kaki ku terasa lemas. tubuhku serasa kehilangan banyak energi. mulutku tak lagi mampu mengeluarkan banyak komentar. aku sendiri tidak begitu mengerti dengan istilah-istilah anatomi yang dijelaskan oleh dokter Clara. istilah-istilah itu sangat jarang terdengar oleh telingaku, bahkan ini kali pertama aku mendengar langsung ocehan-ocehan yang biasa ku dengar dari guru biologi ku. aku berjalan terhuyung menuju ruang ICU. seorang perawat baru saja keluar dari ruangan itu. aku masih sulit untuk menerima kenyataan bahwa yang terbaring di dalam sana adalah ibu ku. ibuku yang selalu sabar menghadapi anak tolol seperti ku.
"sus, apa saya sudah boleh menjenguk ibu saya ?" tanyaku pada perawat berwajah bulat tersebut.
"oh, silahkan saja, pasien sudah bisa dijenguk" jawabnya ramah dengan senyum menawan.
suara berderit kembali menggelitik syaraf telingaku. aku berusaha membuka pintu ruangan itu secara perlahan. aku tak mau mengusik ibu yang ku sayangi yang sedang beristirahat didalam sana. hentakan langkah ku perlahan membawa ku ke bibir ranjang. ada rasa tak tega melihat kondisi wanita tua yang selalu menjadi pelampiasan amarahku itu. tangan nya yang keriput ditembusi oleh selang infus. selang oksigen bertengger di hidungnya. mencari celah agar dapat mengalirkan oksigen ke paru-paru nya.
aku berusaha menahan sesuatu yang hendak pecah dari dalam diriku. napas ku mulai tak mampu ku kendalikan. perintah otak ku tak lagi di gubris oleh indera pada tubuhku. aku menggit bibir bawahku sekuat yang aku bisa. namun, tetap saja ledakan itu tak mampu ku cegah. air mata itu tertumpah deras. aku menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara dan mengusik ibuku.
ketakutan ini tak mampu untuk ku lewati sendirian, terlalu gelap jalan yang harus kulalui. sosok yang seharusnya jadi kebanggan kini menghilang entah kemana, meninggalkan aku dan ibu tanpa kejelasan. semuanya berubah ketika ayah meninggalkan ku, aku benci pria dan benci cinta. hidupku berputar180 derajat, hatiku penuh luka dan dendam. itu alasan mengapa ibu kerap kali menjadi pelampiasan amarah ku. emosi yang tak dapat ku kendalikan akhirnya akan berujung pada bentakan dan kata-kata kasar yang ku layangkan terhadap ibuku.
ku usap lembut jemari yang pucat itu. hawa dingin terasa menyelimuti jemari ibu ku. "bu" ujar ku perlahan. namun, ibuku tak bergeming semuanya tetap hening. "bu, aku Lulus dan pengumuman beasiswa ku akan keluar besok, ibu masih mau mendoakan aku agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu kan ?". kalimat yang ku ucapkan seperti melayang di udara, hilang tanpa balasan, hanya saja aku tidak marah, aku tidak lagi mengumpat ibu dengan kata-kata kasar yang kerap kali ku tujukan padanya.
"bu, aku pamit pulang dulu ya, aku mau membereskan keperluan kita selama dirumah sakit, cepat sembuh bu". sesaat kemudian aku berdiri, memandang wajah sayu itu, kemudian mencium kening bundaku. lagi-lagi aku harus menahan butiran-butiran yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk mataku. aku segera keluar dari ruangan itu, rasanya tak ada luka yang lebih perih ketimbang harus mengetahui bahwa ibu yang bahkan belum sempat ku bahagia kan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
****
aku tiba di rumah, ruangan ini terasa sunyi. biasanya ibu selalu duduk di kursi goyang nya sembari menyelesaikan rajutan-rajutannya. biasanya ibu menyambut ku kemudian menyiapkan makanan untuk ku. aku segera mengganti pakaian ku kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk ibu. perut ku terasa lapar, kemudian aku menuju ruang makan dan melihat sepiring nasi goreng yang tadi pagi belum sempat ku makan. aku memasukkan suapan pertama ku kedalam mulutku , rasanya masih sama, masih lezat dan aku selalu suka rasa masakan ibu walaupun tak jarang aku menyianyiakan makanan ini.
seketika rasa takut menghantui ku,kepalaku kembali memutar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Dr. Clara. kalimat-kalimat tersebut membuat ku sulit untuk bernafas. sungguh aku takut ibu pergi meninggalkan ku, sakitnya ibu tidak sesederhana penyakit demam atau flu, bahkan jelas-jelas saat ini penyakit itu bisa saja merebut ibu dariku. mulutku terasa sulit untuk mengunyah makanan ku. "apa ini juga akan menjadi sarapan terakhir yang ibu buat untukku?". "tidak, tidak" aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ibu akan segera sembuh dan kami akan bersama-sama lagi. aku segera menyelesaikan suapan terakhir ku dan segera bergegas menuju rumah sakit, aku tidak mau membuat ibu menunggu lebih lama.
sebelum tiba dirumah sakit, aku sempat menghubungi ayah, hanya saja jawaban pria bodoh itu tetap sama. "ayah akan membiayai pengobatan ibu hingga lunas kamu tak usah khawatir". aku tak memungkiri bahwa aku juga membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, hanya saja bukan itu yang benar-benar ku perlukan saat ini, aku butuh dia untuk menguatkan ku, sungguh aku tak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. ayah tak pernah berubah bahkan di tengah masalah seperti ini ia masih sibuk memikirkan egonya sendiri.
aku kembali ke ruangan ibu, tempat dimana orang yang paling ku cintai masih terbaring tanpa perubahan. ibu yang sangat gigih kini terbaring lemah tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit, tempat yang paling ia benci.
"ibu, aku janji bakal bawa ibu keluar secepatnya dari rumah sakit ini" batin ku dalam hati. seolah mendengar perkataan ku air mata ibu terjatuh seketika. ada perasaan lega dihatiku melihat ibu mulai merespon sedikit demi sedikit kata-kata yang aku ucapkan.
hari demi hari berlalu, sudah 3 bulan ibu dirawat dirumah sakit ini, dokter bilang keadaan ibu sudah mulai membaik dan sudah bisa segera di bawa pulang. hatiku bukan main girangnya ketika tahu bahwa ibu akan segera kembali kerumah. ku siapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk ibu. aku membelikan ibu roti kesukaan nya dan beberapa mawar yang telah aku susun rapi di kamar ibu.
siang itu juga setelah membereskan biaya perawatan ibu, aku membawa ibu pulang kerumah. setibanya dirumah ibu cukup terkesan dengan penyambutan kecil-kecilan yang telah aku buat, ya walaupun dengan modal sederhana dari tabungan yang sudah cukup lama aku kumpulkan. tadinya uang itu ingin aku belikan sebuah handphone baru tapi bagiku membuat ibu bahagia lebih penting saat ini. aku sadar perlakuan ku terhadap ibu selama ini sudah sangat membuatnya terluka dan aku ingin memperbaiki semua itu.
"ibu suka gak sama semuanya?" tanyaku pada ibu yang senyum nya melebar ketika pintu rumah kami kubukakan untuk nya.
"sangat nak, ibu sangat senang sekali, terimakasih ya"
"sama-sama bu sekarang ibu ke kamar ya, ibu harus istirahat"
ketakutan ini tak mampu untuk ku lewati sendirian, terlalu gelap jalan yang harus kulalui. sosok yang seharusnya jadi kebanggan kini menghilang entah kemana, meninggalkan aku dan ibu tanpa kejelasan. semuanya berubah ketika ayah meninggalkan ku, aku benci pria dan benci cinta. hidupku berputar180 derajat, hatiku penuh luka dan dendam. itu alasan mengapa ibu kerap kali menjadi pelampiasan amarah ku. emosi yang tak dapat ku kendalikan akhirnya akan berujung pada bentakan dan kata-kata kasar yang ku layangkan terhadap ibuku.
ku usap lembut jemari yang pucat itu. hawa dingin terasa menyelimuti jemari ibu ku. "bu" ujar ku perlahan. namun, ibuku tak bergeming semuanya tetap hening. "bu, aku Lulus dan pengumuman beasiswa ku akan keluar besok, ibu masih mau mendoakan aku agar aku bisa mendapatkan beasiswa itu kan ?". kalimat yang ku ucapkan seperti melayang di udara, hilang tanpa balasan, hanya saja aku tidak marah, aku tidak lagi mengumpat ibu dengan kata-kata kasar yang kerap kali ku tujukan padanya.
"bu, aku pamit pulang dulu ya, aku mau membereskan keperluan kita selama dirumah sakit, cepat sembuh bu". sesaat kemudian aku berdiri, memandang wajah sayu itu, kemudian mencium kening bundaku. lagi-lagi aku harus menahan butiran-butiran yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk mataku. aku segera keluar dari ruangan itu, rasanya tak ada luka yang lebih perih ketimbang harus mengetahui bahwa ibu yang bahkan belum sempat ku bahagia kan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
****
aku tiba di rumah, ruangan ini terasa sunyi. biasanya ibu selalu duduk di kursi goyang nya sembari menyelesaikan rajutan-rajutannya. biasanya ibu menyambut ku kemudian menyiapkan makanan untuk ku. aku segera mengganti pakaian ku kemudian menyiapkan beberapa pakaian untuk ibu. perut ku terasa lapar, kemudian aku menuju ruang makan dan melihat sepiring nasi goreng yang tadi pagi belum sempat ku makan. aku memasukkan suapan pertama ku kedalam mulutku , rasanya masih sama, masih lezat dan aku selalu suka rasa masakan ibu walaupun tak jarang aku menyianyiakan makanan ini.
seketika rasa takut menghantui ku,kepalaku kembali memutar kalimat-kalimat yang di ucapkan oleh Dr. Clara. kalimat-kalimat tersebut membuat ku sulit untuk bernafas. sungguh aku takut ibu pergi meninggalkan ku, sakitnya ibu tidak sesederhana penyakit demam atau flu, bahkan jelas-jelas saat ini penyakit itu bisa saja merebut ibu dariku. mulutku terasa sulit untuk mengunyah makanan ku. "apa ini juga akan menjadi sarapan terakhir yang ibu buat untukku?". "tidak, tidak" aku segera membuang jauh-jauh pikiran itu, ibu akan segera sembuh dan kami akan bersama-sama lagi. aku segera menyelesaikan suapan terakhir ku dan segera bergegas menuju rumah sakit, aku tidak mau membuat ibu menunggu lebih lama.
sebelum tiba dirumah sakit, aku sempat menghubungi ayah, hanya saja jawaban pria bodoh itu tetap sama. "ayah akan membiayai pengobatan ibu hingga lunas kamu tak usah khawatir". aku tak memungkiri bahwa aku juga membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu, hanya saja bukan itu yang benar-benar ku perlukan saat ini, aku butuh dia untuk menguatkan ku, sungguh aku tak sanggup menghadapi masalah ini sendirian. ayah tak pernah berubah bahkan di tengah masalah seperti ini ia masih sibuk memikirkan egonya sendiri.
aku kembali ke ruangan ibu, tempat dimana orang yang paling ku cintai masih terbaring tanpa perubahan. ibu yang sangat gigih kini terbaring lemah tak berdaya di sebuah ranjang rumah sakit, tempat yang paling ia benci.
"ibu, aku janji bakal bawa ibu keluar secepatnya dari rumah sakit ini" batin ku dalam hati. seolah mendengar perkataan ku air mata ibu terjatuh seketika. ada perasaan lega dihatiku melihat ibu mulai merespon sedikit demi sedikit kata-kata yang aku ucapkan.
hari demi hari berlalu, sudah 3 bulan ibu dirawat dirumah sakit ini, dokter bilang keadaan ibu sudah mulai membaik dan sudah bisa segera di bawa pulang. hatiku bukan main girangnya ketika tahu bahwa ibu akan segera kembali kerumah. ku siapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk ibu. aku membelikan ibu roti kesukaan nya dan beberapa mawar yang telah aku susun rapi di kamar ibu.
siang itu juga setelah membereskan biaya perawatan ibu, aku membawa ibu pulang kerumah. setibanya dirumah ibu cukup terkesan dengan penyambutan kecil-kecilan yang telah aku buat, ya walaupun dengan modal sederhana dari tabungan yang sudah cukup lama aku kumpulkan. tadinya uang itu ingin aku belikan sebuah handphone baru tapi bagiku membuat ibu bahagia lebih penting saat ini. aku sadar perlakuan ku terhadap ibu selama ini sudah sangat membuatnya terluka dan aku ingin memperbaiki semua itu.
"ibu suka gak sama semuanya?" tanyaku pada ibu yang senyum nya melebar ketika pintu rumah kami kubukakan untuk nya.
"sangat nak, ibu sangat senang sekali, terimakasih ya"
"sama-sama bu sekarang ibu ke kamar ya, ibu harus istirahat"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar