Kamis, 07 Februari 2013

Langit untuk Jingga #2



       Sudah seminggu jingga melalui hari-hari disekolahnya, dan masih saja sama seperti hari-hari sebelumnya. Jingga masih enggan untuk membuka dunianya bagi orang-orang asing itu. jingga takut jatuh kedua kalinya. Jingga tak ingin ada rasa sakit saat harus ditinggalkan ketika ia sudah benar-benar bertumpu pada sesorang. Hanya pada chia ia berani membuka dirinya, itu pun hanya sebatas teman berbincang saat disekolah. Jingga belum berani melangkah terlalu jauh untuk menceritakan semuanya pada chia, baginya chia tetap saja masih asing.
       Perselisihan antara jingga dan sang iblis pun menjadi sangat sengit, apalagi dibidang akademik, jingga tak pernah mau kalah dengan sang iblis. Meskipun sang iblis terlihat biasa-biasa saja, ternyata otaknya ok juga. Hari ini ada ulangan fisika di kelas jingga. Malam harinya jingga mati-matian belajar agar mampu mendapatkan nilai sempurna, dan bisa mengalahkan si iblis tengik itu. jingga melotot kan matanya, berusaha berkonsentrasi pada buku fisikanya. Namun tetap saja tak bisa, bayang-bayang wajah si iblis melintas dikepalanya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
Bu ratna guru fisika mereka masuk kelas tepat pukul 7.20. sebelumnya meja sudah di atur sedemikian rupa agar tidak ada satupun siswa yang saling mencontek. Sepertinya bu ratna belum puas dengan susunan meja tersebut, maka bu ratna pun menyusun nya sesuai daftar absen. Sialnya jingga harus duduk tepat di depan si iblis. Oh iya sampai saat ini jingga belum tau siapa nama cowok itu, baginya tak penting siapapun nama cowok itu, jingga tetap saja ingin memanggilnya iblis. Jingga sedang menerka-nerka, mungkin saja huruf awal nama si iblis K atau L karena kedua huruf itu adalah huruf setelah J.
Kertas soal dan jawaban sudah mulai dibagikan, jantung jingga dag dig dug melihat soal tersebut. Tak ada satu rumus yang ia hafal yang masuk dalam soal tersebut. Pikirannya buntu, dengan hati-hati ia melirik kea rah teman-temannya. Semua sedang sibuk mengerjakan soal. Lalu jingga melirik kea rah sang iblis.  Ternyata ia juga sama pusing nya dengan jingga. Dalam hati jingga bersorak  “yeah, akhirnya kau sama bodohnya dengan aku” . senyum sinis jingga mengakhiri lirikan nya pada sang iblis. Dengan sisa-sisa ingatan yang ia punya ia mengerjakan soal itu. walaupun ia tidak yakin rumus yang ia gunakan benar atau salah. Sang iblis lebih cepat 5 menit mengerjakan soal ulangan dibandingkan jingga. Jingga terperangah seperti orang bodoh ketika melihat si iblis dengan mantapnya maju kedepan dan mengumpulkan lembar jawabannya. Saat si iblis berpaling kebelakang reflek jingga langsung pura-pura fokus pada jawabannya dan pura-pura mengecek nya kembali.
Waktu ulangan hanya tersisa 15 menit lagi, sebelum mengumpulkan jawabannya jingga melakukan doa salam maria sebanyak 3 kali. Serta ia memohon pada tuhan agar semua soal yang ia jawab benar walaupun ia tak yakin bisa begitu. Chiara melirik jingga yang sedang komat-kamit seperti mengucapkan mantra, ia tersenyum menahan tawa sambil menggigit bibir bawahnya. Doa permohonan selesai, jingga dengan mantap dan tanpa ragu maju kedepan untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Hilang sudah bebannya untuk hari ini. Jingga tersenyum puas dan lega.
Saat istirahat jingga dan chiara seperti biasa menuju kantin bersamaan. Namun chia tak ingin melewati lorong kelas. Ia sengaja melewati pinggir lapangan basket untuk merencanakan sesuatu pada sang iblis. (sebenarnya sekarang siapa yang iblis sih, okeh lanjut :D). jingga menatap si iblis lekat-lekat seolah ingin menelannya bulat-bulat. Sesungguhnya si iblis sudah mulai bersikap lebih tenang pada jingga. Namun entah kenapa jingga seakan tidak rela untuk menghentikan perang sengit diantara mereka.  Sang iblis melirik kearah jingga lalu tersenyum sinis, bola basket yang ada ditangannya langsung saja ia lemparkan kearah kaki jingga. Akibat dari perbuatannya jingga hampir saja jatuh. Untung ada chiara yang menolongnya. Si iblis tersenyum puas dengan hasil perbuatannya. Jingga meliriknya tajam, wajahnya merah menahan marah dan malu. Untung saja hanya ada beberapa murid yang melihat kejadian itu. emosi jingga memuncak, akhirnya ia memberanikan diri mendekati si iblis.
“ehh, kalau gak senang bilang dong gak usah gitu juga caranya.  jadi banci aja sana, beraninya ama cewek” cerocos jingga panjang kali lebar.
“loh emang kamu merasa aku ngelempar bola itu ke kamu ?, kok malah marah-marah, dasar cewek aneh” balas si iblis sambil senyum-senyum.
“enak aja ngatain aku aneh, kamu tu yang aneh, ngajak berantem bilang. Sini deh, kamu pikir aku takut sama kamu ?. Udah jelas-jelas salah masih ngeles” sahut jingga dengan beraninya.
“oke-oke aku minta maaf deh, sebagai cowok tulen aku minta maaf sama cewek yang sangat cerewet ini” gumam si iblis sambil menjulurkan tangannya meminta maaf.
“maaf-maaf, makan tu maaf. Kamu pikir maaf kamu bisa nyembuhin kaki aku ?”. setelah itu jingga meninggalkan si iblis, dengan kaki yang sedikit pincang ia berjalan menuju kantin. Chiara masih takjub melihat dan mendengar kejadian yang baru saja berlalu. Tidak biasanya ia mendengarkan kata-kata sepanjang itu keluar dari mulut jingga. Jingga yang biasa ngomong hanya seperlunya tiba-tiba mengeluarkan kata-kata yang cukup banyak.
“chia” sapa jingga sambil mengguncang tubuh chiara.
“haah, iya jingga maaf-maaf, kaki kamu gimana ? perlu perawatan di UKS gak ?” balas chia yang baru sadar.
“gak perlu kok, aku mau ke kelas” sahut jingga.
“ya udah aku beliin minuman dulu ya habis itu kita kekelas”. Chia pun menuju tempat pemesanan minuman lalu memesan 2 botol minuman dan memberikannya pada jingga. Setelah itu chia membantu jingga berjalan menuju kelas.
Saat tiba dikelas, suasana kelas masih sangat sepi. Chia membantu jingga duduk dikursi. Dengan hati-hati jingga melihat kakinya, ternyata sedikit memar karena lemparan si iblis cukup keras.
“jingga, kamu aku tinggal sebentar ya, aku mau ke wc dulu”. Gumam chiara yang buru-buru langsung menuju wc. Kini jingga hanya sendiri dikelas. Menatap kejendela. Pandangannya kembali mengurai ingatan-ingatan dimasa lalu. Ingatan bersama Rachel, ingatan bersama alena. Sekarang jingga benar-benar ingin menjauh dari semuanya. Bahkan alena pun ia jauhi. Ia benar-benar ingin kehidupan yang baru.
Jingga menyadari ada seseorang yang memasuki ruang kelas itu. namun ia cukup enggan memalingkan pandangan dari jendela. Jingga merasa orang itu mendekat. Dari bau tubuhnya itu bukan chia, lalu siapa ?. tak biasanya ada orang yang mau mendekati jingga. Mereka berfikir jingga adalah cewek aneh, bahkan terkesan idiot dengan sikapnya yang sering diam dan bisu. “jingga, aku minta maaf ya soal yang tadi, aku benar-benar ngaku kalau aku salah”. sebuah suara datang dari arah belakang jingga. Jingga mengenalnya. Ya itu suara si iblis. Jingga tak menghiraukannya, ia masih sangat kesal pada si iblis.
“jingga, aku udah minta maaf. Masa kamu gak mau maafin aku”. Ujar si iblis sedikit memohon. Namun tetap saja jingga tak sedikitpun memalingkan wajah pada si iblis. Setelah berkali-kali meminta maaf namun tidak ada respon dari jingga, akhirnya si iblis memilih meninggalkan jingga dan kembali kemejanya.
Jam pulang sekolah pun tiba, jingga memilih untuk pulang terakhir. Sebelumnya ia tela menelfon mamanya memberitahu bahwa jingga ingin pulang sendiri menggunakan taxi. Jingga berjalan menelusuri lorong demi lorong. Setelah tiba digerbang sekolah, ia berdiri menunggu taxi. Setengah jam ia menunggu tak ada satupun taxi yang lewat. Kaki nya sudah keram berdiri. Tiba-tiba dari arah belakang jingga mendengar suara motor mendekat. Ia sangat takut, Isu-isu geng motor di daerahnya cukup membuat ia menjadi paranoid. Suara itu berhenti tepat di dekat jingga, jingga semakin takut. Tangannya mendingin.
“jingga” sapa pengendara motor itu. jingga sangat mengenal suara itu, si iblis pastinya.
“mau apaan lagi sih ? belum cukup buat kaki aku memar ? sekarang mau nakut-nakutin aku dengan belagak seperti  anggota genk motor dengan ninja kamu itu ?” jawab jingga ketus.
“eh mpok nori, kamu itu bisa gak sih sedikit aja positif thinking sama aku. Oke aku emang buat kamu memar tadi. Tapi ngapain juga sekarang aku nakut-nakutin kamu,gak untung. Malah rugi tau gak. Kalau kamu pingsan kan aku juga yang repot” sahut si iblis luas bagi lebar sama dengan panjang.
“jadi kamu mau apa hah ? udah deh percuma mau minta maaf. Gak ada maaf buat kamu. Ngerti!!!” jingga pun berlalu dengan langkah yang sedikit pincang (pincang dibuat-buat soalnya sebenernya kaki jingga udah gak kenapa-kenapa). Jingga melakukan itu agar si iblis semakin merasa bersalah.  Si iblis mencoba mengejar jingga dan menawarkan jasa nya pada jingga.
“oke,oke sebagai tanda kalau aku tulus minta maafnya, aku mau deh ngelakuin apa aja yang kamu suruh” seru si iblis menarik lengan jingga.
“apa sih narik-narik, lepasin. Sakit tau. Oke kalau kamu maunya begitu. Selama seminggu kamu harus jadi kacung aku” seru jingga menerima tantangan dari si iblis.
“apa kacung?? Enak aja” iblis menimpali, merasa harga dirinya terancam direndahkan.
“dasar cowok idiot, tadi kamu yang nantangin, mau dimaafin gak sih ? kalau gak mau ya udah pergi jauh-jauh sono!!!” sahut jingga sambil mendorong tubuh si iblis.
“oke-oke aku bakal jadi KACUNG kamu selama seminggu” si iblis member penegasa pada kata Kacung.
“oke, sekarang berhubung dari tadi aku nunggu taxi tapi gak ada yang nongol jadi kamu sebagai KACUNG aku harus ngantarin aku sekarang juga” ujar jingga merasa dirinya menang.
“oke, kemana KACUNG harus mengantar tuan putri?”
“udah deh gak usah sok belaga nerima diri jadi kacung, antarin aku ke pemakaman umum Kristen sekarang”. Dengan ketus jingga menarik tangan si iblis menuju motor sang iblis.
“mau ngapain ke pemakaman ? kamu mau nguburin aku ?” Tanya si iblis kebingungan.
“udah deh, gak usah banyak nanya. Ntar kamu bakal tau juga ayo jalan” sahut jingga sambil memakai helm yang di sodorkan oleh si iblis. Jingga kemudian naik ke motor dan duduk manis menunggu hingga motor si iblis membawanya tiba di pemakaman
****


3 komentar: