ketika perubahan menghancurkan segalanya. mengahancurkan mimpi dan cinta yang pernah mereka bangun.
Matahari baru saja muncul dari
balik awan. Namun, kegelapan kembali merenggutnya. Air perlahan-lahan turun
membasahi seluruh tanaman dan mengusik hewan-hewan yang masih terbaring lena
didalam istananya masing-masing. Aku segera berlari menyongsong hujan. Menikmati
rinainya dari balik tirai kamarku. Ku lebarkan tirai orange yang menghalangi
pandangan ku. Hingga kudapati butiran-butiran hujan yang begitu ramai mentes di
luar sana. Mataku menatap mereka, mereka seolah menari tanpa beban. Seolah
dengan turunnya mereka membawa kebahagiaan bagi semua orang.
aku membongkah dan membeku
seperti es, mematung di jendela bilikku. Mataku menatap hujan, namun pikiranku
jauh menerawang entah ke dimensi mana. Aku bahkan tak pernah paham mengapa
setiap hujan turun perasaan ini muncul
kepadaku. Hujan masih egois, ia masih turun dengan derasnya. Tak ada
tanda-tanda untuk berhenti. Ada kekhawatiran yang membuncah hebat dihatiku.
Sebuah kekhawatiran yang amat ku benci. Sebuah ketidakpastian bergeming
memenuhi pikiranku, bergelayut di antara serpihan-serpihan hatiku. Aku
menyadari kerapuhanku sendiri. aku belum siap untuk semua ini. Untuk semua
keputusan yang harus ku ambil. Aku
membenci mu? Haruskah ?. ya aku membenci mu, aku benci setiap kali kau
menghilang tanpa jejak. Aku benci setiap kali kau diam tanpa alasan.
Hujan tak mengerti dan tak pernah
memahami bahwa sesungguhnya ia sedang mengembalikanku ke masa silam. Masa
dimana segalanya masih hangat. Masa dimana aku masih bisa tersenyum tanpa harus
merasa senyumku terlalu hambar untuk ku perlihatkan. Sadarkah engkau yang kini
ada di sudut kota sana, mampukah kau merasakannya ? kau telah mengubah
segalanya. Segala pandanganku tentang cinta. Apa ini yang dinamakan cinta ?
atau inikah Cinta yang di agung-agungkan para pecinta ?.
Aku tak paham apa yang terjadi
dengan jalan pikiranmu. Namun, ini begitu sulit untuk ku pahami. Kau membiarkan
segalanya melayang hampa diudara. Inikah wujud rasa sayang mu kepadaku ?. aku
seolah terseret masuk kedalam permainanmu, setelah tak kau inginkan, setelah tak
kau butuhkan dengan mudahnya kau hempaskan segala mimpiku. Aku tak ubahnya
seperti sebuah perahu tanpa tuan yang mengarungi samudera luas.
Terombang-ambing oleh ombak setelah pemilikku meninggalkanku begitu saja di
hamparan biru yang begitu luas. Dan aku begitu yakin, kau tak akan pernah
mengerti arti tangisku, arti air mata dan sendu yang sering kali tercekat
ditenggorokanku. Kegagalan? ini sebuah kegagalan. bukannya kegagalan beda tipis
dengan realistis ?. kau tau tentang itu bukan ?. tentang sebuah realistis yang
kita jalani saat ini. Semuanya seperti tak pernah kau inginkan lagi.
Suara merdu sang hujan
menyadarkan ku betapa hidup ini bukanlah sesuatu yang begitu mudah. Begitu banyak
yang berubah bahkan perubahan itu sendiri tak pernah aku sadari. hidup ini ibarat sebuah jalanan, penuh tanjakan, tikungan, ada yang kasar hingga yang halus. Aku menatap
lagi bingkai mungil itu. tanpa sadar butiran air mata mengalir melewati garis
pipiku. Banyak yang berubah, aku merasa ada yang sudah tak pas lagi, bahkan ada
yang jauh dari yang biasanya terjadi jauh dari rutinitas yang biasa kita lakukan
dan kita lalui bersama. Entah aku yang berubah, Lingkunganku yang berubah
ataupun dua-duanya. Semuanya telah jauh berubah, kita bukan yang dulu lagi. Kau
telah jauh dari siapa yang aku kenal dahulu. Bukan lagi sebagian hatiku yang
dulu selalu menghangatkan setiap sel syaraf yang ada dihatiku. Bukan lagi sosok
yang selalu hadir dengan segudang canda yang mengundang tawa renyahku.
Dunia ku telah jauh berubah. Kita
semakin berjarak bukan ? semua memang terlihat baik-baik saja. Tapi nyatanya,
semua jauh dari realita baik-baik saja. Semua telah jauh meninggalkan ku,
meninggalkan kita. Semua seperti menghilang seiring waktu. Kini kita ibarat cat
pada kanfas yang mulai pudar. Aku tersesat, aku tak mengerti keadaan seperti
ini. Apa ini yang mereka gembar-gemborkan sebagai kerikil kehidupan ?. atau aku
yang terlalu santai menjalani segalanya hingga segala perubahan ini sangat
terlambat aku sadari. Atau memang harus begini ? apa mungkin memang harus ada
yang berubah. Tapi ini menyakitkan. Aku merasa segalanya asing. Aku butuh
petunjuk jalan, sebuah cahaya agar aku mampu keluar dari semua keadaan ini.
Kau memang masih sama, masih
sosok yang dulu. Tapi pribadimu ? kau bukan pribadi yang kukenal. Kau persis
orang asing bagiku. Senyummu, matamu, wajahmu. Semuanya memang tak lagi
terlihat. Namun rasa ? bukan kah hati peka terhadap rasa. Apa kau tak mampu
merasakannya ?. semuanya ini, semua tentang perubahan ini, aku lelah harus
terbayang-bayang olehnya. Hanya saja semua telah ku maafkan, bahkan suatu
kebodohanmu yang tak pernah mampu belajar berpegang pada satu komitmen. Bagiku
tak masalah kau memperlakukan ku seperti sekarang ini. Aku terima bahkan apapun
alasan yang kau berikan padaku. Karena semuanya warna bukan ? warna adalah
bagian dari seni. Dan aku mencintai seni. Kau seni dalam hidupku, seni yang
sebentar lagi memudar lalu lapuk dan kemudian menghilang dari kanfas-kanfasku. Kita
hanyalah kanfas bekas hitam-putih tanpa warna, tanpa goresan baru, dan tanpa
variasi baru. Cerita tentang kita hanya menunggu tangan-tangan angkuh untuk
segera membuangnya, meletakkannya pada segudang masa lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar