hanya dengan pena dan selembar kertas ini aku mampu mengungkapkan segalanya. mengutarakan isi hatiku yang sesungguhnya. mungkin aku terlihat sebagai seorang pengecut. mungkin aku tampak seperti pecundang. namun, hanya cara ini yang mampu kulakukan didetik-detik terakhir kehidupanku. aku tau surat ini berbatas untuk mengatakan segalanya kepadamu. akupun sadar kau terlalu sulit untuk membacanya dengan jelas. hanya saja ketika aku menulis surat ini aku sudah tak mampu lagi berkata-kata dengan mulutku. tak ada satupun yang paham dengan kalimat-kalimat yang kuucapkan. aku berharap kau yang dulu selalu menyukai tulisan-tulisanku memaklumi kekurangan terakhirku ini.
kertas usang ini hanya ingin mengungkapkan kasih sayangku terhadapmu. berharap engkau akhirnya mengerti bahwa aku adalah orang yang selalu merindu meskipun telah kau tinggalkan jauh. berharap kau paham perasaanku meskipun sesungguhnya semua ini sudah terlambat. namun semua masih bisa di tolerir bukan ? pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. dan aku pun mencoba menerapkannya, lebih baik kau tahu perasaanku di akhir nafas hidupku, daripada sama sekali tak ada yg paham betapa aku mencinta sosokmu.
bukan! bukan balasannya yang aku mau. hanya baca dan cerna tiap kata-kataku. tiap bait puisi yang pernah kutuliskan dikertas manapun, itu tentangmu. tiap kalimat yang kubisikan pada angin semilir itu adalah kisahmu. aku mencinta dengan media kehampaan. hanya berani memandangmu, hanya berani menatapmu dari jarak yang cukup jauh. aku hanya gadis bodoh yang selalu jadi bayanganmu.
namun, apa kau tahu ketika melakukan semua hal konyol itu ada rasa bahagia yang memeluk hatiku kemudian menghangatkan sela dan rongga nya ?. apa kau pernah dengar tentang kisahku ?. Tidak! bahkan kau tak mengenalku. kita hanya pernah bertatapan, hanya pernah berpapasan dan itu bukan sesuatu yang berarti bagimu. bertahun-tahun sudah rutinitas menguntitmu aku lakukan. hingga akhirnya aku terbaring lemah ditempat ini, diranjang kematian ini. hanya mampu berharap kau datang lalu tersenyum padaku untuk pertama dan terakhir kalinya, untuk ku, Hanya untukku. namun hingga detik ini pun kau tak hadir. tapi tak mengapa, aku hanya beraharap, bukankah berharap saja belum cukup untuk mewujudkan sesuatu. harus ada usaha bukan ? lalu apa yang bisa kulakukan dengan puluhan selang dan kabel yang menempel ditubuhku ini ? apagunanya alat-alat ini jika pada akhirnya aku hanya menatap langit-langit kemudian memejamkan mataku tuk waktu yang tak pernah kuperkirakan ?.
lewat surat terakhirku ini aku titipkan perasaanku padamu, perasaan yang pada akhirnya harus kupendam sendirian bahkan untuk selamanya. maafkan jika selama aku menjadi bayanganmu tak sedikit aku mengusikmu. maafkan kelancanganku yang tanpa izin berani-beraninya mencintaimu. dan maafkan perasaan ku yang tanpa sesal telah seutuhnya diepenuhi oleh mu. biarkan kisahmu tetap mewarnai perjalanan ku. perjalanan yang kini akan aku jalani sendirian. kau patut bahagia, langkahmu tak lagi resah ketika aku bayangan menjijikanmu tak akan lagi ada menghantui keseharianmu.
wahai kau pemilik setiap ruangan kosong dihatiku, tetaplah jadi orang yang selalu kucintai. dan biarkan aku mencintaimu lagi dan lagi, biar kan cinta ini kubawa ke dimensi baru ku nanti.
kertas usang ini hanya ingin mengungkapkan kasih sayangku terhadapmu. berharap engkau akhirnya mengerti bahwa aku adalah orang yang selalu merindu meskipun telah kau tinggalkan jauh. berharap kau paham perasaanku meskipun sesungguhnya semua ini sudah terlambat. namun semua masih bisa di tolerir bukan ? pepatah mengatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. dan aku pun mencoba menerapkannya, lebih baik kau tahu perasaanku di akhir nafas hidupku, daripada sama sekali tak ada yg paham betapa aku mencinta sosokmu.
bukan! bukan balasannya yang aku mau. hanya baca dan cerna tiap kata-kataku. tiap bait puisi yang pernah kutuliskan dikertas manapun, itu tentangmu. tiap kalimat yang kubisikan pada angin semilir itu adalah kisahmu. aku mencinta dengan media kehampaan. hanya berani memandangmu, hanya berani menatapmu dari jarak yang cukup jauh. aku hanya gadis bodoh yang selalu jadi bayanganmu.
namun, apa kau tahu ketika melakukan semua hal konyol itu ada rasa bahagia yang memeluk hatiku kemudian menghangatkan sela dan rongga nya ?. apa kau pernah dengar tentang kisahku ?. Tidak! bahkan kau tak mengenalku. kita hanya pernah bertatapan, hanya pernah berpapasan dan itu bukan sesuatu yang berarti bagimu. bertahun-tahun sudah rutinitas menguntitmu aku lakukan. hingga akhirnya aku terbaring lemah ditempat ini, diranjang kematian ini. hanya mampu berharap kau datang lalu tersenyum padaku untuk pertama dan terakhir kalinya, untuk ku, Hanya untukku. namun hingga detik ini pun kau tak hadir. tapi tak mengapa, aku hanya beraharap, bukankah berharap saja belum cukup untuk mewujudkan sesuatu. harus ada usaha bukan ? lalu apa yang bisa kulakukan dengan puluhan selang dan kabel yang menempel ditubuhku ini ? apagunanya alat-alat ini jika pada akhirnya aku hanya menatap langit-langit kemudian memejamkan mataku tuk waktu yang tak pernah kuperkirakan ?.
lewat surat terakhirku ini aku titipkan perasaanku padamu, perasaan yang pada akhirnya harus kupendam sendirian bahkan untuk selamanya. maafkan jika selama aku menjadi bayanganmu tak sedikit aku mengusikmu. maafkan kelancanganku yang tanpa izin berani-beraninya mencintaimu. dan maafkan perasaan ku yang tanpa sesal telah seutuhnya diepenuhi oleh mu. biarkan kisahmu tetap mewarnai perjalanan ku. perjalanan yang kini akan aku jalani sendirian. kau patut bahagia, langkahmu tak lagi resah ketika aku bayangan menjijikanmu tak akan lagi ada menghantui keseharianmu.
wahai kau pemilik setiap ruangan kosong dihatiku, tetaplah jadi orang yang selalu kucintai. dan biarkan aku mencintaimu lagi dan lagi, biar kan cinta ini kubawa ke dimensi baru ku nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar