tidak terasa ya sudah lama kita tidak saling menyapa, sudah berbulan-bulan mata kita tak saling beradu pada satu titik yang sama. rasa nya akhir-akhir ini semua itu menghantuiku lagi. kamu sosok pria yang dulu membuat aku harus menahan napas tiap kali bertemu denganmu, kamu pria yang selalu membuat ku harus tertunduk ketika mata hitam pekat mu membidik titik terkecil pada mataku, apa kabar kamu? aku rindu senyum sinis mu, rindu tawa renyah mu, juga rindu kehadiran jemarimu yang mengisi tiap celah dijemariku. aku rindu ketika hujan datang dan aku meringkuk dalam pelukan mu. aku rindu tiap kali dingin menyusup membekukan tubuhku dan genggaman mu semakin erat pada jemariku.
kamu yang kini jauh di sudut kota sana. aku berharap kau selalu disini, tapi itu dulu. yaa dulu!. sekarang semua sudah berbeda. aku bukan lagi hantu kecil yang selalu mengikuti langkahmu. yang selalu melangkah bersama mu. dan kamu bukan lagi dalang yang tiap kali bel pulang selalu ku nanti di koridor itu, koridor sekolah tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu.
akkhh, aku mengingatnya lagi, mengingat kejadian pertama kali aku melihatmu. tak ada senyum dan tak ada sapa, aku hanya berani memperhatikan dan melihatmu dari kejauhan. ketika jarak kita sangat dekat maka aku akan mengalihkan pandanganku darimu. benar-benar kekanak-kanakan. berawal dari mading dan dilanjutkan oleh sebuah lilin. aku nyaris tak percaya ternyata cerita pertemuan kita tidak seromantis roman-roman dan kisah-kisah di sinetron ataupun dongeng.
tidak! aku tidak akan menceritakan apapun tentang pertemuan kita. aku hanya sekilas mengingatnya. selebihnya buku kecilku telah lebih dahulu mengetahui cerita panjang nya. apa kau masih ingat? tentunya tidak. aku tidak akan menarasikan nya disini. itu hanya akan membuatku kembali terpuruk kedalam kenangan-kenangan lama. apa kau tega melihatku yang nyaris sembuh ini kembali terluka lagi? apa kau bahagia melihat hati yang dulu menjadi ruangan ternyaman untuk cintamu tersayat lalu kemudian menyisakan bekas luka yang sangat dalam? sebelum kau melakukannya untuk kesekian kali aku memilih menghindar. cukup! aku tak mau merasakan sakit itu lagi.
bukan!aku bukan membenci mu, hanya saja aku masih terlalu khawatir berdekatan dengan mu. biar bagaimanapun kau masih mampu melukaiku dengan segudang kenangan itu. ada saat ketika hati benar-benar tak mampu menahan rasa rindu. aku paham cinta itu masih ada dan tersisa. aku sedang berbicara tentang realitanya. apa kau mengerti dan paham bagaimana aku menjalani semuanya dengan begitu mudah? kau akan berpikiran begitu dan memang terlihat begitu. namun, kau tak akan mengerti arti dari setiap tetesan air mata yang tiap malam harus mengalir membasahi bantalku. kau tak akan pernah paham bagaimana aku berusaha sekuat mungkin menyugesti diriku sendiri untuk melupakanmu. maksudku bukan melupakan melainkan untuk menghilangkan perasaan yang dulu pernah tumbuh dihatiku.
tiap kali namamu berotasi dikepala ku, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. kamu kini telah jauh berubah. aku mengerti dan maklum ketika kamu pun tak pernah menghubungi ku lagi. aku memang sedikit kecewa. namun,rasanya aku tidak layak untuk kecewa. kamu, mungkin tak akan pernah menyediakan perhatian untuk membaca tulisanku ini. tapi kelak aku yakin hatimu akan tergerak membaca tulisan demi tulisan yang pernah kubuat. entah itu lusa atau pun kelak tapi aku yakin hari itu pasti ada.
kamu yang kini jauh di sudut kota sana. aku berharap kau selalu disini, tapi itu dulu. yaa dulu!. sekarang semua sudah berbeda. aku bukan lagi hantu kecil yang selalu mengikuti langkahmu. yang selalu melangkah bersama mu. dan kamu bukan lagi dalang yang tiap kali bel pulang selalu ku nanti di koridor itu, koridor sekolah tempat pertama dan terakhir kali kita bertemu.
akkhh, aku mengingatnya lagi, mengingat kejadian pertama kali aku melihatmu. tak ada senyum dan tak ada sapa, aku hanya berani memperhatikan dan melihatmu dari kejauhan. ketika jarak kita sangat dekat maka aku akan mengalihkan pandanganku darimu. benar-benar kekanak-kanakan. berawal dari mading dan dilanjutkan oleh sebuah lilin. aku nyaris tak percaya ternyata cerita pertemuan kita tidak seromantis roman-roman dan kisah-kisah di sinetron ataupun dongeng.
tidak! aku tidak akan menceritakan apapun tentang pertemuan kita. aku hanya sekilas mengingatnya. selebihnya buku kecilku telah lebih dahulu mengetahui cerita panjang nya. apa kau masih ingat? tentunya tidak. aku tidak akan menarasikan nya disini. itu hanya akan membuatku kembali terpuruk kedalam kenangan-kenangan lama. apa kau tega melihatku yang nyaris sembuh ini kembali terluka lagi? apa kau bahagia melihat hati yang dulu menjadi ruangan ternyaman untuk cintamu tersayat lalu kemudian menyisakan bekas luka yang sangat dalam? sebelum kau melakukannya untuk kesekian kali aku memilih menghindar. cukup! aku tak mau merasakan sakit itu lagi.
bukan!aku bukan membenci mu, hanya saja aku masih terlalu khawatir berdekatan dengan mu. biar bagaimanapun kau masih mampu melukaiku dengan segudang kenangan itu. ada saat ketika hati benar-benar tak mampu menahan rasa rindu. aku paham cinta itu masih ada dan tersisa. aku sedang berbicara tentang realitanya. apa kau mengerti dan paham bagaimana aku menjalani semuanya dengan begitu mudah? kau akan berpikiran begitu dan memang terlihat begitu. namun, kau tak akan mengerti arti dari setiap tetesan air mata yang tiap malam harus mengalir membasahi bantalku. kau tak akan pernah paham bagaimana aku berusaha sekuat mungkin menyugesti diriku sendiri untuk melupakanmu. maksudku bukan melupakan melainkan untuk menghilangkan perasaan yang dulu pernah tumbuh dihatiku.
tiap kali namamu berotasi dikepala ku, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu. kamu kini telah jauh berubah. aku mengerti dan maklum ketika kamu pun tak pernah menghubungi ku lagi. aku memang sedikit kecewa. namun,rasanya aku tidak layak untuk kecewa. kamu, mungkin tak akan pernah menyediakan perhatian untuk membaca tulisanku ini. tapi kelak aku yakin hatimu akan tergerak membaca tulisan demi tulisan yang pernah kubuat. entah itu lusa atau pun kelak tapi aku yakin hari itu pasti ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar