Sama
halnya dengan Gita, Gisel pun tak percaya dengan apa yang ia baca. Mereka akan
pulang berdua siang ini ? ia akan pulang berdua dengan Gio kemudian pergi ke
perpustakaan daerah juga berdua, hanya berdua dengan Gio ?. aah Gisel tak
percaya. Berkali-kali ia membaca pesan singkat di kertas itu namun tulisan itu
tetap sama. Tak ada satu huruf pun yang berubah. Gisel merasa semuanya seperti
mimpi, secepat itu kah ? hanya karena pertemuan itu, pertemuan di ‘lorong
laboratorium’ itu. atau sebenarnya Gio sudah tau kalau Gisel memendam sebuah
perasaan yang besar terhadap Gio. Gisel pun masih mencoba menerka-nerka,
konsentrasinya buyar seketika. Niat nya untuk melakukan percobaan hilang sudah,
hanya karena sebuah pesan singkat dari seseorang yang ia cintai. Seseorang yang
selalu ia perhatikan diam-diam. Seseroang yang selalu ia peluk dengan doanya
bukan dengan lengannya. Dan seseorang yang selalu ia lihat dari kejauhan.
Giovano Dirga, nama yang saat ini berputar-putar dikepalanya, bukan lagi
rumus-rumus senyawa kimia, bukan lagi nomor-nomor bilangan oksidasi dan bukan
lagi urutan atom di tabel periodik. Gita menatap Gisel dengan senyum
termanis nya ia memeluk sahabatnya erat-erat seolah merasakan apa yang Gisel
rasakan saat ini.
“Sudah
saat nya sel, elu harus coba! Mau sampai kapan megang komitmen buat selalu sendiri.
harapan udah di depan mata, elu harus bertindak selangkah lebih maju sekarang.”
Gumam Gita meyakinkan Gisel yang perasaannya masih bertanya-tanya tentang
maksud surat tersebut.
“belum
gita” ujarnya lirih. “ini belum saat nya, gua gak mau terlalu berharap.
Terkadang enggak semua hal indah itu disebut harapan. Gua gak mau terlanjur
ngeyakinin hati gua dan ujung-ujungnya malah gua yang bakal sakit”.
“yaudah,
gua gak maksa elu kok. Apapun yang elu lakuin asal elu bahagia, gua bakal ikut
bahagia kok sel” seru gita sembari mengusap bahu Gisel.
“iya
makasih ya ta, elu emang sahabat dari orok yang paling baik sedunia. Udah aaah,
masak kita lembek kayak lemper gini kalau udah bahas masalah perasaan. Miris
banget, gak seru tau. Tuh mata lu jadi makin sipit tuh, udah mirip garis
malah”. Canda gisel yang menyebabkan cubitan-cubitan dari Gita di pergelangan
dan bahunya.
“gisel!!
Elu tadi udah janji gak akan ngeledek gua lagi”. Seketika itu juga ruangan
laboratorium terasa sesak dan ingin pecah akibat suara Gita yang melengking
keras. Gisel menutup telinganya dengan kedua tangan nya. Ia berusaha melindungi
rumah siput dan gendang telinganya agar tidak rusak karena suara Gita yang
melengking itu.
“iya,
ampun Gita!” balas Gisel dengan suara yang tak kalah nyaringnya dengan suara
Gita.
“Gisel,
lu ngapain teriak-teriak, lu kira ini ruangan Hutan rimba apa ?”. Gita memasang
wajah sok polosnya yang selalu saja membuat gisel tergelitik kemudian tertawa
ketika melihat ekspresi wajah Gita yang seperti gadis idiot tersebut.
“nah
kan elu duluan yang teriak-teriak kayak tarzan kelaparan ta, kok malah gua yang
elu tegur. Turunin dulu tuh oktaf suara lu. Bisa hancur telinga gua kalau
setiap jam dengar suara secempreng itu”.
“hahaha.
Suara emas begini lu bilang cempreng, yang ada suara elu tu serak-serak becek
kayak di pangkalan ojek sel. Hahaha”.
“asem
lu. Udah ah cabut yuk. Lama-lama ni rungan serem juga kalau ada elu, abis suara
lu kalau ketawa beda-beda tipis ama eyang nya kuntilanak ta”.
“asem
lu sel”. Seru gita yang kemudian mendengus kesal dan memajukan bibir tipisnya.
Keduanya
berjalan menuju kelas masing-masing. Gisel dan Gita memang tidak sekelas bahkan
tidak satu jurusan. Gisel dengan otak kimianya itu pastinya memilih IPA
sedangkan gita dengan jiwa sosialnya itu pastinya memilih IPS. Keduanya memang
sering beradu argument tentang jurusan masing-masing. Manusiawi sih, terkadang
keduanya membela jurusan masing-masing. namun, pada akhirnya keduanya
menganggap jurusan apapun yang mereka pilih dan jalani saat ini, semua itu saling
berhubungan dan saling berkaitan. tidak ada yang lebih hebat, karena apapun
jurusannya, apapun provesinya semua itu tidak buruk kecuali provesi tersebut
melanggar norma dan hukum.
*****
Gisel
melangkah dengan ragu. Gedung sekolah berangsur-angsur sepi. Begitu pula dengan
parkiran sekolah. Hanya tinggal beberap motor saja yang masih bertengger
disana. Sosok itu sedang menunggu, menunggu jawaban surat yang tadi siang ia
titipkan pada seorang cewek berembut panjang dan bermata sipit yang tak lain
adalah sahabat gadis yang kini ia tunggu. Gio duduk dengan resah diatas motornya.
Sedangkan gisel sendiri masih ragu untuk berjalan kearah Gio. Irama jantungnya
masih sangat kacau, ia takut Gio mampu mendengar suara jantungnya yang sangat
kacau itu apabila ia nekat menghampiri Gio saat ini juga. Gisel meyakinkan
dirinya untuk menemui Gio, ia tak mau membiarkan orang yang ia cintai menunggu
lama. Tarikan nafas yang cukup dalam sepertinya cukup untuk membuang rasa gugup
yang Gisel rasakan. Kini irama jantungnya sedikit lebih teratur dan ia sudah
punya keberanian lebih untuk melangkah.
“hai
kak Gio, udah lama nunggu ya ?” sapa Gisel ramah.
“eeeh,
hai. Enggak kok. Baru aja, paling nunggu 5 menit doang”. Gio berbohong bahkan
ia telah menunggu gisel sejak bel sekolah dibunyikan. Hingga saat ini saat
parkiran sekolah sudah sesepi ini mana mungkin hanya 5 menit.
Gisel
mencoba mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menatap mata coklat itu. terlalu
banyak getaran yang akan terjadi dan ia menghindari semua itu. “hmm, maaf udah
buat kakak nunggu. Oh iya jadi kita mau kemana ?”
“kita
mau ke RSJ nganterin kamu. hahaha”
“oh
ya ? berarti kakak juga ikut dong. Kan kakak yang gila duluan” ledek Gisel tak
mau kalah.
“tapi
kamu yang lebih gila, kalau dimasukin ke perbandingan kamu 3 aku 1”.
“aaahh
curang!!” suara gisel naik beberapa oktaf.
“cempreng
ah suaranya, sakit nih telinga aku”. tutur gio sembari menutup kedua
telinganya.
“yee,
jarang-jarang loh kak dengar suara aku yang kece ulala itu. hahaha”
“nah,
PeDe nya kumat, udah buruan naik deh. kamu keburu meleleh disini ntar ngeliatin
muka aku yang cetar kalau kata syahrini mah”.
“lah
emang kakak siapa nya syahrini ?” Tanya gisel dengan memasang wajah sok polos.
“ya
itu tukang ojeknya dulu, kan sering macet jadi dia naik ojek.hahaha”.
“ooh
pantesan tampang nya mirip tukang ojek kak. kak Gio tukang ojek paling top deh.
hahaha”.
“hah,
aduh kejebak omongan sendiri nih, kamu pinter banget sih. Padahal belum ada lho
yang bisa ngalahin aku kalau lagi ledek-ledekan gini”.
“wah
karena aku orang pertama aku dikasih hadiah dong ya. Harus lho!”
“yaudah
naik dulu, atau mau jalan kaki.hehehe”.
Gisel
pun segera naik dan duduk manis dibelakang Gio. Motor gio membelah jalanan
padat kendaraan itu selama 15 menit. Selama 15 menit itu pula Gisel harus
bertarung dengan polusi dan debu-debu yang dengan girang nya terbang
lalu-lalang di tengah udara yang panas.
*****
Bangunan
tua itu tampak klasik tak banyak yang berubah hanya saja beberapa bagian sudah
mulai rusak dan layak untuk mendapatkan renovasi. Dua anak manusia berbeda
pemikiran itu menyusuri lorong-lorong tua dengan lukisan-lukisan sejarah yang
menempel erat pada dindingnya. Rak-rak buku yang tingginya kurang lebih 2 meter
tersusun rapi di ruangan tersebut. Tiap rak memiliki kategori masing-masing.
Gisel menyusuri rak-rak puisi dan sajak sedangkan Gio sendiri menyusuri rak-rak
buku kategori Musik. Keduanya pencinta seni namun berbeda aliran. Gio suka
Hardrock sedangkan Gisel menyukai klasik. Gio tak terlalu suka sastra dan
persajakan tapi ia mencintai seni teater. Gio dan Gisel mengambil beberapa buku
dari rak-rak tersebut kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Tak seperti
perpustakaan pada umumnya, pada perpustakaan ini pengunjung duduk lesehan khas
zaman dulu.
“kakak
baca buku apa ?” Tanya gisel memulai pembicaraan.
“ooh
ini, buku sejarah tentang musik. Kamu sendiri baca buku apa ?”
“ini
aku suka puisi jadi yaa aku ambil buku kumpulan puisi gitu”.
“waah
berarti kamu bisa bikin puisi dong ?” Tanya Gio antusias.
“hmm,
bisa sih kak tapi enggak ahli. Hahaha”.
“wah
keren-keren dari biasa dan bisa pasti akan jadi ahli”
“semoga
aja sih kak heheh”.
“Gisel,
kamu suka teater gak ? besok ada pertunjukan di Balai Kebudayaan. Kamu mau
nemanin aku nonton bareng gak ?”.
“hmm,
teater ya kak ? boleh deh”.
“oke
besok aku jemput kerumah kamu ya”. Gisel hanya mengangguk pelan meyetujui usul
Gio.
“Gisel
Jangan panggil aku kak lagi ya, kita ini seumuran loh. Cuma beda tingkatan
aja”.
Gisel
menegakkan wajahnya yang tadi tertunduk membaca bait-bait puisi dari buku yang
ia ambil. Matanya terbelalak menatap Gio. Ia tak menyangka ternyata Gio seusia
dengannya. Bahkan kini Gio memintanya untuk berhenti memanggil Gio dengan
sebutan ‘kak’.
“lalu
aku harus panggil apa ? gak sopan dong kalau aku panggil nama aja”.
“hahaha.
Muka kamu lucu ya kalau kaget begitu, ya udah disekolah aja panggil ‘kak’ nya
kalau diluar ya panggil Gio aja”.
“Tunggu
dulu, aku butuh bukti kalau kamu itu seumuran sama aku, siapa tau aja kamu lagi
kumat terus pengen kelihatan muda makanya kamu bilang kamu seumuran sama aku”.
seru gisel penuh curiga.
“Gisel,Gisel!.
Gak percayaan banget sih sama aku. ngapain juga aku pengen kelihatan muda kan
emang muka aku jauh lebih muda, hahaha”. Gio pun mengeluarkan sebuah kartu dari
dompetnya, ia memberikan kartu tersebut pada Gisel. Gisel menerima kartu itu
dengan antusias dan membaca identitas yang dideskripsikan dalam kartu tersebut.
Giovano Dirga
NIS : 3341
place/Birth : Pekanbaru, 2 Februari 1995
|
Sekali lagi
Gisel menatap Gio dengan penuh rasa curiga. Sesungguh tidak semustahil yang ia
pikirkan, semua bisa saja terjadi.
“tetap aja
kamu yang lebih tua” ujar gisel sembari mengembalikan kartu tersebut pada Gio.
“hah, Cuma
beda 4 bulan doang juga”. Seru Gio protes.
“iya tapi
tetap aja Tua” sanggah gisel sembari mengejek Gio.
“ya udah deh
aku ngalah, yang lebih tua ngalah. Eh
udah sore kita pulang yuk”.
“oh, ya udah
bentar ya aku kembaliin buku nya ke rak dulu. Punya kamu mau sekalian gak ?”
Tanya gisel menawarkan jasanya pada Gio.
“ooh, boleh
deh. makasih ya gisel”.
Gisel hanya
tersenyum kemudian dua kata singkat keluar dari mulutnya “sama-sama” ujarnya
lembut.