Jumat, 26 April 2013

Aku Bukan Dirinya #2


Sama halnya dengan Gita, Gisel pun tak percaya dengan apa yang ia baca. Mereka akan pulang berdua siang ini ? ia akan pulang berdua dengan Gio kemudian pergi ke perpustakaan daerah juga berdua, hanya berdua dengan Gio ?. aah Gisel tak percaya. Berkali-kali ia membaca pesan singkat di kertas itu namun tulisan itu tetap sama. Tak ada satu huruf pun yang berubah. Gisel merasa semuanya seperti mimpi, secepat itu kah ? hanya karena pertemuan itu, pertemuan di ‘lorong laboratorium’ itu. atau sebenarnya Gio sudah tau kalau Gisel memendam sebuah perasaan yang besar terhadap Gio. Gisel pun masih mencoba menerka-nerka, konsentrasinya buyar seketika. Niat nya untuk melakukan percobaan hilang sudah, hanya karena sebuah pesan singkat dari seseorang yang ia cintai. Seseorang yang selalu ia perhatikan diam-diam. Seseroang yang selalu ia peluk dengan doanya bukan dengan lengannya. Dan seseorang yang selalu ia lihat dari kejauhan. Giovano Dirga, nama yang saat ini berputar-putar dikepalanya, bukan lagi rumus-rumus senyawa kimia, bukan lagi nomor-nomor bilangan oksidasi dan bukan lagi urutan atom di tabel periodik. Gita menatap Gisel dengan senyum termanis nya ia memeluk sahabatnya erat-erat seolah merasakan apa yang Gisel rasakan saat ini.
“Sudah saat nya sel, elu harus coba! Mau sampai kapan megang komitmen buat selalu sendiri. harapan udah di depan mata, elu harus bertindak selangkah lebih maju sekarang.” Gumam Gita meyakinkan Gisel yang perasaannya masih bertanya-tanya tentang maksud surat tersebut.
“belum gita” ujarnya lirih. “ini belum saat nya, gua gak mau terlalu berharap. Terkadang enggak semua hal indah itu disebut harapan. Gua gak mau terlanjur ngeyakinin hati gua dan ujung-ujungnya malah gua yang bakal sakit”.
“yaudah, gua gak maksa elu kok. Apapun yang elu lakuin asal elu bahagia, gua bakal ikut bahagia kok sel” seru gita sembari mengusap bahu Gisel.
“iya makasih ya ta, elu emang sahabat dari orok yang paling baik sedunia. Udah aaah, masak kita lembek kayak lemper gini kalau udah bahas masalah perasaan. Miris banget, gak seru tau. Tuh mata lu jadi makin sipit tuh, udah mirip garis malah”. Canda gisel yang menyebabkan cubitan-cubitan dari Gita di pergelangan dan bahunya.
“gisel!! Elu tadi udah janji gak akan ngeledek gua lagi”. Seketika itu juga ruangan laboratorium terasa sesak dan ingin pecah akibat suara Gita yang melengking keras. Gisel menutup telinganya dengan kedua tangan nya. Ia berusaha melindungi rumah siput dan gendang telinganya agar tidak rusak karena suara Gita yang melengking itu.
“iya, ampun Gita!” balas Gisel dengan suara yang tak kalah nyaringnya dengan suara Gita.
“Gisel, lu ngapain teriak-teriak, lu kira ini ruangan Hutan rimba apa ?”. Gita memasang wajah sok polosnya yang selalu saja membuat gisel tergelitik kemudian tertawa ketika melihat ekspresi wajah Gita yang seperti gadis idiot tersebut.
“nah kan elu duluan yang teriak-teriak kayak tarzan kelaparan ta, kok malah gua yang elu tegur. Turunin dulu tuh oktaf suara lu. Bisa hancur telinga gua kalau setiap jam dengar suara secempreng itu”.
“hahaha. Suara emas begini lu bilang cempreng, yang ada suara elu tu serak-serak becek kayak di pangkalan ojek sel. Hahaha”.
“asem lu. Udah ah cabut yuk. Lama-lama ni rungan serem juga kalau ada elu, abis suara lu kalau ketawa beda-beda tipis ama eyang nya kuntilanak ta”.
“asem lu sel”. Seru gita yang kemudian mendengus kesal dan memajukan bibir tipisnya.
Keduanya berjalan menuju kelas masing-masing. Gisel dan Gita memang tidak sekelas bahkan tidak satu jurusan. Gisel dengan otak kimianya itu pastinya memilih IPA sedangkan gita dengan jiwa sosialnya itu pastinya memilih IPS. Keduanya memang sering beradu argument tentang jurusan masing-masing. Manusiawi sih, terkadang keduanya membela jurusan masing-masing. namun, pada akhirnya keduanya menganggap jurusan apapun yang mereka pilih dan jalani saat ini, semua itu saling berhubungan dan saling berkaitan. tidak ada yang lebih hebat, karena apapun jurusannya, apapun provesinya semua itu tidak buruk kecuali provesi tersebut melanggar norma dan hukum.
*****
Gisel melangkah dengan ragu. Gedung sekolah berangsur-angsur sepi. Begitu pula dengan parkiran sekolah. Hanya tinggal beberap motor saja yang masih bertengger disana. Sosok itu sedang menunggu, menunggu jawaban surat yang tadi siang ia titipkan pada seorang cewek berembut panjang dan bermata sipit yang tak lain adalah sahabat gadis yang kini ia tunggu. Gio duduk dengan resah diatas motornya. Sedangkan gisel sendiri masih ragu untuk berjalan kearah Gio. Irama jantungnya masih sangat kacau, ia takut Gio mampu mendengar suara jantungnya yang sangat kacau itu apabila ia nekat menghampiri Gio saat ini juga. Gisel meyakinkan dirinya untuk menemui Gio, ia tak mau membiarkan orang yang ia cintai menunggu lama. Tarikan nafas yang cukup dalam sepertinya cukup untuk membuang rasa gugup yang Gisel rasakan. Kini irama jantungnya sedikit lebih teratur dan ia sudah punya keberanian lebih untuk melangkah.
“hai kak Gio, udah lama nunggu ya ?” sapa Gisel ramah.
“eeeh, hai. Enggak kok. Baru aja, paling nunggu 5 menit doang”. Gio berbohong bahkan ia telah menunggu gisel sejak bel sekolah dibunyikan. Hingga saat ini saat parkiran sekolah sudah sesepi ini mana mungkin hanya 5 menit.
Gisel mencoba mengalihkan pandangannya. Ia tak ingin menatap mata coklat itu. terlalu banyak getaran yang akan terjadi dan ia menghindari semua itu. “hmm, maaf udah buat kakak nunggu. Oh iya jadi kita mau kemana ?”
“kita mau ke RSJ nganterin kamu. hahaha”
“oh ya ? berarti kakak juga ikut dong. Kan kakak yang gila duluan” ledek Gisel tak mau kalah.
“tapi kamu yang lebih gila, kalau dimasukin ke perbandingan kamu 3 aku 1”.
“aaahh curang!!” suara gisel naik beberapa oktaf.
“cempreng ah suaranya, sakit nih telinga aku”. tutur gio sembari menutup kedua telinganya.
“yee, jarang-jarang loh kak dengar suara aku yang kece ulala itu. hahaha”
“nah, PeDe nya kumat, udah buruan naik deh. kamu keburu meleleh disini ntar ngeliatin muka aku yang cetar kalau kata syahrini mah”.
“lah emang kakak siapa nya syahrini ?” Tanya gisel dengan memasang wajah sok polos.
“ya itu tukang ojeknya dulu, kan sering macet jadi dia naik ojek.hahaha”.
“ooh pantesan tampang nya mirip tukang ojek kak. kak Gio tukang ojek paling top deh. hahaha”.
“hah, aduh kejebak omongan sendiri nih, kamu pinter banget sih. Padahal belum ada lho yang bisa ngalahin aku kalau lagi ledek-ledekan gini”.
“wah karena aku orang pertama aku dikasih hadiah dong ya. Harus lho!”
“yaudah naik dulu, atau mau jalan kaki.hehehe”.
Gisel pun segera naik dan duduk manis dibelakang Gio. Motor gio membelah jalanan padat kendaraan itu selama 15 menit. Selama 15 menit itu pula Gisel harus bertarung dengan polusi dan debu-debu yang dengan girang nya terbang lalu-lalang di tengah udara yang panas.
                                                          *****    
Bangunan tua itu tampak klasik tak banyak yang berubah hanya saja beberapa bagian sudah mulai rusak dan layak untuk mendapatkan renovasi. Dua anak manusia berbeda pemikiran itu menyusuri lorong-lorong tua dengan lukisan-lukisan sejarah yang menempel erat pada dindingnya. Rak-rak buku yang tingginya kurang lebih 2 meter tersusun rapi di ruangan tersebut. Tiap rak memiliki kategori masing-masing. Gisel menyusuri rak-rak puisi dan sajak sedangkan Gio sendiri menyusuri rak-rak buku kategori Musik. Keduanya pencinta seni namun berbeda aliran. Gio suka Hardrock sedangkan Gisel menyukai klasik. Gio tak terlalu suka sastra dan persajakan tapi ia mencintai seni teater. Gio dan Gisel mengambil beberapa buku dari rak-rak tersebut kemudian duduk di meja yang telah disediakan. Tak seperti perpustakaan pada umumnya, pada perpustakaan ini pengunjung duduk lesehan khas zaman dulu.
“kakak baca buku apa ?” Tanya gisel memulai pembicaraan.
“ooh ini, buku sejarah tentang musik. Kamu sendiri baca buku apa ?”
“ini aku suka puisi jadi yaa aku ambil buku kumpulan puisi gitu”.
“waah berarti kamu bisa bikin puisi dong ?” Tanya Gio antusias.
“hmm, bisa sih kak tapi enggak ahli. Hahaha”.
“wah keren-keren dari biasa dan bisa pasti akan jadi ahli”
“semoga aja sih kak heheh”.
“Gisel, kamu suka teater gak ? besok ada pertunjukan di Balai Kebudayaan. Kamu mau nemanin aku nonton bareng gak ?”.
“hmm, teater ya kak ? boleh deh”.
“oke besok aku jemput kerumah kamu ya”. Gisel hanya mengangguk pelan meyetujui usul Gio.
“Gisel Jangan panggil aku kak lagi ya, kita ini seumuran loh. Cuma beda tingkatan aja”.
Gisel menegakkan wajahnya yang tadi tertunduk membaca bait-bait puisi dari buku yang ia ambil. Matanya terbelalak menatap Gio. Ia tak menyangka ternyata Gio seusia dengannya. Bahkan kini Gio memintanya untuk berhenti memanggil Gio dengan sebutan ‘kak’.
“lalu aku harus panggil apa ? gak sopan dong kalau aku panggil nama aja”.
“hahaha. Muka kamu lucu ya kalau kaget begitu, ya udah disekolah aja panggil ‘kak’ nya kalau diluar ya panggil Gio aja”.
“Tunggu dulu, aku butuh bukti kalau kamu itu seumuran sama aku, siapa tau aja kamu lagi kumat terus pengen kelihatan muda makanya kamu bilang kamu seumuran sama aku”. seru gisel penuh curiga.
“Gisel,Gisel!. Gak percayaan banget sih sama aku. ngapain juga aku pengen kelihatan muda kan emang muka aku jauh lebih muda, hahaha”. Gio pun mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, ia memberikan kartu tersebut pada Gisel. Gisel menerima kartu itu dengan antusias dan membaca identitas yang dideskripsikan dalam kartu tersebut.

Giovano Dirga
NIS                     : 3341
place/Birth           : Pekanbaru, 2 Februari                       1995

 





Sekali lagi Gisel menatap Gio dengan penuh rasa curiga. Sesungguh tidak semustahil yang ia pikirkan, semua bisa saja terjadi.
“tetap aja kamu yang lebih tua” ujar gisel sembari mengembalikan kartu tersebut pada Gio.
“hah, Cuma beda 4 bulan doang juga”. Seru Gio protes.
“iya tapi tetap aja Tua” sanggah gisel sembari mengejek Gio.
“ya udah deh aku ngalah,  yang lebih tua ngalah. Eh udah sore kita pulang yuk”.
“oh, ya udah bentar ya aku kembaliin buku nya ke rak dulu. Punya kamu mau sekalian gak ?” Tanya gisel menawarkan jasanya pada Gio.
“ooh, boleh deh. makasih ya gisel”.
Gisel hanya tersenyum kemudian dua kata singkat keluar dari mulutnya “sama-sama” ujarnya lembut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar