Jumat, 08 Februari 2013

Langit untuk Jingga #3


                Tempat itu masih sama seperti 3 minggu yang lalu. Jingga berjalan menyusuri jalan setapak. Ada beberapa makan baru yang masih merah disekitar makam Rachel. Sedangkan makam Rachel sendiri sudah ditumbuhi beberapa rumput liar. Jingga langsung berlutut menghadap makan itu. mengusap nisan nya dan mulai sedikit meneteskan air matanya. Setelah 3 minggu kepergian Rachel baru hari ini jingga berani lagi datang kemakam Rachel. Si iblis yang mengikut dari belakang jingga terheran-heran melihat jingga yang biasanya sangat ketus, cuek, dan super emosional itu bisa menangis dan mellow seperti itu. sang iblis menyadari hatinya bergetar melihat jingga dalam keadaan seperti itu, ada rasa kasihan dan rasa ingin menenangkan jingga. Namun si iblis merasa itu tak perlu ia lakukan. Ia ingin jingga meluapkan semua emosinya dalam tangis. Sang iblis ingin beban bathin yang dirasakan jingga mampu berkurang setelah ia menangis. Jingga tak kuasa menahan tangis yang tercekat di tenggorokannya. Ia ingin berteriak namun ia malu pada dirinya sendiri. Selemah itukah dia hingga tidak bisa merelakan sosok yang sudah pergi. Tangannya bergetar mengeluarkan bungkusan plastik dari dalam tasnya. Sebelum ia sampai dipemakaman tadi ia sempat membeli bunga tabur. Dengan perlahan ia taburkan bunga-bunga itu ke atas makam Rachel.
“kak, ini aku jingga,  Maaf aku baru bisa jenguk kakak. Kakak baik-baik aja kan ?” gumam jingga terisak. Ia masih saja mengusap nisan Rachel. Seakan berharap nisan itu menjawab setiap pertanyaan yang keluar dari mulut mungil jingga.
                 Tak terasa sudah 1 jam lebih jingga ada di pemakaman itu. hingga akhirnya ia lelah dan memutuskan untuk segera pergi dari pemakaman itu. ketika melihat sekelilingnya jingga baru sadar si iblis ada disana. Ia lupa kalau tadi ia berangkat kepemakaman bersama si iblis. jingga kasihan juga melihat si iblis yang kelelahan atau mungkin bosan menunggunya. Perlahan-lahan jingga mendekati si iblis yang sedang tidur bersandar dibawah sebuah pohon rindang disekitar makam Rachel. Timbul rencana usil dipikirannya. Ia mengambil air mineral dari tas nya lalu membasahi sedikit tangannya. Kemudian ini mencipratkan tetesan air itu kemuka si iblis. sontak si iblis bangun dan berteriak “hujan,hujan,hujan” jingga tertawa melihat rencana nya berhasil. Wajah nya yang sembab ketika tertawa sehabis menangis terlihat lebih lucu. Muka si iblis langsung merah karena murka pada jingga. Jingga baru bersiap-siap ingin lari namun sebuah tangan sudah menarik lengannya. Jingga masih saja tertawa.
“eehhh, kamu itu kok usil banget sih. Gak bisa apa ngeliat orang senang ?” guman si iblis kesal.
“hahaha, kamu tu aneh tidur di kuburan kok jadi kesenangan. Dasar idiot” balas jingga meledek si iblis.
“oke,oke aku aneh. Ngalah deh. jadi udah selesai ni ? mau kemana lagi ?” Tanya sang iblis.
“terserah kamu deh, tapi jangan langsung pulang ya, aku males dirumah, kita jalan-jalan aja dulu”
“oke, aku tau tempat yang paling nyaman buat orang yang pengen nenangin pikiran” seru si iblis.
“tumben pinter, ya udah buruan jalan. Ngapain lama-lama disini” balas jingga sambil bejalan lebih dulu meninggalkan si iblis yang masih mengumpulkan nyawa. Setelah merasa cukup sadar si iblis pun mengikuti jingga dari belakang. Akhirnya mereka meninggalkan pemakaman dan pergi ke tempat yang di janjikan oleh si iblis.
                 tempat itu sedikit mendaki seperti bukit sepanjang jalan menuju kesana di penuhi dengan ilalang. Pikiran negatif jingga kembali muncul.
“eehh, ngapain bawa aku ke tempat beginian ? mau macem-macem sama aku ya ?” ujar jingga ketus.
“heh, kamu itu bisa gak sih mikir itu yang positif sedikit ? aku kan udah janji mau bawa kamu ke tempat yang tenang, yaa ini tempat nya. Tenang aja deh aku gak nafsu kok buat macam-macam sama kamu”.
“ini tempat apaan sih, aku baru tau ada tempat beginian. Awas aja kalau kamu macem-macem sama aku”
“udah deh bawel, mending kunci deh tuh mulut. Jalan aja. Ntar juga tau tempatnya gimana”.
                Setelah sampai di puncak tempat tersebut barulah jingga menyadari bahwa tempat itu benar-benar indah. Didepan nya terhampar jelas pohon-pohon dan tanaman-tanaman liar lainnya. Ia merasa bisa menyentuh langit dari tempat itu. di antara bukit dan pohon-pohon di seberang ada sebuah genangan air seperti danau namun ukuran nya lebih kecil dari pada danau. Air nya sangat jernih. Jingga merasa dirinya menyatu dengan alam. Tempat ini benar-benar menenangkan, si iblis benar, ia memang menyukai tempat ini. Di tempat jingga dan si iblis berdiri terdapat pohon rindang yang besar dan diatasnya terdapat pula rumah pohon. Jingga suka rumah pohon. Dari kecil ia selalu minta dibuatkan rumah pohon namun orang tuanya tak pernah membuat rumah pohon untuk jingga.
                Jingga memejamkan matanya, menghirup udara sejuk itu dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia seolah sedang mencuci udara kotor yang ada di paru-parunya. Saat jingga membuka matanya si iblis sudah kembali tertidur di atas rumput-rumput yang lembut itu. jingga kesal, biar bagaimana pun ia tak ingin menikmati tempat ini sendiri. Lalu ia mencoba mengusik tidur siiblis. Jingga memotong sedikit batang rumput lalu menggelitik daun telinga si iblis. si iblis yang kegelian akhirnya menyerah dan bangun. Ia kesal tidurnya selalu saja diganggu oleh jingga.
“kamu itu suka banget sih ganggu kesenangan orang, baru aja mau mimpi indah. Udah di gangguin” cerocos si iblis.
“heheheh, masa aku harus bengong sendiri, temenin cerita dong”
“oke-oke aku bangun nih. Melek nih. Dasar pengganggu”.
si iblis pun memutuskan bangun dan duduk bersandar di dekat pohon. Jingga pun mengikuti si iblis dan duduk bersandar juga disebelah si iblis. jingga merasa ada sesuatu yang berbeda saat di bersama si iblis. sangat jauh berbeda ketika ia berkomunikasi dengan chiara atau siapapun. Sang iblis seolah mampu membuat mulut jingga lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Ada kehangatan yang menyelimuti jingga saat berdebat dengan si iblis. itu yang membuat jingga tak ingin menghentikan perdebatan diantara mereka.
“iblis, sampai sekarang aku belum tau nama kamu” seru jingga memulai lagi percakapan yang sempat terhenti.
“astaga, kamu gak tau aku ? bolot banget sih ? aku heran deh kamu begok atu kuper ?”
“yee, santai aja dong mulut nya, gak usah ngatain juga kale. Kan bagi aku kamu gak penting”
“oooh jadi sekarang udah penting dong, kan kamu udah mau nanya nama aku” sahut si iblis antusias.
“gak usah GR deh, kalau gak mau ngasih tau juga gak apa-apa, tapi kamu harus terima dengan lapang dada di panggil iblis”
“gabriel langit witama “ seru si iblis sambil menyodorkan tangan kanan nya.
“jingga dwi adinta” menjabat tangan kanan si iblis. kemudian tawa keduanya pecah. Mereka seperti orang yang baru bertemu. Padahal sudah 2 minggu saling bertengkar mulut.
“jadi aku panggil kamu jingga, dan panggil aku langit” sahut si iblis.
“oke sekarang iblis berubah jadi langit, hahahaha”
“dasar, untung aku gak sejahat itu sampai merubah namamu”
“maaf, ternyata nama kamu bagus juga Gabriel langit witama. Setau aku Gabriel itu malaikat pembawa kabar sukacita jadi apa arti nama kamu ?”
“artinya, malaikat pembawa kabar bahagia dari langit” langsung saja mereka tertawa terbahak-bahak. Jingga sampai sakit perut dengan lelucon yang mereka buat sendiri.
                Tak terasa hari sudah semakin sore. langit mencoba membujuk jingga untuk pulang. Namun jingga menolak ia ingin melihat sunset dari bukit itu. ia ingin menikmati detik-detik matahari meninggalkan bumi. Langit terpaksa menurutinya, sebelum sebuah teriakan-teriakan yang memekakkan telinga mendarat tepat di rumah siput telinganya dan mengoyak gendang telinganya. Setelah matahari benar-benar pergi meninggalkan bumi dan bersembunyi di balik langit gelap, barulah jingga memutuskan untuk pulang. Jingga membutuhkan petunjuk jalan, reflek ia menggenggam tangan langit, ia sebenarnya takut gelap. Namun, jika tadi ia memutuskan untuk pulang saat hari masih terang, maka ia pasti akan melewatkan moment-moment indah itu. setelah mereka sampai di tempat langit memarkirkan motornya. Langsung saja jingga memakai helm yang disodorkan oleh langit lalu kembali duduk manis dibelakang langit. Langit memacu motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi, membuat jingga ketakutan. jingga memukul pundak langit dan mencubit lengannya. Ia hampir saja jatuh saat tiba-tiba langit ngerem mendadak.
“langit, kamu mau buat aku mati jantungan ?”
“kenapa sih jingga, kan biar cepat sampai rumah kamu”
“iya tapi gak gini juga, aku mati ketakutan dibelakang. Santai aja kan bisa”
“ok, maafkan kacung mu ini ya tuan putri”. Akhirnya langit melanjutkan lagi perjalanan menuju rumah jingga. ia memelankan laju motornya sekarang. Rumah bercat abu-abu putih sudah terlihat didepan mata. Jingga turun dari kursi penumpang dan menyerahkan helmnya pada langit.
“thanks banget ya ngit, gak mau masuk dulu ?” Tanya jingga.
“gak usah deh, lain kali aja. Lagian udah malam juga”.
“oh ya udah. Oh iya besok bisa jemput aku lagi gak. Hehehe. Aku males pergi bareng mama”
“hmm, bisa kok mau dijemput jam berapa ?”
“jam 7.00 ya, abisnya kalau lewat dari jam 7.00 jalanan macet”
“oke deh, sampai besok ya jingga. aku pulang dulu”. Langit pun berlalu, jingga masih menunggu di depan pagar rumahnya, tersenyum mengingat kejadian hari ini. Setelah langi benar-benar tak terlihat dari pandangan matanya barulah ia masuk kerumahnya.
                Jingga masih merasakan sisa-sisa kenyamanan yang tadi telah ia raih. Bukan tempat itu yang membuatnya merasa nyaman. Tetapi kebersamaan yang tercipta saat tawa dan perdebatannya bersama langit menjadi hal-hal baru yang menghiasi dunianya. Jingga merasa pondasi nya yang runtuh perlahan-lahan dibangun kembali. Saat ini ada sosok seorang langit yang mulai mengisi kekosongan dalam hatinya. Yang dulu hanya diisi oleh kasih sayang dari Rachel. Seketika itu pula ia teringat pesan terakhir Rachel padanya. “bahwa ketika tuhan mengambil kepunyaan mu di dunia ini, maka yakin lah ia akan menggantinya dengan kepunyaan baru”. Mungkinkah maksud Rachel itu ketika Rachel di ambil oleh tuhan dan tuhan saat ini menggantinya dengan kehadiran langit. Entahlah hanya tuhan yang tau, jingga membiarkan semuanya berjalan sesuai urutan yang tuhan mau. Ia merasa tak layak mengatur rencana sesuai egonya. Biar bagaimana pun kehidupan ini adalah pemberian tuhan. Tak ada seorang pun yang tau jalan apa yang telah tuhan tentukan bagi kehidupannya.
                Setelah merenung jingga memutuskan mandi lalu makan malam. Sebelum tidur ia sempat menulis beberapa kalimat dalam notes kecilnya. “aku ingin kau seperti matahari, meskipun kau harus pergi meninggalkanku, namun kau tak akan lupa bersinar lagi pada esok harinya. Aku ingin kau seperti bintang. Yang menerangiku ketika saat-saat tergelap datang menyelimutiku.semua keindahan itu ada padamu. ~langit”. Jingga membaca tulisannya sekali lagi, ia tersenyum lalu memandang kearah langit. Setelah puas memandang langit yang penuh bintang malam itu, maka jingga pun memutuskan untuk istirahat. Esok pagi langit akan menjemputnya tepat pukul 7.00 dan ia harus bangun lebih pagi.
****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar