Minggu, 17 Maret 2013

Perubahan Ini Menjauhkan Kita



ketika perubahan menghancurkan segalanya. mengahancurkan mimpi dan cinta yang pernah mereka bangun.



Matahari baru saja muncul dari balik awan. Namun, kegelapan kembali merenggutnya. Air perlahan-lahan turun membasahi seluruh tanaman dan mengusik hewan-hewan yang masih terbaring lena didalam istananya masing-masing. Aku segera berlari menyongsong hujan. Menikmati rinainya dari balik tirai kamarku. Ku lebarkan tirai orange yang menghalangi pandangan ku. Hingga kudapati butiran-butiran hujan yang begitu ramai mentes di luar sana. Mataku menatap mereka, mereka seolah menari tanpa beban. Seolah dengan turunnya mereka membawa kebahagiaan bagi semua orang.
aku membongkah dan membeku seperti es, mematung di jendela bilikku. Mataku menatap hujan, namun pikiranku jauh menerawang entah ke dimensi mana. Aku bahkan tak pernah paham mengapa setiap hujan turun  perasaan ini muncul kepadaku. Hujan masih egois, ia masih turun dengan derasnya. Tak ada tanda-tanda untuk berhenti. Ada kekhawatiran yang membuncah hebat dihatiku. Sebuah kekhawatiran yang amat ku benci. Sebuah ketidakpastian bergeming memenuhi pikiranku, bergelayut di antara serpihan-serpihan hatiku. Aku menyadari kerapuhanku sendiri. aku belum siap untuk semua ini. Untuk semua keputusan yang  harus ku ambil. Aku membenci mu? Haruskah ?. ya aku membenci mu, aku benci setiap kali kau menghilang tanpa jejak. Aku benci setiap kali kau diam tanpa alasan.
Hujan tak mengerti dan tak pernah memahami bahwa sesungguhnya ia sedang mengembalikanku ke masa silam. Masa dimana segalanya masih hangat. Masa dimana aku masih bisa tersenyum tanpa harus merasa senyumku terlalu hambar untuk ku perlihatkan. Sadarkah engkau yang kini ada di sudut kota sana, mampukah kau merasakannya ? kau telah mengubah segalanya. Segala pandanganku tentang cinta. Apa ini yang dinamakan cinta ? atau inikah Cinta yang di agung-agungkan para pecinta ?.
Aku tak paham apa yang terjadi dengan jalan pikiranmu. Namun, ini begitu sulit untuk ku pahami. Kau membiarkan segalanya melayang hampa diudara. Inikah wujud rasa sayang mu kepadaku ?. aku seolah terseret masuk kedalam permainanmu, setelah tak kau inginkan, setelah tak kau butuhkan dengan mudahnya kau hempaskan segala mimpiku. Aku tak ubahnya seperti sebuah perahu tanpa tuan yang mengarungi samudera luas. Terombang-ambing oleh ombak setelah pemilikku meninggalkanku begitu saja di hamparan biru yang begitu luas. Dan aku begitu yakin, kau tak akan pernah mengerti arti tangisku, arti air mata dan sendu yang sering kali tercekat ditenggorokanku. Kegagalan? ini sebuah kegagalan. bukannya kegagalan beda tipis dengan realistis ?. kau tau tentang itu bukan ?. tentang sebuah realistis yang kita jalani saat ini. Semuanya seperti tak pernah kau inginkan lagi.
Suara merdu sang hujan menyadarkan ku betapa hidup ini bukanlah sesuatu yang begitu mudah. Begitu banyak yang berubah bahkan perubahan itu sendiri tak pernah aku sadari. hidup ini ibarat sebuah jalanan, penuh tanjakan, tikungan, ada yang kasar hingga yang halus. Aku menatap lagi bingkai mungil itu. tanpa sadar butiran air mata mengalir melewati garis pipiku. Banyak yang berubah, aku merasa ada yang sudah tak pas lagi, bahkan ada yang jauh dari yang biasanya terjadi jauh dari rutinitas yang biasa kita lakukan dan kita lalui bersama. Entah aku yang berubah, Lingkunganku yang berubah ataupun dua-duanya. Semuanya telah jauh berubah, kita bukan yang dulu lagi. Kau telah jauh dari siapa yang aku kenal dahulu. Bukan lagi sebagian hatiku yang dulu selalu menghangatkan setiap sel syaraf yang ada dihatiku. Bukan lagi sosok yang selalu hadir dengan segudang canda yang mengundang tawa renyahku.
Dunia ku telah jauh berubah. Kita semakin berjarak bukan ? semua memang terlihat baik-baik saja. Tapi nyatanya, semua jauh dari realita baik-baik saja. Semua telah jauh meninggalkan ku, meninggalkan kita. Semua seperti menghilang seiring waktu. Kini kita ibarat cat pada kanfas yang mulai pudar. Aku tersesat, aku tak mengerti keadaan seperti ini. Apa ini yang mereka gembar-gemborkan sebagai kerikil kehidupan ?. atau aku yang terlalu santai menjalani segalanya hingga segala perubahan ini sangat terlambat aku sadari. Atau memang harus begini ? apa mungkin memang harus ada yang berubah. Tapi ini menyakitkan. Aku merasa segalanya asing. Aku butuh petunjuk jalan, sebuah cahaya agar aku mampu keluar dari semua keadaan ini.
Kau memang masih sama, masih sosok yang dulu. Tapi pribadimu ? kau bukan pribadi yang kukenal. Kau persis orang asing bagiku. Senyummu, matamu, wajahmu. Semuanya memang tak lagi terlihat. Namun rasa ? bukan kah hati peka terhadap rasa. Apa kau tak mampu merasakannya ?. semuanya ini, semua tentang perubahan ini, aku lelah harus terbayang-bayang olehnya. Hanya saja semua telah ku maafkan, bahkan suatu kebodohanmu yang tak pernah mampu belajar berpegang pada satu komitmen. Bagiku tak masalah kau memperlakukan ku seperti sekarang ini. Aku terima bahkan apapun alasan yang kau berikan padaku. Karena semuanya warna bukan ? warna adalah bagian dari seni. Dan aku mencintai seni. Kau seni dalam hidupku, seni yang sebentar lagi memudar lalu lapuk dan kemudian menghilang dari kanfas-kanfasku. Kita hanyalah kanfas bekas hitam-putih tanpa warna, tanpa goresan baru, dan tanpa variasi baru. Cerita tentang kita hanya menunggu tangan-tangan angkuh untuk segera membuangnya, meletakkannya pada segudang masa lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar