Jingga berlari menuruni anak tangga
di tangan kanan nya ada beberapa buku, tangan kirinya menenteng sepatu, pagi
ini ia terlambat bangun. 5 menit lagi jam 07.00 dan langit pasti segera jemput.
Jingga buru-buru memakai sepatunya dan merapikan rambutnya yang masih
berantakan. Ia menuju meja makan. Baru saja menyeruput susu dan menggigit
sedikit roti suara motor dari depan rumahnya sudah terdengar. “ma,pa, jingga
berangkat dulu ya, bareng temen aja, nanti pulangnya juga. Daaaaa”
jingga kemudian berlari menemui langit . sebuah senyum termanis tergaris diwajahnya.
“haii langit, udah siap buat berangkat atau mau sarapan dulu ?” sapa jingga lembut.
“tumben kalem, biasa udah nyerocos kayak ibu-ibu kost. Hehehe. Gak usah deh, naik gih ntar telat, aku sarapan disekolah aja”. Seru langit.
“yee, dikalemin protes, di omelin protes mau nya apaan sih ?”
“hahaha, tuhkan udah nyerocos lagi. Udah gih naik udah jam 7.05 loh”
“iya, sabar dikit napa. Cepetan jalan.”
“pegangan ga, kita mau ngebut lagi nih”.
“apa ga ? kamu panggil aku ga ? aku gak mau di panggil itu. panggil jingga”. ujar jingga ketus.
jingga kemudian berlari menemui langit . sebuah senyum termanis tergaris diwajahnya.
“haii langit, udah siap buat berangkat atau mau sarapan dulu ?” sapa jingga lembut.
“tumben kalem, biasa udah nyerocos kayak ibu-ibu kost. Hehehe. Gak usah deh, naik gih ntar telat, aku sarapan disekolah aja”. Seru langit.
“yee, dikalemin protes, di omelin protes mau nya apaan sih ?”
“hahaha, tuhkan udah nyerocos lagi. Udah gih naik udah jam 7.05 loh”
“iya, sabar dikit napa. Cepetan jalan.”
“pegangan ga, kita mau ngebut lagi nih”.
“apa ga ? kamu panggil aku ga ? aku gak mau di panggil itu. panggil jingga”. ujar jingga ketus.
Langit
memacu motornya dengan kecepatan standar, baru kali ini ia pergi lebih pagi.
Suasana kota terasa lebih adem kalau pergi sepagi ini. Belum ada kemacetan dan
jalan juga belum terlalu ramai. Biasanya langit berangkat 10 menit sebelum bel
masuk. Jingga yang duduk dibelakang nya tiba-tiba hanya terdiam. Biasanya
jingga bakalan ngajak langit ngobrol atau ngusilin langit dengan
ledekan-ledekannya. Tiba-tiba terlintas ide gila di pikiran langit. Ia
menaikkan kecepatan motornya. Sontak saja jingga ingin terjatuh dan langsung
memeluk langit. Langit tertawa, rencana nya berhasil. Hari ini gantian ia yang
mengerjai jingga. jingga masih memeluk namun tak ada suara lengkingan seperti
biasanya. Langit heran dengan perubahan sikap jingga. akhirnya langit pun
terdiam. Ia merasa bersalah telah memperlakukan jingga seperti tadi. Mungkin
saja saat ini mood jingga sedang tidak baik. Tapi karena apa ? rasanya tadi
sebelum berangkat jingga masih baik-baik saja. Bahkan sangat ramah pada langit.
Entahlah, langit benar-benar sangat bingung.
Langit
dan jingga tiba pukul 07.16 menit disekolahnya. Jingga langsung turun dari
motor langit, dan berjalan lebih dulu menuju kelas. Tanpa ucapan terimakasih,
tanpa senyum, bahkan tanpa satu katapun. Langit yang merasa perubahan sikap
jingga sangat tidak wajar segera mengejar jingga. ia menarik lengan jingga
ketika jingga hampir tiba di depan kelas mereka.
“jingga, tunggu!!, kamu kenapa sih kok tiba-tiba diam kayak gini ? marah sama aku ?”
“aku gak apa-apa” sahut jingga singkat.
“jelas kamu kenapa-kenapa, buktinya kamu kayak gini. Gak biasanya kamu kayak gini, aku ada salah ? tolong jelasin dong”.
“udah lah langit, aku lagi gak mau debat, sekarang lepasin tangan aku. Aku capek”
“tapi jingga…..”
tanpa paduli dengan langit jingga langsung saja masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Lagi-lagi seperti orang idiot. Sama seperti pertama kali ia masuk ke kelas itu. matanya menatap kosong kearah jendela. Langit merasa tak puas diperlakukan begitu. ia tak terima jika jingga marah padanya namun tanpa alasan apa pun. Akhirnya langit memberanikan diri untuk duduk disebelah jingga. tak ada reaksi apapun dari jingga.
“ga….” Sapa langit pada jingga.
“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU GA LANGIT!!!!, PANGGIL AKU JINGGA”. ujar jingga dengan nada tinggi dan tatapan sinis pada langit. Keadaanya seperti menahan amarah dan tangis. Langit tak tega melihat keadaan wanita yang ada dihadapan nya saat ini. Benar-benar sangat kacau. Ia memang baru mengenalnya selama 2 minggu. Bahkan dengan perkenalan yg tak layak disebut sebagai perkenalan. Ia tau ia pernah merasa kesal pada gadis ini. Namun di balik semua itu ada sebuah rasa yang mulai tumbuh perlahan-lahan dari tiap perlakuan gadis itu padanya. Cacian, kata-kata kasar, cemooh, ejekan, tangisan, senyumannya. Semua yang jingga perbuat pada langit membuat langit menyayanginya.
“jingga, tunggu!!, kamu kenapa sih kok tiba-tiba diam kayak gini ? marah sama aku ?”
“aku gak apa-apa” sahut jingga singkat.
“jelas kamu kenapa-kenapa, buktinya kamu kayak gini. Gak biasanya kamu kayak gini, aku ada salah ? tolong jelasin dong”.
“udah lah langit, aku lagi gak mau debat, sekarang lepasin tangan aku. Aku capek”
“tapi jingga…..”
tanpa paduli dengan langit jingga langsung saja masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Lagi-lagi seperti orang idiot. Sama seperti pertama kali ia masuk ke kelas itu. matanya menatap kosong kearah jendela. Langit merasa tak puas diperlakukan begitu. ia tak terima jika jingga marah padanya namun tanpa alasan apa pun. Akhirnya langit memberanikan diri untuk duduk disebelah jingga. tak ada reaksi apapun dari jingga.
“ga….” Sapa langit pada jingga.
“JANGAN PERNAH PANGGIL AKU GA LANGIT!!!!, PANGGIL AKU JINGGA”. ujar jingga dengan nada tinggi dan tatapan sinis pada langit. Keadaanya seperti menahan amarah dan tangis. Langit tak tega melihat keadaan wanita yang ada dihadapan nya saat ini. Benar-benar sangat kacau. Ia memang baru mengenalnya selama 2 minggu. Bahkan dengan perkenalan yg tak layak disebut sebagai perkenalan. Ia tau ia pernah merasa kesal pada gadis ini. Namun di balik semua itu ada sebuah rasa yang mulai tumbuh perlahan-lahan dari tiap perlakuan gadis itu padanya. Cacian, kata-kata kasar, cemooh, ejekan, tangisan, senyumannya. Semua yang jingga perbuat pada langit membuat langit menyayanginya.
Langit
tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin memeluk jingga saat ini juga. Tetapi setelah
langit mempertimbangkannya, langit memutuskan untuk keluar kelas dan
meninggalkan jingga sendiri. Langit berpikir mungkin jingga membutuhkan waktu
untuk sendiri. Jingga benar-benar tak habis pikir dengan sikap langit. Dia yang
menyebabkan jingga begini. Tanpa rasa bersalah ia pergi meninggalkan jingga.
benar-benar kondisi yang sulit. Mereka berdua saling berbeda pendapat dan
salah paham. Jingga membenci keadaan seperti ini, langit sudah mengangkat luka
lama kembali kepermukaan. “ga” adalah panggilan khusus dari Rachel. Dan hanya
alena dan kakaknya Rachel yang boleh menggunakan itu. langit kembali
menyebutkan kata “ga” untuk memanggil jingga. dan itu sama artinya
mengembalikan jingga ke masa lalunya. Jingga menyeka air matanya. Rasa kesalnya
sudah memuncak pada langit. ia muak dan semakin marah pada langit.
langit sendiri masih sangat merasa bersalah pada jingga. ia sebenarnya belum mengerti betul apa kesalahannya. Namun sikap jingga tadi mempertegas ada yang salah pada ucapannya. Langit menyeka keringat di dahinya. Sudah bermain basket sampai lelah pun tak bisa juga menghilangkan fokus pikirannya pada jingga. ia meremas botol bekas air mineral yang baru saja ia minum. Seolah menumpahkan semua kekesalannya pada botol bekas itu. langit tertunduk, ia ingin marah pada dirinya sendiri. Baru saja jingga mulai bersikap baik padanya. Namun ia sudah membuatnya marah kembali. Akhirnya langit bertekat membawa jingga ke tempat semalam. Mencoba meminta maaf pada jingga di tempat itu. langit tau, jingga akan lebih tenang saat berada disana.
langit sendiri masih sangat merasa bersalah pada jingga. ia sebenarnya belum mengerti betul apa kesalahannya. Namun sikap jingga tadi mempertegas ada yang salah pada ucapannya. Langit menyeka keringat di dahinya. Sudah bermain basket sampai lelah pun tak bisa juga menghilangkan fokus pikirannya pada jingga. ia meremas botol bekas air mineral yang baru saja ia minum. Seolah menumpahkan semua kekesalannya pada botol bekas itu. langit tertunduk, ia ingin marah pada dirinya sendiri. Baru saja jingga mulai bersikap baik padanya. Namun ia sudah membuatnya marah kembali. Akhirnya langit bertekat membawa jingga ke tempat semalam. Mencoba meminta maaf pada jingga di tempat itu. langit tau, jingga akan lebih tenang saat berada disana.
Bel
pulang sekolah berbunyi, langit benar-benar tak fokus pada pelajaran dari awal
hingga pelajaran terakhir. Begitu juga dengan jingga, ia sendiri ogah-ogahan
untuk mengikuti pelajaran setelah mood nya benar-benar dirusak oleh langit.
langit membereskan buku-bukunya lalu keluar lebih dulu dari pada jingga. langit
menunggu jingga di tempat biasa. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya jingga
menghampiri langit.
“gak usah anter aku pulang, aku naik taxi aja” seru jingga.
“tapi kenapa kamu masih marah sama aku ? maaf jingga aku gak tau kalau itu salah, kamu gak pernah bilang soal itu. jadi aku gak tau” seru langit sambil berusaha membenarkan dirinya.
“udah gak usah di bahas lagi, aku capek berdebat. Aku mau pulang”
“tunggu jingga” seru langit dan menarik pergelangan tangan jingga. “aku mau bawa kamu ke tempat kemarin. Setidaknya kamu bisa nenangin diri disana, kali ini kamu jangan nolak. Aku Cuma mau nenangin kamu” ujar langit.
“ya udah aku ikut kamu”. jingga dan langit pun langsung berangkat ke tempat itu. sepanjang perjalanan jingga masih tetap diam seperti tadi pagi. Setelah sampai langit langsung saja menarik tangan jingga menaiki bukit. Jingga terdiam saat lengan langit merangkulnya.
“menangislah kalau itu perlu, sekarang didepan kita ada alam bebas yang bakal dengarin kamu tanpa protes. teriak kalau kamu memang pengen teriak. Keluarin semua yang mengganjal dihati kamu” ujar langit lembut di telinga jingga. mata jingga memusat pada danau di dekat tebing itu. ia melihat ada rakit kecil disana. Sepertinya tak ada pemilik.
“langit, aku pengen naik rakit itu” seru jingga sambil menunjuk kearah danau.
“kamu yakin ? oke kita akan naik rakit kalau memang kamu pengen. Tapi maafin aku terlebih dahulu”
“masalah ini tolong dilupain sebentar ya, aku pengen naik rakit dulu. Nanti kalau udah selesai naik rakit. Aku bakal jelasin semuanya”. Sahut jingga.
langit membantu jingga menuruni bukit. Mereka berdua berjalan beriringan melewati jalan sempit di tengan pepohonan rindang menuju danau kecil itu. tangan langit tak pernah terlepas menggenggam tangan jingga. dan mereka berdua tak sadar hal itu.
“gak usah anter aku pulang, aku naik taxi aja” seru jingga.
“tapi kenapa kamu masih marah sama aku ? maaf jingga aku gak tau kalau itu salah, kamu gak pernah bilang soal itu. jadi aku gak tau” seru langit sambil berusaha membenarkan dirinya.
“udah gak usah di bahas lagi, aku capek berdebat. Aku mau pulang”
“tunggu jingga” seru langit dan menarik pergelangan tangan jingga. “aku mau bawa kamu ke tempat kemarin. Setidaknya kamu bisa nenangin diri disana, kali ini kamu jangan nolak. Aku Cuma mau nenangin kamu” ujar langit.
“ya udah aku ikut kamu”. jingga dan langit pun langsung berangkat ke tempat itu. sepanjang perjalanan jingga masih tetap diam seperti tadi pagi. Setelah sampai langit langsung saja menarik tangan jingga menaiki bukit. Jingga terdiam saat lengan langit merangkulnya.
“menangislah kalau itu perlu, sekarang didepan kita ada alam bebas yang bakal dengarin kamu tanpa protes. teriak kalau kamu memang pengen teriak. Keluarin semua yang mengganjal dihati kamu” ujar langit lembut di telinga jingga. mata jingga memusat pada danau di dekat tebing itu. ia melihat ada rakit kecil disana. Sepertinya tak ada pemilik.
“langit, aku pengen naik rakit itu” seru jingga sambil menunjuk kearah danau.
“kamu yakin ? oke kita akan naik rakit kalau memang kamu pengen. Tapi maafin aku terlebih dahulu”
“masalah ini tolong dilupain sebentar ya, aku pengen naik rakit dulu. Nanti kalau udah selesai naik rakit. Aku bakal jelasin semuanya”. Sahut jingga.
langit membantu jingga menuruni bukit. Mereka berdua berjalan beriringan melewati jalan sempit di tengan pepohonan rindang menuju danau kecil itu. tangan langit tak pernah terlepas menggenggam tangan jingga. dan mereka berdua tak sadar hal itu.
“jingga pelan-pelan, awas nanti
kamu nyebur kedanau kalau gk bisa jaga keseimbangan badan” seru langit membantu
jingga naik ke rakit.
“danau ini gak ada buaya nya kan, kalau ada aku gak jadi naik rakitnya deh” sahut jingga was-was.
“tenang ini bukan danau yang terhubung ke hulu sungai atau kemana pun. gak akan ada buaya nya. Danau ini terbentuk benar-benar dari mata air yang ada didasarnya. Makanya airnya jernih begini”.
“langit kamu yang kemudiin ya aku gak bisa, aku gak pernah naik rakit” jawab jingga polos.
“iya, lagian mana mungkin aku nyuruh kamu. aku tau tenaga kamu itu gak seberapa buat ngemudiin rakit ini. Hehehe”.
“udah deh jangan nyebelin, cepetan jalanin rakitnya”
“iya-iya bawel banget sih”
langit perlahan-lahan mendayung rakit itu ke tengah danau. Kayu panjang itu ditancapkannya kedasar danau dan mendorong rakit itu berangsur-angsur manjauhi pinggir danau. Jingga masih saja tenang, ia takut bergerak. Seolah takut jatuh dan tertelan buaya. Padahal tadi langit sudah menjelaskan bahwa disana tidak ada buaya. Langit sengaja menghentikan rakitnya ditengah danau. Saat ini ia berdiri bagian tengah rakit bersama jingga. ia menggenggam kedua tangan jingga, seolah sedang memeluk jingga dari belakang. Hal itu ia lakukan agar saat jingga kehilangan keseimbangan jingga tidak akan terjatuh.
“danau ini gak ada buaya nya kan, kalau ada aku gak jadi naik rakitnya deh” sahut jingga was-was.
“tenang ini bukan danau yang terhubung ke hulu sungai atau kemana pun. gak akan ada buaya nya. Danau ini terbentuk benar-benar dari mata air yang ada didasarnya. Makanya airnya jernih begini”.
“langit kamu yang kemudiin ya aku gak bisa, aku gak pernah naik rakit” jawab jingga polos.
“iya, lagian mana mungkin aku nyuruh kamu. aku tau tenaga kamu itu gak seberapa buat ngemudiin rakit ini. Hehehe”.
“udah deh jangan nyebelin, cepetan jalanin rakitnya”
“iya-iya bawel banget sih”
langit perlahan-lahan mendayung rakit itu ke tengah danau. Kayu panjang itu ditancapkannya kedasar danau dan mendorong rakit itu berangsur-angsur manjauhi pinggir danau. Jingga masih saja tenang, ia takut bergerak. Seolah takut jatuh dan tertelan buaya. Padahal tadi langit sudah menjelaskan bahwa disana tidak ada buaya. Langit sengaja menghentikan rakitnya ditengah danau. Saat ini ia berdiri bagian tengah rakit bersama jingga. ia menggenggam kedua tangan jingga, seolah sedang memeluk jingga dari belakang. Hal itu ia lakukan agar saat jingga kehilangan keseimbangan jingga tidak akan terjatuh.
“langit, ini tempat kok indah
banget ya. Semuanya satu paket. Ada bukitnya. Ada pohon-pohon. Ada danau juga.
Aku nyaman disini”
“hahahaha, iya aku juga nyaman disini. Ini tempat ternyaman yang pernah aku temui jingga. Yaa walaupun gak seindah tempat-tempat liburan yg terkenal, tempat ini punya daya tarik tersendiri. Dan gak terjamah siapa pun kecuali aku dan keluarga aku” sahut langit.
“aku pengen teriak, boleh aku teriak disini ?” ujar jingga pada langit.
“hahaha, kamu tuh lucu banget sih. Teriak aja. Kenapa harus minta izin sama aku ?”
“aaaaaa,kaaaaaaakk racheeeeeeeeeeeeeeelll, kakaaaaaak di manaaaaaaaaaaaaaa ?” teriakan jingga menggema di sekitar danau. Suaranya dipantulkan oleh bukit yang ada di depan mereka.
“gimana udah lega ? teriakan kamu kuat juga ya, untung tuh pohon-pohon gak tumbang. Hehehe” langit menggoda jingga dengan canda nya.
“udah, lega banget malah. Resek deh kalau itu pohon tumbang bagus dong. Kita bisa buat rakit yang lebih besar.hehehe”
“sekarang mau teriak lagi?”
“iya aku mau teriak nama langit. hehehe”
“ya udah teriak gih, aku juga mau teriak nama jingga. heheh”
“langiiittttttttttttt” teriak jingga kembali menggema.
“jinggaaaaaaaaaaaa” balas langit ikut berteriak.
keduanya lalu tertawa lepas, seakan sebuah beban terlepas dari diri masing-masing. Jingga meminta langit untuk kembali ke bukit. ia ingin menjelaskan masalah yang sudah membuatnya uring-uringan pada langit satu harian ini. Langit pun menuruti keinginan wanita yang sudah hampir mengisi penuh hatinya itu. langit membawa rakit itu ke pinggir danau lalu kembali naik ke bukit. setibanya dibukit langit mengajak jingga untuk naik kerumah pohon. Karena dari atas sana langit dan jingga akan lebih leluasa untuk melihat pemandangan indah disekeliling bukit itu.
“naik duluan gih” langit menwarkan jingga untuk naik terlebih dahulu.
jingga menggelengkan kepalanya “ gak mau ahh, bolot deh, ntar enakan dikamu dong bisa ngintip dari bawah”
langit tertawa “iya aku lupa, maaf. Kalau gitu aku duluan yang naik. Tapi nanti kamu bisa naik kan ?” Tanya langit khawatir.
“bisa, kamu tenang aja. Kalau manjat ginian doang mah kecil”
“sombong!!” seru langit mencubit pipi jingga lembut.
keduanya sudah berada dirumah pohon duduk sangat dekat dan saling menatap dengan pemandangan dihadapan mereka. Keduanya masih terdiam. Seolah tersihir dengan apa yang di suguhkan oleh tempat itu. jika dilihat keduanya memang serasi. Yang satu tinggi yang satu lagi sedikit lebih pendek. Yang satunya putih yang satunya hitam manis. Yang satu matanya berwarna hitam gelap. Dan yang satunya coklat bening. Terlihat saling melengkapi.
“hahahaha, iya aku juga nyaman disini. Ini tempat ternyaman yang pernah aku temui jingga. Yaa walaupun gak seindah tempat-tempat liburan yg terkenal, tempat ini punya daya tarik tersendiri. Dan gak terjamah siapa pun kecuali aku dan keluarga aku” sahut langit.
“aku pengen teriak, boleh aku teriak disini ?” ujar jingga pada langit.
“hahaha, kamu tuh lucu banget sih. Teriak aja. Kenapa harus minta izin sama aku ?”
“aaaaaa,kaaaaaaakk racheeeeeeeeeeeeeeelll, kakaaaaaak di manaaaaaaaaaaaaaa ?” teriakan jingga menggema di sekitar danau. Suaranya dipantulkan oleh bukit yang ada di depan mereka.
“gimana udah lega ? teriakan kamu kuat juga ya, untung tuh pohon-pohon gak tumbang. Hehehe” langit menggoda jingga dengan canda nya.
“udah, lega banget malah. Resek deh kalau itu pohon tumbang bagus dong. Kita bisa buat rakit yang lebih besar.hehehe”
“sekarang mau teriak lagi?”
“iya aku mau teriak nama langit. hehehe”
“ya udah teriak gih, aku juga mau teriak nama jingga. heheh”
“langiiittttttttttttt” teriak jingga kembali menggema.
“jinggaaaaaaaaaaaa” balas langit ikut berteriak.
keduanya lalu tertawa lepas, seakan sebuah beban terlepas dari diri masing-masing. Jingga meminta langit untuk kembali ke bukit. ia ingin menjelaskan masalah yang sudah membuatnya uring-uringan pada langit satu harian ini. Langit pun menuruti keinginan wanita yang sudah hampir mengisi penuh hatinya itu. langit membawa rakit itu ke pinggir danau lalu kembali naik ke bukit. setibanya dibukit langit mengajak jingga untuk naik kerumah pohon. Karena dari atas sana langit dan jingga akan lebih leluasa untuk melihat pemandangan indah disekeliling bukit itu.
“naik duluan gih” langit menwarkan jingga untuk naik terlebih dahulu.
jingga menggelengkan kepalanya “ gak mau ahh, bolot deh, ntar enakan dikamu dong bisa ngintip dari bawah”
langit tertawa “iya aku lupa, maaf. Kalau gitu aku duluan yang naik. Tapi nanti kamu bisa naik kan ?” Tanya langit khawatir.
“bisa, kamu tenang aja. Kalau manjat ginian doang mah kecil”
“sombong!!” seru langit mencubit pipi jingga lembut.
keduanya sudah berada dirumah pohon duduk sangat dekat dan saling menatap dengan pemandangan dihadapan mereka. Keduanya masih terdiam. Seolah tersihir dengan apa yang di suguhkan oleh tempat itu. jika dilihat keduanya memang serasi. Yang satu tinggi yang satu lagi sedikit lebih pendek. Yang satunya putih yang satunya hitam manis. Yang satu matanya berwarna hitam gelap. Dan yang satunya coklat bening. Terlihat saling melengkapi.
Jingga pun mengawali pembicaraan
“langit, apa menurutmu aku ini bodoh ?”.
langit menatapnya matanya “tidak, kamu gak terlihat seperti orang bodoh” jawab langit.
“tapi aku merasa aku terlihat bodoh, dengan diam dan gak mau membuka diri aku sendiri buat orang lain yang ingin berteman sama aku”.
langit meraih jemari jingga dan meremasnya dengan lembut “aku tau kamu punya alasan untuk itu jingga, jadi sekarang aku mau kamu terbuka sama aku. Aku janji aku bisa di percaya”
“awalnya aku gak percaya ada kasih sayang saat aku dilahirkan, aku ini sebuah kesalahan langit. orang tua ku awalnya tak menginginkan aku. Mereka menginginkan bayi laki-laki. Namun setelah kelahiran ku, Rachel yang hanya beda 2 tahun usianya denganku sangat menyayangi aku. Ia salah satu alasan mengapa mama mempertahankan ku. Aku tumbuh dan besar bersama dengan Rachel. Mama mulai menyayangiku ketika aku berumur 5 tahun. Meskipun aku ngerasa kasih sayang buat Rachel beda banget sama kasih sayang buat aku tapi aku tetap bersyukur. rachel ibarat malaikat buat aku. Dia yang ada saat aku benar-benar butuh seseorang. Kasih sayang dia itu bener-bener tulus. Dan aku ngerasa dia kakak paling perfect di dunia ini”. Jingga menjelaskan semuanya pada langit air matanya tumpah seketika. Langit berusaha menenangkannya, ia memeluk jingga dan mengusap rambutnya. Saat ini gadisnya benar-benar kembali ke luka masa lalu ia sendiri tak akan mampu jika harus menjadi diri jingga yang bahkan tak pernah diharapkan hadir didunia ini.
“nangis sepuasnya jingga, tumpahin semuanya, aku disini dan aku janji gak akan pergi”.
jingga masi terlarut dalam tangisnya. Setelah merasa cukup tenang ia melanjutkan ceritanya kembali.
“dan yang paling parah, aku dan Rachel pernah bolos sekolah. Dan pulang kesorean. Sampai dirumah mama marah besar sama aku. Mama mukulin aku dan bilang kalau aku ini memang gak pantas buat dilahirkan. Mama sedikit pun gak marah sama Rachel. Rachel berusaha ngebela aku didepan mama. Tapi percuma mama udah benar-benar murka sama aku. Setelah pukulan mama berhenti aku masuk kamar. Rachel datang dan meluk aku, dia yang ngobatin luka-luka aku. Disana aku ngerasa Rachel itu bukan Cuma sekedar kakak tapi juga ibu. Rachel itu pembawaannya dewasa. Banyak banget yang dia ajarin ke aku tentang arti kehidupan ini. Mungkin semenjak mama mukulin aku waktu itu mama sadar kalau aku ini juga anaknya. Maka mama pun mulai mencoba menyamakan aku dengan Rachel. Aku gak sedikitpun respect sama perubahan mama. Bagi aku Cuma Rachel yang benar-benar tulus. Cuma janji Rachel yang benar-benar nyata. Aku hidup di atas harapan yang aku tumpukan pada Rachel. Aku juga pernah sakit parah. kedua ginjal aku gak bisa berfungsi sempurna Dan itu membuat aku harus rutin cek up dan cuci darah dengan bantuan alat medis. Rachel lagi-lagi jadi malaikat buat aku. Mama dan papa ku udah berusaha buat cegah dia donorin ginjalnya untuk aku. Tapi Rachel memang kakak yang sempurna. Kakak yang gak rela kehilangan dan ngeliat adiknya terluka dan kesakitan. dia tetap nekat buat donorin salah satu ginjalnya untuk ku. Dia orang yang udah nyelamatin nyawa aku. Saat ini hidup aku seakan bagian dari hidup dia. Sampai akhirnya Rachel sakit dan 3 minggu yang lalu ia pergi ninggalin aku. Aku benar-benar kecewa, tertekan, benar-benar terluka saat seorang kakak yang udah kasih aku kehidupan pergi buat selamanya. Saat itu aku sadar hidup ini hanya pemberian. Dan aku begini karena protesku terhadap kepergian Rachel. Aku gak berani buat percaya sama orang lain. Aku gak mau komunikasi sama orang lain. Aku benar-benar nutup kehidupan aku sendiri. Dan aku sadar aku bodoh udah ngelakuin hal itu. aku begini karena aku takut sebuah harapan dihancurkan oleh rasa kecewa. Aku takut kehilangan kembali”.
jingga tak lagi menangis ketika harus mengingat kembali masa lalu nya. Ia sudah merasa lebih kuat. Ia merasa langit memberikan kekuatan lewat pelukannya. Ia hanya tersenyum getir ketika bayang-bayang Rachel melintas dipikirannya. Dan kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Langit mendengarkannya dengan antusias.
“dan kamu tau langit, aku marah karena kamu manggil aku “ga”. Mungkin aku tau ini konyol tapi panggilan itu hanya digunakan oleh Rachel dan alena. Aku Cuma gak mau kembali ke masa lalu. Aku memang benar-benar ingin mengubur semua masa lalu itu. aku gak mau ada cinta dari masa lalu yang akan nyakitin aku saat ini. Aku gak mau cinta masa lalu kembali melukai kehidupan baru ku”.
langit menatapnya matanya “tidak, kamu gak terlihat seperti orang bodoh” jawab langit.
“tapi aku merasa aku terlihat bodoh, dengan diam dan gak mau membuka diri aku sendiri buat orang lain yang ingin berteman sama aku”.
langit meraih jemari jingga dan meremasnya dengan lembut “aku tau kamu punya alasan untuk itu jingga, jadi sekarang aku mau kamu terbuka sama aku. Aku janji aku bisa di percaya”
“awalnya aku gak percaya ada kasih sayang saat aku dilahirkan, aku ini sebuah kesalahan langit. orang tua ku awalnya tak menginginkan aku. Mereka menginginkan bayi laki-laki. Namun setelah kelahiran ku, Rachel yang hanya beda 2 tahun usianya denganku sangat menyayangi aku. Ia salah satu alasan mengapa mama mempertahankan ku. Aku tumbuh dan besar bersama dengan Rachel. Mama mulai menyayangiku ketika aku berumur 5 tahun. Meskipun aku ngerasa kasih sayang buat Rachel beda banget sama kasih sayang buat aku tapi aku tetap bersyukur. rachel ibarat malaikat buat aku. Dia yang ada saat aku benar-benar butuh seseorang. Kasih sayang dia itu bener-bener tulus. Dan aku ngerasa dia kakak paling perfect di dunia ini”. Jingga menjelaskan semuanya pada langit air matanya tumpah seketika. Langit berusaha menenangkannya, ia memeluk jingga dan mengusap rambutnya. Saat ini gadisnya benar-benar kembali ke luka masa lalu ia sendiri tak akan mampu jika harus menjadi diri jingga yang bahkan tak pernah diharapkan hadir didunia ini.
“nangis sepuasnya jingga, tumpahin semuanya, aku disini dan aku janji gak akan pergi”.
jingga masi terlarut dalam tangisnya. Setelah merasa cukup tenang ia melanjutkan ceritanya kembali.
“dan yang paling parah, aku dan Rachel pernah bolos sekolah. Dan pulang kesorean. Sampai dirumah mama marah besar sama aku. Mama mukulin aku dan bilang kalau aku ini memang gak pantas buat dilahirkan. Mama sedikit pun gak marah sama Rachel. Rachel berusaha ngebela aku didepan mama. Tapi percuma mama udah benar-benar murka sama aku. Setelah pukulan mama berhenti aku masuk kamar. Rachel datang dan meluk aku, dia yang ngobatin luka-luka aku. Disana aku ngerasa Rachel itu bukan Cuma sekedar kakak tapi juga ibu. Rachel itu pembawaannya dewasa. Banyak banget yang dia ajarin ke aku tentang arti kehidupan ini. Mungkin semenjak mama mukulin aku waktu itu mama sadar kalau aku ini juga anaknya. Maka mama pun mulai mencoba menyamakan aku dengan Rachel. Aku gak sedikitpun respect sama perubahan mama. Bagi aku Cuma Rachel yang benar-benar tulus. Cuma janji Rachel yang benar-benar nyata. Aku hidup di atas harapan yang aku tumpukan pada Rachel. Aku juga pernah sakit parah. kedua ginjal aku gak bisa berfungsi sempurna Dan itu membuat aku harus rutin cek up dan cuci darah dengan bantuan alat medis. Rachel lagi-lagi jadi malaikat buat aku. Mama dan papa ku udah berusaha buat cegah dia donorin ginjalnya untuk aku. Tapi Rachel memang kakak yang sempurna. Kakak yang gak rela kehilangan dan ngeliat adiknya terluka dan kesakitan. dia tetap nekat buat donorin salah satu ginjalnya untuk ku. Dia orang yang udah nyelamatin nyawa aku. Saat ini hidup aku seakan bagian dari hidup dia. Sampai akhirnya Rachel sakit dan 3 minggu yang lalu ia pergi ninggalin aku. Aku benar-benar kecewa, tertekan, benar-benar terluka saat seorang kakak yang udah kasih aku kehidupan pergi buat selamanya. Saat itu aku sadar hidup ini hanya pemberian. Dan aku begini karena protesku terhadap kepergian Rachel. Aku gak berani buat percaya sama orang lain. Aku gak mau komunikasi sama orang lain. Aku benar-benar nutup kehidupan aku sendiri. Dan aku sadar aku bodoh udah ngelakuin hal itu. aku begini karena aku takut sebuah harapan dihancurkan oleh rasa kecewa. Aku takut kehilangan kembali”.
jingga tak lagi menangis ketika harus mengingat kembali masa lalu nya. Ia sudah merasa lebih kuat. Ia merasa langit memberikan kekuatan lewat pelukannya. Ia hanya tersenyum getir ketika bayang-bayang Rachel melintas dipikirannya. Dan kemudian melanjutkan lagi ceritanya. Langit mendengarkannya dengan antusias.
“dan kamu tau langit, aku marah karena kamu manggil aku “ga”. Mungkin aku tau ini konyol tapi panggilan itu hanya digunakan oleh Rachel dan alena. Aku Cuma gak mau kembali ke masa lalu. Aku memang benar-benar ingin mengubur semua masa lalu itu. aku gak mau ada cinta dari masa lalu yang akan nyakitin aku saat ini. Aku gak mau cinta masa lalu kembali melukai kehidupan baru ku”.
Langit
tersenyum pada jingga dan mengusap lembut kedua pipi jingga. “jingga, gak semua masa lalu itu harus
dilupakan. Dan gak semua masa lalu itu harus dikubur dalam-dalam. Akan lebih
indah kalau kamu bisa hidup berdampingan dengan masa lalu kamu. coba belajar
menerima semuanya dan aku yakin masa lalu itu pasti jadi lebih indah. Aku tau
kamu pernah terluka, tapi mau sampai kapan kamu nutup diri kamu sendiri ?.
semua yang ada di dunia ini suatu saat nanti memang harus diambil oleh tuhan. Dan
kamu tau ketika tuhan mengambil seseorang itu suatu hari nanti dia pasti
menggantinya dengan mempertemukan kamu dengan seseorang yang baru. Percaya sama
diri kamu sendiri. Kamu bisa keluar dari luka ini. Cuma kamu yang bisa ngerubah
luka kamu jadi sebuah kebahagiaan”.
kata-kata langit seolah obat yang perlahan-lahan mengobati luka yang sangat dalam di hati jingga. setelah beberapa minggu mengenal langit dan setelah beberapa hari lebih dekat dengan langit, jingga merasa ada sesuatu pada diri langit yang membuatnya merasa nyaman ketika berada di dekat langit. dari tiap kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut langit seolah mentransfer kekuatan baru untuk jingga. zona nyaman sudah terbentuk di antara mereka berdua. Mereka saling menyayangi namun masih ragu untuk saling mengungkapkan. Keduanya hanya mampu menyimpan sampai tiba waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan.
kata-kata langit seolah obat yang perlahan-lahan mengobati luka yang sangat dalam di hati jingga. setelah beberapa minggu mengenal langit dan setelah beberapa hari lebih dekat dengan langit, jingga merasa ada sesuatu pada diri langit yang membuatnya merasa nyaman ketika berada di dekat langit. dari tiap kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut langit seolah mentransfer kekuatan baru untuk jingga. zona nyaman sudah terbentuk di antara mereka berdua. Mereka saling menyayangi namun masih ragu untuk saling mengungkapkan. Keduanya hanya mampu menyimpan sampai tiba waktu yang tepat untuk saling mengungkapkan.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar