Kamis, 28 Maret 2013

failed anniversary

hei, apa kabar sosok mu yang kini berada di sudut kota sana ? aku selalu berharap kau akan selalu terlihat baik-baik saja dengan ataupun tanpa hadirku. apa kamu ingat dengan hari ini pria tampan bermata pekat dan berahang kuat ? ya aku menyebutnya 'failed anniversary' . kamu pria berwajah oval dan berpipi bulat, mata mu yang sedikit sipit membuat ku mati-matian menahan perasaan ketika menatapnya. salam rindu untuk senyum dingin mu itu, di lain waktu aku ingin melihatnya lagi.
aku tak akan membahas bagaimana kita bertemu, kemudian mengenal, saling bertatapan lalu saling jatuh cinta. oh Tidak! bukan saling jatuh cinta tetapi 'bagaimana aku mencintaimu'. aku juga tidak akan membahas bagaimana kita menjalankan peran masing-masing dalam drama yang telah kita mainkan. bagimu hanya drama, tapi buat ku itu lebih dari drama. kau dengan sejuta kemisteriusan dibalik senyum dingin mu itu benar-benar membuatku luruh dan meleleh seperti bongkahan es yang terkena sengatan matahari. pesona mu benar-benar membuatku paham ternyata cinta itu indah 'awalnya'.  haruskah aku mengulang kembali kenangan pahit itu ? ah sudahlah semua telah berlalu akupun ingin segera menutup buku-buku kelabu itu.
ku dengar kamu sudah memiliki kekasih, benarkah ? wah kau memang mengagumkan hanya butuh waktu sebentar untuk kemudian memilih penggantiku. kita telah lama tidak berkabar bukan maksudku untuk menjauh tapi aku hanya merasa kehadiran ku tak lagi kamu butuhkan dalam hari-harimu.
kamu mungkin tak akan pernah membaca tulisanku ini. apalagi membaca paragraf demi paragrafnya. namun, tau kah kamu menulis tentangmu seakan mengembalikan ku dan menyeretku pada kenangan-kenangan itu. tak jarang aku bermimpi kau berdiri disisi ku kemudian memberikan ku senyuman yang paling indah dan bahkan belum pernah kau tunjukkan padaku sebelumnya. terkadang mimpi lebih indah dari kenyataannya oleh sebab itulah aku lebih senang bermimpi bersamamu dibandingkan menjalankan kenyataan yang sesungguhnya. bermimpi membuatku benar-benar merasa seolah aku melakukan suatu hal yang benar-benar nyata bersamamu.
perjuanganku menulis semua ini telah membuat semua kisah tentang dirimu berotasi kembali diotak ku. tidak mudah terlepas darimu. apa kau tau, bahkan selama ini aku telah menjadikanmu sebagai salah satu kebutuhan dalam hidupku. aah sudah lah air mataku mulai menetes kembali ketika moment-moment tak terlupakan itu melintas dan saling berganti mengisi kepalaku. kau benci wanita cengeng bukan ? baiklah! aku akan segera berhenti menangis. kita telah lama saling melepaskan, ini sangat menyebalkan lagi-agi aku merindukan suaramu. suara khas yang berbulan-bulan berdengung ria di telingaku. aku rindu caramu tertawa, caramu menatap, dan caramu mencintaiku. oh tidak! tidak! aku salah lagi, kau tidak benar mencintaiku aku terlalu yakin pada cintamu padahal hal itu semu, nyatanya aku hanya wayang yang selalu kau permainkan. ya, kau mencintaiku, mencintaku sebagai wayang pertunjukkan mu bukan kekasihmu.
ah, rasanya sudah lama tak ada yang mengisi celah-celah kecil di jemari kananku. biasanya jemari tangan mu yang mengisinya. hari ini aku tak lagi mendapat pesan singkat penuh kata-kata romatis itu ya ? wah sayang sekali, padahal aku sangat menginginkannya. ya aku tau kata-kata itu bukan milikku lagi, pasti itu telah menjadi milik gadis-gadis itu bukan ? mereka beruntung mendapatkanmu. kau sudah menemukan wayang-wayang baru ternyata. atau salah satu dari mereka telah kau pilih menjadi dalang seperti mu ? beruntungnya gadis itu, setidaknya dia tidak mengalami hal yang sama sepertiku, setidaknya dia tidak akan pernah bagaimana rasanya menjadi wayangmu.
kamu yang dulu pernah memanggilku "sayang" lembaran kalender ku kali ini tidak lagi dilingkari oleh tinta berwarna hijau. tintanya sudah ku ubah menjadi merah. tapi kamu tak perlu khawatir, hatiku masih menyimpan rongga yang cukup besar untuk tempatmu kembali. aakh, lagi-lagi aku bermimpi dan berharap sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi. kamu mantan kekasihku, oh maksudku mantan dalang ku. selamat mengenang masa lalu. ini hari dimana kamu mengatakan 'cinta' kepadaku. mungkin semua sudah hilang dari ingatanmu. bahkan diriku pun pasti telah menghilang dari memorimu. tetapi aku masih menyimpan semuanya. dan akan ku putar kembali ketika aku merindukannya.

#hari ini hujan, aku takut kilatan petir yang menyambar, dulu kau yang menenangkanku, tapi kini aku harus menenangkan diriku sendiri. dulu aku berteduh bersamamu. menunggu hujan reda dibawah teduhnya pelataran gedung itu. kini tiap hujan datang aku hanya menunggu sendiri. tidak! aku menunggu hujan reda bersama bayanganmu di koridor itu. kau yang ada di sudut kota sana. aku merindukan mu, merindukan 'kita', dan merindukan masa lalu.

Selasa, 26 Maret 2013

Penyesalan


Matanya merah dan sembab. Entah sudah berapa banyak air yang menetes dan menyebabkan sungai-sungai kecil dipelupuk matanya. Ia masih belum bisa berhenti, kedua tangannya masih membungkam mulut mungilnya. Ia menangis tanpa suara. Langit-langit kamar bercat ungu pekat itu menjadi saksi bisu perpaduan antara tangis dan suara yang tercekat ditenggorokannya.
Panah itu dengan kejam tertancap sangat dalam melukai hatinya. Perasaan yang awalnya sangat ia senangi seketika berubah menjadi pisau yang menyayat pedih hatinya. Ia tak mengerti mengapa terkadang cinta dengan mudah berubah menjadi monster yang sangat kejam. Ia juga tak pernah paham mengapa waktu selalu berubah tanpa mampu ditebak oleh siapapun.
Maura mengambil sebuah foto dari diarinya, kemudian dengan kasar merobeknya menjadi serpihan-serpihan yang tak lagi berarti. “semua sudah berakhir” ucapnya terisak. Maura tak pernah menyangka ada banyak cinta yang mengisi hati kekasihnya. Maksudnya mantan kekasihnya. Setelah semua yang Maura lakukan hanya sakit hati yang Maura dapat sebagai balasan nya. Semua telah Maura lakukan, semua perhatian yang tulus selalu ia berikan pada reza yang kini telah menjadi seseorang yang masuk dalam daftar orang yang paling Maura benci dalam hidupnya.
Beberapa bulan terakhir Maura dengan sabarnya selalu mencoba memahami reza, memaafkan semua kesalahan reza, dan bahkan selalu setia menanti reza memberikan sedikit saja perhatian kepadanya. Maura  selalu saja harus mengurut dada apabila kata-kata kasar reza bermuara padanya. Maura yang selalu mencoba kuat ketika cemburu mengusiknya saat reza dengan santainya menggandeng tangan wanita lain didepan sepasang matanya.
Namun kini Maura tak lagi mampu bertahan, tak lagi mampu berdiri dengan kuat disisi reza. Ia sudah menyerah dan tak lagi bisa mentolerir kesalahan reza. Kata-kata reza bagai pil pahit yang mau tak mau harus ia telan. Ia merasa telah direndahkan, bahkan setelah semua yang sudah ia lakukan untuk reza. Hanya karena wanita itu, wanita yang tak tahu diri dan mencoba masuk mencari celah di antara Maura dan Reza. Wanita yang telah merubah Reza,  -Alya. Wanita yang akhir-akhir ini menjadi alasan perubahan Reza, Alya lah yang menjadi penyebab mengapa Reza tak lagi seperti Reza yang Maura kenal. Tak lagi seperti kekasih Maura yang selama dua tahun ini selalu memberikan perhatian dan tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar pada Maura.
Hingga pada akhirnya kata-kata itu keluar bagai fonis dari mulut Reza. Sore itu Reza dan Maura sepakat bertemu di Taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Maura datang 5 menit lebih cepat dari waktu yang telah Reza tentukan. Ia tak ingin terlambat dan mengecewakan Reza. Sudah setengah jam berlalu dari waktu yang Reza janjikan namun Reza tak juga terlihat muncul ditaman tersebut. Maura masih dengan sabarnya menunggu Reza. Ia mencoba membunuh rasa bosannya dengan chating via smartphone bersama Carissa.
Maura melirik jam tangan mungil yang melingkar dipergelangan tangannya. Sudah  dua jam lebih ia menunggu Reza. Tak ada tanda-tanda Reza akan datang. Maura memandang sekelilingnya, taman itu mulai sepi hanya tinggal dirinya dan beberapa orang saja yang masih asik menikmati pemandangan sore di taman tersebut. tak ada pesan singkat dari Reza, setidaknya untuk mengabarkan dimana dirinya sekarang. Berkali-kali Maura mencoba menelvon nomor Reza namun seperti tak ada jawaban dari Reza. Puluhan pesan singkat dari Maura pun tak ada yang terbalas.
Sekali lagi Maura memandang sekelilingnya dan ia memutuskan untuk tetap menunggu ‘Reza pasti datang’ gumamnya lirih dalam hati.
Maura melanjutkan chatingnya bersama Carissa. Ia lagi-lagi harus membunuh rasa bosan itu. rasa bosan yang tak akan pernah Reza pahami. Maura sangat benci ‘menunggu’ tapi demi Reza ia rela melakukan hal yang sangat ia benci tersebut. Carissa sudah berkali-kali mengingatkannya untuk mengakhiri semuanya dengan Reza namun Maura tak pernah menggubris pesan dari Carisaa. Cintanya pada Reza sudah membutakan matanya untuk melihat bahwa Reza telah berubah, tak lagi seperti Reza yang dulu. Carissa sendiri telah lama mencium bau pengkhianatan pada Reza tetapi tetap saja Maura tak akan pernah percaya, ia terlalu yakin pada kata-kata ‘Tulus’ yang selalu Reza ucapkan.
“ra, gua lihat Reza bareng Alya di cafĂ© dekat sekolah, mending elu pulang aja deh. gak usah nunggu bajingan itu. buat apa ra elu nunggu dia berjam-jam, mending udahin aja semuanya” bunyi sebuah pesan dari Carissa yang masuk ke inbox Maura. Hati Maura karam membaca pesan dari Carisaa. Berjam-jam ia menunggu Reza namun ternyata Reza sedang asyik berdua dengan Alya. Sebuah pengkhianatan yang tak pernah Maura percaya. Ia masih saja mencoba meyakinkan hatinya untuk terus menunggu dan menunggu. Ia berharap Reza datang dan menjelaskan semuanya pada Maura.
Sudah pukul enam sore, matahari perlahan-lahan meredup. Cahaya nya berganti menjadi kemerahan. Sosok pria dibalik kemeja merah marun itu berjalan kearah Maura. Maura tersenyum ia segera berdiri dari kursi yang sudah 4 jam lebih Ia duduki. Tak ada balasan atas senyum yang ia berikan. Hanya tatapan tajam dan wajah dingin yang menjadi balasan atas senyumnya.
“kamu datang juga akhirnya, aku udah nunggu dari tadi, kamu dari mana aja za ?” ujar Maura penuh tatapan lembut pada kekasihnya itu.
“bodoh! Siapa yang nyuruh kamu nunggu hah ? dasar cewek tolol!” bentak Reza pada Maura yang menyebabkan Maura tersentak.
“tapikan kamu yang janji bakal datang kesini dan nyuruh aku buat datang za, kata Carissa kamu tadi lagi sama Alya, gak apa-apa kok kalau kamu telat, aku gak marah”. Gumam Maura menahan emosi dan butiran-butiran kecil di ujung matanya.
“iya aku emang sama Alya, dan aku gak niat sebenarnya datang kesini. Kamu itu bodoh ya gak kayak Alya yang tegas. Ngapain sih kamu capek-capek nunggu aku, udah deh gak usah pakai nangis, air mata kamu gak ada artinya buat aku”.
“aku memang gak akan pernah berarti buat kamu za, entah kapan kamu ngerti kalau selama ini aku yang ada tiap kamu butuh bukan Alya! Aku yang selalu sabar buat nunggu kamu yang gak pernah jelas bukan Alya! Dan aku yang pacar kamu bukan Alya!” Maura mempertegas kata-katanya dan air mata itu mulai tumpah tak lagi bisa dikendalikan oleh Maura.
“iya kamu pacar aku, tapi pacar yang paling bodoh! Dan sekarang aku gak bisa lagi punya pacar kayak kamu Maura. Kamu itu terlalu sabar kamu cengeng, kenapa harus menangis buat aku ?. aku lebih pilih Alya, dan udah saat nya aku buat udahin ini semua”.
Maura mengahapus air matanya dan menatap tajam kearah mata Reza, baru kali itu Maura menatap Reza sangat lekat. “aku memang bukan Alya za, kalau dia pilihanmu silahkan saja pilih dia. Tapi ingat za jangan pernah membandingkan orang yang satu dengan orang lainnya, manusia gak ada yang sama. Dan aku bangga bisa jadi diri aku sendiri” sesaat kemudian Maura pergi meninggalkan Reza. Ia tak lagi peduli dengan apapun yang terjadi pada Reza, baginya semua sudah berakhir, Reza sudah memilih yang paling tepat untuk hidupnya.

*****
Bertahun-Tahun lamanya Maura mencoba menata kembali perasaanya. Menutup hatinya guna menyembuhkan luka yang ditorehkan oleh Reza. Tak ada lagi dendam dalam hatinya. Ia sudah mampu memaafkan masa lalunya. Ia mampu berdamai dengan kenangannya bersama Reza. Kini tak ada lagi air mata yang harus mengalir ketika Maura mengingat masa lalunya itu. hanya ada senyum dan tawa kecil ketika harus mengingat kebersamaannya dengan Reza dahulu. Butuh waktu dan perjuangan yang tak sedikit untuk berdamai dengan masa lalu. Dan Maura berhasil melewati itu semua. Ia bahkan selalu berdoa untuk Reza agar Alya menjadi pilihan yang tepat untuk Reza.
Jemari maura bersentuhan dengan pena yang amat lucu pemberian Reza ketika annive tahun pertama. Hujan membuatnya bersemangat menarikan pena itu diatas selembar kertas. Bait demi bait puisi tercipta. Suara ketukan pintu menghentikan sejenak jemarinya untuk terus menulis. Ia memastikan lagi pendengarannya. Ketukan yang kedua kembali terdengar. Buru-buru ia meninggalkan pena dan kertas yang tergeletak tak berdaya diatas meja jati tersebut.
“sebentar! Serunya dari dalam kamar mungilnya. Ia berjalan dengan cepat dan segera membuka pintu tersebut. Maura melongokkan wajah nya dari balik pintu bercat putih itu. melihat siapa yang datang Maura mundur beberapa langkah dan membenarkan kacamata minus seperempat yang bingkainya terselip indah di balik telinga dan rambutnya yang terurai.
“Reza ?” serunya memastikan. Maura masih saja menelusuri seluruh bagian tubuh Reza, ia masih belum percaya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Sudah sangat lama ia tak melihat sosok Reza, terakhir ia bertemu dengan Reza saat pertengkaran beberapa Tahun lalu di taman tempat mereka biasanya menghabiskan waktu bersama.
Reza sendiri masih mematung di depan pintu, ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Beberapa tahun tak bertemu dengan Maura ternyata sangat banyak yang berubah. Maura yang dulu tak berkaca mata kini terlihat lebih dewasa dengan kacamata berbingkai hitam yang kini menambah hiasan diwajahnya.
“ini Reza kan ?” ucap Maura masih tak percaya.
“iya Maura ini aku Reza” gumam Reza mencoba meyakinkan Maura yang masih kelihatan tak percaya.
“memang ada yang berubah ya ?” Tanya Reza antusias.
“ah, enggak kok. Cuma kaget aja tadi. Ya udah masuk dulu yuk, gak enak ngomong diluar gini”.
Setelah mempersilahkan Reza masuk, Maura berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi foto-foto kecilnya bersama keluarganya yang kini jauh ia tinggalkan di dataran Sumatera sana. Ia menyiapkan dua gelas cappuccino kesukaannya kemuadian membawanya keruang tengah tempat diaman masa lalunya itu duduk dengan manisnya.
“ini za, maaf Cuma bisa buatin ini. Hehe, diminum ya lumayan buat bikin badan hangat, diluarkan sedang hujan” Maura berceloteh dengan ramah pada Reza.
Senyuman itu, senyuman yang Reza rindukan. Senyuman yang dulu selalu Reza lihat. Kedua lesung pipi Maura yang seakan tenggelam semakin dalam ketika senyuman itu Maura perlihatkan.
“apa kabar kamu ?” ucap reza memulai pembicaraannya.
“aku baik-baik aja. Seperti yang kamu lihat sekarang. Kamu sendiri gimana ?”.
“syukurlah. Aku juga baik-baik aja kok ra. Udah lama banget ya gak ketemu kamu. sekarang makin kelihatan dewasa aja”.
“hahaha. Bisa aja kamu za. Oh iya Alya apa kabar za ?”
“hmm, kami udah 2 bulan pisah ra. Dia udah milih yang terbaik buat dia dan itu bukan aku, ternyata selama ini bukan Cuma aku yang jadi pacar dia, ada orang lain yang ngisi hati dia ra, dia Cuma datang kalau dia butuh aku”.
“karma” gumam maura dalam hati kecilnya. “aku ikutan prihatin za, kamu tetap semangat dong. Masih banyak cewek-cewek yang tertarik sama kamu”.
“hmmm, kayaknya juga gitu ra”.
Suasana hangat tercipta begitu saja. Sangat banyak yang mereka ceritakan. Baik pengalaman satu sama lainnya maupun kenangan-kenangan mereka dulu. Maura sendiri sudah tak merasa janggal lagi ketika harus menguak masa lalunya itu ke permukaan. Ia sudah lama berdamai dengan masa lalunya itu. bagi maura tak ada yang harus dibenci, Reza orang yang pernah ia cintai apa pantas seseorang yang pernah dicintai kemudan di benci. Bagi maura membenci hanya akan membuat jarak dan membuat luka yang semakin dalam dihatinya, oleh karena itulah ia memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.
Berjam-jam mereka bergelut dengan tawa masing-masing. Larut menjadi satu karena cerita yang mereka utarakan. Hingga Maura mampu mencerna sesuatu, cahaya mata Reza. Cahaya penyesalan dan seperti sedang menginginkan sesuatu. Maura tetap tak menggubris tatapan itu. hanya saja tatapan itu semakin kuat dan maura tak bisa lagi mengelak.
Maura mengusap lembut bahu Reza. “ ada apa za ? aku menangkap sesuatu dari matamu”.
“aah, gak ada apa-apa kok ra” bantah reza mengelak.
“gak usah bohongi aku za, ungkapin aja kalau memang ada yang buat kamu resah”.
“huuuff, Ra ?” reza memanggil nama itu dengan nada yang sangat berat.
“ya ?” sahut Maura singkat.
“sebelumnya aku minta maaf ra, buat semua kesalahan aku yang udah nyakitin kamu” gumam Reza lirih.
“Reza, semua udah aku maafin. Jadi gak ada lagi yang harus dimaafin” jawab Maura sembari tersenyum manis pada Reza.
“apa masih boleh kalau aku pengen kita kayak dulu lagi ?”.
“apa aku gak salah dengar za ?” seru  Maura sembari menyeruput cappuccino hangat yang ada ditangannya.
“enggak ra, aku pengen kita kembali lagi, ngulang semuanya dari awal”.
“ Aduh za, aku gak tau deh jalan pikiran kamu itu kayak mana, tapi ini bodoh. Ini bodoh banget za”.
Reza hanya mampu tertunduk diam mendengar tanggapan mantan kekasihnya itu.
Maura bangkit dari kursinya dan meletakkan cappucinonya sesaat, kemudian kembali mengusap pelan bahu Reza yang kini kelihatan sangat kacau, terlihat dari wajahnya yang tertekuk tanpa senyum itu.
“Aku Cuma pengen kamu komit sama apa yang udah kamu perjelas Cuma itu kok za. kamu yang udah ngakhirin ‘kita’ za,  Kamu. Dan kamu gak boleh lari dari keputusan yang udah kamu ambil, apalagi sampai ingkar” ucap Maura dengan nada suaranya yang mulai meninggi.
“tapi ra aku tau aku salah ambil keputusan itu , akuuu” belum sempat Reza menyelesaikan kalimatnya, jari  telunjuk Maura Menahan bibirnya untuk meneruskan kalimat tersebut.
“ssstttt, gak boleh ada yang disesali za, keadaan yang sekarang udah beda. aku juga udah beda, aku bukan Maura yang kamu kenal lagi. Aku bukan yang dulu lagi, Maura yang cengeng dan Maura yang lembek”.
“maksud Kamu apa Ra ?”
“aku tegasin sekali lagi za, ‘kita’ itu tinggal masa lalu. Dan kamu yang mengakhiri semuanya karena kamu lebih milih Alya dibandingin aku. Sekarang setelah dia ninggalin kamu, kamu mau kembali ke aku ? Semudah itu ya za?  Kamu pikir hati aku ini apa ? permainan kamu? boneka Barbie kamu ? atau pelabuhan kamu ? yang dengan sesuka hatinya kamu pergi dan dengan sesuka hati kamu juga pengen kembali”.
kata-kata Maura bagai palu yang benar-benar menghancurkan hati Reza. Semuanya ibarat vonis yang dilayangkan hakim atas terdakwa yaitu dirinya sendiri. Maura benar, ia yang mengakhiri segalanya, biar bagaimanapun ia sadar ia pernah menyakiti hati wanita ini, wanita yang dengan sabarnya selalu memberi perhatian penuh untuknya meskipun ia sama sekali tidak pernah merespon apapun usaha yang Maura lakukan untuk dirinya. Setiap kata rindu dari Maura  hanya jadi omong kosong yang dilayangkan nya diudara. Ia telah  mengabaikan ketulusan Maura.
“Za, aku minta maaf. Tapi ‘kita’ memang udah lama aku hapus dari ingatan aku za”.
“kamu gak salah Ra, memang aku yang salah. aku yang udah hancurin semuanya bahkan aku sendiri yang udah buta gak pernah ngelihat ada kamu yang selalu tulus berdiri disamping aku, ada kamu yang selalu ngertiin aku, dan ada kamu yang selalu mecintai aku dengan Tulus”.
Maura menggenggam Jemari Reza, kemudian memeluk masa lalunya itu. Maura tak ingin luka yang ia rasakan dirasakan juga oleh Reza. Sedikitpun tak lagi ada dendam di hati Maura.
“sudah za, meskipun bukan aku tapi aku yakin ada yang lain”.
“aku berharap ada yang seperti mu Maura. Tapi setelah mingingat kata-katamu bahwa tak ada manusia yang sama maka aku memutuskan kesini untuk  memintamu kembali. Aku tak memaksamu mu Maura” kata-kata Reza meluluhkan hati Maura namun tak ada keharusan untuk kembali. Maura memang masih mencintai Reza tapi Maura tak lagi ingin merasakan kecewa.
Waktu berlalu sangat lambat, ada air mata yang mengalir dari mata Maura. Segera ia mengahapusnya. Ia tak ingin terlihat cengeng. Reza benci Maura yang cengeng.
“Maura, aku pamit pulang. Selamat jadi sahabatku ya” senyum datar itu tergaris jelas diwajah Reza.
“iya. Hati-hati dijalan ya za. Selamat jadi sahabatku juga” seru Maura.
Sebuah kecupan lembut dari Reza mendarat tepat dikening Maura. Sekali lagi Maura memeluk masa lalunya itu dengan erat. Ia telah melepaskan ia juga telah memilih. “aku dan kamu memang bukan lagi ‘kita’ tapi aku dan kamu adalah ‘sahabat’ bisik Maura perlahan dan kemudian melepaskan pelukannya.
“aku ngerti bos, sekali lagi terimakasih banyak ra”.
“sama-sama za”. Maura menatap punggung reza yang semakin lama semakin jauh dan lenyap bersamaan dengan laju mobilnya. Ia telah memutuskan yang terbaik untuk hubungan mereka. Maura tersenyum lega. Ini merupakan puncak perdamaiannya dengan masa lalunya.
Sementara Reza kini telah berada ditaman tempat terakhir kali mereka bertemu beberapa tahun yang lalu. Reza tersenyum getir menatap kursi taman tempat ia sering duduk berdua dengan Maura. Ia sangat merindukan Maura yang dulu, ia rindu Maura yang tak pernah berhenti memberi perhatian padanya, ia rindu Maura yang selalu mengingatkannya banyak hal, ia Rindu air mata tulus seorang Maura, ia rindu semua tentang Maura. Maura yang telah ia sakiti, dan tanpa ia sadari Maura berubah karena kata-katanya sendiri. kata-kata yang akhirnya ia sadari sangat melukai hati Maura. Kini tak ada lagi Maura yang menunggunya dikursi taman tiap jam 3 sore. tak ada lagi Maura yang dengan bawelnya mengingatkannya tentang ini dan itu. Tak ada lagi air mata Maura yang selalu keluar ketika Maura merasa terharu. Terakhir ia melihat air mata maura adalah ketika ia melayangkan kata-kata kejam itu pada wanita itu. Air mata terperih yang harus Maura teteskan dan Reza tak mampu menghapusnya.  Dalam diam ia hanya bisa menyesal telah menyia-nyiakan wanita yang sungguh-sungguh mencintainya demia wanita yang hanya datang ketika membutuhkannya. Ia Masih mencintai Maura. Maura yang dulu juga mencintainya dengan Tulus dan sederhana tanpa banyak menuntut. Maura yang mendekapnya dengan semua kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari orang lain, bahkan dari Alya sekalipun. “Maura” gumamnya lirih. Dan sebutir air mata mengalir dari matanya.
*The End*

^Veronica Efri.L.Manurung^


Kamis, 21 Maret 2013

Aku Bukan Dirinya. #1


karena aku adalah aku, sampai kapanpun aku tak akan pernah mampu menjadi dia dan kepribadian ku tak akan bisa menyamai kepribadian nya kami berbeda~


Cairan itu tumpah begitu saja membasahi seragam kebangsaan sosok dingin dengan tubuh tinggi tersebut, untung bukan cairan berbahaya. Hanya alcohol biasa. Setidaknya alcohol tersebut menyebabkan noda kekuningan pada seragamnya. di ‘lorong laboratorium’ sepertinya tidak ada tempat yang lebih romantis dibandingkan sebuah lorong laboratorium sehingga mereka harus bertemu di tempat seperti itu. dua anak manusia dari pribadi yang berbeda itu dipertemukan oleh sebuah lorong yang sangat berjasa. Giselia velma dan Giovano dirga dua orang yang sangat jauh berbeda. Gisel sendiri merupakan sosok yang ramah, kritis, tegas, dan selalu teguh dengan komitmennya. Sikapnya yang sedikit sinis dan memiliki argument yang kuat membuatnya terkesan sangat keras kepala. Sedangkan giovano sendiri merupakan sosok yang tak mau tau, cuek, bahkan terkesan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar nya. 
Gisel yang tak sengaja menumpahkan cairan itu segera membungkuk meminta maaf.
“aduh maaf-maaf aku gak sengaja. Maaf banget lagi buru-buru soalnya”
“aduh lain kali hati-hati dong. Baju aku basah ni, kotor lagi”
“duh, gimana ya. Gini aja deh kamu bawa baju ganti kan ? nanti pulang sekolah bawa aja baju kamu ke kelas aku, nanti bakal aku cuciin”
“yaudah deh, lain kali hati-hati ya! Untung bukan larutan berbahaya, kalau kagak bisa hangus kulit ku”
“makasih banget, sekali lagi maaf ya udah buat baju kamu kotor. Maaf aku buru-buru. Aku harus ke laboratorium sekarang. Kelas aku ada di lantai dua sebelah perpustakaan. 11 Ipa 2”
Sosok gisel pun berlalu dan segera hilang tertelan oleh pintu laboratorium yang tertutup dengan cepat. Gio dengan baju yang berlumur noda alkohol segera menuju wc dan berusaha menghilangkan noda itu. sedikit berhasil namun tetap saja terlihat noda kekuningan itu di bajunya.
Tepat setelah bunyi “kriinngg” dari toa yang terdapat di tiap sudut gedung sekolah itu dibunyikan gio pun buru-buru turun kelantai dua ia membaca plangkat papan nama di tiap-tiap pintu kelas demi menemukan sebuah ruangan. Sepertinya tidak sulit untuk menemukannya karena kelas yang ia tuju tepat berada disebelah perpustakaan. Gio mencari-cari sosok itu, sosok yang tadi berjanji akan bertanggungjawab dengan perbuatan yang telah ia lakukan pada seragam gio.
“heei, eehh, ini aku Cuma mau ngasih seragam aku yang kata kamu bakal kamu bersihin” gumam gio membuka percakapan.
“eeh iya, oke aku bersihin hari ini terus besok bakal aku antarin ke kelas kamu”
“oh, oke di 12 ipa 1” seru gio sembari menunjuk kearah atas gedung sekolah itu.
“sip aku tau kok, aku kan bukan anak baru disini, nama kamu gio ya ?”
Gio mengerlingkan mata “yapp, tau darimana ?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Gisel tersenyum simpul “hah, ini dari nama yang ada diseragam kamu”.
Senyum kecut gio tergaris diwajahnya  “waduh aku pikir aku terkenal banget sampai kamu tau nama aku, eeh ternyata dari baju aku, tapi yasudahlah” seru gio sembari manggaruk-garuk kulit kepalanya karena rasa kikuk yang tiba-tiba hadir menyerangnya.
Gisel hanya tertawa kemudian pamit pulang lebih dulu. Selang beberapa saat gisel berlalu, gio pun dengan tergesa-gesa melompati anak tangga demi menuju ruang musik tepat waktu walaupun ia tahu ‘tepat waktu’ hanyalah bayangan dalam hidupnya.
“kliiikkk” suara pintu ruangan yang kelihatan sudah ramai itu dibuka oleh sosok gio yang masih ngos-ngosan akibat waktu yang mengejarnya. Seisi ruangan reflek memusatkan perhatian pada gio yang memcahkan suasana yang telah tercipta diruangan tersebut.
“kemana aja lu ? dari tadi ditungguin tau gak, tau jadwal latihan kan ? lu telat 15 menit dari waktu yang udah ditentuin gio”. Celoteh seorang cowok berambut gondrong yang kerap disapa kiki oleh teman-temannya.
“sory ki, gua ada urusan dulu tadi “.
“alah urusan apa ? cewek lagi kan ? mau sampai kapan sih lu jadi playboy cap teri ?”
Gio yang kesal langsung mengambil gitar dan mulai berlatih sendiri “lu bisa diam gak, playboy itu masa lalu gua, gak usah lu ungkit lagi. Lagian baru kali ini kan gua telat”.
“yaaap bener banget, baru kali ini lu telat Cuma 15 menit, biasa nya setengah jam. Lagian kapan sih lu bisa ngehargain waktu sedikit aja, paling enggak konsisten dong sama jadwal latihan. Kalau lu mau telat ngedate ama cewek-cewek lu ya silahkan aja, tapi enggak buat latihan!”
“terserah lu deh, gua udah bilang gua ada urusan. Makan tuh jadwal latihan ama lu. Lu cari aja gitaris baru, gua udah malas gabung ama lu!”
“yaudah sana lu pergi jauh-jauh! Gua juga udah capek ngadepin sikap lu yang acuh gak acuh. Lu pikir lu bisa ngedapetin apa yg elu mau kalau lu masih mempertahankan sifat buruk lu itu. makan tuh cuek ama lu”.
Gio membuka pintu ruangan musik itu dengan kasar lalu membantingnya dengan keras. Pikirannya kacau seketika. Ia tak mengerti mengapa semua orang tak pernah memahaminya. Ia hanya butuh sesorang yang benar-benar paham pendiriannya sebagai laki-laki. Ia tak suka komitmen ataupun aturan ia hanya ingin bebas.
****
Gisel berlari kecil menelusuri lorong demi lorong lantai terakhir gedung itu. matanya hanya tertuju pada satu ruangan ’12 Ipa 1’, yaa kelas yang terletak paling ujung itu yang akan menjadi tujuannya kali ini. Ia berdiri di depan pintu kecokelatan itu kemudian melongokkan kepalanya kedalam ruangan, berharap segera menemukan yang ia cari. Saat matanya masih liar mencari-cari sebuah sentuhan dari arah belakang mengagetkannya membuatnya secara reflek membalikkan tubuhnya.
“eeh, kak gio. Aku kirain siapa tadi”.
“aku ngagetin kamu ya ? hahaha”.
“banget! Oh iya ini sbajunya udah aku bersihin. Sekali lagi maaf banget ya kak”
“iya, udah di maafin kok tenang aja, jangan melas gitu dong mukanya. sekarang udah panggil kakak ya ? semalam masih ‘kamu’ deh perasaan. Hahaha.”
“hahaha. Iya biar rada sopanan dikit, baru tau semalam kalau kakak itu udah kelas 12. Tua”.
“jiah, tua ? umur boleh tua tapi muka always muda dong. Hahah, oh iya nama kamu siapa ?”.
Gisel berdehem kemudian mengulurkan tangan kanannya “ eheem, giselia velma, kakak gak tau ? padahal aku kan adik kelas paling top disekolah ini”.
Gio menyambut tangan gisel dan kemudian mereka tertawa sangat keras, sehingga murid-murid lain yang ada disekitar mereka serentak memalingkan wajah kearah mereka berdua.
“kak itu ketawa apa suara bom atom ? liat tuh orang-orang pada liatin kita”.
“bukan kamu salah, ini suara raksasa buto ijo lagi kentut”. Telapak tangan gio segera menutup mulut gisel yang hendak tertawa karena ulahnya sendiri.
“udah ah kak, lama-lama aku disini bisa terdaftar jadi salah satu penghuni RSJ, mending aku balik ke kelas aku aja deh, bahaya ngumpul sama kakak kelas sarap kayak kak gio mah”.
“hahahaha. Yaelah sarap-sarap gini tapi cakep kan ?. aku juga baru tau kalau adek kelas tersarap itu kamu, pantes aja terkenal”.
“makasih kak gio”. Gumam gisel singkat yang kemudian berlari-lari kecil menyusuri beberapa lorong, dan melangkahkan kakinya untuk menuruni beberapa anak tangga. Gisel kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengikuti pelajaran dikelas, berkutat dengan buku-buku di  perpustakaan, dan kembali lagi ke laboratorium untuk melakukan percobaan yang sepertinya tak ada habis-habisnya bagi gisel. Dari kejauhan tampak seseorang dengan rambutnya yang panjang dan matanya yang sangat sipit berlari kearah gisel.
“gisel, gisel! Tunggu bentar, ini ada surat buat elu, bukan surat sih isinya dikit doang”
Gisel menyipitkan matanya, ia selalu menikmati raut wajah gita ketika kekesalan gita terpancing karena ledekan gisel mengenai matanya yang sipit itu.
“giseeellll!” suara gita melengking dan naik beberapa oktaf.
“apa gita ?" sahut gisel dengan nada manja. "lu kayak mau paduan suara aja deh. eeh dari siapa suratnya”.
“bodo ah, gak akan gua kasih tahu sebelum lu janji gak bakalan ngejekin mata sipit gua lagi”.
“hahaha. Gitu aja manyun lu, mirip sama bebek mau bertelur tuh mulut. Oke-oke gua gak akan ngeledek mata sipit lu lagi deh. tapi seriusan tuh surat buat gua ?”
“ya iyalah masa buat gua, kalau buat gua ngapain gua repot-repot ngejar elu, ini dari kakak kelas yang cakep itu loh yang semalam lu ceritain ke gua yang katanya alkohol elu gak sengaja tumpah ke baju dia”.
“oh, kak gio. Mana suratnya ? jadi penasaran gua”.
Mata sipit gita mengerling sempurna, ia mulai mengendus sesuatu yang janggal pada gisel. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat di wajah gisel. Senyum sumringah ketika mendapatkan sesuatu, padahal ini hanyalah sebuah kertas apa yang begitu spesial dari kertas begini ?.
“apaan sih liatin gua kayak gitu, siniin suratnya gita”.
“lu ngaku ama gua deh, ada apa lu sama kak gio. Hayo ngaku lu kalau gak gua ketekin ni surat”. Seru gita menggoda gisel yang senyum-senyum tak menentu.
“jorok lu! Sempat lu ketekin diari kesayanganlu gua masukin comberan, nah pilih mana ?. gita siniin suratnya dong”. Gumam gisel mencoba meraih surat tersebut dari tangan gita.
“jawab dulu lu ada sesuatu ya ama kak gio ?” selidik gita penuh rasa ingin tahu.
“iih lu kepo deh, cara satu-satunya ya gua harus……..” gisel tak meneruskan kalimatnya, tangan nya sudah lebih cepat melakukan tindakan dibandingkan mulutnya. Jemari nya yang lentik menggelitik setiap senti perut gita. Ia hanya ingin segera meraih kertas itu dari gita. Ada rasa penasaran yang terlalu dalam. Rasa penasaran yang tak biasanya gisel rasakan. Ini bukan surat pertama yang ia terima selama ia berada di sekolah itu. sudah sangat banyak surat-surat yang ia terima yang terakhir ia ketahui merupakan kiriman dari beberapa cowok yang menyukainya. Namun, surat-surat sebelumnya tak begitu menimbulkan rasa penasaran seperti yang ia rasakan saat ini. Gisel memang telah lama menyukai sosok Gio, hanya saja gio yang selama ini terlihat sangat cuek bahkan terkesan sangat dingin membuat gisel harus mundur beberapa langkah ketika harus berpapasan dengan Gio. Ditambah lagi wanita-wanita yang dekat dengan Gio bukanlah wanita sembarangan, mereka cantik, supel, dan juga cerdas. Gisel memang cerdas, namun tetap saja ia merasa minder apabila harus membandingkan dirinya dengan wanita-wanita itu.
“yeah I get it” seru gisel dengan senyum lebar di wajahnya.
“curang! Lu pakai kelemahan gua, dasar!”.
“kalau gak begitu bakal panjang urusannya, udah ah gua buru-buru. hahaha”. Tawa gisel santai.
“yah gua ikut deh, ke lab kan ? lu pasti mau baca tuh surat. Gua pengen tau”.
“yah kepo banget sih. Kalau bukan sahabat gua dari orok udah gua pidana lu, mengusik privasi orang lain. Hahaha”.
“tega lu! Gini-gini kan gua sahabat lu yang paling baik sel. Yaudah ayo ke lab sekarang gua gak sabar”. Gita menarik tangan gisel agar berjalan lebih cepat menuju laboratorium. Layaknya gita sesungguhnya gisel pun penasaran dengan isi surat tersebut. Seolah sedang membuka kardus yang berisi bom, jantung gisel berdetak lebih kencang dari biasanya. Rasa penasaran itu mengalir bersamaan dengan darahnya. “gua suka gio, ta” ucapnya lirih memandang gita. Gita pun tertawa kemudian mengusap bahu gisel. “elu berhak untuk itu sel”. Keduanya pun berpelukan layak nya sepasang sahabat yang telah berabad-abad tidak bertemu. Aneh! Memang aneh namun keanehan itulah yang membuat mereka satu. Setelah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, keduanya bisa memancarkan mimik memelas yang terlihat sangat miris ketika sudah bersentuhan dengan perasaan. Cinta~.

******


Minggu, 17 Maret 2013

Perubahan Ini Menjauhkan Kita



ketika perubahan menghancurkan segalanya. mengahancurkan mimpi dan cinta yang pernah mereka bangun.



Matahari baru saja muncul dari balik awan. Namun, kegelapan kembali merenggutnya. Air perlahan-lahan turun membasahi seluruh tanaman dan mengusik hewan-hewan yang masih terbaring lena didalam istananya masing-masing. Aku segera berlari menyongsong hujan. Menikmati rinainya dari balik tirai kamarku. Ku lebarkan tirai orange yang menghalangi pandangan ku. Hingga kudapati butiran-butiran hujan yang begitu ramai mentes di luar sana. Mataku menatap mereka, mereka seolah menari tanpa beban. Seolah dengan turunnya mereka membawa kebahagiaan bagi semua orang.
aku membongkah dan membeku seperti es, mematung di jendela bilikku. Mataku menatap hujan, namun pikiranku jauh menerawang entah ke dimensi mana. Aku bahkan tak pernah paham mengapa setiap hujan turun  perasaan ini muncul kepadaku. Hujan masih egois, ia masih turun dengan derasnya. Tak ada tanda-tanda untuk berhenti. Ada kekhawatiran yang membuncah hebat dihatiku. Sebuah kekhawatiran yang amat ku benci. Sebuah ketidakpastian bergeming memenuhi pikiranku, bergelayut di antara serpihan-serpihan hatiku. Aku menyadari kerapuhanku sendiri. aku belum siap untuk semua ini. Untuk semua keputusan yang  harus ku ambil. Aku membenci mu? Haruskah ?. ya aku membenci mu, aku benci setiap kali kau menghilang tanpa jejak. Aku benci setiap kali kau diam tanpa alasan.
Hujan tak mengerti dan tak pernah memahami bahwa sesungguhnya ia sedang mengembalikanku ke masa silam. Masa dimana segalanya masih hangat. Masa dimana aku masih bisa tersenyum tanpa harus merasa senyumku terlalu hambar untuk ku perlihatkan. Sadarkah engkau yang kini ada di sudut kota sana, mampukah kau merasakannya ? kau telah mengubah segalanya. Segala pandanganku tentang cinta. Apa ini yang dinamakan cinta ? atau inikah Cinta yang di agung-agungkan para pecinta ?.
Aku tak paham apa yang terjadi dengan jalan pikiranmu. Namun, ini begitu sulit untuk ku pahami. Kau membiarkan segalanya melayang hampa diudara. Inikah wujud rasa sayang mu kepadaku ?. aku seolah terseret masuk kedalam permainanmu, setelah tak kau inginkan, setelah tak kau butuhkan dengan mudahnya kau hempaskan segala mimpiku. Aku tak ubahnya seperti sebuah perahu tanpa tuan yang mengarungi samudera luas. Terombang-ambing oleh ombak setelah pemilikku meninggalkanku begitu saja di hamparan biru yang begitu luas. Dan aku begitu yakin, kau tak akan pernah mengerti arti tangisku, arti air mata dan sendu yang sering kali tercekat ditenggorokanku. Kegagalan? ini sebuah kegagalan. bukannya kegagalan beda tipis dengan realistis ?. kau tau tentang itu bukan ?. tentang sebuah realistis yang kita jalani saat ini. Semuanya seperti tak pernah kau inginkan lagi.
Suara merdu sang hujan menyadarkan ku betapa hidup ini bukanlah sesuatu yang begitu mudah. Begitu banyak yang berubah bahkan perubahan itu sendiri tak pernah aku sadari. hidup ini ibarat sebuah jalanan, penuh tanjakan, tikungan, ada yang kasar hingga yang halus. Aku menatap lagi bingkai mungil itu. tanpa sadar butiran air mata mengalir melewati garis pipiku. Banyak yang berubah, aku merasa ada yang sudah tak pas lagi, bahkan ada yang jauh dari yang biasanya terjadi jauh dari rutinitas yang biasa kita lakukan dan kita lalui bersama. Entah aku yang berubah, Lingkunganku yang berubah ataupun dua-duanya. Semuanya telah jauh berubah, kita bukan yang dulu lagi. Kau telah jauh dari siapa yang aku kenal dahulu. Bukan lagi sebagian hatiku yang dulu selalu menghangatkan setiap sel syaraf yang ada dihatiku. Bukan lagi sosok yang selalu hadir dengan segudang canda yang mengundang tawa renyahku.
Dunia ku telah jauh berubah. Kita semakin berjarak bukan ? semua memang terlihat baik-baik saja. Tapi nyatanya, semua jauh dari realita baik-baik saja. Semua telah jauh meninggalkan ku, meninggalkan kita. Semua seperti menghilang seiring waktu. Kini kita ibarat cat pada kanfas yang mulai pudar. Aku tersesat, aku tak mengerti keadaan seperti ini. Apa ini yang mereka gembar-gemborkan sebagai kerikil kehidupan ?. atau aku yang terlalu santai menjalani segalanya hingga segala perubahan ini sangat terlambat aku sadari. Atau memang harus begini ? apa mungkin memang harus ada yang berubah. Tapi ini menyakitkan. Aku merasa segalanya asing. Aku butuh petunjuk jalan, sebuah cahaya agar aku mampu keluar dari semua keadaan ini.
Kau memang masih sama, masih sosok yang dulu. Tapi pribadimu ? kau bukan pribadi yang kukenal. Kau persis orang asing bagiku. Senyummu, matamu, wajahmu. Semuanya memang tak lagi terlihat. Namun rasa ? bukan kah hati peka terhadap rasa. Apa kau tak mampu merasakannya ?. semuanya ini, semua tentang perubahan ini, aku lelah harus terbayang-bayang olehnya. Hanya saja semua telah ku maafkan, bahkan suatu kebodohanmu yang tak pernah mampu belajar berpegang pada satu komitmen. Bagiku tak masalah kau memperlakukan ku seperti sekarang ini. Aku terima bahkan apapun alasan yang kau berikan padaku. Karena semuanya warna bukan ? warna adalah bagian dari seni. Dan aku mencintai seni. Kau seni dalam hidupku, seni yang sebentar lagi memudar lalu lapuk dan kemudian menghilang dari kanfas-kanfasku. Kita hanyalah kanfas bekas hitam-putih tanpa warna, tanpa goresan baru, dan tanpa variasi baru. Cerita tentang kita hanya menunggu tangan-tangan angkuh untuk segera membuangnya, meletakkannya pada segudang masa lalu.

Jumat, 15 Maret 2013



wahai dedaunan kering di pucuk meranti.
sepi itu hadir lagi merasuk ke relung jiwaku.
apa kau tau neptunus ?
makhluk itu pergi lagi, menghilang dibalik awan gelap.
wahai langit, dimana kau sembunyikan tubuhnya ?
dimana kau sembunyikan lengannya yang kokoh ?
adakah senyum angkuh itu di balik pelangi ?
pastikah dia datang menemuiku setelah rinai hujan
turun membasahi bumi nan luas ini ?

wahai kau gugusan karang di pantai biruku.
pernahkah kau mendengar kisah nya ? kisah ku ?
kisah tentang kami ?
apa kisah ini telah usai ?
masihkah harum mu mengusik indraku ?
masihkah hangatmu memeluk hatiku ?
jawab aku mentari, jawab aku wahai purnama.
dimana kau sembunyikan cinta itu.

neptunusku, dewa lautan yang merajai para hewan dilautan biruku.
kemanakah kisahku ini akan berlabuh ?
akankah segalanya terombang ambing bersama ombak ?
kemanakah arus ini membawa hatiku ? hatinya ?
sementara segalanya masih jauh, masih samar oleh kabut gelap.

Akankah segalanya berujung ?
atau aliran biru ini hanya sekedar bermain dengan kami ?
adakah akhir dari kisah ini ?
kisah yang sama sekali tak pernah aku pahami.
kisah yang mengalir bersama ombak.
langit, jawab aku, adakah aku dihatinya ?
atau aku hanya gugusan karang
tempat ia menghempaskan semua kesalnya.

Minggu, 10 Maret 2013

Surat Terakhir Sang PenCINTA.

hanya dengan pena dan selembar kertas ini aku mampu mengungkapkan segalanya. mengutarakan isi hatiku yang sesungguhnya. mungkin aku terlihat sebagai seorang pengecut. mungkin aku tampak seperti pecundang. namun, hanya cara ini yang mampu kulakukan didetik-detik terakhir kehidupanku. aku tau surat ini berbatas untuk mengatakan segalanya kepadamu. akupun sadar kau terlalu sulit untuk membacanya dengan jelas. hanya saja ketika aku menulis surat ini aku sudah tak mampu lagi berkata-kata dengan mulutku. tak ada satupun yang paham dengan kalimat-kalimat yang kuucapkan. aku berharap kau yang dulu selalu menyukai tulisan-tulisanku memaklumi kekurangan terakhirku ini.
kertas usang ini hanya ingin mengungkapkan kasih sayangku terhadapmu. berharap engkau akhirnya mengerti bahwa aku adalah orang yang selalu merindu meskipun telah kau tinggalkan jauh. berharap kau paham perasaanku meskipun sesungguhnya semua ini sudah terlambat. namun semua masih bisa di tolerir bukan ? pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. dan aku pun mencoba menerapkannya, lebih baik kau tahu perasaanku di akhir nafas hidupku, daripada sama sekali tak ada yg paham betapa aku mencinta sosokmu.
bukan! bukan balasannya yang aku mau. hanya baca dan cerna tiap kata-kataku. tiap bait puisi yang pernah kutuliskan dikertas manapun, itu tentangmu. tiap kalimat yang kubisikan pada angin semilir itu adalah kisahmu. aku mencinta dengan media kehampaan. hanya berani memandangmu, hanya berani menatapmu dari jarak yang cukup jauh. aku hanya gadis bodoh yang selalu jadi bayanganmu.
namun, apa kau tahu ketika melakukan semua hal konyol itu ada rasa bahagia yang memeluk hatiku kemudian menghangatkan sela dan rongga nya ?. apa kau pernah dengar tentang kisahku ?. Tidak! bahkan kau tak mengenalku. kita hanya pernah bertatapan, hanya pernah berpapasan dan itu bukan sesuatu yang berarti bagimu. bertahun-tahun sudah rutinitas menguntitmu aku lakukan. hingga akhirnya aku terbaring lemah ditempat ini, diranjang kematian ini. hanya mampu berharap kau datang lalu tersenyum padaku untuk pertama dan terakhir kalinya, untuk ku, Hanya untukku. namun hingga detik ini pun kau tak hadir. tapi tak mengapa, aku hanya beraharap, bukankah berharap saja belum cukup untuk mewujudkan sesuatu. harus ada usaha bukan ? lalu apa yang bisa kulakukan dengan puluhan selang dan kabel yang menempel ditubuhku ini ? apagunanya alat-alat ini jika pada akhirnya aku hanya menatap langit-langit kemudian memejamkan mataku tuk waktu yang tak pernah kuperkirakan ?.
lewat surat terakhirku ini aku titipkan perasaanku padamu, perasaan yang pada akhirnya harus kupendam sendirian bahkan untuk selamanya. maafkan jika selama aku menjadi bayanganmu tak sedikit aku mengusikmu. maafkan kelancanganku yang tanpa izin berani-beraninya mencintaimu. dan maafkan perasaan ku yang tanpa sesal telah seutuhnya diepenuhi oleh mu. biarkan kisahmu tetap mewarnai perjalanan ku. perjalanan yang kini akan aku jalani sendirian. kau patut bahagia, langkahmu tak lagi resah ketika aku bayangan menjijikanmu tak akan lagi ada menghantui keseharianmu.
wahai kau pemilik setiap ruangan kosong dihatiku, tetaplah jadi orang yang selalu kucintai. dan biarkan aku mencintaimu lagi dan lagi, biar kan cinta ini kubawa ke dimensi baru ku nanti.

Kamis, 07 Maret 2013

hening menemaniku di tengah guyuran hujan yang kian lama semakin menderas. aku tak mengerti mengapa hujan selalu saja menyeretku jauh kedalam kenangan itu. mataku menatap lurus keluar jendela. hujan ini sama derasnya seperti saat itu. apa kau dapat merasakannya ? kini aku melihat mereka menggenangi halaman gedung ini. lihat sayang, lihat! dengar alunan yang mereka hasilkan. apa kau berhasil menemukan artinya ? apa kau tau nada apa yang mereka mainkan ?. sungguh ingin rasanya aku keluar dari belenggu kekhawatiran ini. kapan kau akan pulang ? sesekali aku menatap kumpulan tanggal yang terpatri di atas meja itu. berharap pertemuan akan terjadi esok.
rasanya mataku sudah lelah untuk lagi-lagi menangis ketika rindu itu menyiksa hatiku. aku tak percaya dengan semua yang terjadi. bahkan hujanpun mampu membuatku kembali mengenang mu. kembali mengungkit kisah kita dibawah rinai hujan. ada cinta yang meluap-luap, ada rindu yang menyeringai mengharapkan sebuah pertemuan.kau selalu menjanjikan sesuatu yang bahkan itu semua diluar kemampuanmu. jangan membuatku termakan oleh rasa manis dari kata-kata mu itu.
aku egois!. ya kau benar aku memang egois. bahkan berbagi dirimu dengan waktupun aku sangat enggan. aku berusaha keras menyeret langkahku keluar dari semua kegalauan ini. berkali-kali aku memerintahkan hatiku untuk berhenti mengungkit soal ini namu hasil yang kudapatkan hanya gejolak rindu yang semakin besar. kau mengikatku, sangat erat, bahkan aku tak bisa lagi keluar dari bayanganmu. kau selalu mengusik pikiranku, mengganggu jalannya logikaku.
aku penuntut! ya kau sangat benar. lagi-lagi aku menuntut mu melakukan banyak hal untukku. bahkan ditengah jarak yang begini luas  yg terbentang diantara kita, aku masih saja menuntutmu untuk menemuiku. bahkan aku sendiripun tau hal itu sangat sulit untuk kau lakukan.
*bersambung

Sabtu, 02 Maret 2013

Hujan Mengurai kisah Tentang Kita, Kau~



Dia tak mengerti mengapa cinta begitu sulit memahami dirinya. Dia tak paham mengapa cinta mampu mengubah dunianya. Dan satu hal lagi dia tak mengerti bagaimana cara melupakan. Cara satu-satunya yang ia ketahui hanya moveon ke lain hati, kelain individu, ya berpaling pada seseorang yang berbeda. Pusaran kekesalan terhadap mantannya sudah cukup memuakkan. Sehari-hari hanya menjadi stalker itu sudah hal lumrah yang ia lakukan. Setelah puas menjadi stalker ia mencari-cari dimana pelukan hangat yang mau menampung semua luapan kesal, marah, dan kegalauannya.
 “sudah, lu bisa moveon kok. Mau sampai kapan begini ? dia udah punya pacar, jadi mau gak mau dan siap gak siap lu harus terima dengan ikhlas dong be”.
“tapi be, gak tau kenapa susah banget rasanya. Gua udah usaha tapi kayaknya gak berhasil mulu deh”.
“sabar ya, intinya sabar. Semuanya butuh proses be”. Satu pelukan hangat dari erin  sahabatnya setidaknya mampu meredam sedikit kegelisahan yang memuncak dihatinya.
         Sudah berbulan-bulan ia mencoba melupakan sang mantan yang bahkan sudah lebih dulu melupakannya. Seburuk itukah menjadi seorang wanita ?. sesulit inikah takdir yang harus dijalani wanita-wanita didunia ini ?. bahkan ketika wanita masih mencoba melupakan sang mantan, ia telah lebih dahulu mencapai finish dan berlabuh dihati wanita lain. Setidaknya mungkin tak semua laki-laki begitu dan tak semua wanita merasakan hal yang sama seperti yang kim rasakan.
         Kim qyara sendiri adalah remaja yang masih duduk di bangku SMA. Disalah satu SMA swasta di kota asalnya ia berusaha menuangkan semua ide dan imajinasi yang ia miliki. Berlatar belakang sebagai anak tunggal yang pastinya selalu merasa membutuhkan banyak teman. Kim muncul dengan sahabat-sahabatnya yang selalu berusaha menciptakan suasana yang renyah dan menyenangkan untuk kim. Sebagai keturunan tionghoa seharusnya paras cantik yang ia miliki memudahkannya untuk segera mendapatkan tempat labuhan hati yang baru dan bahkan lebih baik dari sang mantan. Namun kim masih berusaha menunggu sesosok malaikat yang benar-benar mampu mengalihkan dunianya saat ini. Dunia yang menyebalkan dan dipenuhi bayang-bayang tentang mantannya yang memuakkan itu. andai kim bisa, mungkin sudah dari jauh-jauh hari ia mnendaratkan kepalan tinju ke wajah laki-laki itu.
         Ditengah usaha kim untuk segera melupakan mantannya setidaknya kim tak sendirian. Talita Erin amora dan nafisha ananta yang bercover sebagai sahabat selalu menyediakan lengan ketika kim butuh tempat bersandar. Dan erin pasti selalu menyediakan telinga untuk mendengarkan setiap kata-kata yang pastinya bentuk dari luapan perasaan yang kim rasakan. Bahkan bagi erin, sosok kim sudah seperti adik perempuannya sendiri. erin dan fisha berusaha meyakinkan kim bahwa ia tak sendiri menghadapi kenyataan ini. Bahkan ketika seseorang mencampakkan perasaanya begitu saja erin dan fisha berusaha meyakinkan kim bahwa ia lebih berharga dari orang yang telah mencampakkan perasaan nya.
         Berbulan-bulan kim mencoba bergulat dengan kenangan masa lalunya. Berbulan-bulan lamanya pula kim menolak siapapun yang berusaha mendekatinya. Hingga suatu hari getaran itu muncul. Bahkan disaat yang tak disangka-sangka dengan seketika sosok itu menghapus segala yang berbau mantan di kehidupan kim. Mungkin awalnya getaran yang kim rasakan hanya sebatas rasa suka secara jasmaniah. Melihat sosok pria dengan rupa yang bahkan terbilang kece dan cool bahkan dengan latar belakang pemain basket setidaknya itu cukup membuat cewek-cewek yg berada disekitarnya sedikit bergetar ketika melihat sosok dan parasnya.
         Kim berusaha mendalami sang malaikat yang memang telah ia nantikan sejak lama. Bermodalkan kakak kelas yang memang hampir semua mengenalnya, kim mencoba mencari tahu tentang sosok itu lebih jauh lagi. Bahkan sebenarnya kim tanpa sadar sudah pernah sekedar terlibat obrolan singkat dengan cowok kece itu. kim yang saat ini tengah mengagung-agungkan basket sebagai olahraga favoritnya ternyata pernah meminta bantuan nick untuk sekedar melatihnya sedikit trik dan skil bermain basket. Entah kenapa disaat yang tak disangka-sangka perasaan yang dulu hanya sebatas senior dan junior kini telah berubah menjadi keegoisan, “cinta”. bukankah cinta sebuah keegoisan. Bahkan dengan egoisnya cinta mengalahkan logika-logika mereka yang terlibat didalamnya. Bermain dengan cinta seolah melumpuhkan kesadaran tokoh-tokohnya.
         Berbulan-bulan lamanya kim mencintai nick Tanjulio secara diam-diam. Hanya berani melirik nick dari jarak jauh. Dan lebih gila lagi erin  orang pertama yang mengetahui hal itu diantara teman-teman kim yang lain. Erin yang notabene tak mampu menjaga rahasia kim rapat-rapat segera memberitahu fisha soal hal itu. Semakin lama rumor bahwa kim menyukai nick telah menyebar dengan cepat keseluruh penghuni sekolah. Baik kalangan senior maupun kalangan junior yang seangkatan dengan mereka. Entah dari mana mereka semua tau bahwa kim menyukai nick. Kim yang saat itu tengah cemas akan diperlakukan dengan buruk atau bahkan perkiraan terburuk dari erin dan fisha adalah nick menjadi ilfeel seketika mengetahui hal itu.
         Setidaknya kim ditopang rasa percaya yang kuat. Bahkan beberapa sahabat nick memberi simpati pada kim. Mereka bahkan mencoba membantu kim agar bisa dengan mudah menyusup masuk ke sela-sela kehidupan nick. Kim mulai banyak berubah. Bermodalkan klue dari sahabat terdekat nick, kim berusaha merubah dirinya yang benar-benar diselimuti gaya hidup manja dan kekanak-kanakan menjadi sesorang yang lebih dewasa lagi. Kim yang biasanya amat gemar teriak-teriak kesetanan di lapangan sekolah bahkan yang biasanya pecicilan di koridor sekolah berhasil menjadi kim yang look smart dan kalem.
“ciee yang udah bisa jadi dewasa dan gak teriak-teriak gila lagi” seru fisha dan erin bersahutan menggoda kim.
“apaan sih kalian, demi cinta teman-teman. Hahaha”
“haha, jangan buta karena cinta ya be, cukup sama si brondong mu itu aja khilafnya, semoga bisa dapatin dia deh”. seru erin menimpali.
“iya, kalau udah jadi jangan lupa sama kami, makan-makan nya itu loh. Ditunggu secepatnya”. Fisha menambahkan.
“hahaha, gila kalian. Gua aja belum gerak sama sekali. Ini masih jalan ditempat kalian pikir kayak nepok lalat apa buat dapatin nick”. Ujar kim pada kedua sahabatnya.
“makanya be, jangan jalan ditempat mulu. Keburu di ambil ama kak detta tuh si nick nya”. Ledek erin pada kim.

         kim tiba-tiba terdiam, Detta adalah sosok yang membuat kim ketakutan. Detta amat dekat dengan nick. Bahkan detta terlihat seperti kekasih nick. Kim sering kali terbakar dengan cemburunya pada detta. Ketika detta duduk bersebelahan dengan nick, ketika detta mengambilkan makanan untuk nick, dan ketika detta membawakan tas nick ketika nick berlatih basket dilapangan. Semuanya, semua tentang detta menjadi bumerang besar bagi kim. Detta seolah menjadi tembok tertinggi yang membatasi ruang lingkup kim dan nick. Tak jarang kim menyerah dengan langkah-langkah yang bahkan sudah ia mulai. Hanya karena detta, ia takut diberi cap perebut ataupun perusak hubungan detta dengan nick. Kim mencintai nick, namun nick ? sepertinya tidak! Dan takkan pernah! Entahlah, nick begitu sulit untuk ditebak. Banyak yang tak bisa kim terka, dan semua tentang nick. Nick mimpi yang ingin ia gapai masih terlalu tinggi untuk segera ia raih. Bahkan usaha demi usaha pun sepertinya masih saja kurang untuk membuat nick menjadi nyata dalam kehidupan kim.
         Ketika hari berganti hari dan begitu pula dengan bulan kim telah hadir menjadi sosok yang peduli pada setiap kegiatan bahkan setiap kebutuhan nick. Tak jarang kim mengirimkan minuman untuk nick melalui perantara Ray sahabat nick. Berbulan-bulan lamanya kim menjadi sosok pengagum nick, sosok yang mencintai nick dalam diam. Dalam kesunyian dan bahkan tanpa balasan. Kim berusaha memberikan yang terbaik pada nick meskipun nick mungkin tak menyadari tiap pengorbanan kim untuknya.
         Minggu depan Tim basket sekolah Kim akan bertanding disalah satu kompetisi yang diadakan di kota mereka. Jauh-jauh hari erin dan fisha telah merencanakan agar kim dan nick bisa lebih dekat lagi. Kim yang juga terlibat dalam kepengurusan OSIS disekolahnya otomatis pasti akan menghadiri pertandingan itu. sei dokumntasi seperti dirinya pasti sangat berperan untuk mengabadikan foto demi foto pada pertandingan itu. namun satu yang menjadi penghalang kim untuk menghadiri pertandingan itu. ia tak tau harus pulang dengan siapa.   Ia biasanya pulang dengan jasa antar jemput yang disediakan sekolah. Dan pada event ini sekolah tak menyediakan jasa antar jemput untuk muridnya. Ditengah kebingungan yang menerpa kim, ide-ide genius muncul dari erin dan fisha. Keduanya saling bertatapan dan kemudian menyunggingkan senyum terlebar yang mereka miliki.
“lu ngapain bingung kim, pulang bareng nick aja. Nick kan bawa motor tuh”. Ujar fisha menjelaskan ide cemerlang yang melintas dipikiran mereka.
“bener kata fisha be, lagian papi sama mami lu kan gak mungkin jemput jadi pulang ama nick aja, kesempatan gak datang 2 kali be” seru erin mengompori.
“aduh gimana caranya buat bilang ama dia, gua mana berani. Gua pulang ama sen aja ya ?” sahut kim penuh ragu.
fisha menyentuh bahu kim untuk meyakinkannya. “udah deh percaya ama kami, lu tenang aja lu pasti pulang ama nick”.
         Hari yang ditunggu-tunggu oleh kim dan pastinya sangat ditunggu-tunggu datang. GOR itu telah sesak dipenuhi supporter dari masing-masing tim basket sekolah mereka. Skor telak, permainan pertama dimenangkan salah satu sekolah yang cukup terkenal dikota itu. orang-orang kerap kali menyebutnya saint marie. Kini tiba saatnya tim sekolah kim yang bertanding melawan salah satu SMA negri yang terbilang favorit dan terkenal dengan pamor mereka sebagai sekolah para murid genius.
          Dancer telah berdiri dipinggir lapangan memberikan teriakan penyemangat bagi para pemain yang satu persatu mulai memasuki lapangan. Kim mulai berdiri dengan kamera ditangannya. Badannya yang mungil mengaharuskannya mengambil posisi debih depan agar dapat mengambil gambar dengan hasil yang lebih bagus. Sadar atau tidak lensa kamera kim hanya tertuju pada nick, mengambil detail gambar mulai dari nick mendribble bola hingga saat nick harus lompat ketika melakukan shooting. Suara teriakan dari para pendukung masing-masing tim semakin memanas. Sama seperti pertandingan yang terjadi dilapangan. Kim dengan senyum manisnya selalu berdoa dalam hati dan menyemangati nick meskipun nick tak akan menyadari kata-kata semangat yang kim ucapkan untuknya.
         Skor sudah tertinggal cukup jauh, dan ini merupakan babak terakhir dan babak yang menetukan pastinya. Pluit panjang tanda berakhirnya permainan telah ditiupkan oleh wasit, tim sekolah kim harus menerima kekalahan mereka dengan lapang dada. Meskipun kalah mereka telah berusaha memberikan yang terbaik untuk sekolah mereka. Kecewa yang dirasakan pendukung mereka pasti ada namun karena kekeluargaan diantara mereka sangat erat, kekecewaan itu dengan mudahnya mencair menjadi kata-kata penyemangat bagi para pemain yang sudah lelah bertanding.
         kim berjalan menyusuri lorong itu bersama erin. Jantung kim mulai tak beraturan. Detakannya lebih cepat dari biasanya. Kim gugup, ragu, dan bisa dibilang kim kini tengah berada pada zona nervous. Kim berhasil keluar dari ruangan yang sesak itu, ia mengatur nafasnya lalu menunggu nick yang tadi ia tinggalkan dilapangan karena nick masih harus mendengarkan beberapa pengarahan dari pelatihnya. Erin dengan sabar menemani kim menunggu nick sampai nick muncul.
         Langit sudah gelap bahkan awan sepertinya sudah berat. Bebannya terlalu banyak, dan mungkin sebentar lagi langit akan menumpahkan semua beban itu kebumi. Nick muncul dan langsung menuju lahan parkir. Disana kim sudah menunggu bersama bebrapa teman lainnya yang memutuskan menunggu nick. Kim mundur beberapa langkah ketika nick duduk diatas motornya. Dengan sedikit ragu-ragu kim mengambil posisi dan duduk dengan tenang dibelakang nick. Jemari nick menari bersama kunci motornya, sektika itu pula erin dan salah satu senior yang hari itu pulang bersama erin menghampiri keduanya.
“kak jaga teman ku baik-baik ya. Antarin sampai rumahnya. Jangan diturunin ditengah jalan” seru erin pada nick. Mungkin hanya sekedar candaan. Nick hanya tertawa memberi respon pada lelucon yang dilontarkan oleh erin. Motor erin melaju lebih dulu dan kemudian disusul oleh nick dan kim.
         Langit semakin gelap, tetes demi tetes air hujan mulai tertumpahkan ke bumi. Nick yang dari tadi hanya diam mulai membuka suara dan mengajak kim berbicara.
“tadi jelek ya main nya ?” ujar nick.
“haa, eemm, enggak kok ko, udah bagus kok”.
“iya, lawannya jago kali, susah banget ngelawannya” seru nick menambahi.
“iya ko, lawan nya keren banget tadi mainnya”.
“oh iya rumah kim dimana ?”
“aduh, kim lupa namanya ko, ntar kim tunjukin aja ya harus belok kemana aja”.
“oh, okelah. Masa lupa ama rumah sendiri. gawat kamu ini.hahaha”.
ditengah suasana yang mulai hangat, hujan turun dengan derasnya. Membuat kim dan nick basah kuyup. Rasa dingin semakin menusuk hingga ketulang. Membuat kim menahan kertakan gigi. Tubuh kim menggigil. Hujan berhasil membuat seluruh tubuhnya basah. Disisi lain kim juga tak tega melihat nick yang harus tetap berkonsentrasi pada jalan bahkan disaat nick pun merasakan kedinginan yang sama seperti yang kim rasakan.
Hujan telah membuat kenangan hari ini menjadi lebih sempurna, seolah hujan ingin ikut bermain,  Seolah hujan pun ingin larut pada kebahagiaan yang kim rasakan. Hujan berhasil mengukir kisah tentag mereka, tentang cinta, dan tentang ketidakmungkinan yang selalu saja jadi momok yang menakutkan bagi kenyataan yang harus kim sadari. Hujan menjadi saksi cinta yang kim miliki untuk nick. Cinta yang selama ini terbungkus rapat dihati kim. Cinta yang utuh yang kim berikan hanya untuk nick. Yaaa, hujan punya kisah tentang cinta, tentang kim, tentang nick, tentang ketidakpastian diantara mereka.
         Beberapa minggu semenjak kejadian itu. kim dan nick mulai berkomunikasi melalu media sosial BBM. Setidaknya semakin hari nick semakin menunjukkan adanya perubahan terhadap sikapnya pada kim. Yang awalnya hanya membalas seperlunya, kini nick mulai menanyakan hal-hal sederhana seperti “kim apa kamu sudah makan ?” atau hanya sekedar “apa yang sedang kamu lakukan kim ?”. setidaknya perhatian-perhatian kecil itu cukup membuat kim tersanjung.
“be, lu punya harapan. Perjuangin terus jangan takut untuk memulai” seru erin yang baru saja membaca hasil percakapan nick dan kim melalui BBM.
“ragu be, gua canggung untuk mulai duluan. Gua takut kehabisan topik”.
“seenggaknya lu udah separuh jalan be, jangan mundur lagi dong”.
         Sepertinya kim cukup ragu untuk mengambil tindakan. Ia sudah terlalu jauh melangkah, erin sudah memperingatkannya berkali-kali, bahkan setelah melangkah sejauh ini haruskah ia mundur hanya karena takut memulai hanya karena malu dianggap over. Tidak! Sesungguhnya kim pun berharap mampu bertindak lebih jauh, namun saat ini kim terlihat lebih pasrah. Hingga pada akhirnya turnamen volley sudah didepan mata. Job yang tiba-tiba harus diterima oleh para pemain. Resiko mereka sebagai pemain yang tanpa latihan rutin membuat mereka kewalahan mengatur jadwal latihan. Mau tidak mau latihan harus diadakan ketika pulang sekolah. Dan lagi-lagi kim harus memusingkan masalah kendaraan pulangnya.
         Lagi-lagi untuk kedua atau bahkan untuk kesekian kalinya kim merepotkan nick. Kini tiap sore sepulang latihan nick mengantarkan kim pulang. Kadang ke tempat kursus kim dan kadang langsung kerumah kim. Semakin sering pulang dan pergi bersama nick membuat semakin banyak kenangan yang terukir di tiap tikungan dan persimpangan jalan yang mereka lalui. Mungkin tidak untuk nick namun bagi kim semuanya itu cukup membuatnya merasakan sedikit kebahagiaan.
“koko makasih banyak ya selama latihan volley udah anterin sama jemput kim. Maaf kim udah ngerepotin”. Seru kim pada nick.
“iya gak apa-apa kok, oh iya kamu simpan foto-foto pas koko tanding kan ? kirimin dong”.
dengan semangat kim segera mengirim foto demi foto nick baik yang ada di handphone nya maupun yang ada dikameranya.
“wah banyak banget, makasih banyak ya kim”
“sama-sama ko”.
         Selang beberapa saat setelah turnamen volley akhirnya kim memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada nick. Meskipun sedikit janggal namun kim merasa lega telah mengungkapkan semua yang mengganjal dihatinya selama berbulan-bulan ini. Mungkin nick tak merespon, bahkan tak kan pernah! Kim memang kecewa. Sampai pada akhirnya mereka benar-benar lost communication. Tak ada lagi caht via BBM, tak ada lagi sapa yang pernah kim dengar untuk beberapa saat. Semuanya berubah. Nick telah menjauh, bahkan sebelum kim benar-benar menempati hatinya. Kim pasrah dengan semua yang terjadi. Ia tau bahwa ini akan terjadi sebagai konsekwensi yang harus ia terima.
Hingga beberapa bulan kemudian nick mengubah status lajangnya menjadi in relationship alias berpacaran. Tak ada lagi yang tersisa untuk kim bahkan sekeping hati nick pun tak pernah nick berikan untuk kim. Sekejam itukah cinta mempermainkan perasaan kim. Bahkan ketika kim telah berkorban banyak demi cintanya. Kini nick tinggal lah masa lalu bagi kim. Masa lalu yang dengan kejam memberinya harapan lalu menghempaskannya begitu saja. Masa lalu yang menyeret kim terjebak dalam permainan cinta yang pada akhirnya dengan kejam menghancurkan mimpinya. Kim tak lagi percaya pada harapan, tak lagi yakin pada cinta. Baginya cinta terlalu sulit untuk dipahami, dan kenangan itu ? hujan itu ? apa semuanya mampu kim lupakan dengan mudah.tidak! bahkan nick tak akan mengerti betapa sebenarnya kim berusaha mati-matian mengapus semuanya. Semua tentang nick. Cinta lagi-lagi berakhir menyakitkan untuk seorang wanita. Untuk seorang kim yang bahkan telah berusaha memberikan yang terbaik untuk cintanya. Cinta dengan segala keindahan yang pada akhirnya menghasilkan kepingan-kepingan hati yang pastinya akan sulit untuk dirangkai kembali.kejam!, bahkan sangat kejam! Cinta~.
“terakhir aku melalui jalan ini bersamamu.
berdua dengan mu, bersama cinta yang bersarang dihatiku.
hujan mengiringi langkah kita.
dengan deras membasahi hatiku yang kering,
aku berharap kau tak enggan memberikan sedikit air untukku.
untuk menyiram hatiku yang mulai layu.
hujan mengukir kisah tentag aku.
tentang kau, tentang kita dan tentang hujan itu sendiri.
apa kau masih ingat,
kita melalui persimpangan ini bersama-sama.
kita melewati tikungan ini berkali-kali.
bahkan ditengah guyuran hujan yang begitu deras.
berdua dengan mu, hanya berdua tanpa dia dan mereka.
hanya ada kita, hanya ada kau, dan hanya ada aku.
bahkan hujan hanya datang sebagai pelengkap.
sebagai penyejuk jiwa-jiwa yang kekeringan.
kini, bahkan selamanya, hujan akan selalu berkisah tentang kau.
bahkan ketika ia tak lagi berkisah tentang kita.
ketika ia turun lagi dengan derasnya, ia menyeretku pada kenangan itu.
meskipun ia tak lagi berkisah tentang kita.
aku masih menyediakan telinga untuk mendengar melodi dari tiap tetesannya.
dia bercerita tentangmu, tentang kenangan yang tlah lalu.
sampai kapanpun tak akan berhenti.
selamanya, selama hujan masih bersedia membasahi bumi.

_The end_
                       
Cerita ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh sahabat saya sendiri, semoga kiranya cerita ini mampu menyadarkan kalian dengan sosok-sosok yang ada disekitar kalian dan bahkan sosok-sosok yang telah berkorban banyak demi kalian karena satu kata yaitu “cinta”.