singkatmu. Sunggu pada awalnya aku hanya menanggapi semua itu sebagai sesuatu yang iseng belaka, aku cukup meyakinkan diriku dan aku cukup tahu diri pria sepertimu tidak mungkin punya perasaan lebih terhadap wanita sepertiku. Dingin,kaku,bahkan terkesan cuek itulah aku.
Ketertarikan sesaat begitulah aku menyebut hubungan ‘kita’. Entah mengapa aku sangat yakin bahwa ketertarikan mu terhadapku hanya terjadi sementara, hanya saja aku bukanlah tipe wanita yang lantas  menjatuhkan fonis negative terhadap pria yang mencoba mendekatiku hanya karena aku pernah terluka sebelumnya.
Sungguh pesonamu benar-benar membuat ku terpikat. Baiklah, aku mengakui bahwa kau berhasil merebut dan mengisi ruang kosong dihatiku. Ya perlahan kau mengisi tempat itu dan entah mengapa aku bisa begitu saja mempercayakan mu untuk mengisi tempat itu, padahal sebelumnya aku ingin benar-benar menutupnya.
Alasan! Aku tak tau apa yang harus ku jadikan alasan dalam mecintaimu, memang terasa begitu cepat, bahkan hanya baru beberapa minggu kedekatan kita aku sudah berani bilang ini cinta. Gila! Ini memang benar-benar gila, bahkan diwaktu sesingkat ini aku berani mengambil resiko, menyerahkan hatiku dan mempercayakannya untukmu. Entah kau pantas atau tidak untuk menerima kepercayaan itu namun hatiku tetap akan memberikan nya untukmu.
Sampai pada akhirnya hari itu aku sangat mengingat nya, hari itu tanggal 14 september, kita sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah bioskop di kota kita. Apa? Kau mengajak ku nonton hanya berdua? Apa ini semacam date? Aaah tidak, kita hanya menghabiskan waktu bersama, benar bukan?
Kau menyuruhku menunggu, sungguh itu adalah hal yang paling kubenci, 20 menit aku harus menunggumu menyelesaikan urusan mu dan aku sangat ingat waktu itu kau menghampiri ku dengan berjalan sedikit cepat. aku bisa membaca arah gerakmu, hanya saja aku berpura-pura tidak mengetahui kedatangan mu. mataku segera ku alihkan pada layar handphoneku, kemudian mencari apa yang sebenarnya tak benar-benar kucari. Aku menunggu, hingga akhirnya kau tepat berada di depanku, dengan nafas tidak teratur akibat ulahmu sendiri, aku memasang wajah kesalku dan kau tersenyum dengan wajah innocent mu.
Baiklah aku ingat, kau mengacak-ngacak rambutku yang sudah susah payah kurapikan sebelum bertemu denganmu, dan aku suka saat itu. kau punya cara tersendiri untuk meminta maaf dan aku suka cara itu. kemudian kau segera berdiri mengajak ku beranjak dari kursiku dan menuju tempat pemesanan tiket. Baiklah pilihan jatuh pada film horror, selera yang sangat buruk. Dan aku mengumpat dalam hati kenapa kita harus menonton film dengan genre yang menyeramkan.
Kita memasuki ruangan dan aah apa-apaan ini, bisakah lain kali kita memasuki studio sebelum film dimulai, ruangan itu sangat gelap, dan aku sama sekali tidak bisa berjalan dalam kegelapan seperti itu. kau menuntunku hingga ‘kita’ tiba di bangku kita.
Kau mulai memusatkan perhatian pada film, dan apa kau tau ini pengalaman pertama ku menerima ajakan seorang pria menonton film berdua.
Aku juga mulai menikmati film, ingat? Tidak benar-benar menikmati, aku tetap wanti-wanti bila mana tiba” hantu tersebut muncul. Aku tau kau melihatku dari sudut matamu, dan aku memperhatikan semua itu. kau juga tak luput dari sudut mataku. Meskipun aku tau di ruangan ini tak ada cahaya namun samar-samar aku tetap mampu melihat gurat wajahmu.
Film sudah berjalan sekitar 20 menit dan aku benci setiap adegan tersebut, kenapa hantunya menjadi sering muncul dan itu benar-benar membuat laju jantungku bertambah cepat. Aku meremas pegangan kursi dengan kuat, merasa ketakutan ketika hantu tersebut muncul kemudian memutar kepalanya tepat 3600. Baiklah kali ini aku harus menutup mataku, hei dan aku ingat saat itu tangan mu perlahan mencari tangan ku, kemudian mengisi celah-celah jariku dengan milikmu. Tepat! Kau membuatku bertambah gugup, dan yang pastinya bertambah luluh. Aku tahu kau kembali melihatku, kali ini terlihat jelas, namun aku tak tahu harus bagaimana, jadi aku tetap menatap lurus kedepan.
Hei ingat saat aku bersandar di pundak mu? Ingat saat aku menyembunyikan wajah ku ke bahumu ketika aku ketakutan? aku merasa ingin mengulang semua itu, lagi dan lagi.
Aku pikir setelah semua yang kita lalui bersama aku semakin yakin bahwa ini bukan hanya ketertarikan sesaat. Aku menyayangimu sunggu menyayangi mu, rasa itu tumbuh begitu saja padahal aku sudah berusaha menekannya, menyiksanya dengan cara menyangkal perasaan itu berkali-kali. Namun, ia terlalu kuat untuk ku sembunyikan, seberapa keras pun aku mencoba untuk menekan perasaanku rasa itu tetap sama.
Aku takut untuk jujur, aku takut kau tahu segalanya kemudian pergi. Aku belum siap mengakhiri semuanya. Bisakah kita menikmati ini selamanya. Oh tidak! Ini hanya mimpi, this is just a dream.
Dan saat aku terbangun aku sadar semua telah berubah, kau berubah, kau tak lagi sama, tak lagi hangat seperti beberapa minggu yang lalu, apa yang menyebabkan mu berubah? Aku tersiksa dengan keadaan ini, sungguh semua pertanyaan yang ada dalam kepalaku membuatku merasa tertekan. Beritahu aku mengenai alasan perubahanmu. Apakah ternyata kau telah menemukan yang lain? apa kau hanya persinggahan, tempat mu mencurahkan segala tangis tapi bukan menjadi tujuan untukmu? Kalau memang ia lalu kenapa kau tidak mengatakannya secara langsung? Itu lebih baik dari pada kau harus membuat ku mencari-cari jawaban seperti ini.
Tidak kah kita bisa mengulang semua hal manis itu? beritahu aku agar aku segera mengubur mimpi itu dalam-dalam. Beritahu aku agar aku tak selalu mencari dalam keheningan.
Meskipun pada akhirnya kau menyisakan luka, meskipun pada akhirnya kau menjadi topic utamaku dengan Tuhan, meskipun kau yang menjadi sebab tangisan ku pada tengah malam, aku sadar perasaan ini masih belum berubah, dia masih menunggumu dan masih menjadi persinggahan yang nyaman untukmu yang ingin segera kau jadikan tujuan.



                                                               14 september ………………………
Dari wanita yang menyayangimu
Pria bawel, aku merindukanmu,
Dan merindukan semua percakapan                                         manis kita
Aku juga merindukan kenangan manis                                 yang pernah kita ukir bersama di bulan                                 september


Jumat, 10 Mei 2013

Kita Dan Kenangan


Aku merasa waktu bergulir begitu cepat dan juga begitu lembut, hingga membuatku tak menyadari bahwa perlahan-lahan waktu membawa serta kenangan itu pergi. Tiap malam-malam gelap, doa menjadi pelarianku ketika rindu ini terlalu kuat dan tak mampu lagi ku bendung. Ada nama mu disana, di setiap kata yang terangkai indah bersamaan dengan harapan-harapanku. Kau tak pernah kulupakan dalam setiap rapalan doaku.
Sepertinya membicarakan tentang mu adalah topik utamaku dengan Tuhan, aku selalu mengusiknya, bercerita kepadanya seperti apa ‘kita’ dahulu, seperti apa kita menjalani semuanya. Aah, segalanya begitu lembut, begitu sederhana, dan begitu indah. Terkadang aku merindukan semuanya, semua hal tentang kita, selalu saja begitu, aku selalu merindukan hal-hal yang sudah berlalu dan berniat mengulangnya lagi, sekali lagi, padahal yang kurindukan adalah hal mustahil yang mungkin tak bisa diulang kembali.
Kalau aku boleh tahu, apa kabar dirimu saat ini? Sesungguhnya aku ingin tahu banyak hal tentangmu, dan berusaha, selalu berusaha mengetahuinya. Kamu tak akan pernah tahu itu, aku melakukannya dengan sangat bersih, aku berusaha melakukannya tanpa sepengetahuan mu . apa kau lupa kau pernah meledekku dengan sebutan setan kecil ? ya, sampai saat ini pun aku masih menjadi setan kecilmu, menguntit mu perlahan, dan mencintaimu dalam diam, kembali pada saat pertama kali aku jatuh cinta padamu. Manis bukan?
Seperti apapun luka yang pernah kau buat, rasanya hatiku selalu tulus memaafkannya, aku selalu berusaha mengobati luka ku sendiri, karena aku tahu hanya kau dan hanya aku yang tahu cara menyembuhkannya. aku tahu kau bukan tipe orang yang menyukai hal-hal yang aku sukai hanya karena kau menyukaiku. Aku paham kau bukan tipe orang yang terpaksa mencintai sesuatu hanya karena dia mencintaimu.
Setidaknya ketahuilah, cinta ini hadir tanpa ‘karena’ juga tanpa ‘jika’ . bukan aku yang memilihmu, tapi hatiku. kau datang dan membiusku, menusukkan cinta kemudian kau mencabutnya. Perih memang, namun ini realitanya. Selama ini aku mencintai sesuatu yang semu, sesuatu yang maya, aku hanya berpegang pada cinta yang tidak nyata. Rasa nyaman yang kau berikan cukup menipuku, atau mungkin dulu sesungguhnya cinta itu nyata, hanya saja sesuatu menjadi penghalang segalanya.
Dengarkan aku, kali ini dengarkan pernyataanku, mungkin ini terlalu biasa, bahkan terlalu konyol, mungkin ini semacam lelucon untukmu, yang menggelitik syarafmu untuk menertawaiku, buka matamu, aku masih merindukanmu. Disini aku masih bersedia menyediakan lengan untuk memelukmu, jika kau menangis, kau bisa menghubungiku lagi dan aku akan berusaha meredam tangismu, menghapus setiap air mata yang menggenang dipelupuk matamu.
Ceritakan padaku hal baru yang kau dapat disana, selain pacar barumu itu. beritahu aku kapan kau kembali, kapan kau menemuiku lagi. Astaga, aku lupa! Bahkan kau pernah bilang tak akan pernah ke kota ini lagi. Mengapa? Bisa kau jelaskan padaku? Aku tak mengerti apa alasannya. Apa begitu banyak yang melukai mu di kota ini, harus nya aku yang pergi dari sini, karena bayangan mu masih jelas, masih terlihat nyata disini.
Aku masih bertahan disini, berdiri diatas kenangan, berusaha menata hatiku, aku tahu ini sulit ditambah lagi kenangan mu tak segan-segan menggerogoti pikiran ku di waktu-waktu tertentu. Ada kalanya moment-moment khusus yang kulalui membuat ku teringat pada ‘kita’. Terkadang secuil kenangan yang terputar kembali mampu menjadi besar seketika. Aku tak bisa mengatur dan mengendalikan mereka, mereka datang dan berkembang dengan sangat cepat.
Kelak, beritahu aku alasan mu pergi. Jelaskan padaku penyebabmu berpaling, ceritakan padaku kronologi nya. Aku membutuhkan penjelasan itu, penjelasan yang tak pernah kudengar keluar dari bibirmu. Aku yakin kita tak akan bertemu lagi,di sini, dikota ini. Tapi siapa yang tahu, kelak kita kan bertemu dilain kesempatan, dilain kota. Bukan nya Tuhan sangat senang mempertemukan yang tak disangka-sangka sebelumnya, seperti halnya DIA mempertemukan mu dengan ku. Percayalah aku bisa menjaga hatiku. seperti katamu dulu, ya! Aku tak akan jatuh lagi pada kesalahan yang sama. Aku tak akan memilih bahu yang salah untuk menghapus air mataku, seperti halnya kesalahan ku mempercayakan hati ku padamu. Pastikan padaku tak ada benci di antara kita. Karena bagiku setiap cerita punya kenangan tersendiri dan aku tak mau menghadirkan kebencian pada kenangan kita.



Jumat, 26 April 2013

Aku Bukan Dirinya #2


Sama halnya dengan Gita, Gisel pun tak percaya dengan apa yang ia baca. Mereka akan pulang berdua siang ini ? ia akan pulang berdua dengan Gio kemudian pergi ke perpustakaan daerah juga berdua, hanya berdua dengan Gio ?. aah Gisel tak percaya. Berkali-kali ia membaca pesan singkat di kertas itu namun tulisan itu tetap sama. Tak ada satu huruf pun yang berubah. Gisel merasa semuanya seperti mimpi, secepat itu kah ? hanya karena pertemuan itu, pertemuan di ‘lorong laboratorium’ itu. atau sebenarnya Gio sudah tau kalau Gisel memendam sebuah perasaan yang besar terhadap Gio. Gisel pun masih mencoba menerka-nerka, konsentrasinya buyar seketika. Niat nya untuk melakukan percobaan hilang sudah, hanya karena sebuah pesan singkat dari seseorang yang ia cintai. Seseorang yang selalu ia perhatikan diam-diam. Seseroang yang selalu ia peluk dengan doanya bukan dengan lengannya. Dan seseorang yang selalu ia lihat dari kejauhan. Giovano Dirga, nama yang saat ini berputar-putar dikepalanya, bukan lagi rumus-rumus senyawa kimia, bukan lagi nomor-nomor bilangan oksidasi dan bukan lagi urutan atom di tabel periodik. Gita menatap Gisel dengan senyum termanis nya ia memeluk sahabatnya erat-erat seolah merasakan apa yang Gisel rasakan saat ini.
“Sudah saat nya sel, elu harus coba! Mau sampai kapan megang komitmen buat selalu sendiri. harapan udah di depan mata, elu harus bertindak selangkah lebih maju sekarang.” Gumam Gita meyakinkan Gisel yang perasaannya masih bertanya-tanya tentang maksud surat tersebut.
“belum gita” ujarnya lirih. “ini belum saat nya, gua gak mau terlalu berharap. Terkadang enggak semua hal indah itu disebut harapan. Gua gak mau terlanjur ngeyakinin hati gua dan ujung-ujungnya malah gua yang bakal sakit”.
“yaudah, gua gak maksa elu kok. Apapun yang elu lakuin asal elu bahagia, gua bakal ikut bahagia kok sel” seru gita sembari mengusap bahu Gisel.
“iya makasih ya ta, elu emang sahabat dari orok yang paling baik sedunia. Udah aaah, masak kita lembek kayak lemper gini kalau udah bahas masalah perasaan. Miris banget, gak seru tau. Tuh mata lu jadi makin sipit tuh, udah mirip garis malah”. Canda gisel yang menyebabkan cubitan-cubitan dari Gita di pergelangan dan bahunya.
“gisel!! Elu tadi udah janji gak akan ngeledek gua lagi”. Seketika itu juga ruangan laboratorium terasa sesak dan ingin pecah akibat suara Gita yang melengking keras. Gisel menutup telinganya dengan kedua tangan nya. Ia berusaha melindungi rumah siput dan gendang telinganya agar tidak rusak karena suara Gita yang melengking itu.
“iya, ampun Gita!” balas Gisel dengan suara yang tak kalah nyaringnya dengan suara Gita.
“Gisel, lu ngapain teriak-teriak, lu kira ini ruangan Hutan rimba apa ?”. Gita memasang wajah sok polosnya yang selalu saja membuat gisel tergelitik kemudian tertawa ketika melihat ekspresi wajah Gita yang seperti gadis idiot tersebut.
“nah kan elu duluan yang teriak-teriak kayak tarzan kelaparan ta, kok malah gua yang elu tegur. Turunin dulu tuh oktaf suara lu. Bisa hancur telinga gua kalau setiap jam dengar suara secempreng itu”.
“hahaha. Suara emas begini lu bilang cempreng, yang ada suara elu tu serak-serak becek kayak di pangkalan ojek sel. Hahaha”.
“asem lu. Udah ah cabut yuk. Lama-lama ni rungan serem juga kalau ada elu, abis suara lu kalau ketawa beda-beda tipis ama eyang nya kuntilanak ta”.
“asem lu sel”. Seru gita yang kemudian mendengus kesal dan memajukan bibir tipisnya.
Keduanya berjalan menuju kelas masing-masing. Gisel dan Gita memang tidak sekelas bahkan tidak satu jurusan. Gisel dengan otak kimianya itu pastinya memilih IPA sedangkan gita dengan jiwa sosialnya itu pastinya memilih IPS. Keduanya memang sering beradu argument tentang jurusan masing-masing. Manusiawi sih, terkadang keduanya membela jurusan masing-masing. namun, pada akhirnya keduanya menganggap jurusan apapun yang mereka pilih dan jalani saat ini, semua itu saling berhubungan dan saling berkaitan. tidak ada yang lebih hebat, karena apapun jurusannya, apapun provesinya semua itu tidak buruk kecuali provesi tersebut melanggar norma dan hukum.
*****
Gisel melangkah dengan ragu. Gedung sekolah berangsur-angsur sepi. Begitu pula dengan parkiran sekolah. Hanya tinggal beberap motor saja yang masih bertengger disana. Sosok itu sedang menunggu, menunggu jawaban surat yang tadi siang ia titipkan pada seorang cewek berembut panjang dan bermata sipit yang tak lain adalah sahabat gadis yang kini ia tunggu. Gio duduk dengan resah diatas motornya. Sedangkan gisel sendiri masih ragu untuk berjalan kearah Gio. Irama jantungnya masih sangat kacau, ia takut Gio mampu mendengar suara jantungnya yang sangat kacau itu apabila ia nekat menghampiri Gio saat ini juga. Gisel meyakinkan dirinya untuk menemui Gio, ia tak mau membiarkan orang yang ia cintai menunggu lama. Tarikan nafas yang cukup dalam sepertinya cukup untuk membuang rasa gugup yang Gisel rasakan. Kini irama jantungnya sedikit lebih teratur dan ia sudah punya keberanian lebih untuk melangkah.
“hai kak Gio, udah lama nunggu ya ?” sapa Gisel ramah.
“eeeh, hai. Enggak kok. Baru aja, paling nunggu 5 menit doang”. Gio berbohong bahkan ia telah menunggu gisel sejak bel sekolah dibunyikan. Hingga saat ini saat parkiran sekolah sudah sesepi ini mana mungkin hanya 5 menit.
Gisel mencoba mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menatap mata coklat itu. terlalu banyak getaran yang akan terjadi dan ia menghindari semua itu. “hmm, maaf udah buat kakak nunggu. Oh iya jadi kita mau kemana ?”
“kita mau ke RSJ nganterin kamu. hahaha”
“oh ya ? berarti kakak juga ikut dong. Kan kakak yang gila duluan” ledek Gisel tak mau kalah.
“tapi kamu yang lebih gila, kalau dimasukin ke perbandingan kamu 3 aku 1”.
“aaahh curang!!” suara gisel naik beberapa oktaf.
“cempreng ah suaranya, sakit nih telinga aku”. tutur gio sembari menutup kedua telinganya.
“yee, jarang-jarang loh kak dengar suara aku yang kece ulala itu. hahaha”
“nah, PeDe nya kumat, udah buruan naik deh. kamu keburu meleleh disini ntar ngeliatin muka aku yang cetar kalau kata syahrini mah”.
“lah emang kakak siapa nya syahrini ?” Tanya gisel dengan memasang wajah sok polos.
“ya itu tukang ojeknya dulu, kan sering macet jadi dia naik ojek.hahaha”.
“ooh pantesan tampang nya mirip tukang ojek kak. kak Gio tukang ojek paling top deh. hahaha”.
“hah, aduh kejebak omongan sendiri nih, kamu pinter banget sih. Padahal belum ada lho yang bisa ngalahin aku kalau lagi ledek-ledekan gini”.
“wah karena aku orang pertama aku dikasih hadiah dong ya. Harus lho!”
“yaudah naik dulu, atau mau jalan kaki.hehehe”.
Gisel pun segera naik dan duduk manis dibelakang Gio. Motor gio membelah jalanan padat kendaraan itu selama 15 menit. Selama 15 menit itu pula Gisel harus bertarung dengan polusi dan debu-debu yang dengan girang nya terbang lalu-lalang di tengah udara yang panas.
                                                          *****    
Bangunan tua itu tampak klasik tak banyak yang berubah hanya saja beberapa bagian sudah mulai rusak dan layak untuk mendapatkan renovasi. Dua anak manusia berbeda pemikiran itu menyusuri lorong-lorong tua dengan lukisan-lukisan sejarah yang menempel erat pada dindingnya. Rak-rak buku yang tingginya kurang lebih 2 meter tersusun rapi di ruangan tersebut. Tiap rak memiliki kategori masing-masing. Gisel menyusuri rak-rak puisi dan sajak sedangkan Gio sendiri menyusuri rak-rak buku kategori Musik. Keduanya pencinta seni namun berbeda aliran. Gio suka Hardrock sedangkan Gisel menyukai klasik. Gio tak terlalu suka sastra dan persajakan tapi ia mencintai seni teater. Gio dan Gisel mengambil beberapa buku dari rak-rak tersebut kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Tak seperti perpustakaan pada umumnya, pada perpustakaan ini pengunjung duduk lesehan khas zaman dulu.
“kakak baca buku apa ?” Tanya gisel memulai pembicaraan.
“ooh ini, buku sejarah tentang musik. Kamu sendiri baca buku apa ?”
“ini aku suka puisi jadi yaa aku ambil buku kumpulan puisi gitu”.
“waah berarti kamu bisa bikin puisi dong ?” Tanya Gio antusias.
“hmm, bisa sih kak tapi enggak ahli. Hahaha”.
“wah keren-keren dari biasa dan bisa pasti akan jadi ahli”
“semoga aja sih kak heheh”.
“Gisel, kamu suka teater gak ? besok ada pertunjukan di Balai Kebudayaan. Kamu mau nemanin aku nonton bareng gak ?”.
“hmm, teater ya kak ? boleh deh”.
“oke besok aku jemput kerumah kamu ya”. Gisel hanya mengangguk pelan meyetujui usul Gio.
“Gisel Jangan panggil aku kak lagi ya, kita ini seumuran loh. Cuma beda tingkatan aja”.
Gisel menegakkan wajahnya yang tadi tertunduk membaca bait-bait puisi dari buku yang ia ambil. Matanya terbelalak menatap Gio. Ia tak menyangka ternyata Gio seusia dengannya. Bahkan kini Gio memintanya untuk berhenti memanggil Gio dengan sebutan ‘kak’.
“lalu aku harus panggil apa ? gak sopan dong kalau aku panggil nama aja”.
“hahaha. Muka kamu lucu ya kalau kaget begitu, ya udah disekolah aja panggil ‘kak’ nya kalau diluar ya panggil Gio aja”.
“Tunggu dulu, aku butuh bukti kalau kamu itu seumuran sama aku, siapa tau aja kamu lagi kumat terus pengen kelihatan muda makanya kamu bilang kamu seumuran sama aku”. seru gisel penuh curiga.
“Gisel,Gisel!. Gak percayaan banget sih sama aku. ngapain juga aku pengen kelihatan muda kan emang muka aku jauh lebih muda, hahaha”. Gio pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, ia memberikan kartu tersebut pada Gisel. Gisel menerima kartu itu dengan antusias dan membaca identitas yang dideskripsikan dalam kartu tersebut.

Giovano Dirga
NIS                     : 3341
place/Birth           : Pekanbaru, 2 Februari                       1995

 





Sekali lagi Gisel menatap Gio dengan penuh rasa curiga. Sesungguh tidak semustahil yang ia pikirkan, semua bisa saja terjadi.
“tetap aja kamu yang lebih tua” ujar gisel sembari mengembalikan kartu tersebut pada Gio.
“hah, Cuma beda 4 bulan doang juga”. Seru Gio protes.
“iya tapi tetap aja Tua” sanggah gisel sembari mengejek Gio.
“ya udah deh aku ngalah,  yang lebih tua ngalah. Eh udah sore kita pulang yuk”.
“oh, ya udah bentar ya aku kembaliin buku nya ke rak dulu. Punya kamu mau sekalian gak ?” Tanya gisel menawarkan jasanya pada Gio.
“ooh, boleh deh. makasih ya gisel”.
Gisel hanya tersenyum kemudian dua kata singkat keluar dari mulutnya “sama-sama” ujarnya lembut.

Senin, 15 April 2013

no title

tidak terasa ya sudah lama kita tidak saling menyapa, sudah berbulan-bulan mata kita tak saling beradu pada satu titik yang sama. rasa nya akhir-akhir ini semua itu menghantuiku lagi. kamu sosok pria yang dulu membuat aku harus menahan napas tiap kali bertemu denganmu, kamu pria yang selalu membuat ku harus tertunduk ketika mata hitam pekat mu membidik titik terkecil pada mataku, apa kabar kamu? aku rindu senyum sinis mu, rindu tawa renyah mu, juga rindu kehadiran jemarimu yang mengisi tiap celah dijemariku. aku rindu ketika hujan datang dan aku meringkuk dalam pelukan mu. aku rindu tiap kali dingin menyusup membekukan tubuhku dan genggaman mu semakin erat pada jemariku.
kamu yang kini jauh di sudut kota sana. aku berharap kau selalu disini, tapi itu dulu. yaa dulu!. sekarang semua sudah berbeda. aku bukan lagi hantu kecil yang selalu mengikuti langkahmu. yang selalu melangkah bersama mu. dan kamu bukan lagi dalang yang tiap kali bel pulang selalu ku nanti di koridor itu, koridor sekolah tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu.
akkhh, aku mengingatnya lagi, mengingat kejadian pertama kali aku melihatmu. tak ada senyum dan tak ada sapa, aku hanya berani memperhatikan dan melihatmu dari kejauhan. ketika jarak kita sangat dekat maka aku akan mengalihkan pandanganku darimu. benar-benar kekanak-kanakan. berawal dari mading dan dilanjutkan oleh sebuah lilin. aku nyaris tak percaya ternyata cerita pertemuan kita tidak seromantis roman-roman dan kisah-kisah di sinetron ataupun dongeng.
tidak! aku tidak akan menceritakan apapun tentang pertemuan kita. aku hanya sekilas mengingatnya. selebihnya buku kecilku telah lebih dahulu mengetahui cerita panjang nya. apa kau masih ingat? tentunya tidak. aku tidak akan menarasikan nya disini. itu hanya akan membuatku kembali terpuruk kedalam kenangan-kenangan lama. apa kau tega melihatku yang nyaris sembuh ini kembali terluka lagi? apa kau bahagia melihat hati yang dulu menjadi ruangan ternyaman untuk cintamu tersayat lalu kemudian menyisakan bekas luka yang sangat dalam? sebelum kau melakukannya untuk kesekian kali aku memilih menghindar. cukup! aku tak mau merasakan sakit itu lagi.
bukan!aku bukan membenci mu, hanya saja aku masih terlalu khawatir berdekatan dengan mu. biar bagaimanapun kau masih mampu melukaiku dengan segudang kenangan itu. ada saat ketika hati benar-benar tak mampu menahan rasa rindu. aku paham cinta itu masih ada dan tersisa. aku sedang berbicara tentang realitanya. apa kau mengerti dan paham bagaimana aku menjalani semuanya dengan begitu mudah? kau akan berpikiran begitu dan memang terlihat begitu. namun, kau tak akan mengerti arti dari setiap tetesan air mata yang tiap malam harus mengalir membasahi bantalku. kau tak akan pernah paham bagaimana aku berusaha sekuat mungkin menyugesti diriku sendiri untuk melupakanmu. maksudku bukan melupakan melainkan untuk menghilangkan perasaan yang dulu pernah tumbuh dihatiku.
tiap kali namamu berotasi dikepala ku, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. kamu kini telah jauh berubah. aku mengerti dan maklum ketika kamu pun tak pernah menghubungi ku lagi. aku memang sedikit kecewa. namun,rasanya aku tidak layak untuk kecewa. kamu, mungkin tak akan pernah menyediakan perhatian untuk membaca tulisanku ini. tapi kelak aku yakin hatimu akan tergerak membaca tulisan demi tulisan yang pernah kubuat. entah itu lusa atau pun kelak tapi aku yakin hari itu pasti ada. 

Sabtu, 06 April 2013

kaki ku terasa lemas. tubuhku serasa kehilangan banyak energi. mulutku tak lagi mampu mengeluarkan banyak komentar. aku sendiri tidak begitu mengerti dengan istilah-istilah anatomi yang dijelaskan oleh dokter Clara. istilah-istilah itu sangat jarang terdengar oleh telingaku, bahkan ini kali pertama aku mendengar langsung ocehan-ocehan yang biasa ku dengar dari guru biologi ku. aku berjalan terhuyung menuju ruang ICU. seorang perawat baru saja keluar dari ruangan itu. aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa yang terbaring di dalam sana adalah ibu ku. ibuku yang selalu sabar menghadapi anak tolol seperti ku.
"sus, apa saya sudah boleh menjenguk ibu saya ?" tanyaku pada perawat berwajah bulat tersebut.
"oh, silahkan saja, pasien sudah bisa dijenguk" jawabnya ramah dengan senyum menawan. 

suara berderit kembali menggelitik syaraf telingaku. aku berusaha membuka pintu ruangan itu secara perlahan. aku tak mau mengusik ibu yang ku sayangi yang sedang beristirahat didalam sana. hentakan langkah ku perlahan membawa ku ke bibir ranjang. ada rasa tak tega melihat kondisi wanita tua yang selalu menjadi pelampiasan amarahku itu. tangan nya yang keriput ditembusi oleh selang infus. selang oksigen bertengger di hidungnya. mencari celah agar dapat mengalirkan oksigen ke paru-paru nya. 
aku berusaha menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam diriku. napas ku mulai tak mampu ku kendalikan. perintah otak ku tak lagi di gubris oleh indera pada tubuhku. aku menggit bibir bawahku sekuat yang aku bisa. namun, tetap saja ledakan itu tak mampu ku cegah. air mata itu tertumpah deras. aku menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara dan mengusik ibuku.

ketakutan ini tak mampu untuk ku lewati sendirian, terlalu gelap jalan yang harus kulalui. sosok yang seharusnya jadi kebanggan kini menghilang entah kemana, meninggalkan aku dan ibu tanpa kejelasan. semuanya berubah ketika ayah meninggalkan ku, aku benci pria dan benci cinta. hidupku berputar180 derajat, hatiku penuh luka dan dendam. itu alasan mengapa ibu kerap kali menjadi pelampiasan amarah ku. emosi yang tak dapat ku kendalikan akhirnya akan berujung pada bentakan dan kata-kata kasar yang ku layangkan terhadap ibuku.

ku usap lembut jemari yang pucat itu. hawa dingin terasa menyelimuti jemari ibu ku. "bu" ujar ku perlahan. namun, ibuku tak bergeming semuanya tetap hening. "bu, aku Lulus dan pengumuman beasiswa ku akan keluar besok, ibu masih mau mendoakan aku agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu kan ?". kalimat yang ku ucapkan seperti melayang di udara, hilang tanpa balasan, hanya saja aku tidak marah, aku tidak lagi mengumpat ibu dengan kata-kata kasar yang kerap kali ku tujukan padanya.

"bu, aku pamit pulang dulu ya, aku mau membereskan keperluan kita selama dirumah sakit, cepat sembuh bu". sesaat kemudian aku berdiri, memandang wajah sayu itu, kemudian mencium kening bundaku. lagi-lagi aku harus menahan butiran-butiran yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk mataku. aku segera keluar dari ruangan itu, rasanya tak ada luka yang lebih perih ketimbang harus mengetahui bahwa ibu yang bahkan belum sempat ku bahagia kan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

                                                                                 ****
aku tiba di rumah, ruangan ini terasa sunyi. biasanya ibu selalu duduk di kursi goyang nya sembari menyelesaikan rajutan-rajutannya. biasanya ibu menyambut ku kemudian menyiapkan makanan untuk ku. aku segera mengganti pakaian ku kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk ibu. perut ku terasa lapar, kemudian aku menuju ruang makan dan melihat sepiring nasi goreng yang tadi pagi belum sempat ku makan. aku memasukkan suapan pertama ku kedalam mulutku , rasanya masih sama, masih lezat dan aku selalu suka rasa masakan ibu walaupun tak jarang aku menyianyiakan makanan ini.

seketika rasa takut menghantui ku,kepalaku kembali memutar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Dr. Clara. kalimat-kalimat tersebut membuat ku sulit untuk bernafas. sungguh aku takut ibu pergi meninggalkan ku, sakitnya ibu tidak sesederhana penyakit demam atau flu, bahkan jelas-jelas saat ini penyakit itu bisa saja merebut ibu dariku. mulutku terasa sulit untuk mengunyah makanan ku. "apa ini juga akan menjadi sarapan terakhir yang ibu buat untukku?". "tidak, tidak" aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ibu akan segera sembuh dan kami akan bersama-sama lagi. aku segera menyelesaikan suapan terakhir ku dan segera bergegas menuju rumah sakit, aku tidak mau membuat ibu menunggu lebih lama.

sebelum tiba dirumah sakit, aku sempat menghubungi ayah, hanya saja jawaban pria bodoh itu tetap sama. "ayah akan membiayai pengobatan ibu hingga lunas kamu tak usah khawatir". aku tak memungkiri bahwa aku juga membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, hanya saja bukan itu yang benar-benar ku perlukan saat ini, aku butuh dia untuk menguatkan ku, sungguh aku tak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. ayah tak pernah berubah bahkan di tengah masalah seperti ini ia masih sibuk memikirkan egonya sendiri.

aku kembali ke ruangan ibu, tempat dimana orang yang paling ku cintai masih terbaring tanpa perubahan. ibu yang sangat gigih kini terbaring lemah tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit, tempat yang paling ia benci.
"ibu, aku janji bakal bawa ibu keluar secepatnya dari rumah sakit ini" batin ku dalam hati. seolah mendengar perkataan ku air mata ibu terjatuh seketika. ada perasaan lega dihatiku melihat ibu mulai merespon sedikit demi sedikit kata-kata yang aku ucapkan.

hari demi hari berlalu, sudah 3 bulan ibu dirawat dirumah sakit ini, dokter bilang keadaan ibu sudah mulai membaik dan sudah bisa segera di bawa pulang. hatiku bukan main girangnya ketika tahu bahwa ibu akan segera kembali kerumah. ku siapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk ibu. aku membelikan ibu roti kesukaan nya dan beberapa mawar yang telah aku susun rapi di kamar ibu.

siang itu juga setelah membereskan biaya perawatan ibu, aku membawa ibu pulang kerumah. setibanya dirumah ibu cukup terkesan dengan penyambutan kecil-kecilan yang telah aku buat, ya walaupun dengan modal sederhana dari tabungan yang sudah cukup lama aku kumpulkan. tadinya uang itu ingin aku belikan sebuah handphone baru tapi bagiku membuat ibu bahagia lebih penting saat ini. aku sadar perlakuan ku terhadap ibu selama ini sudah sangat membuatnya terluka dan aku ingin memperbaiki semua itu.

"ibu suka gak sama semuanya?" tanyaku pada ibu yang senyum nya melebar ketika pintu rumah kami kubukakan untuk nya.
"sangat nak, ibu sangat senang sekali, terimakasih ya"
"sama-sama bu sekarang ibu ke kamar ya, ibu harus istirahat" 

Rabu, 03 April 2013

mom, sorry about my mistakes #1

aku memutar gagang pintu itu dengan kasar kemudian membanting benda itu keras. wajah ku memerah menahan amarah. wanita paruh baya yang tengah duduk menyelesaikan rajutan ditangan nya menatap ku dengan wajah kaget nya. untuk kesekian kalinya tanpa pamit aku memasuki istana ku. untuk kesekian kalinya pula aku pulang tanpa terlebih dahulu mencium tangan wanita tua itu. tak ada senyum yang terpancar di wajahku senyum yang seharusnya dengan ikhlas selalu ku persembahkan untuknya. untuk wanita tua yang selalu menyertai ku.
kupandang wajahnya dari balik tirai kamarku yang tersingkap. dahulu wajahnya tidak keriput. dahulu tangannya juga tidak keriput. dahulu tak ada kacamata yang bertengger indah diwajahnya. dia bundaku. terkadang aku tak sadar ketika memperlakukannya dengan kasar. ia masih asyik merajut. bingkai foto itu aku banting keras. bukan dia penyebab amarahku, tapi entah mengapa dia yang selalu menjadi tempatku menumpahkan rasa kesalku.
ia mengelus dadanya kemudian memungut serpihan-serpihan kaca yang berserakan dilantai. tangan keriputnya dengan teliti dan hati-hati membuang serpihan-serpihan itu pada tempatnya. dengan langkahnya yang gontai ia perlahan menuju bilik ku. "ada apa nak?" tanyanya penuh perhatian. aku tak menjawab napas ku memburu menahan emosi yang meletup-letup dihati ku. "kenapa kamu banting barang-barang kamu, nak? apa kamu sedang ada masalah ? apa ada yang bisa ibu bantu ?". aku menatapnya dengan tatapan sinis. "tidak! ibu mending keluar aja, ibu gak akan pernah mengerti masalah ku" sahut ku membentaknya.
ia mengelus rambutku beberapa kali "ya sudah kalau begitu ibu keluar, kamu jangan lupa ganti pakaian lalu makan. habis itu coba merenung dan kendalikan emosi kamu. kamu sudah dewasa, tidak sepantasnya meluapkan emosi dengan cara seperti itu" gumam perempuan tua itu dengan nada lembut, tak ada getaran amarah yang kudengar. ia masih memperlakukan ku dengan lembut. ia dengan sabar mengahadapi aku yang selalu menjawabnya dengan ketus. aku sedikit melirik kearah pintu yang perlahan tertutup. ada kekecewaan diwajahnya. aaah, ada rasa menyesal yang seketika menyelimuti perasaanku. palu gelisah itu  memakukan rasa sesal itu dengan sangat dalam dihatiku.
aku masih tak menggubris pesan terakhirnya. amarah yang sejak tadi ku pendam tak lagi mampu kutahan. ditambah lagi dengan penyesalan yang membentak hatiku. "ibu, maaf" gumamku lirih. sebutir air mata mengalir dari mataku. aku menatap kosong langit-langit kamarku. entah sudah berapa lama cat nya tidak diganti, sehingga terlihat sedikit pudar.
"tang-tang buku.. tang-tang buku..." tiba-tiba suara-suara itu bergantian melewati telingaku. berdengung kuat menggelitik syaraf-syaraf telingaku. otak ku bekerja dengan cepat, tanpa butuh waktu lama, ingatanku mengembalikan semua data-data belasan tahun yang lalu. aku tidak melihat wanita tua dengan kulit tangannya yang telah keriput. aku hanya melihat seorang ibu muda memelukku, menciumku, kemudian menimang-nimang ku keudara. jemari mungilku digenggam nya erat, seakan tak ada satupun yang boleh mengambil ku darinya, seakan tak ada seorangpun yang boleh melukai ku. "ibu, aku sayang ibu" ujar seorang anak kecil yang baru saja di belikan sepotong es krim oleh ibu muda itu. "ibu juga sayang kamu" seru ibu muda itu sembari mengusap lelehan es krim yang menetes mengotori seragam bermotif kotak-kotak yang dikenakan oleh putri kecil itu.
tanpa sadar aku tertidur pulas, otak ku lelah bekerja. lelah memutar kembali ingatan-ingatan masa lalu yang indah itu. antara mimpi atau sadar, aku merasa ada langkah yang perlahan-lahan memasuki kamar ku. dengan perlahan dan lembut, ia menarik selimut yang ada dikaki ku kemudian menyelimuti tubuhku. aku merasakan pelukan hangat dari tubuh itu. sebutir air mata dari matanya menetes mengenai tangan ku. aku masih enggan untuk bangun dan membuka mataku. aku tau dia wanita kuat yang selalu mengajarkan ku tentang makna kehidupan. ia wanita yang selalu  berjuang menjadikan ku sebagai seseorang yang berguna. dia ibuku yang kerap kali ku perlakukan dengan kasar, yang kerap kali ku bentak, yang seharusnya semua itu tidak aku lakukan padanya. perlahan sosok itu menjauh, kemudian menghilang di balik pintu kayu itu.

*****
"bu, aku pamit" seru ku setengah berteriak, karena terburu-buru.
"loh, enggak makan dulu nak, ibu udah siapin makanan". sahut suara yang terdengar sedikit parau dari arah dapur.
"nanti saja bu, sudah terlambat. hari ini harus cepat. keburu ramai nanti susah dengar pengumuman nya. doain lulus ya bu". gumam ku sembari menenteng tas yang biasa menemani ku menuntut ilmu.
"ya sudah, hati-hati dijalan. ibu cuma bisa berdoa aja semoga anak ibu ini lulus"
"amin bu". sahutku sembari menyambut tangannya kemudian menciumnya. entah sudah berapa lama aku tidak melakukan rutinitas yang dulu selalu kulakukan. aku sendiri menyadari semakin aku beranjak dewasa semakin jarang aku melakukan hal itu.
aku tiba di gedung yang penuh dengan murid-murid berseragam sama dengan ku. hanya butuh waktu 10 menit dari rumahku menuju tempat ini. gedung yang menjadi tempatku mendapatkan ilmu.gedung yang menjadi tempatku berkutat dengan rumus-rumus sin kuadrat, hukum newton, dan lain sebagainya. beberapa diantara teman-temanku sudah berteriak histeris dan bersorak-sorak seperti orang kesurupan. aku menanggapi semuanya dengan biasa saja, hal itu bukan hal yang asing lagi bagiku. sudah berkali-kali aku melihat ekspresi itu ketika kelulusan tiba. baik ketika kelulusan kakak kelas dan bahkan kelulusan angkatan ku.
aku segera mengambil langkah seribu, sedikit berlari menuju ruangan kepala sekolah. puluhan murid sudah mengantri demi selembar surat yang menjadi penentu masa depannya. kini  tiba giliranku, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, tanganku mendadak berubah menjadi dingin. surat yang kini ada di genggaman ku akan menjadi penentu masa depanku, surat ini akan menjadi hadiah yang akan ku persembahkan untuk wanita yang telah berhasil mendidik ku menjadi seperti sekarang ini. LULUS! kata itu yang menjadi kesimpulan paragraf-paragraf panjang yang menurut ku terlalu bertele-tele itu.aku bersorak gembira, turut larut dengan teman-temanku yang meluapkan kegembiraannya dengan bersorak dan berteriak histeris. "ibuku berhasil" seru ku  dengan suara nyaring.
tiba-tiba getaran di saku ku yang berasal dari handphone hadiah dari ibuku menyadarkan ku dari hal-hal gila yang tengah ku lakukan bersama teman-temanku. aku mendengarkan baik-baik tiap kalimat yang disampaikan oleh sumber suara di ujung sana. sekujur tubuh ku terasa lemas, dada ku sesak. percakapan itu telah ditutup. aku merasa oksigen berhenti mengalir mengisi paru-paru ku. aku segera berlari meninggalkan keramaian itu. segera mencari angkutan apapun yang dapat membawa ku secepatnya sampai di tempat itu.

tak peduli dengan keadaan ku yang kacau, aku berlari menyusuri lorong-lorong menyeramkan itu. melewati hiruk pikuk yang terjadi di UGD. melewati puluhan perawat dengan seragam putih bersihnya. aku tiba didepan sebuah ruangan yang terkunci rapat. ada sedikit celah jendela tempat aku melongokkan wajah ku untuk sekedar mengintip kedalam ruangan tersebut. disana aku melihat beberapa perawat serta seorang malaikat dengan jubah putihnya. jubah kebesaran yang selama ini aku mimpikan. jas dokter serta gelar dokter yang sangat ingin aku raih. tangan-tangan itu berulang-ulang menghitung dan memeriksa denyut nadi sosok wanita paruh baya yang terbaring lemah di ranjang mungil itu. "ibu" panggil ku terisak sembari mengusap  jendela kaca di tempatku berdiri saat ini.
aku terduduk lemas di ruang tunggu. menanti pintu ruangan ICU itu terbuka. rasa sesal, sedih, dan takut berkecamuk dalam hatiku. seolah menyiksa ku dan mengiris hatiku. aku terlalu lemah menghadapi ketakutan ini sendirian. rosario tergenggam erat oleh jemariku. lantunan merdu doa ku panjatkan demi kesembuhan sosok sang ibu yang selama ini sering ku kecewakan.
gagang pintu itu terbuka, menyebabkan sedikit bunyi berderit akibat gesekan nya dengan lantai keramik yang tiap menit selalu dibersihkan oleh petugas kebersihan. "apa kamu saudara dari ibu tersebut?" tanya dokter yang terlihat manis dengan kaca mata berbingkai cokelat tua di wajahnya. "iya dok, saya anaknya" sahut ku dengan nada bergetar menahan tangis. "mari ikut keruangan saya ada hal penting yang harus saya sampaikan pada anda".
setengah mengangguk, kemudian aku mengikutinya berjalan kearah lorong yang sebelumnya sempat ku lalui. kami tiba di sebuah ruangan yang sangat rapi. ada papan nama disana. clara. Dr.Clara, nama yang indah sesuai dengan orang yang saat ini ada dihadapan ku. "silahkan duduk" ujarnya mempersilahkan ku.
"dok, sebenarnya ada apa dengan ibu saya ? tetangga saya bilang ibu saya tiba-tiba terjatuh lalu pingsan dan dilarikan kerumah sakit ini"
"saya pikir kamu sudah cukup kuat untuk mendengar ini semua, berapa usia mu?" tanya dokter clara antusias.
"17 tahun dok" jawab ku singkat.
"baik lah mau tidak mau aku harus mengatakannya, saat ini ibu mu dalam masa kritis. ia mengalami koma". mata ku terbelalak mendengar ucapan dokter clara, tak ada satupun kalimat yang bergeming dari mulutku, jantung ku semakin berdetak tak beraturan". dokter clara kembali melanjutkan penjelasannya dan aku semakin menyediakan telinga "ibu mu terserang suatu penyakit yang langka,  Multiple System Atrophy (MSA). 
dimana penyakit ini disebabkan oleh degenerasi sel-sel syaraf di otak, ya hampir mirip parkinson. penyakit ini mempengaruhi beberapa bagian otak, dan fungsi-fungsi gerakan keseimbangan tubuh".
aku tak percaya dengan apa yang kudengar. bagaimana mungkin ibuku yang terlihat sehat-sehat saja ternyata mengidap penyakit langka yang bahkan baru kali pertama kudengarkan namanya.
"lalu apa masih bisa disembuhkan, dok ?" tanyaku penuh harapan.
"entahlah, kasus ini langka. dan kami harus berdiskusi terlebih dahulu dengan dokter ahli syaraf".
kalimat demi kalimat yang dikumandangkan oleh dokter Clara benar-benar bagai anak panah yang menohok perasaanku. ini lebih dari sekedar luka, perih yang kurasakan saat ini benar-benar tak dapat ku tahan lagi. aku menangis terisak. bahu mungilku naik turun seiring isakan dari bibir mungilku. hatiku mencari-cari perlindungan. namun, aku tak menemukan pelindung itu. dokter Clara mengusap lembut pundak ku "tenanglah kami akan berusaha dengan baik".


#bersambung