Selasa, 26 Maret 2013

Penyesalan


Matanya merah dan sembab. Entah sudah berapa banyak air yang menetes dan menyebabkan sungai-sungai kecil dipelupuk matanya. Ia masih belum bisa berhenti, kedua tangannya masih membungkam mulut mungilnya. Ia menangis tanpa suara. Langit-langit kamar bercat ungu pekat itu menjadi saksi bisu perpaduan antara tangis dan suara yang tercekat ditenggorokannya.
Panah itu dengan kejam tertancap sangat dalam melukai hatinya. Perasaan yang awalnya sangat ia senangi seketika berubah menjadi pisau yang menyayat pedih hatinya. Ia tak mengerti mengapa terkadang cinta dengan mudah berubah menjadi monster yang sangat kejam. Ia juga tak pernah paham mengapa waktu selalu berubah tanpa mampu ditebak oleh siapapun.
Maura mengambil sebuah foto dari diarinya, kemudian dengan kasar merobeknya menjadi serpihan-serpihan yang tak lagi berarti. “semua sudah berakhir” ucapnya terisak. Maura tak pernah menyangka ada banyak cinta yang mengisi hati kekasihnya. Maksudnya mantan kekasihnya. Setelah semua yang Maura lakukan hanya sakit hati yang Maura dapat sebagai balasan nya. Semua telah Maura lakukan, semua perhatian yang tulus selalu ia berikan pada reza yang kini telah menjadi seseorang yang masuk dalam daftar orang yang paling Maura benci dalam hidupnya.
Beberapa bulan terakhir Maura dengan sabarnya selalu mencoba memahami reza, memaafkan semua kesalahan reza, dan bahkan selalu setia menanti reza memberikan sedikit saja perhatian kepadanya. Maura  selalu saja harus mengurut dada apabila kata-kata kasar reza bermuara padanya. Maura yang selalu mencoba kuat ketika cemburu mengusiknya saat reza dengan santainya menggandeng tangan wanita lain didepan sepasang matanya.
Namun kini Maura tak lagi mampu bertahan, tak lagi mampu berdiri dengan kuat disisi reza. Ia sudah menyerah dan tak lagi bisa mentolerir kesalahan reza. Kata-kata reza bagai pil pahit yang mau tak mau harus ia telan. Ia merasa telah direndahkan, bahkan setelah semua yang sudah ia lakukan untuk reza. Hanya karena wanita itu, wanita yang tak tahu diri dan mencoba masuk mencari celah di antara Maura dan Reza. Wanita yang telah merubah Reza,  -Alya. Wanita yang akhir-akhir ini menjadi alasan perubahan Reza, Alya lah yang menjadi penyebab mengapa Reza tak lagi seperti Reza yang Maura kenal. Tak lagi seperti kekasih Maura yang selama dua tahun ini selalu memberikan perhatian dan tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar pada Maura.
Hingga pada akhirnya kata-kata itu keluar bagai fonis dari mulut Reza. Sore itu Reza dan Maura sepakat bertemu di Taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Maura datang 5 menit lebih cepat dari waktu yang telah Reza tentukan. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan Reza. Sudah setengah jam berlalu dari waktu yang Reza janjikan namun Reza tak juga terlihat muncul ditaman tersebut. Maura masih dengan sabarnya menunggu Reza. Ia mencoba membunuh rasa bosannya dengan chating via smartphone bersama Carissa.
Maura melirik jam tangan mungil yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah  dua jam lebih ia menunggu Reza. Tak ada tanda-tanda Reza akan datang. Maura memandang sekelilingnya, taman itu mulai sepi hanya tinggal dirinya dan beberapa orang saja yang masih asik menikmati pemandangan sore di taman tersebut. tak ada pesan singkat dari Reza, setidaknya untuk mengabarkan dimana dirinya sekarang. Berkali-kali Maura mencoba menelvon nomor Reza namun seperti tak ada jawaban dari Reza. Puluhan pesan singkat dari Maura pun tak ada yang terbalas.
Sekali lagi Maura memandang sekelilingnya dan ia memutuskan untuk tetap menunggu ‘Reza pasti datang’ gumamnya lirih dalam hati.
Maura melanjutkan chatingnya bersama Carissa. Ia lagi-lagi harus membunuh rasa bosan itu. rasa bosan yang tak akan pernah Reza pahami. Maura sangat benci ‘menunggu’ tapi demi Reza ia rela melakukan hal yang sangat ia benci tersebut. Carissa sudah berkali-kali mengingatkannya untuk mengakhiri semuanya dengan Reza namun Maura tak pernah menggubris pesan dari Carisaa. Cintanya pada Reza sudah membutakan matanya untuk melihat bahwa Reza telah berubah, tak lagi seperti Reza yang dulu. Carissa sendiri telah lama mencium bau pengkhianatan pada Reza tetapi tetap saja Maura tak akan pernah percaya, ia terlalu yakin pada kata-kata ‘Tulus’ yang selalu Reza ucapkan.
“ra, gua lihat Reza bareng Alya di cafĂ© dekat sekolah, mending elu pulang aja deh. gak usah nunggu bajingan itu. buat apa ra elu nunggu dia berjam-jam, mending udahin aja semuanya” bunyi sebuah pesan dari Carissa yang masuk ke inbox Maura. Hati Maura karam membaca pesan dari Carisaa. Berjam-jam ia menunggu Reza namun ternyata Reza sedang asyik berdua dengan Alya. Sebuah pengkhianatan yang tak pernah Maura percaya. Ia masih saja mencoba meyakinkan hatinya untuk terus menunggu dan menunggu. Ia berharap Reza datang dan menjelaskan semuanya pada Maura.
Sudah pukul enam sore, matahari perlahan-lahan meredup. Cahaya nya berganti menjadi kemerahan. Sosok pria dibalik kemeja merah marun itu berjalan kearah Maura. Maura tersenyum ia segera berdiri dari kursi yang sudah 4 jam lebih Ia duduki. Tak ada balasan atas senyum yang ia berikan. Hanya tatapan tajam dan wajah dingin yang menjadi balasan atas senyumnya.
“kamu datang juga akhirnya, aku udah nunggu dari tadi, kamu dari mana aja za ?” ujar Maura penuh tatapan lembut pada kekasihnya itu.
“bodoh! Siapa yang nyuruh kamu nunggu hah ? dasar cewek tolol!” bentak Reza pada Maura yang menyebabkan Maura tersentak.
“tapikan kamu yang janji bakal datang kesini dan nyuruh aku buat datang za, kata Carissa kamu tadi lagi sama Alya, gak apa-apa kok kalau kamu telat, aku gak marah”. Gumam Maura menahan emosi dan butiran-butiran kecil di ujung matanya.
“iya aku emang sama Alya, dan aku gak niat sebenarnya datang kesini. Kamu itu bodoh ya gak kayak Alya yang tegas. Ngapain sih kamu capek-capek nunggu aku, udah deh gak usah pakai nangis, air mata kamu gak ada artinya buat aku”.
“aku memang gak akan pernah berarti buat kamu za, entah kapan kamu ngerti kalau selama ini aku yang ada tiap kamu butuh bukan Alya! Aku yang selalu sabar buat nunggu kamu yang gak pernah jelas bukan Alya! Dan aku yang pacar kamu bukan Alya!” Maura mempertegas kata-katanya dan air mata itu mulai tumpah tak lagi bisa dikendalikan oleh Maura.
“iya kamu pacar aku, tapi pacar yang paling bodoh! Dan sekarang aku gak bisa lagi punya pacar kayak kamu Maura. Kamu itu terlalu sabar kamu cengeng, kenapa harus menangis buat aku ?. aku lebih pilih Alya, dan udah saat nya aku buat udahin ini semua”.
Maura mengahapus air matanya dan menatap tajam kearah mata Reza, baru kali itu Maura menatap Reza sangat lekat. “aku memang bukan Alya za, kalau dia pilihanmu silahkan saja pilih dia. Tapi ingat za jangan pernah membandingkan orang yang satu dengan orang lainnya, manusia gak ada yang sama. Dan aku bangga bisa jadi diri aku sendiri” sesaat kemudian Maura pergi meninggalkan Reza. Ia tak lagi peduli dengan apapun yang terjadi pada Reza, baginya semua sudah berakhir, Reza sudah memilih yang paling tepat untuk hidupnya.

*****
Bertahun-Tahun lamanya Maura mencoba menata kembali perasaanya. Menutup hatinya guna menyembuhkan luka yang ditorehkan oleh Reza. Tak ada lagi dendam dalam hatinya. Ia sudah mampu memaafkan masa lalunya. Ia mampu berdamai dengan kenangannya bersama Reza. Kini tak ada lagi air mata yang harus mengalir ketika Maura mengingat masa lalunya itu. hanya ada senyum dan tawa kecil ketika harus mengingat kebersamaannya dengan Reza dahulu. Butuh waktu dan perjuangan yang tak sedikit untuk berdamai dengan masa lalu. Dan Maura berhasil melewati itu semua. Ia bahkan selalu berdoa untuk Reza agar Alya menjadi pilihan yang tepat untuk Reza.
Jemari maura bersentuhan dengan pena yang amat lucu pemberian Reza ketika annive tahun pertama. Hujan membuatnya bersemangat menarikan pena itu diatas selembar kertas. Bait demi bait puisi tercipta. Suara ketukan pintu menghentikan sejenak jemarinya untuk terus menulis. Ia memastikan lagi pendengarannya. Ketukan yang kedua kembali terdengar. Buru-buru ia meninggalkan pena dan kertas yang tergeletak tak berdaya diatas meja jati tersebut.
“sebentar! Serunya dari dalam kamar mungilnya. Ia berjalan dengan cepat dan segera membuka pintu tersebut. Maura melongokkan wajah nya dari balik pintu bercat putih itu. melihat siapa yang datang Maura mundur beberapa langkah dan membenarkan kacamata minus seperempat yang bingkainya terselip indah di balik telinga dan rambutnya yang terurai.
“Reza ?” serunya memastikan. Maura masih saja menelusuri seluruh bagian tubuh Reza, ia masih belum percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Sudah sangat lama ia tak melihat sosok Reza, terakhir ia bertemu dengan Reza saat pertengkaran beberapa Tahun lalu di taman tempat mereka biasanya menghabiskan waktu bersama.
Reza sendiri masih mematung di depan pintu, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Beberapa tahun tak bertemu dengan Maura ternyata sangat banyak yang berubah. Maura yang dulu tak berkaca mata kini terlihat lebih dewasa dengan kacamata berbingkai hitam yang kini menambah hiasan diwajahnya.
“ini Reza kan ?” ucap Maura masih tak percaya.
“iya Maura ini aku Reza” gumam Reza mencoba meyakinkan Maura yang masih kelihatan tak percaya.
“memang ada yang berubah ya ?” Tanya Reza antusias.
“ah, enggak kok. Cuma kaget aja tadi. Ya udah masuk dulu yuk, gak enak ngomong diluar gini”.
Setelah mempersilahkan Reza masuk, Maura berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi foto-foto kecilnya bersama keluarganya yang kini jauh ia tinggalkan di dataran Sumatera sana. Ia menyiapkan dua gelas cappuccino kesukaannya kemuadian membawanya keruang tengah tempat diaman masa lalunya itu duduk dengan manisnya.
“ini za, maaf Cuma bisa buatin ini. Hehe, diminum ya lumayan buat bikin badan hangat, diluarkan sedang hujan” Maura berceloteh dengan ramah pada Reza.
Senyuman itu, senyuman yang Reza rindukan. Senyuman yang dulu selalu Reza lihat. Kedua lesung pipi Maura yang seakan tenggelam semakin dalam ketika senyuman itu Maura perlihatkan.
“apa kabar kamu ?” ucap reza memulai pembicaraannya.
“aku baik-baik aja. Seperti yang kamu lihat sekarang. Kamu sendiri gimana ?”.
“syukurlah. Aku juga baik-baik aja kok ra. Udah lama banget ya gak ketemu kamu. sekarang makin kelihatan dewasa aja”.
“hahaha. Bisa aja kamu za. Oh iya Alya apa kabar za ?”
“hmm, kami udah 2 bulan pisah ra. Dia udah milih yang terbaik buat dia dan itu bukan aku, ternyata selama ini bukan Cuma aku yang jadi pacar dia, ada orang lain yang ngisi hati dia ra, dia Cuma datang kalau dia butuh aku”.
“karma” gumam maura dalam hati kecilnya. “aku ikutan prihatin za, kamu tetap semangat dong. Masih banyak cewek-cewek yang tertarik sama kamu”.
“hmmm, kayaknya juga gitu ra”.
Suasana hangat tercipta begitu saja. Sangat banyak yang mereka ceritakan. Baik pengalaman satu sama lainnya maupun kenangan-kenangan mereka dulu. Maura sendiri sudah tak merasa janggal lagi ketika harus menguak masa lalunya itu ke permukaan. Ia sudah lama berdamai dengan masa lalunya itu. bagi maura tak ada yang harus dibenci, Reza orang yang pernah ia cintai apa pantas seseorang yang pernah dicintai kemudan di benci. Bagi maura membenci hanya akan membuat jarak dan membuat luka yang semakin dalam dihatinya, oleh karena itulah ia memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.
Berjam-jam mereka bergelut dengan tawa masing-masing. Larut menjadi satu karena cerita yang mereka utarakan. Hingga Maura mampu mencerna sesuatu, cahaya mata Reza. Cahaya penyesalan dan seperti sedang menginginkan sesuatu. Maura tetap tak menggubris tatapan itu. hanya saja tatapan itu semakin kuat dan maura tak bisa lagi mengelak.
Maura mengusap lembut bahu Reza. “ ada apa za ? aku menangkap sesuatu dari matamu”.
“aah, gak ada apa-apa kok ra” bantah reza mengelak.
“gak usah bohongi aku za, ungkapin aja kalau memang ada yang buat kamu resah”.
“huuuff, Ra ?” reza memanggil nama itu dengan nada yang sangat berat.
“ya ?” sahut Maura singkat.
“sebelumnya aku minta maaf ra, buat semua kesalahan aku yang udah nyakitin kamu” gumam Reza lirih.
“Reza, semua udah aku maafin. Jadi gak ada lagi yang harus dimaafin” jawab Maura sembari tersenyum manis pada Reza.
“apa masih boleh kalau aku pengen kita kayak dulu lagi ?”.
“apa aku gak salah dengar za ?” seru  Maura sembari menyeruput cappuccino hangat yang ada ditangannya.
“enggak ra, aku pengen kita kembali lagi, ngulang semuanya dari awal”.
“ Aduh za, aku gak tau deh jalan pikiran kamu itu kayak mana, tapi ini bodoh. Ini bodoh banget za”.
Reza hanya mampu tertunduk diam mendengar tanggapan mantan kekasihnya itu.
Maura bangkit dari kursinya dan meletakkan cappucinonya sesaat, kemudian kembali mengusap pelan bahu Reza yang kini kelihatan sangat kacau, terlihat dari wajahnya yang tertekuk tanpa senyum itu.
“Aku Cuma pengen kamu komit sama apa yang udah kamu perjelas Cuma itu kok za. kamu yang udah ngakhirin ‘kita’ za,  Kamu. Dan kamu gak boleh lari dari keputusan yang udah kamu ambil, apalagi sampai ingkar” ucap Maura dengan nada suaranya yang mulai meninggi.
“tapi ra aku tau aku salah ambil keputusan itu , akuuu” belum sempat Reza menyelesaikan kalimatnya, jari  telunjuk Maura Menahan bibirnya untuk meneruskan kalimat tersebut.
“ssstttt, gak boleh ada yang disesali za, keadaan yang sekarang udah beda. aku juga udah beda, aku bukan Maura yang kamu kenal lagi. Aku bukan yang dulu lagi, Maura yang cengeng dan Maura yang lembek”.
“maksud Kamu apa Ra ?”
“aku tegasin sekali lagi za, ‘kita’ itu tinggal masa lalu. Dan kamu yang mengakhiri semuanya karena kamu lebih milih Alya dibandingin aku. Sekarang setelah dia ninggalin kamu, kamu mau kembali ke aku ? Semudah itu ya za?  Kamu pikir hati aku ini apa ? permainan kamu? boneka Barbie kamu ? atau pelabuhan kamu ? yang dengan sesuka hatinya kamu pergi dan dengan sesuka hati kamu juga pengen kembali”.
kata-kata Maura bagai palu yang benar-benar menghancurkan hati Reza. Semuanya ibarat vonis yang dilayangkan hakim atas terdakwa yaitu dirinya sendiri. Maura benar, ia yang mengakhiri segalanya, biar bagaimanapun ia sadar ia pernah menyakiti hati wanita ini, wanita yang dengan sabarnya selalu memberi perhatian penuh untuknya meskipun ia sama sekali tidak pernah merespon apapun usaha yang Maura lakukan untuk dirinya. Setiap kata rindu dari Maura  hanya jadi omong kosong yang dilayangkan nya diudara. Ia telah  mengabaikan ketulusan Maura.
“Za, aku minta maaf. Tapi ‘kita’ memang udah lama aku hapus dari ingatan aku za”.
“kamu gak salah Ra, memang aku yang salah. aku yang udah hancurin semuanya bahkan aku sendiri yang udah buta gak pernah ngelihat ada kamu yang selalu tulus berdiri disamping aku, ada kamu yang selalu ngertiin aku, dan ada kamu yang selalu mecintai aku dengan Tulus”.
Maura menggenggam Jemari Reza, kemudian memeluk masa lalunya itu. Maura tak ingin luka yang ia rasakan dirasakan juga oleh Reza. Sedikitpun tak lagi ada dendam di hati Maura.
“sudah za, meskipun bukan aku tapi aku yakin ada yang lain”.
“aku berharap ada yang seperti mu Maura. Tapi setelah mingingat kata-katamu bahwa tak ada manusia yang sama maka aku memutuskan kesini untuk  memintamu kembali. Aku tak memaksamu mu Maura” kata-kata Reza meluluhkan hati Maura namun tak ada keharusan untuk kembali. Maura memang masih mencintai Reza tapi Maura tak lagi ingin merasakan kecewa.
Waktu berlalu sangat lambat, ada air mata yang mengalir dari mata Maura. Segera ia mengahapusnya. Ia tak ingin terlihat cengeng. Reza benci Maura yang cengeng.
“Maura, aku pamit pulang. Selamat jadi sahabatku ya” senyum datar itu tergaris jelas diwajah Reza.
“iya. Hati-hati dijalan ya za. Selamat jadi sahabatku juga” seru Maura.
Sebuah kecupan lembut dari Reza mendarat tepat dikening Maura. Sekali lagi Maura memeluk masa lalunya itu dengan erat. Ia telah melepaskan ia juga telah memilih. “aku dan kamu memang bukan lagi ‘kita’ tapi aku dan kamu adalah ‘sahabat’ bisik Maura perlahan dan kemudian melepaskan pelukannya.
“aku ngerti bos, sekali lagi terimakasih banyak ra”.
“sama-sama za”. Maura menatap punggung reza yang semakin lama semakin jauh dan lenyap bersamaan dengan laju mobilnya. Ia telah memutuskan yang terbaik untuk hubungan mereka. Maura tersenyum lega. Ini merupakan puncak perdamaiannya dengan masa lalunya.
Sementara Reza kini telah berada ditaman tempat terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun yang lalu. Reza tersenyum getir menatap kursi taman tempat ia sering duduk berdua dengan Maura. Ia sangat merindukan Maura yang dulu, ia rindu Maura yang tak pernah berhenti memberi perhatian padanya, ia rindu Maura yang selalu mengingatkannya banyak hal, ia Rindu air mata tulus seorang Maura, ia rindu semua tentang Maura. Maura yang telah ia sakiti, dan tanpa ia sadari Maura berubah karena kata-katanya sendiri. kata-kata yang akhirnya ia sadari sangat melukai hati Maura. Kini tak ada lagi Maura yang menunggunya dikursi taman tiap jam 3 sore. tak ada lagi Maura yang dengan bawelnya mengingatkannya tentang ini dan itu. Tak ada lagi air mata Maura yang selalu keluar ketika Maura merasa terharu. Terakhir ia melihat air mata maura adalah ketika ia melayangkan kata-kata kejam itu pada wanita itu. Air mata terperih yang harus Maura teteskan dan Reza tak mampu menghapusnya.  Dalam diam ia hanya bisa menyesal telah menyia-nyiakan wanita yang sungguh-sungguh mencintainya demia wanita yang hanya datang ketika membutuhkannya. Ia Masih mencintai Maura. Maura yang dulu juga mencintainya dengan Tulus dan sederhana tanpa banyak menuntut. Maura yang mendekapnya dengan semua kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain, bahkan dari Alya sekalipun. “Maura” gumamnya lirih. Dan sebutir air mata mengalir dari matanya.
*The End*

^Veronica Efri.L.Manurung^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar