Pagi itu jingga sedang duduk
termenung di bangku taman belakang rumahnya. Ia sedang menikmati udara minggu
pagi yang sejuk. Rambut panjangnya yang tergerai indah perlahan terbelai oleh
hembusan angin. Langit yang mengamatinya dari tadi hanya senyum-senyum sendiri
menyaksikan gadis nya itu. meskipun jingga selalu terlihat seperti orang aneh
ketika sedang termenung namun tetap saja langit menyayanginya. Jingga belum
juga sadar bahwa langit ada disana. Akhirnya langit berjalan menuju bangku yang
di duduki jingga. sekarang ia tepat berada di belakang jingga namun, jingga
belum juga menyadari keberadaannya.
“ada kucinggggg terbanggggggggggg” teriakan langit mengagetkan jingga.
“eeeehh terbanggg, kuuccingg, maannaaaa, kucccingg terbaaanng” seru jingga latah.
langit tertawa puas melihat ekspresi jingga “hahahahaha, aduh cantik-cantik latah ternyata”.
“langiitttttttt apaan banget deh, gak lucu tau, aahh gak suka tau”. Cerocos jingga menyadari dirinya pasti sangat terlihat bodoh di depan langit barusan.
“hahahah, upss dia marah. Yah gitu doang marah. Ini hari minggu loh anak tuhan gak boleh marah-marah. Sekolah minggu dulu sana. Hehehe”
“kamu tuh yang perlu sekolah minggu biar di ajarin untuk gak usil sama orang” ujar jingga kesal.
langit terus saja menggoda jingga “yah manyun deh, kalau manyun gini makin jelek. Jadi gemes. Hahaha. Mana pipi bakpao nya ? jingga bakpao. Heheh”.
“langit udah deh, usil banget sih sama aku. Gak ada romantis-romantisnya deh. orang kalau datang itu ucapin syalom kek, ini malah ngucapin ada kucing terbang. Koplak”
“siapa bilang aku gak romantic, nih aku buktiin ya kalau aku romantis” tantang langit pada jingga.
“yah mana ? buktiin dong. Omdo nih kamu. omong doang tong kosong nyarrrr…” belum selesai jingga mengucapkan kata-katanya sebuah kecupan lembut mendarat dikening nya. Yaa, langit mengecup kening jingga. Membuktikan bahwa ia juga bisa bersikap romantis pada jingga.
langit melebarkan senyumnya pada jingga “pagi jingga, happy Sunday. Jessus bless you”. Jingga hanya bisa tersenyum dengan apa yang baru saja ia alami. Benar-benar sebuah kejutan yang membuat jantungnya hampir terjatuh. Ia cepat-cepat menemukan kesadarannya sebelum langit meledeknya lagi.
langit mencubit pipi jingga lembut “kalau nyambut aku pakai senyum kayak begini kan enak dilihat, ini pagi-pagi aja aku udah dikasih sarapan omelan. Mending kalau di kasih omelet. heheh”.
“kalau mau aku senyum begini jangan usil dong” seru jingga yang langsung memeluk langit. matanya langsung tertuju pada tangan langit yang menggenggam sebatang mawar merah.
jingga langsung melepas pelukannya “langit, kok bawa bunga. Buat siapa ?”
“ya buat kamu lah nona cantik, tadi rencananya mau kasih nanti terus mau cium kamu lagi. Hehehe. Tapi udah ketahuan duluan. Ya udah dikasih sekarang aja deh”.
jingga menerima bunga dari langit dan langsung mencubit lengan langit “genit kamu, emang semudah itu cium-cium jingga dwi adinta ini. Hehehe”
melihat jingga seperti sekarang ini langit benar-benar bahagia. Jingga sepertinya sudah kembali menjadi dirinya sendiri. sudah bisa tersenyum. Dan perlahan-lahan sudah bisa melupakan luka masa lalunya.
“makasih banyak ya langit” jingga berbisik di telinga langit.
langit merasa heran “untuk apa jingga ?”
jingga tersenyum “untuk kucing terbangnya. Hahahahah”. Langit pun ikut tertawa, keduanya benar-benar terlarut dalam kehangatan yang mereka ciptakan sendiri. bahagia itu sederhana. Hanya butuh sedikit polesan kenyamanan. Tak perlu benda mewah dan sesuatu yang mahal untuk menciptakan kebahagiaan.
“sekarang kamu mandi, terus aku mau bawa kamu ke satu tempat” seru langit sambil mengusap lembut rambut jingga.
jingga menyipitkan matanya “kita mau kemana ? terus aku harus dandan gimana ?”
“hahaha, ngapain pakai dandan segala sih ? yang penting sopan dan rapi. Cepetan ya jam setengah 9 pokoknya udah harus selesai. Aku tunggu di ruang tamu aja”.
“sok misterius kamu!! heheh” seru jingga sambil berlalu membawa bunga mawar ditangannya dan segera mandi lalu bersiap-siap untuk pergi bersama langit.
sudah setengah jam langit menunggu jingga dan sekarang sudah jam 8 lewat 20 menit. Jingga belum juga muncul-muncul. Langit mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat foto-foto yang terpajang di rungan itu. mulai dari foto keluarga jingga, foto Rachel, foto seseorang yang pernah disebut jingga sahabatnya yaitu alena. Dan yang paling menarik perhatian Langit adalah foto seorang anak kecil berusia 2 tahun dan foto seorang bayi yang masih terbungkus dalam bedongan. Langit memperkirakan anak yang berusia 2 tahun itu adalah Rachel, dan bayi kecil yang imut itu adalah jingga. di foto itu Rachel terlihat seperti ingin menggendong jingga yang sedang menangis. Sangat lucu sekali. Langit mengehentikan kegiatannya ketika sebuah suara menyapanya.
“udah siap nih, mau langsung berangkat?” Tanya jingga. langit hanya terdiam seolah tak percaya dengan apa yang saat ini sedang ia lihat. Jingga benar-benar terlihat manis sekali. Tak ada goresan make up diwajahnya. Balutan dress soft pink selutut yang dipadukannya dengan cardigan putih ¾ benar-benar cocok dengan kulit putihnya yang mendukung.
“hei, kok bengong sih ? mau langsung berangkat atau enggak ?”.
langit tersadar dari lamunan nya “iya-iya kita langsung berangkat aja jingga” seru langit.
“tapi kita mau kemana sih, mau makan ya ?” jingga mencoba menebak.
“hahaha, idih makan mulu, gak sadar tuh pipi udah lebih besar dari pada bakpao ?, udah gak usah nanya-nanya atau pun nebak deh. ini tempatnya lebih seru dari pada tempat makan. Lebih ngenyangin juga. Kamu duduk manis aja ya pakai helm nya nih”. Langit memberikan helm pada jingga dan kemudian berangkat ke tempat yang sudah ia rencanakan.
sepanjang perjalanan mereka selalu saja tertawa. Tergelitik oleh lelucon yang mereka buat sendiri. lelah yang biasa dirasakan Langit ketika harus mengendarai motor nya tak pernah lagi ia rasakan. Semua berkat Jingga, jingga mampu mencairkan suasana yang beku ketika mereka sudah kehabisan bahan untuk di tertawakan. Tak ada lagi sedih yang terpancar di wajah jingga. semua sudah tergantikan dengan senyum dan tawa kecil saat sebuah kebersamaan tercipta di antara dia dan Langit. semua terasa begitu nyaman. Jingga sudah menemukan dirinya yang dulu hilang. Ia sudah menemukan kembali penyangganya yang dulu patah. Dan sekarang tak ada lagi alasan untuk menyakiti dirinya sendiri karena masa lalu. Semua sudah di lengkapi oleh langit. perlahan posisi Rachel mulai tergantikan oleh langit. dan jingga menyadari ada rasa yang lebih dari sebuah persahabatan diantara mereka.
tempat yang mereka tuju samar-samar mulai terlihat. Sebuah lonceng besar dan salib menggantung di puncak tertinggi tempat itu. bangunannya tidak begitu mewah namun sangat klasik. Halamannya luas membentang. Langit memarkirkan motornya di halaman yang memang khusus di buat untuk tempat parkir. Jingga masih takjub dengan tempat ini. Di halaman sebelah kanan tempat itu ada sebuah danau kecil yang tak kalah indahnya dengan danau yang ada di bukit yang sering di datangi oleh langit dan jingga. antara halaman depan dan pintu masuk terdapat sebuah kolam dan diatasnya dibangun jembatan kecil seperti di taman tempat jingga biasa bermain. Benar-benar sangat indah ini jingga baru menemukan Gereja seindah itu. umatnya cukup ramai dan sangat ramah. Baru beberapa menit jingga dan langit berada disana namun sudah ada beberapa umat yang sekedar member salam dan menyapa mereka. Suasananya sangat akrab, seperti semua yang ada di tempat ini adalah saudara.
langit dan jingga melangkah memasuki gedung Gereja. Pemandangan di dalam tak kalah indahnya dengan pemandangan diluar gereja. Lagi-lagi jingga memuji tempat itu, benar-benar sangat nyaman dan hening. Patung Yesus dan Maria berdiri kokoh disisi kanan dan kiri Altar. Lukisan-lukisan tentang perjalanan Yesus terpajang rapi di dinding-dinding bangunan Gereja itu. Langit dan jingga duduk di barisan bangku sebelah kanan dan mereka memilih bagian tengah. Setelah mengucapkan doa permohonan sambil berlutu masing-masing kembali duduk di tempatnya. Lonceng yang bergantung di atap bagian puncak gereja berbunyi beberapa kali, sebagai tanda misa minggu segera dimulai. Seluruh umat berdiri dan melakasanakannya dengan khusuk. Misa berjalan dengan sangat khusuk dan hening dan dipimpin oleh seorang imam. Tiba saatnya Liturgi Ekaristi semua umat mengucapkan doa Syukur Agung bersamaan.
Kini semua umat mulai membuat barisan untuk menyambut komuni. Langit mengikuti jingga menyambut komuni. Jingga heran ketika langit ikut menyambut komuni. Selama ini Jingga tidak tahu bahwa langit itu menganut agama katolik dan sama seperti dirinya. Langit dan jingga kembali ke kursinya setelah menyambut roti kehidupan itu. mereka mengucapkan doa dan permohonan masing-masing didalam hatinya. Sebuah moment yang tak pernah disangka oleh jingga. ini lebih menyenangkan dari pada harus ketempat makan atau pun mall. Kebersamaan dirumah Tuhan lebih mengenyangkan, benar apa yang dikatakan Langit padanya sebelum berangkat tadi.
Misa selesai, sebuah lagu penutup mengiringi langkah para petugas misa hari itu. setelah memohon pada Tuhan dan memanjatkan doa, Langit dan jingga serta seluruh umat berangsur-angsur meninggalkan gedung gereja itu. ada rasa tak ingin cepat-cepat pergi dari sana dalam hati jingga. ia masih ingin berada ditempat itu dan menikmati tiap kenyamanan yang diberikan oleh suasana yang tercipta disana. Langit seolah mengerti dengan keinginan Jingga, ia masih membiarkan Jingga menikmati keindahan Gereja itu.
“Langit, makasih banyak untuk hari ini” seru jingga kepada Langit.
Langit tersenyum “kali ini untuk apa ?”
jingga pun tertawa “hahah tenang kali ini bukan untuk Kucing terbang lagi, tapi makasih banyak udah ngenyangin aku yang lapar dan haus sama Sabda Tuhan ini”.
“sama-sama, aku juga senang bisa ke Gereja bareng kamu. tadi mama kamu bilang kamu udah jarang banget ke gereja semenjak kejadian itu. jadi aku punya inisiatif sendiri untuk bawa kamu kesini”.
“iya aku udah lama banget gak mijakin kaki aku di rumah Tuhan, kangen banget rasanya. Dulu aku ke gereja bareng sama Rachel. Dan sekarang udah ada kamu yang gantian nemenin aku. Makasih banyak ya Langit”.
Langit menggenggam tangan jingga dan mengusap lembut punggung tangannya “jingga, apapun yang buat kamu nyaman pasti bakal aku usahain. kamu gak usah takut, mulai hari ini kita akan sering datang ketempat ini. Aku yang akan nemenin kamu ke gereja dan kemana pun mulai saat ini”.
jingga tersipu pada langit, pipinya merona merah “thanks langit, gak ada lagi yang bisa aku ucapin. Tapi dari mana kamu tau kalau ada gereja sebagus ini ?”.
“Dulu aku tinggal di daerah sini langit, jadi waktu aku kecil setiap minggunya aku ibadah disini”
“wah, indah banget tempatnya. Benar-benar nyaman. Udah jam segini. Gereja juga udah mulai sepi kita pulang yuk” gumam jingga.
“ya udah beneran mau langsung pulang nih ? gak mau jalan-jalan dulu sama Langit yang kece ini ?, ntar kangen loh. Hahhaha”.
jingga duduk di motor lalu mencubit lengan jingga “udah deh gak usah sok dikangenin, gak bakal ada yang kangen tuh”
“beneran ya, nanti jangan sms atau telfon aku terus ngajak jalan, hahaha”
“Langitttt!!!! Ngeselin banget sih, ayuk jalan panas nih kalau gak jalan-jalan”
“alesan aja nih, padahal adem banget kan ada di dekat langit kece gini. Matanya neduhin lagi. Coklat bening. Hahaha”
“uuhh sombong!!” seru jingga.
perlahan-lahan motor langit berlalu semakin jauh meninggalkan gereja yang nyaman itu, jingga pun berguman dalam hatinya “aku pasti datang kesini lagi minggu depan”. Sepanjang perjalanan jingga hanya terdiam. Langit tau apa yang bisa membuat jingga kembali girang dan penuh tawa. Maka langit pun membawa jingga ke taman out bond. Jingga yang awalnya ingin pulang merasa heran di bawa ke tempat itu.
“kita ngapain kesini” Tanya jingga.
“mau nyeburin kamu ke kolam buaya, ya mau main wahana nya dong Jingga” ujar langit menarik hidung jingga.
“sakit!!, tuhkan ilang mancungnya. Emang disini ada buaya ya ? kok aku gak lihat ada pawangnya. Ohh astaga pawangnya kan lagi berdiri disebelah aku. Hahahaha”. Tawa jingga meledek Langit.
“idih, setidaknya aku berhasil jinakin buaya betina nya nih, yang suka ngamuk, terus suka diem kayak lagi ngeram telur. Hahahah”
“Ledekin aja terus. Ampe puas. Jahat banget iih”.
sekarang tawa langit yang pecah “hahaha, ayuk sekarang kita mau main apa ?”
“aku mau main itu, tapi yang model bebek. Heheh” seru jingga sambil menunjuk ke arah sebuah kolam tempat bermain sepeda air.
“hahaha. Ihh permainan anak kecil banget. Gak seru ah. Nyebrang pakai jembatan tali dong seru”.
“gak mau aku takut ketinggian. Naik itu aja” jingga mempertahankan pilihannya.
“ya udah deh kita naik itu, tapi habis itu harus nurut sama pilihan aku”. Langit pun mengalah dan mengikuti jingga memainkan wahana sepeda air. Cukup seru karena Langit selalu salah mengemudikannya. Sehingga Jingga pun ikut mengemudi. Tawa ceria keduanya kembali terpancar. Tanpa mereka sadari kebersamaan mereka membuat perasaan itu semakin besar. Perasaan untuk takut kehilangan satu sama lain pun semakin besar pula. Mereka sudah bermain di beberapa wahana. Keduanya sangat lelah dan memutuskan untuk berhenti bermain. Langit duduk bersandar disebuah batang pohon dan jingga mengikutinya.
“aku capek Langit” seru jingga.
“aku juga capek, kamu tiduran pakai bahu aku aja sini, biar gak sakit kepalanya. Kalau tidur di kayu gitu kan gak nyaman”.
“ya udah, lumayan juga ada bau gratis. Heheh”.
“dasar!!!”.
Jingga merebahkan kepalanya di bahu langit. mencoba mengambil posisi senyaman mungkin. Langit melingkarkan tangannya pada pinggang jingga dan berusaha membuatnya nyaman. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menambah kesejukan di tempat itu. semakin lama bersama Langit, jingga semakin menemukan titik dari perasaannya, sekarang ia mengerti bahwa perasaan yang ia miliki lebih dari sekedar sayang pada seorang teman. Ia mencintai Langit dan juga menginginkannya. Langit sudah membuatnya nyaman. Semua yang ada pada Langit seolah anugerah yang juga membuat suatu perubahan pada diri jingga. Langit benrar-benar berhasil mengobati luka di hati jingga. bahkan tanpa ia sadari perlahan-lahan ia menutupi jejak luka itu dengan kisah-kisah baru yang ia lukiskan bersama jingga.
“langit, selama aku kenal sama kamu. aku belum pernah dengar kamu cerita tentang siapa diri kamu. ya setidaknya tentang keluarga kamu ke aku”.
“hmmm, kamu mau dengar soal aku ? kamu yakin jingga ? aku takut kalau kau dengar soal ini kamu bakalan benci sama aku”. Gumam langit tak yakin.
jingga mengangkat kepalanya dan menatap mata cokelat milik orang yang ia sayangi itu. “kenapa aku harus benci ? apa kamu pernah mendengar orang yang membenci kenyamanan nya ?”
langit terlihat bingung “maksudnya apa jingga?”
jingga memalingkan wajahnya dan menatap jauh kearah kolam “kamu itu kenyamanan buat aku Langit, Gak peduli dimana pun tempatnya gak peduli gimana pun keadaannya kamu yang udah berhasil buat aku nyaman. Dan yang terparah aku udah berhutang banyak sama kamu. udah berapa banyak obat yang kamu transfer ke tubuh aku untuk nyembuhin luka masa laluku sampai aku benar-benar sembuh total dan bisa ceria lagi”.
langit tertawa mendengar penjelasan jingga “kok dijadiin utang sih, kan udah dibayar lunas tadi. Kan tadi kamu udah mau nemanin aku main wahana yang menantang”.
“Langit,, aku lagi serius tau!! Kenapa dibawa becanda?” gumam jingga.
“huuufff” Langit menarik nafas panjang seperti ada sebuah beban yang mengikat paru-parunya.
“papa aku itu udah lama meninggal jingga, aku memang anak tunggal. Papa meninggal ketika usiaku 6 tahun. Sejak saat itu mamaku sama sepertimu. Berubah menjadi pendiam bahkan sulit untuk membujuknya kembali ceria. Semua perusahaan dan harta keluarga kami disita karena keuangan perusahaan benar-benar kacau. Mama sempat frustasi dan jatuh sakit. Sedangkan aku harus kuat dan menjalani semuanya itu sendiri. sesungguhnya aku belum sanggup buat menghadapi keadaan serumit itu. aku berusaha mati-matian membujuk keluarga papa agar mau membantu kami. Namun tidak ada respon yang baik dari mereka. Bahkan mereka tidak lagi menganggap kami ini saudara. Ya, papa memang sempat memiliki masalah dengan saudara-saudaranya. Akhirnya, aku dan mama harus pindah kesebuah kontrakan kecil di dekat gereja yang tadi kita datangi. Enam tahun kami hidup sangat susah disana. Dan mama berangsur-angsur kembali menemukan keceriaannya seperti dulu. Selama 6 tahun pula mama bekerja keras membangun usaha dengan uang yang tersisa dan mengumpulkan uang untuk melunasi hutang keluarga kami yang sempat ditinggalkan papa. Ketika aku lulus dari SD mama bilang ia sudah bisa melunasi 80% hutang kami dan kami sudah bisa pindah kerumah lama kami. Perusahaan papa kembali bangkit dan mama yang mengelolanya. Tak lama setelah itu mama benar-benar melunasi utang-utang yang ditinggalkan papa. 2 tahun kemudian mama menikah lagi, awalnya aku menolak mentah-mentah pernikahan mama. Aku takut papa tiriku hanya akan memanfaatkan mama demi kepentingan bisnis. Namun mama orangnya keras. Aku gak mampu buat cegah keinginan mama. Saat ini aku punya satu adik perempuan kecil berusia 4 tahun dari hasil pernikahan mama yang kedua. Beberapa bulan belakangan ini papa tiriku mulai bersikap kasar pada mama, dan ia sempat terlibat perkelahian dengan ku. Aku tak suka ia membentak dan memukuli mama. Maka saat itu kepalan tinjuku mendarat beberapa kali kemukanya. Mama pun tak tahan lagi dengan sikap papa tiriku dan memilih untuk bercerai. Saat ini mama berjuang sendiri lagi dan berusaha fokus untuk aku dan kairen serta hanya ingin mengelola perusahaan untuk bekal aku dan kairen”.
mata langit mulai berkaca-kaca, ia menahan tangisnya didepan jingga. jingga memeluk nya erat seolah berusaha mentransfer kekuatan yang ia miliki kepada langit. benar-benar ingin saling menguatkan dan benar-benar ingin saling melengkapi satu sama lainnya. Itulah yang dilakukan oleh langit dan jingga. sepasang jiwa yang pernah benar-benar terluka disembuhkan dengan cara mereka masing-masing. Berbagi ketika mereka mersa beban yang harus ditanggung terlalu berat untuk dipikul sendiri. dan menangis ketika merasa sesuatu itu perlu untuk ditangisi. Langit pun memeluk erat tubuh mungil Jingga seakan tak rela moment-moment seperti ini begitu cepat berlalu dan dicuri oleh sang waktu.
“ada kucinggggg terbanggggggggggg” teriakan langit mengagetkan jingga.
“eeeehh terbanggg, kuuccingg, maannaaaa, kucccingg terbaaanng” seru jingga latah.
langit tertawa puas melihat ekspresi jingga “hahahahaha, aduh cantik-cantik latah ternyata”.
“langiitttttttt apaan banget deh, gak lucu tau, aahh gak suka tau”. Cerocos jingga menyadari dirinya pasti sangat terlihat bodoh di depan langit barusan.
“hahahah, upss dia marah. Yah gitu doang marah. Ini hari minggu loh anak tuhan gak boleh marah-marah. Sekolah minggu dulu sana. Hehehe”
“kamu tuh yang perlu sekolah minggu biar di ajarin untuk gak usil sama orang” ujar jingga kesal.
langit terus saja menggoda jingga “yah manyun deh, kalau manyun gini makin jelek. Jadi gemes. Hahaha. Mana pipi bakpao nya ? jingga bakpao. Heheh”.
“langit udah deh, usil banget sih sama aku. Gak ada romantis-romantisnya deh. orang kalau datang itu ucapin syalom kek, ini malah ngucapin ada kucing terbang. Koplak”
“siapa bilang aku gak romantic, nih aku buktiin ya kalau aku romantis” tantang langit pada jingga.
“yah mana ? buktiin dong. Omdo nih kamu. omong doang tong kosong nyarrrr…” belum selesai jingga mengucapkan kata-katanya sebuah kecupan lembut mendarat dikening nya. Yaa, langit mengecup kening jingga. Membuktikan bahwa ia juga bisa bersikap romantis pada jingga.
langit melebarkan senyumnya pada jingga “pagi jingga, happy Sunday. Jessus bless you”. Jingga hanya bisa tersenyum dengan apa yang baru saja ia alami. Benar-benar sebuah kejutan yang membuat jantungnya hampir terjatuh. Ia cepat-cepat menemukan kesadarannya sebelum langit meledeknya lagi.
langit mencubit pipi jingga lembut “kalau nyambut aku pakai senyum kayak begini kan enak dilihat, ini pagi-pagi aja aku udah dikasih sarapan omelan. Mending kalau di kasih omelet. heheh”.
“kalau mau aku senyum begini jangan usil dong” seru jingga yang langsung memeluk langit. matanya langsung tertuju pada tangan langit yang menggenggam sebatang mawar merah.
jingga langsung melepas pelukannya “langit, kok bawa bunga. Buat siapa ?”
“ya buat kamu lah nona cantik, tadi rencananya mau kasih nanti terus mau cium kamu lagi. Hehehe. Tapi udah ketahuan duluan. Ya udah dikasih sekarang aja deh”.
jingga menerima bunga dari langit dan langsung mencubit lengan langit “genit kamu, emang semudah itu cium-cium jingga dwi adinta ini. Hehehe”
melihat jingga seperti sekarang ini langit benar-benar bahagia. Jingga sepertinya sudah kembali menjadi dirinya sendiri. sudah bisa tersenyum. Dan perlahan-lahan sudah bisa melupakan luka masa lalunya.
“makasih banyak ya langit” jingga berbisik di telinga langit.
langit merasa heran “untuk apa jingga ?”
jingga tersenyum “untuk kucing terbangnya. Hahahahah”. Langit pun ikut tertawa, keduanya benar-benar terlarut dalam kehangatan yang mereka ciptakan sendiri. bahagia itu sederhana. Hanya butuh sedikit polesan kenyamanan. Tak perlu benda mewah dan sesuatu yang mahal untuk menciptakan kebahagiaan.
“sekarang kamu mandi, terus aku mau bawa kamu ke satu tempat” seru langit sambil mengusap lembut rambut jingga.
jingga menyipitkan matanya “kita mau kemana ? terus aku harus dandan gimana ?”
“hahaha, ngapain pakai dandan segala sih ? yang penting sopan dan rapi. Cepetan ya jam setengah 9 pokoknya udah harus selesai. Aku tunggu di ruang tamu aja”.
“sok misterius kamu!! heheh” seru jingga sambil berlalu membawa bunga mawar ditangannya dan segera mandi lalu bersiap-siap untuk pergi bersama langit.
sudah setengah jam langit menunggu jingga dan sekarang sudah jam 8 lewat 20 menit. Jingga belum juga muncul-muncul. Langit mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk melihat foto-foto yang terpajang di rungan itu. mulai dari foto keluarga jingga, foto Rachel, foto seseorang yang pernah disebut jingga sahabatnya yaitu alena. Dan yang paling menarik perhatian Langit adalah foto seorang anak kecil berusia 2 tahun dan foto seorang bayi yang masih terbungkus dalam bedongan. Langit memperkirakan anak yang berusia 2 tahun itu adalah Rachel, dan bayi kecil yang imut itu adalah jingga. di foto itu Rachel terlihat seperti ingin menggendong jingga yang sedang menangis. Sangat lucu sekali. Langit mengehentikan kegiatannya ketika sebuah suara menyapanya.
“udah siap nih, mau langsung berangkat?” Tanya jingga. langit hanya terdiam seolah tak percaya dengan apa yang saat ini sedang ia lihat. Jingga benar-benar terlihat manis sekali. Tak ada goresan make up diwajahnya. Balutan dress soft pink selutut yang dipadukannya dengan cardigan putih ¾ benar-benar cocok dengan kulit putihnya yang mendukung.
“hei, kok bengong sih ? mau langsung berangkat atau enggak ?”.
langit tersadar dari lamunan nya “iya-iya kita langsung berangkat aja jingga” seru langit.
“tapi kita mau kemana sih, mau makan ya ?” jingga mencoba menebak.
“hahaha, idih makan mulu, gak sadar tuh pipi udah lebih besar dari pada bakpao ?, udah gak usah nanya-nanya atau pun nebak deh. ini tempatnya lebih seru dari pada tempat makan. Lebih ngenyangin juga. Kamu duduk manis aja ya pakai helm nya nih”. Langit memberikan helm pada jingga dan kemudian berangkat ke tempat yang sudah ia rencanakan.
sepanjang perjalanan mereka selalu saja tertawa. Tergelitik oleh lelucon yang mereka buat sendiri. lelah yang biasa dirasakan Langit ketika harus mengendarai motor nya tak pernah lagi ia rasakan. Semua berkat Jingga, jingga mampu mencairkan suasana yang beku ketika mereka sudah kehabisan bahan untuk di tertawakan. Tak ada lagi sedih yang terpancar di wajah jingga. semua sudah tergantikan dengan senyum dan tawa kecil saat sebuah kebersamaan tercipta di antara dia dan Langit. semua terasa begitu nyaman. Jingga sudah menemukan dirinya yang dulu hilang. Ia sudah menemukan kembali penyangganya yang dulu patah. Dan sekarang tak ada lagi alasan untuk menyakiti dirinya sendiri karena masa lalu. Semua sudah di lengkapi oleh langit. perlahan posisi Rachel mulai tergantikan oleh langit. dan jingga menyadari ada rasa yang lebih dari sebuah persahabatan diantara mereka.
tempat yang mereka tuju samar-samar mulai terlihat. Sebuah lonceng besar dan salib menggantung di puncak tertinggi tempat itu. bangunannya tidak begitu mewah namun sangat klasik. Halamannya luas membentang. Langit memarkirkan motornya di halaman yang memang khusus di buat untuk tempat parkir. Jingga masih takjub dengan tempat ini. Di halaman sebelah kanan tempat itu ada sebuah danau kecil yang tak kalah indahnya dengan danau yang ada di bukit yang sering di datangi oleh langit dan jingga. antara halaman depan dan pintu masuk terdapat sebuah kolam dan diatasnya dibangun jembatan kecil seperti di taman tempat jingga biasa bermain. Benar-benar sangat indah ini jingga baru menemukan Gereja seindah itu. umatnya cukup ramai dan sangat ramah. Baru beberapa menit jingga dan langit berada disana namun sudah ada beberapa umat yang sekedar member salam dan menyapa mereka. Suasananya sangat akrab, seperti semua yang ada di tempat ini adalah saudara.
langit dan jingga melangkah memasuki gedung Gereja. Pemandangan di dalam tak kalah indahnya dengan pemandangan diluar gereja. Lagi-lagi jingga memuji tempat itu, benar-benar sangat nyaman dan hening. Patung Yesus dan Maria berdiri kokoh disisi kanan dan kiri Altar. Lukisan-lukisan tentang perjalanan Yesus terpajang rapi di dinding-dinding bangunan Gereja itu. Langit dan jingga duduk di barisan bangku sebelah kanan dan mereka memilih bagian tengah. Setelah mengucapkan doa permohonan sambil berlutu masing-masing kembali duduk di tempatnya. Lonceng yang bergantung di atap bagian puncak gereja berbunyi beberapa kali, sebagai tanda misa minggu segera dimulai. Seluruh umat berdiri dan melakasanakannya dengan khusuk. Misa berjalan dengan sangat khusuk dan hening dan dipimpin oleh seorang imam. Tiba saatnya Liturgi Ekaristi semua umat mengucapkan doa Syukur Agung bersamaan.
Kini semua umat mulai membuat barisan untuk menyambut komuni. Langit mengikuti jingga menyambut komuni. Jingga heran ketika langit ikut menyambut komuni. Selama ini Jingga tidak tahu bahwa langit itu menganut agama katolik dan sama seperti dirinya. Langit dan jingga kembali ke kursinya setelah menyambut roti kehidupan itu. mereka mengucapkan doa dan permohonan masing-masing didalam hatinya. Sebuah moment yang tak pernah disangka oleh jingga. ini lebih menyenangkan dari pada harus ketempat makan atau pun mall. Kebersamaan dirumah Tuhan lebih mengenyangkan, benar apa yang dikatakan Langit padanya sebelum berangkat tadi.
Misa selesai, sebuah lagu penutup mengiringi langkah para petugas misa hari itu. setelah memohon pada Tuhan dan memanjatkan doa, Langit dan jingga serta seluruh umat berangsur-angsur meninggalkan gedung gereja itu. ada rasa tak ingin cepat-cepat pergi dari sana dalam hati jingga. ia masih ingin berada ditempat itu dan menikmati tiap kenyamanan yang diberikan oleh suasana yang tercipta disana. Langit seolah mengerti dengan keinginan Jingga, ia masih membiarkan Jingga menikmati keindahan Gereja itu.
“Langit, makasih banyak untuk hari ini” seru jingga kepada Langit.
Langit tersenyum “kali ini untuk apa ?”
jingga pun tertawa “hahah tenang kali ini bukan untuk Kucing terbang lagi, tapi makasih banyak udah ngenyangin aku yang lapar dan haus sama Sabda Tuhan ini”.
“sama-sama, aku juga senang bisa ke Gereja bareng kamu. tadi mama kamu bilang kamu udah jarang banget ke gereja semenjak kejadian itu. jadi aku punya inisiatif sendiri untuk bawa kamu kesini”.
“iya aku udah lama banget gak mijakin kaki aku di rumah Tuhan, kangen banget rasanya. Dulu aku ke gereja bareng sama Rachel. Dan sekarang udah ada kamu yang gantian nemenin aku. Makasih banyak ya Langit”.
Langit menggenggam tangan jingga dan mengusap lembut punggung tangannya “jingga, apapun yang buat kamu nyaman pasti bakal aku usahain. kamu gak usah takut, mulai hari ini kita akan sering datang ketempat ini. Aku yang akan nemenin kamu ke gereja dan kemana pun mulai saat ini”.
jingga tersipu pada langit, pipinya merona merah “thanks langit, gak ada lagi yang bisa aku ucapin. Tapi dari mana kamu tau kalau ada gereja sebagus ini ?”.
“Dulu aku tinggal di daerah sini langit, jadi waktu aku kecil setiap minggunya aku ibadah disini”
“wah, indah banget tempatnya. Benar-benar nyaman. Udah jam segini. Gereja juga udah mulai sepi kita pulang yuk” gumam jingga.
“ya udah beneran mau langsung pulang nih ? gak mau jalan-jalan dulu sama Langit yang kece ini ?, ntar kangen loh. Hahhaha”.
jingga duduk di motor lalu mencubit lengan jingga “udah deh gak usah sok dikangenin, gak bakal ada yang kangen tuh”
“beneran ya, nanti jangan sms atau telfon aku terus ngajak jalan, hahaha”
“Langitttt!!!! Ngeselin banget sih, ayuk jalan panas nih kalau gak jalan-jalan”
“alesan aja nih, padahal adem banget kan ada di dekat langit kece gini. Matanya neduhin lagi. Coklat bening. Hahaha”
“uuhh sombong!!” seru jingga.
perlahan-lahan motor langit berlalu semakin jauh meninggalkan gereja yang nyaman itu, jingga pun berguman dalam hatinya “aku pasti datang kesini lagi minggu depan”. Sepanjang perjalanan jingga hanya terdiam. Langit tau apa yang bisa membuat jingga kembali girang dan penuh tawa. Maka langit pun membawa jingga ke taman out bond. Jingga yang awalnya ingin pulang merasa heran di bawa ke tempat itu.
“kita ngapain kesini” Tanya jingga.
“mau nyeburin kamu ke kolam buaya, ya mau main wahana nya dong Jingga” ujar langit menarik hidung jingga.
“sakit!!, tuhkan ilang mancungnya. Emang disini ada buaya ya ? kok aku gak lihat ada pawangnya. Ohh astaga pawangnya kan lagi berdiri disebelah aku. Hahahaha”. Tawa jingga meledek Langit.
“idih, setidaknya aku berhasil jinakin buaya betina nya nih, yang suka ngamuk, terus suka diem kayak lagi ngeram telur. Hahahah”
“Ledekin aja terus. Ampe puas. Jahat banget iih”.
sekarang tawa langit yang pecah “hahaha, ayuk sekarang kita mau main apa ?”
“aku mau main itu, tapi yang model bebek. Heheh” seru jingga sambil menunjuk ke arah sebuah kolam tempat bermain sepeda air.
“hahaha. Ihh permainan anak kecil banget. Gak seru ah. Nyebrang pakai jembatan tali dong seru”.
“gak mau aku takut ketinggian. Naik itu aja” jingga mempertahankan pilihannya.
“ya udah deh kita naik itu, tapi habis itu harus nurut sama pilihan aku”. Langit pun mengalah dan mengikuti jingga memainkan wahana sepeda air. Cukup seru karena Langit selalu salah mengemudikannya. Sehingga Jingga pun ikut mengemudi. Tawa ceria keduanya kembali terpancar. Tanpa mereka sadari kebersamaan mereka membuat perasaan itu semakin besar. Perasaan untuk takut kehilangan satu sama lain pun semakin besar pula. Mereka sudah bermain di beberapa wahana. Keduanya sangat lelah dan memutuskan untuk berhenti bermain. Langit duduk bersandar disebuah batang pohon dan jingga mengikutinya.
“aku capek Langit” seru jingga.
“aku juga capek, kamu tiduran pakai bahu aku aja sini, biar gak sakit kepalanya. Kalau tidur di kayu gitu kan gak nyaman”.
“ya udah, lumayan juga ada bau gratis. Heheh”.
“dasar!!!”.
Jingga merebahkan kepalanya di bahu langit. mencoba mengambil posisi senyaman mungkin. Langit melingkarkan tangannya pada pinggang jingga dan berusaha membuatnya nyaman. Hembusan angin yang sepoi-sepoi menambah kesejukan di tempat itu. semakin lama bersama Langit, jingga semakin menemukan titik dari perasaannya, sekarang ia mengerti bahwa perasaan yang ia miliki lebih dari sekedar sayang pada seorang teman. Ia mencintai Langit dan juga menginginkannya. Langit sudah membuatnya nyaman. Semua yang ada pada Langit seolah anugerah yang juga membuat suatu perubahan pada diri jingga. Langit benrar-benar berhasil mengobati luka di hati jingga. bahkan tanpa ia sadari perlahan-lahan ia menutupi jejak luka itu dengan kisah-kisah baru yang ia lukiskan bersama jingga.
“langit, selama aku kenal sama kamu. aku belum pernah dengar kamu cerita tentang siapa diri kamu. ya setidaknya tentang keluarga kamu ke aku”.
“hmmm, kamu mau dengar soal aku ? kamu yakin jingga ? aku takut kalau kau dengar soal ini kamu bakalan benci sama aku”. Gumam langit tak yakin.
jingga mengangkat kepalanya dan menatap mata cokelat milik orang yang ia sayangi itu. “kenapa aku harus benci ? apa kamu pernah mendengar orang yang membenci kenyamanan nya ?”
langit terlihat bingung “maksudnya apa jingga?”
jingga memalingkan wajahnya dan menatap jauh kearah kolam “kamu itu kenyamanan buat aku Langit, Gak peduli dimana pun tempatnya gak peduli gimana pun keadaannya kamu yang udah berhasil buat aku nyaman. Dan yang terparah aku udah berhutang banyak sama kamu. udah berapa banyak obat yang kamu transfer ke tubuh aku untuk nyembuhin luka masa laluku sampai aku benar-benar sembuh total dan bisa ceria lagi”.
langit tertawa mendengar penjelasan jingga “kok dijadiin utang sih, kan udah dibayar lunas tadi. Kan tadi kamu udah mau nemanin aku main wahana yang menantang”.
“Langit,, aku lagi serius tau!! Kenapa dibawa becanda?” gumam jingga.
“huuufff” Langit menarik nafas panjang seperti ada sebuah beban yang mengikat paru-parunya.
“papa aku itu udah lama meninggal jingga, aku memang anak tunggal. Papa meninggal ketika usiaku 6 tahun. Sejak saat itu mamaku sama sepertimu. Berubah menjadi pendiam bahkan sulit untuk membujuknya kembali ceria. Semua perusahaan dan harta keluarga kami disita karena keuangan perusahaan benar-benar kacau. Mama sempat frustasi dan jatuh sakit. Sedangkan aku harus kuat dan menjalani semuanya itu sendiri. sesungguhnya aku belum sanggup buat menghadapi keadaan serumit itu. aku berusaha mati-matian membujuk keluarga papa agar mau membantu kami. Namun tidak ada respon yang baik dari mereka. Bahkan mereka tidak lagi menganggap kami ini saudara. Ya, papa memang sempat memiliki masalah dengan saudara-saudaranya. Akhirnya, aku dan mama harus pindah kesebuah kontrakan kecil di dekat gereja yang tadi kita datangi. Enam tahun kami hidup sangat susah disana. Dan mama berangsur-angsur kembali menemukan keceriaannya seperti dulu. Selama 6 tahun pula mama bekerja keras membangun usaha dengan uang yang tersisa dan mengumpulkan uang untuk melunasi hutang keluarga kami yang sempat ditinggalkan papa. Ketika aku lulus dari SD mama bilang ia sudah bisa melunasi 80% hutang kami dan kami sudah bisa pindah kerumah lama kami. Perusahaan papa kembali bangkit dan mama yang mengelolanya. Tak lama setelah itu mama benar-benar melunasi utang-utang yang ditinggalkan papa. 2 tahun kemudian mama menikah lagi, awalnya aku menolak mentah-mentah pernikahan mama. Aku takut papa tiriku hanya akan memanfaatkan mama demi kepentingan bisnis. Namun mama orangnya keras. Aku gak mampu buat cegah keinginan mama. Saat ini aku punya satu adik perempuan kecil berusia 4 tahun dari hasil pernikahan mama yang kedua. Beberapa bulan belakangan ini papa tiriku mulai bersikap kasar pada mama, dan ia sempat terlibat perkelahian dengan ku. Aku tak suka ia membentak dan memukuli mama. Maka saat itu kepalan tinjuku mendarat beberapa kali kemukanya. Mama pun tak tahan lagi dengan sikap papa tiriku dan memilih untuk bercerai. Saat ini mama berjuang sendiri lagi dan berusaha fokus untuk aku dan kairen serta hanya ingin mengelola perusahaan untuk bekal aku dan kairen”.
mata langit mulai berkaca-kaca, ia menahan tangisnya didepan jingga. jingga memeluk nya erat seolah berusaha mentransfer kekuatan yang ia miliki kepada langit. benar-benar ingin saling menguatkan dan benar-benar ingin saling melengkapi satu sama lainnya. Itulah yang dilakukan oleh langit dan jingga. sepasang jiwa yang pernah benar-benar terluka disembuhkan dengan cara mereka masing-masing. Berbagi ketika mereka mersa beban yang harus ditanggung terlalu berat untuk dipikul sendiri. dan menangis ketika merasa sesuatu itu perlu untuk ditangisi. Langit pun memeluk erat tubuh mungil Jingga seakan tak rela moment-moment seperti ini begitu cepat berlalu dan dicuri oleh sang waktu.
senja
sudah hadir, keduanya sudah berada dirumah jingga. mama Jingga menawarkan untuk
makan malam bersama. Langit seolah telah menjadi bagian baru di keluarga
Jingga. orang tua Jingga yang selama ini mendambakan seorang anak laki-laki
seolah memperoleh anak baru yaitu Langit. mereka memperlakukan langit
seperti anak mereka sendiri. Jingga
tersenyum lega ketika orang tuanya bisa menerima kehadiran Langit. Langit bukan
saja orang pertama yang bisa menggantikan posisi Rachel tapi ia juga cowok
pertama yang Jingga cintai.
setelah selesai makan malam dan ngobrol sebentar bersama orang tua jingga, Langit pamit untuk pulang. jingga mengantar langit ke gerbang rumahnya. Disana ada sepasang hati yang tidak rela untuk segera berpisah. Masih ada keinginan untuk mengulang canda dan kebersamaan yang terjadi pada hari ini. Langit seolah mengerti bahasa tubuh jingga dan paham makna ekspresi wajahnya. Iya memeluk jingga dan kemudian menggenggam tangan jingga.
“sudah gak usah manyun gitu dong, besok pawang buaya bakal main kesini lagi bawa kucing terbang.hehehe”. ujar Langit sambil mengusap pipi jingga lembut.
“janji ya besok main lagi, awas kalau gak datang. Aku marah!!” ancam jingga.
“iya, besok siap-siap ya, aku mau kenalin kamu sama mama dan kairen. Jadi dandan yang cantik ya nona manis. Hehe”.
“aku kan tanpa dandan udah cantik. Oke deh besok aku bakal dandan mirip Barbie ya”.
“hahaha. Mana ada Barbie matanya item gosong kayak gini. Ya udah jangan manyun. Aku pulang dulu ya jingga”. sebuah kecupan mendarat mesra di kening jingga.
“yah ada pembuka ada penutup nih dasar!!. Hehehe”
langit hanya tertawa mendengar seruan jingga. “hati-hati ya Langit” teriak jingga ketika perlahan-lahan motor langit berlalu menjauh dari rumahnya. Jingga pun masuk kerumah dan beristirahat. Mencoba mengulang kembali hari-hari nya yang indah di dalam mimpi.
setelah selesai makan malam dan ngobrol sebentar bersama orang tua jingga, Langit pamit untuk pulang. jingga mengantar langit ke gerbang rumahnya. Disana ada sepasang hati yang tidak rela untuk segera berpisah. Masih ada keinginan untuk mengulang canda dan kebersamaan yang terjadi pada hari ini. Langit seolah mengerti bahasa tubuh jingga dan paham makna ekspresi wajahnya. Iya memeluk jingga dan kemudian menggenggam tangan jingga.
“sudah gak usah manyun gitu dong, besok pawang buaya bakal main kesini lagi bawa kucing terbang.hehehe”. ujar Langit sambil mengusap pipi jingga lembut.
“janji ya besok main lagi, awas kalau gak datang. Aku marah!!” ancam jingga.
“iya, besok siap-siap ya, aku mau kenalin kamu sama mama dan kairen. Jadi dandan yang cantik ya nona manis. Hehe”.
“aku kan tanpa dandan udah cantik. Oke deh besok aku bakal dandan mirip Barbie ya”.
“hahaha. Mana ada Barbie matanya item gosong kayak gini. Ya udah jangan manyun. Aku pulang dulu ya jingga”. sebuah kecupan mendarat mesra di kening jingga.
“yah ada pembuka ada penutup nih dasar!!. Hehehe”
langit hanya tertawa mendengar seruan jingga. “hati-hati ya Langit” teriak jingga ketika perlahan-lahan motor langit berlalu menjauh dari rumahnya. Jingga pun masuk kerumah dan beristirahat. Mencoba mengulang kembali hari-hari nya yang indah di dalam mimpi.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar