binar senja sudah terlihat menuju tempat peristirahatannya. dan kemudian sang rembulan bersama para bintang menggantikan tugasnya. mentari terlihat lelah. sudah seharian ia menari bersama langit dan bersama burung-burung yang mencoba menembus awan. kau yang duduk disebelahku mampu melihat nya. kita masih melihat senja berlalu dan menatap nya bersama-sama. kau menatapku, lalu tersenyum "kau sama indahnya dengan senja yang tergantung dilangit itu" gumam mu memujiku. "kau bohong! seruku, mana mungkin aku mampu mengalahkan indahnya sang senja. "hati mu mampu mengalahkannya". aku hanya mampu tersenyum mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir indahnya.
"apa kau masih ingat kejadian hari itu ?" suara mu tiba-tiba mengejutkan ku yang sedang terbuai dengan ranumnya sang senja. "apa?" sahutku singkat. "kau lupa ? hari itu, hari dimana kau dan aku terikat menjadi satu ?" bukankah tanggalnya sama seperti saat ini ?" gumammu mengingatkanku. aku terbeliak, mataku menyipit dan dalam hati aku mengutuk diriku yang sudah mulai pikun. bahkan usiaku saat ini masih sangat belia untuk satu kata itu "pikun". atau aku hanya lupa, bukankah lupa tidak ada obatnya, ahh sudahlah semakin aku membahasnya semakin aku meraa bersalah.
aku menatap dia yang kini mulai merapatkan posisi duduknya denganku. ada guratan kecewa diwajahnya. matanya muai redup, ahh aku menghancurkan hari ini. dengan rasa bersalah aku menatapnya. mencoba meminta maaf atas kesalahan fatal yang ku lakukan. "kau marah padaku ? maaf karena aku lupa soal ini, dan soal hari ini!. bukankah kau yang mengatakannya padaku, tak penting bagaimana cara kita memaknai hari jadi, melainkan bagaimana kita menjalankan hari-hari sebagai sepasang yang telah dijadikan oleh Tuhan". kau hanya memandang wajahku, lalu menghadap ke atas, kembali menatap langit yang mulai gelap. sesaat kemudian telunjuk mu mengarah pada salah satu bintang yang paling terang namun hanya bercahaya sendirian dan jauh dari bintang lainnya lalu kau menatap mata ku "aku tak marah padamu, kau benar sayang, cinta bukan bagaimana kita merayakan hari jadi. melainkan bagaimana kita menjalani hari-hari kita sebagai sepasang yang telah di jadikan Tuhan". kau bergumam sambil menunjuk kearah bintang itu, dan aku penasaran. "untuk apa menunjuk bintang itu". kau hanya tersenyum dan memelukku, semakin lama pelukmu semakin erat. aku tak mengerti apa yang terjadi padamu, yang kurasa ada sesuatu yang membuatmu gelisah. "kelak aku akan sama seperti bintang itu, bercahaya namun menyendiri, aku memang berada dikeramaian, namun semua pasti sepi. tanpa mu, tanpa pelukanmu, tanpa senyumanmu, dan bahkan tanpa omelan mu yang telah mewarnai hari-hariku selama ini". kata-katamu membuatku semakin kebingungan, aku mencoba mencari-cari makna perkataanmu, namun tak ku temukan. lalu aku berusaha bertanya, berharap kau menjelaskannya padaku. "aku tak mengerti, apa maksudmu. bukannya aku selalu disini. bukannya aku selalu untukmu, selalu membuka telinga ketika kau butuh didengarkan, dan selalu melebarkan tangan ketika kau butuh pelukkan ?". kau hanya terdiam, dan menatap mataku dalam-dalam. aku benci menatap matamu!, kau tau kenapa ?. karena matamu begitu mudah meluluhkan ku, mata mu dengan mudahnya mencuri sebanyak-banyaknya cinta yang kupunya. semakin dalam kau menatapku, semakin sulit aku terlepas darimu. aku benar-benar kecanduan. siapa dirimu sebenarnya ? kau bahkan melebihi zat adiktif yang digencar-gencarkan oleh ahli-ahli biologi dan kimia.
kau masih terdiam, tak ada kata-kata yang bergeming dari mulutmu. aku masih menunggu. dengan sabar menunggu kau menjelaskan hal itu padaku. kau mulai berbicara, dengan bahasa tubuhmu. aku tau kau resah. tapi apa? bisa kau jelaskan padaku?. "aku akan pergi, setidaknya berpisah ratusan kilometer darimu. apa kau bisa menjaga dirimu ? apa kau bisa menjaga cinta yang ku tinggalkan disini, dihatimu ?". kau mengatakannya dengan begitu siap. apa semua ini telah kau rencanakan ?. kau tau apa rasanya mendengarkan hal itu ?. tidak! bahkan kau tak akan pernah merasakan nya. aku hanya mampu terdiam, tak mampu menjawab banyak. seluruh sel-sel tubuhku masih mencoba mencerna kata-kata yang barusan kau ucapkan. memoriku mengulang kata-katamu berkali-kali. cukup! aku muak, ini begitu sulit. bagaimana mungkin kau yang biasanya hadir disini, disisiku dan bahakan berjalan bersamaku tiba-tiba menghilang, menjauh, dan bahkan berjarak ?. bagaimana mungkin kau yang tak pernah terlepas dari bidikan mataku tiba-tiba menghilang ?
"ini lelucon ?" tanyaku mencoba meyakinkan semuanya. "tidak!" sahutmu singkat. aku bergeming, kembali melihat langit. inikah waktunya untuk berpisah ? atau inikah waktu yang sedang mengujiku ?. kau mencoba meyakinkan ku, kau bilang semuanya tak akan seburuk yang aku perkirakan. mengapa tidak berani mencoba, seru hati kecilku. "aku siap! aku bisa! dan aku akan mencoba kuat, berapa lama kau pergi ?". kau mulai tersenyum kembali, mungkin itu senyum terakhir yang kulihat. "kupikir hanya untuk beberapa saat. mungkin akan sedikit lebih lama. namun aku janji, aku pasti mengunjungi mu disini". lengan ku tak lagi kuat bertahan, aku memelukmu dan berharap kau bisa merasakan resah yang kurasakan. meskipun semuanya tak mungkin lagi tercegah, kepergianmu pasti akan membuatku harus menyesuaikan diri kembali. aku harus beradaptasi dengan keadaan baru. keadaan dimana tanpa melihat dan mendengar bahkan menyentuhmu.
"kembali secepatnya" gumamku terisak dalam pelukmu. kau memelukku dengan erat lalu membisikkan sesuatu ditelingaku, "aku janji, secepatnya akan kembali. sabar menungguku disini, dan aku akan berjuang mengalahkan jarak disana". kupikir semuanya cukup. kejadian ini membuatku mengerti bahwa cinta bukan berarti harus selalu melihat, harus selalu mendengar dan harus selalu saling bersentuhan.
keadaan telah mengajarkanku bahwa cinta soal perasaan, bukan soal fisik, materi, atau yang lainnya. terkadang kita memang membutuhkan kenyamanan, namun semuanya bisa terwujud, bahkan dirimu sendiri mampu membuat kenyamanan untukmu. bahkan jarak juga terkadang merasakan bagaimana seseorang yang merindukan pasangannya. dan waktu akan menjadi malaikat yang berjuang mempertemukan keduanya~
"apa kau masih ingat kejadian hari itu ?" suara mu tiba-tiba mengejutkan ku yang sedang terbuai dengan ranumnya sang senja. "apa?" sahutku singkat. "kau lupa ? hari itu, hari dimana kau dan aku terikat menjadi satu ?" bukankah tanggalnya sama seperti saat ini ?" gumammu mengingatkanku. aku terbeliak, mataku menyipit dan dalam hati aku mengutuk diriku yang sudah mulai pikun. bahkan usiaku saat ini masih sangat belia untuk satu kata itu "pikun". atau aku hanya lupa, bukankah lupa tidak ada obatnya, ahh sudahlah semakin aku membahasnya semakin aku meraa bersalah.
aku menatap dia yang kini mulai merapatkan posisi duduknya denganku. ada guratan kecewa diwajahnya. matanya muai redup, ahh aku menghancurkan hari ini. dengan rasa bersalah aku menatapnya. mencoba meminta maaf atas kesalahan fatal yang ku lakukan. "kau marah padaku ? maaf karena aku lupa soal ini, dan soal hari ini!. bukankah kau yang mengatakannya padaku, tak penting bagaimana cara kita memaknai hari jadi, melainkan bagaimana kita menjalankan hari-hari sebagai sepasang yang telah dijadikan oleh Tuhan". kau hanya memandang wajahku, lalu menghadap ke atas, kembali menatap langit yang mulai gelap. sesaat kemudian telunjuk mu mengarah pada salah satu bintang yang paling terang namun hanya bercahaya sendirian dan jauh dari bintang lainnya lalu kau menatap mata ku "aku tak marah padamu, kau benar sayang, cinta bukan bagaimana kita merayakan hari jadi. melainkan bagaimana kita menjalani hari-hari kita sebagai sepasang yang telah di jadikan Tuhan". kau bergumam sambil menunjuk kearah bintang itu, dan aku penasaran. "untuk apa menunjuk bintang itu". kau hanya tersenyum dan memelukku, semakin lama pelukmu semakin erat. aku tak mengerti apa yang terjadi padamu, yang kurasa ada sesuatu yang membuatmu gelisah. "kelak aku akan sama seperti bintang itu, bercahaya namun menyendiri, aku memang berada dikeramaian, namun semua pasti sepi. tanpa mu, tanpa pelukanmu, tanpa senyumanmu, dan bahkan tanpa omelan mu yang telah mewarnai hari-hariku selama ini". kata-katamu membuatku semakin kebingungan, aku mencoba mencari-cari makna perkataanmu, namun tak ku temukan. lalu aku berusaha bertanya, berharap kau menjelaskannya padaku. "aku tak mengerti, apa maksudmu. bukannya aku selalu disini. bukannya aku selalu untukmu, selalu membuka telinga ketika kau butuh didengarkan, dan selalu melebarkan tangan ketika kau butuh pelukkan ?". kau hanya terdiam, dan menatap mataku dalam-dalam. aku benci menatap matamu!, kau tau kenapa ?. karena matamu begitu mudah meluluhkan ku, mata mu dengan mudahnya mencuri sebanyak-banyaknya cinta yang kupunya. semakin dalam kau menatapku, semakin sulit aku terlepas darimu. aku benar-benar kecanduan. siapa dirimu sebenarnya ? kau bahkan melebihi zat adiktif yang digencar-gencarkan oleh ahli-ahli biologi dan kimia.
kau masih terdiam, tak ada kata-kata yang bergeming dari mulutmu. aku masih menunggu. dengan sabar menunggu kau menjelaskan hal itu padaku. kau mulai berbicara, dengan bahasa tubuhmu. aku tau kau resah. tapi apa? bisa kau jelaskan padaku?. "aku akan pergi, setidaknya berpisah ratusan kilometer darimu. apa kau bisa menjaga dirimu ? apa kau bisa menjaga cinta yang ku tinggalkan disini, dihatimu ?". kau mengatakannya dengan begitu siap. apa semua ini telah kau rencanakan ?. kau tau apa rasanya mendengarkan hal itu ?. tidak! bahkan kau tak akan pernah merasakan nya. aku hanya mampu terdiam, tak mampu menjawab banyak. seluruh sel-sel tubuhku masih mencoba mencerna kata-kata yang barusan kau ucapkan. memoriku mengulang kata-katamu berkali-kali. cukup! aku muak, ini begitu sulit. bagaimana mungkin kau yang biasanya hadir disini, disisiku dan bahakan berjalan bersamaku tiba-tiba menghilang, menjauh, dan bahkan berjarak ?. bagaimana mungkin kau yang tak pernah terlepas dari bidikan mataku tiba-tiba menghilang ?
"ini lelucon ?" tanyaku mencoba meyakinkan semuanya. "tidak!" sahutmu singkat. aku bergeming, kembali melihat langit. inikah waktunya untuk berpisah ? atau inikah waktu yang sedang mengujiku ?. kau mencoba meyakinkan ku, kau bilang semuanya tak akan seburuk yang aku perkirakan. mengapa tidak berani mencoba, seru hati kecilku. "aku siap! aku bisa! dan aku akan mencoba kuat, berapa lama kau pergi ?". kau mulai tersenyum kembali, mungkin itu senyum terakhir yang kulihat. "kupikir hanya untuk beberapa saat. mungkin akan sedikit lebih lama. namun aku janji, aku pasti mengunjungi mu disini". lengan ku tak lagi kuat bertahan, aku memelukmu dan berharap kau bisa merasakan resah yang kurasakan. meskipun semuanya tak mungkin lagi tercegah, kepergianmu pasti akan membuatku harus menyesuaikan diri kembali. aku harus beradaptasi dengan keadaan baru. keadaan dimana tanpa melihat dan mendengar bahkan menyentuhmu.
"kembali secepatnya" gumamku terisak dalam pelukmu. kau memelukku dengan erat lalu membisikkan sesuatu ditelingaku, "aku janji, secepatnya akan kembali. sabar menungguku disini, dan aku akan berjuang mengalahkan jarak disana". kupikir semuanya cukup. kejadian ini membuatku mengerti bahwa cinta bukan berarti harus selalu melihat, harus selalu mendengar dan harus selalu saling bersentuhan.
keadaan telah mengajarkanku bahwa cinta soal perasaan, bukan soal fisik, materi, atau yang lainnya. terkadang kita memang membutuhkan kenyamanan, namun semuanya bisa terwujud, bahkan dirimu sendiri mampu membuat kenyamanan untukmu. bahkan jarak juga terkadang merasakan bagaimana seseorang yang merindukan pasangannya. dan waktu akan menjadi malaikat yang berjuang mempertemukan keduanya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar