Tempat
itu masih sama seperti 3 minggu yang lalu. Jingga berjalan menyusuri jalan
setapak. Ada beberapa makan baru yang masih merah disekitar makam Rachel.
Sedangkan makam Rachel sendiri sudah ditumbuhi beberapa rumput liar. Jingga
langsung berlutut menghadap makan itu. mengusap nisan nya dan mulai sedikit
meneteskan air matanya. Setelah 3 minggu kepergian Rachel baru hari ini jingga
berani lagi datang kemakam Rachel. Si iblis yang mengikut dari belakang jingga
terheran-heran melihat jingga yang biasanya sangat ketus, cuek, dan super
emosional itu bisa menangis dan mellow seperti itu. sang iblis menyadari
hatinya bergetar melihat jingga dalam keadaan seperti itu, ada rasa kasihan dan
rasa ingin menenangkan jingga. Namun si iblis merasa itu tak perlu ia lakukan.
Ia ingin jingga meluapkan semua emosinya dalam tangis. Sang iblis ingin beban
bathin yang dirasakan jingga mampu berkurang setelah ia menangis. Jingga tak
kuasa menahan tangis yang tercekat di tenggorokannya. Ia ingin berteriak namun
ia malu pada dirinya sendiri. Selemah itukah dia hingga tidak bisa merelakan
sosok yang sudah pergi. Tangannya bergetar mengeluarkan bungkusan plastik dari
dalam tasnya. Sebelum ia sampai dipemakaman tadi ia sempat membeli bunga tabur.
Dengan perlahan ia taburkan bunga-bunga itu ke atas makam Rachel.
“kak, ini aku jingga, Maaf aku baru bisa jenguk kakak. Kakak baik-baik aja kan ?” gumam jingga terisak. Ia masih saja mengusap nisan Rachel. Seakan berharap nisan itu menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut mungil jingga.
Tak terasa sudah 1 jam lebih jingga ada di pemakaman itu. hingga akhirnya ia lelah dan memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman itu. ketika melihat sekelilingnya jingga baru sadar si iblis ada disana. Ia lupa kalau tadi ia berangkat kepemakaman bersama si iblis. jingga kasihan juga melihat si iblis yang kelelahan atau mungkin bosan menunggunya. Perlahan-lahan jingga mendekati si iblis yang sedang tidur bersandar dibawah sebuah pohon rindang disekitar makam Rachel. Timbul rencana usil dipikirannya. Ia mengambil air mineral dari tas nya lalu membasahi sedikit tangannya. Kemudian ini mencipratkan tetesan air itu kemuka si iblis. sontak si iblis bangun dan berteriak “hujan,hujan,hujan” jingga tertawa melihat rencana nya berhasil. Wajah nya yang sembab ketika tertawa sehabis menangis terlihat lebih lucu. Muka si iblis langsung merah karena murka pada jingga. Jingga baru bersiap-siap ingin lari namun sebuah tangan sudah menarik lengannya. Jingga masih saja tertawa.
“eehhh, kamu itu kok usil banget sih. Gak bisa apa ngeliat orang senang ?” guman si iblis kesal.
“hahaha, kamu tu aneh tidur di kuburan kok jadi kesenangan. Dasar idiot” balas jingga meledek si iblis.
“oke,oke aku aneh. Ngalah deh. jadi udah selesai ni ? mau kemana lagi ?” Tanya sang iblis.
“terserah kamu deh, tapi jangan langsung pulang ya, aku males dirumah, kita jalan-jalan aja dulu”
“oke, aku tau tempat yang paling nyaman buat orang yang pengen nenangin pikiran” seru si iblis.
“tumben pinter, ya udah buruan jalan. Ngapain lama-lama disini” balas jingga sambil bejalan lebih dulu meninggalkan si iblis yang masih mengumpulkan nyawa. Setelah merasa cukup sadar si iblis pun mengikuti jingga dari belakang. Akhirnya mereka meninggalkan pemakaman dan pergi ke tempat yang di janjikan oleh si iblis.
tempat itu sedikit mendaki seperti bukit sepanjang jalan menuju kesana di penuhi dengan ilalang. Pikiran negatif jingga kembali muncul.
“eehh, ngapain bawa aku ke tempat beginian ? mau macem-macem sama aku ya ?” ujar jingga ketus.
“heh, kamu itu bisa gak sih mikir itu yang positif sedikit ? aku kan udah janji mau bawa kamu ke tempat yang tenang, yaa ini tempat nya. Tenang aja deh aku gak nafsu kok buat macam-macam sama kamu”.
“ini tempat apaan sih, aku baru tau ada tempat beginian. Awas aja kalau kamu macem-macem sama aku”
“udah deh bawel, mending kunci deh tuh mulut. Jalan aja. Ntar juga tau tempatnya gimana”.
“kak, ini aku jingga, Maaf aku baru bisa jenguk kakak. Kakak baik-baik aja kan ?” gumam jingga terisak. Ia masih saja mengusap nisan Rachel. Seakan berharap nisan itu menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut mungil jingga.
Tak terasa sudah 1 jam lebih jingga ada di pemakaman itu. hingga akhirnya ia lelah dan memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman itu. ketika melihat sekelilingnya jingga baru sadar si iblis ada disana. Ia lupa kalau tadi ia berangkat kepemakaman bersama si iblis. jingga kasihan juga melihat si iblis yang kelelahan atau mungkin bosan menunggunya. Perlahan-lahan jingga mendekati si iblis yang sedang tidur bersandar dibawah sebuah pohon rindang disekitar makam Rachel. Timbul rencana usil dipikirannya. Ia mengambil air mineral dari tas nya lalu membasahi sedikit tangannya. Kemudian ini mencipratkan tetesan air itu kemuka si iblis. sontak si iblis bangun dan berteriak “hujan,hujan,hujan” jingga tertawa melihat rencana nya berhasil. Wajah nya yang sembab ketika tertawa sehabis menangis terlihat lebih lucu. Muka si iblis langsung merah karena murka pada jingga. Jingga baru bersiap-siap ingin lari namun sebuah tangan sudah menarik lengannya. Jingga masih saja tertawa.
“eehhh, kamu itu kok usil banget sih. Gak bisa apa ngeliat orang senang ?” guman si iblis kesal.
“hahaha, kamu tu aneh tidur di kuburan kok jadi kesenangan. Dasar idiot” balas jingga meledek si iblis.
“oke,oke aku aneh. Ngalah deh. jadi udah selesai ni ? mau kemana lagi ?” Tanya sang iblis.
“terserah kamu deh, tapi jangan langsung pulang ya, aku males dirumah, kita jalan-jalan aja dulu”
“oke, aku tau tempat yang paling nyaman buat orang yang pengen nenangin pikiran” seru si iblis.
“tumben pinter, ya udah buruan jalan. Ngapain lama-lama disini” balas jingga sambil bejalan lebih dulu meninggalkan si iblis yang masih mengumpulkan nyawa. Setelah merasa cukup sadar si iblis pun mengikuti jingga dari belakang. Akhirnya mereka meninggalkan pemakaman dan pergi ke tempat yang di janjikan oleh si iblis.
tempat itu sedikit mendaki seperti bukit sepanjang jalan menuju kesana di penuhi dengan ilalang. Pikiran negatif jingga kembali muncul.
“eehh, ngapain bawa aku ke tempat beginian ? mau macem-macem sama aku ya ?” ujar jingga ketus.
“heh, kamu itu bisa gak sih mikir itu yang positif sedikit ? aku kan udah janji mau bawa kamu ke tempat yang tenang, yaa ini tempat nya. Tenang aja deh aku gak nafsu kok buat macam-macam sama kamu”.
“ini tempat apaan sih, aku baru tau ada tempat beginian. Awas aja kalau kamu macem-macem sama aku”
“udah deh bawel, mending kunci deh tuh mulut. Jalan aja. Ntar juga tau tempatnya gimana”.
Setelah
sampai di puncak tempat tersebut barulah jingga menyadari bahwa tempat itu
benar-benar indah. Didepan nya terhampar jelas pohon-pohon dan tanaman-tanaman
liar lainnya. Ia merasa bisa menyentuh langit dari tempat itu. di antara bukit
dan pohon-pohon di seberang ada sebuah genangan air seperti danau namun ukuran
nya lebih kecil dari pada danau. Air nya sangat jernih. Jingga merasa dirinya
menyatu dengan alam. Tempat ini benar-benar menenangkan, si iblis benar, ia
memang menyukai tempat ini. Di tempat jingga dan si iblis berdiri terdapat
pohon rindang yang besar dan diatasnya terdapat pula rumah pohon. Jingga suka
rumah pohon. Dari kecil ia selalu minta dibuatkan rumah pohon namun orang
tuanya tak pernah membuat rumah pohon untuk jingga.
Jingga
memejamkan matanya, menghirup udara sejuk itu dalam-dalam. Lalu menghembuskannya
perlahan. Ia seolah sedang mencuci udara kotor yang ada di paru-parunya. Saat jingga
membuka matanya si iblis sudah kembali tertidur di atas rumput-rumput yang
lembut itu. jingga kesal, biar bagaimana pun ia tak ingin menikmati tempat ini
sendiri. Lalu ia mencoba mengusik tidur siiblis. Jingga memotong sedikit batang
rumput lalu menggelitik daun telinga si iblis. si iblis yang kegelian akhirnya
menyerah dan bangun. Ia kesal tidurnya selalu saja diganggu oleh jingga.
“kamu itu suka banget sih ganggu kesenangan orang, baru aja mau mimpi indah. Udah di gangguin” cerocos si iblis.
“heheheh, masa aku harus bengong sendiri, temenin cerita dong”
“oke-oke aku bangun nih. Melek nih. Dasar pengganggu”.
si iblis pun memutuskan bangun dan duduk bersandar di dekat pohon. Jingga pun mengikuti si iblis dan duduk bersandar juga disebelah si iblis. jingga merasa ada sesuatu yang berbeda saat di bersama si iblis. sangat jauh berbeda ketika ia berkomunikasi dengan chiara atau siapapun. Sang iblis seolah mampu membuat mulut jingga lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Ada kehangatan yang menyelimuti jingga saat berdebat dengan si iblis. itu yang membuat jingga tak ingin menghentikan perdebatan diantara mereka.
“iblis, sampai sekarang aku belum tau nama kamu” seru jingga memulai lagi percakapan yang sempat terhenti.
“astaga, kamu gak tau aku ? bolot banget sih ? aku heran deh kamu begok atu kuper ?”
“yee, santai aja dong mulut nya, gak usah ngatain juga kale. Kan bagi aku kamu gak penting”
“oooh jadi sekarang udah penting dong, kan kamu udah mau nanya nama aku” sahut si iblis antusias.
“gak usah GR deh, kalau gak mau ngasih tau juga gak apa-apa, tapi kamu harus terima dengan lapang dada di panggil iblis”
“gabriel langit witama “ seru si iblis sambil menyodorkan tangan kanan nya.
“jingga dwi adinta” menjabat tangan kanan si iblis. kemudian tawa keduanya pecah. Mereka seperti orang yang baru bertemu. Padahal sudah 2 minggu saling bertengkar mulut.
“jadi aku panggil kamu jingga, dan panggil aku langit” sahut si iblis.
“oke sekarang iblis berubah jadi langit, hahahaha”
“dasar, untung aku gak sejahat itu sampai merubah namamu”
“maaf, ternyata nama kamu bagus juga Gabriel langit witama. Setau aku Gabriel itu malaikat pembawa kabar sukacita jadi apa arti nama kamu ?”
“artinya, malaikat pembawa kabar bahagia dari langit” langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak. Jingga sampai sakit perut dengan lelucon yang mereka buat sendiri.
“kamu itu suka banget sih ganggu kesenangan orang, baru aja mau mimpi indah. Udah di gangguin” cerocos si iblis.
“heheheh, masa aku harus bengong sendiri, temenin cerita dong”
“oke-oke aku bangun nih. Melek nih. Dasar pengganggu”.
si iblis pun memutuskan bangun dan duduk bersandar di dekat pohon. Jingga pun mengikuti si iblis dan duduk bersandar juga disebelah si iblis. jingga merasa ada sesuatu yang berbeda saat di bersama si iblis. sangat jauh berbeda ketika ia berkomunikasi dengan chiara atau siapapun. Sang iblis seolah mampu membuat mulut jingga lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Ada kehangatan yang menyelimuti jingga saat berdebat dengan si iblis. itu yang membuat jingga tak ingin menghentikan perdebatan diantara mereka.
“iblis, sampai sekarang aku belum tau nama kamu” seru jingga memulai lagi percakapan yang sempat terhenti.
“astaga, kamu gak tau aku ? bolot banget sih ? aku heran deh kamu begok atu kuper ?”
“yee, santai aja dong mulut nya, gak usah ngatain juga kale. Kan bagi aku kamu gak penting”
“oooh jadi sekarang udah penting dong, kan kamu udah mau nanya nama aku” sahut si iblis antusias.
“gak usah GR deh, kalau gak mau ngasih tau juga gak apa-apa, tapi kamu harus terima dengan lapang dada di panggil iblis”
“gabriel langit witama “ seru si iblis sambil menyodorkan tangan kanan nya.
“jingga dwi adinta” menjabat tangan kanan si iblis. kemudian tawa keduanya pecah. Mereka seperti orang yang baru bertemu. Padahal sudah 2 minggu saling bertengkar mulut.
“jadi aku panggil kamu jingga, dan panggil aku langit” sahut si iblis.
“oke sekarang iblis berubah jadi langit, hahahaha”
“dasar, untung aku gak sejahat itu sampai merubah namamu”
“maaf, ternyata nama kamu bagus juga Gabriel langit witama. Setau aku Gabriel itu malaikat pembawa kabar sukacita jadi apa arti nama kamu ?”
“artinya, malaikat pembawa kabar bahagia dari langit” langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak. Jingga sampai sakit perut dengan lelucon yang mereka buat sendiri.
Tak
terasa hari sudah semakin sore. langit mencoba membujuk jingga untuk pulang. Namun
jingga menolak ia ingin melihat sunset dari bukit itu. ia ingin menikmati
detik-detik matahari meninggalkan bumi. Langit terpaksa menurutinya, sebelum sebuah
teriakan-teriakan yang memekakkan telinga mendarat tepat di rumah siput
telinganya dan mengoyak gendang telinganya. Setelah matahari benar-benar pergi
meninggalkan bumi dan bersembunyi di balik langit gelap, barulah jingga
memutuskan untuk pulang. Jingga membutuhkan petunjuk jalan, reflek ia
menggenggam tangan langit, ia sebenarnya takut gelap. Namun, jika tadi ia
memutuskan untuk pulang saat hari masih terang, maka ia pasti akan melewatkan
moment-moment indah itu. setelah mereka sampai di tempat langit memarkirkan
motornya. Langsung saja jingga memakai helm yang disodorkan oleh langit lalu
kembali duduk manis dibelakang langit. Langit memacu motornya dengan kecepatan
yang cukup tinggi, membuat jingga ketakutan. jingga memukul pundak langit dan
mencubit lengannya. Ia hampir saja jatuh saat tiba-tiba langit ngerem mendadak.
“langit, kamu mau buat aku mati jantungan ?”
“kenapa sih jingga, kan biar cepat sampai rumah kamu”
“iya tapi gak gini juga, aku mati ketakutan dibelakang. Santai aja kan bisa”
“ok, maafkan kacung mu ini ya tuan putri”. Akhirnya langit melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah jingga. ia memelankan laju motornya sekarang. Rumah bercat abu-abu putih sudah terlihat didepan mata. Jingga turun dari kursi penumpang dan menyerahkan helmnya pada langit.
“thanks banget ya ngit, gak mau masuk dulu ?” Tanya jingga.
“gak usah deh, lain kali aja. Lagian udah malam juga”.
“oh ya udah. Oh iya besok bisa jemput aku lagi gak. Hehehe. Aku males pergi bareng mama”
“hmm, bisa kok mau dijemput jam berapa ?”
“jam 7.00 ya, abisnya kalau lewat dari jam 7.00 jalanan macet”
“oke deh, sampai besok ya jingga. aku pulang dulu”. Langit pun berlalu, jingga masih menunggu di depan pagar rumahnya, tersenyum mengingat kejadian hari ini. Setelah langi benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya barulah ia masuk kerumahnya.
“langit, kamu mau buat aku mati jantungan ?”
“kenapa sih jingga, kan biar cepat sampai rumah kamu”
“iya tapi gak gini juga, aku mati ketakutan dibelakang. Santai aja kan bisa”
“ok, maafkan kacung mu ini ya tuan putri”. Akhirnya langit melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah jingga. ia memelankan laju motornya sekarang. Rumah bercat abu-abu putih sudah terlihat didepan mata. Jingga turun dari kursi penumpang dan menyerahkan helmnya pada langit.
“thanks banget ya ngit, gak mau masuk dulu ?” Tanya jingga.
“gak usah deh, lain kali aja. Lagian udah malam juga”.
“oh ya udah. Oh iya besok bisa jemput aku lagi gak. Hehehe. Aku males pergi bareng mama”
“hmm, bisa kok mau dijemput jam berapa ?”
“jam 7.00 ya, abisnya kalau lewat dari jam 7.00 jalanan macet”
“oke deh, sampai besok ya jingga. aku pulang dulu”. Langit pun berlalu, jingga masih menunggu di depan pagar rumahnya, tersenyum mengingat kejadian hari ini. Setelah langi benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya barulah ia masuk kerumahnya.
Jingga
masih merasakan sisa-sisa kenyamanan yang tadi telah ia raih. Bukan tempat itu
yang membuatnya merasa nyaman. Tetapi kebersamaan yang tercipta saat tawa dan
perdebatannya bersama langit menjadi hal-hal baru yang menghiasi dunianya. Jingga
merasa pondasi nya yang runtuh perlahan-lahan dibangun kembali. Saat ini ada
sosok seorang langit yang mulai mengisi kekosongan dalam hatinya. Yang dulu
hanya diisi oleh kasih sayang dari Rachel. Seketika itu pula ia teringat pesan
terakhir Rachel padanya. “bahwa ketika
tuhan mengambil kepunyaan mu di dunia ini, maka yakin lah ia akan menggantinya
dengan kepunyaan baru”. Mungkinkah maksud Rachel itu ketika Rachel di ambil
oleh tuhan dan tuhan saat ini menggantinya dengan kehadiran langit. Entahlah hanya
tuhan yang tau, jingga membiarkan semuanya berjalan sesuai urutan yang tuhan
mau. Ia merasa tak layak mengatur rencana sesuai egonya. Biar bagaimana pun
kehidupan ini adalah pemberian tuhan. Tak ada seorang pun yang tau jalan apa
yang telah tuhan tentukan bagi kehidupannya.
Setelah
merenung jingga memutuskan mandi lalu makan malam. Sebelum tidur ia sempat
menulis beberapa kalimat dalam notes kecilnya. “aku ingin kau seperti matahari, meskipun kau harus pergi
meninggalkanku, namun kau tak akan lupa bersinar lagi pada esok harinya. Aku ingin
kau seperti bintang. Yang menerangiku ketika saat-saat tergelap datang
menyelimutiku.semua keindahan itu ada padamu. ~langit”. Jingga membaca
tulisannya sekali lagi, ia tersenyum lalu memandang kearah langit. Setelah puas
memandang langit yang penuh bintang malam itu, maka jingga pun memutuskan untuk
istirahat. Esok pagi langit akan menjemputnya tepat pukul 7.00 dan ia harus
bangun lebih pagi.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar