Kamis, 21 Maret 2013

Aku Bukan Dirinya. #1


karena aku adalah aku, sampai kapanpun aku tak akan pernah mampu menjadi dia dan kepribadian ku tak akan bisa menyamai kepribadian nya kami berbeda~


Cairan itu tumpah begitu saja membasahi seragam kebangsaan sosok dingin dengan tubuh tinggi tersebut, untung bukan cairan berbahaya. Hanya alcohol biasa. Setidaknya alcohol tersebut menyebabkan noda kekuningan pada seragamnya. di ‘lorong laboratorium’ sepertinya tidak ada tempat yang lebih romantis dibandingkan sebuah lorong laboratorium sehingga mereka harus bertemu di tempat seperti itu. dua anak manusia dari pribadi yang berbeda itu dipertemukan oleh sebuah lorong yang sangat berjasa. Giselia velma dan Giovano dirga dua orang yang sangat jauh berbeda. Gisel sendiri merupakan sosok yang ramah, kritis, tegas, dan selalu teguh dengan komitmennya. Sikapnya yang sedikit sinis dan memiliki argument yang kuat membuatnya terkesan sangat keras kepala. Sedangkan giovano sendiri merupakan sosok yang tak mau tau, cuek, bahkan terkesan acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar nya. 
Gisel yang tak sengaja menumpahkan cairan itu segera membungkuk meminta maaf.
“aduh maaf-maaf aku gak sengaja. Maaf banget lagi buru-buru soalnya”
“aduh lain kali hati-hati dong. Baju aku basah ni, kotor lagi”
“duh, gimana ya. Gini aja deh kamu bawa baju ganti kan ? nanti pulang sekolah bawa aja baju kamu ke kelas aku, nanti bakal aku cuciin”
“yaudah deh, lain kali hati-hati ya! Untung bukan larutan berbahaya, kalau kagak bisa hangus kulit ku”
“makasih banget, sekali lagi maaf ya udah buat baju kamu kotor. Maaf aku buru-buru. Aku harus ke laboratorium sekarang. Kelas aku ada di lantai dua sebelah perpustakaan. 11 Ipa 2”
Sosok gisel pun berlalu dan segera hilang tertelan oleh pintu laboratorium yang tertutup dengan cepat. Gio dengan baju yang berlumur noda alkohol segera menuju wc dan berusaha menghilangkan noda itu. sedikit berhasil namun tetap saja terlihat noda kekuningan itu di bajunya.
Tepat setelah bunyi “kriinngg” dari toa yang terdapat di tiap sudut gedung sekolah itu dibunyikan gio pun buru-buru turun kelantai dua ia membaca plangkat papan nama di tiap-tiap pintu kelas demi menemukan sebuah ruangan. Sepertinya tidak sulit untuk menemukannya karena kelas yang ia tuju tepat berada disebelah perpustakaan. Gio mencari-cari sosok itu, sosok yang tadi berjanji akan bertanggungjawab dengan perbuatan yang telah ia lakukan pada seragam gio.
“heei, eehh, ini aku Cuma mau ngasih seragam aku yang kata kamu bakal kamu bersihin” gumam gio membuka percakapan.
“eeh iya, oke aku bersihin hari ini terus besok bakal aku antarin ke kelas kamu”
“oh, oke di 12 ipa 1” seru gio sembari menunjuk kearah atas gedung sekolah itu.
“sip aku tau kok, aku kan bukan anak baru disini, nama kamu gio ya ?”
Gio mengerlingkan mata “yapp, tau darimana ?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Gisel tersenyum simpul “hah, ini dari nama yang ada diseragam kamu”.
Senyum kecut gio tergaris diwajahnya  “waduh aku pikir aku terkenal banget sampai kamu tau nama aku, eeh ternyata dari baju aku, tapi yasudahlah” seru gio sembari manggaruk-garuk kulit kepalanya karena rasa kikuk yang tiba-tiba hadir menyerangnya.
Gisel hanya tertawa kemudian pamit pulang lebih dulu. Selang beberapa saat gisel berlalu, gio pun dengan tergesa-gesa melompati anak tangga demi menuju ruang musik tepat waktu walaupun ia tahu ‘tepat waktu’ hanyalah bayangan dalam hidupnya.
“kliiikkk” suara pintu ruangan yang kelihatan sudah ramai itu dibuka oleh sosok gio yang masih ngos-ngosan akibat waktu yang mengejarnya. Seisi ruangan reflek memusatkan perhatian pada gio yang memcahkan suasana yang telah tercipta diruangan tersebut.
“kemana aja lu ? dari tadi ditungguin tau gak, tau jadwal latihan kan ? lu telat 15 menit dari waktu yang udah ditentuin gio”. Celoteh seorang cowok berambut gondrong yang kerap disapa kiki oleh teman-temannya.
“sory ki, gua ada urusan dulu tadi “.
“alah urusan apa ? cewek lagi kan ? mau sampai kapan sih lu jadi playboy cap teri ?”
Gio yang kesal langsung mengambil gitar dan mulai berlatih sendiri “lu bisa diam gak, playboy itu masa lalu gua, gak usah lu ungkit lagi. Lagian baru kali ini kan gua telat”.
“yaaap bener banget, baru kali ini lu telat Cuma 15 menit, biasa nya setengah jam. Lagian kapan sih lu bisa ngehargain waktu sedikit aja, paling enggak konsisten dong sama jadwal latihan. Kalau lu mau telat ngedate ama cewek-cewek lu ya silahkan aja, tapi enggak buat latihan!”
“terserah lu deh, gua udah bilang gua ada urusan. Makan tuh jadwal latihan ama lu. Lu cari aja gitaris baru, gua udah malas gabung ama lu!”
“yaudah sana lu pergi jauh-jauh! Gua juga udah capek ngadepin sikap lu yang acuh gak acuh. Lu pikir lu bisa ngedapetin apa yg elu mau kalau lu masih mempertahankan sifat buruk lu itu. makan tuh cuek ama lu”.
Gio membuka pintu ruangan musik itu dengan kasar lalu membantingnya dengan keras. Pikirannya kacau seketika. Ia tak mengerti mengapa semua orang tak pernah memahaminya. Ia hanya butuh sesorang yang benar-benar paham pendiriannya sebagai laki-laki. Ia tak suka komitmen ataupun aturan ia hanya ingin bebas.
****
Gisel berlari kecil menelusuri lorong demi lorong lantai terakhir gedung itu. matanya hanya tertuju pada satu ruangan ’12 Ipa 1’, yaa kelas yang terletak paling ujung itu yang akan menjadi tujuannya kali ini. Ia berdiri di depan pintu kecokelatan itu kemudian melongokkan kepalanya kedalam ruangan, berharap segera menemukan yang ia cari. Saat matanya masih liar mencari-cari sebuah sentuhan dari arah belakang mengagetkannya membuatnya secara reflek membalikkan tubuhnya.
“eeh, kak gio. Aku kirain siapa tadi”.
“aku ngagetin kamu ya ? hahaha”.
“banget! Oh iya ini sbajunya udah aku bersihin. Sekali lagi maaf banget ya kak”
“iya, udah di maafin kok tenang aja, jangan melas gitu dong mukanya. sekarang udah panggil kakak ya ? semalam masih ‘kamu’ deh perasaan. Hahaha.”
“hahaha. Iya biar rada sopanan dikit, baru tau semalam kalau kakak itu udah kelas 12. Tua”.
“jiah, tua ? umur boleh tua tapi muka always muda dong. Hahah, oh iya nama kamu siapa ?”.
Gisel berdehem kemudian mengulurkan tangan kanannya “ eheem, giselia velma, kakak gak tau ? padahal aku kan adik kelas paling top disekolah ini”.
Gio menyambut tangan gisel dan kemudian mereka tertawa sangat keras, sehingga murid-murid lain yang ada disekitar mereka serentak memalingkan wajah kearah mereka berdua.
“kak itu ketawa apa suara bom atom ? liat tuh orang-orang pada liatin kita”.
“bukan kamu salah, ini suara raksasa buto ijo lagi kentut”. Telapak tangan gio segera menutup mulut gisel yang hendak tertawa karena ulahnya sendiri.
“udah ah kak, lama-lama aku disini bisa terdaftar jadi salah satu penghuni RSJ, mending aku balik ke kelas aku aja deh, bahaya ngumpul sama kakak kelas sarap kayak kak gio mah”.
“hahahaha. Yaelah sarap-sarap gini tapi cakep kan ?. aku juga baru tau kalau adek kelas tersarap itu kamu, pantes aja terkenal”.
“makasih kak gio”. Gumam gisel singkat yang kemudian berlari-lari kecil menyusuri beberapa lorong, dan melangkahkan kakinya untuk menuruni beberapa anak tangga. Gisel kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengikuti pelajaran dikelas, berkutat dengan buku-buku di  perpustakaan, dan kembali lagi ke laboratorium untuk melakukan percobaan yang sepertinya tak ada habis-habisnya bagi gisel. Dari kejauhan tampak seseorang dengan rambutnya yang panjang dan matanya yang sangat sipit berlari kearah gisel.
“gisel, gisel! Tunggu bentar, ini ada surat buat elu, bukan surat sih isinya dikit doang”
Gisel menyipitkan matanya, ia selalu menikmati raut wajah gita ketika kekesalan gita terpancing karena ledekan gisel mengenai matanya yang sipit itu.
“giseeellll!” suara gita melengking dan naik beberapa oktaf.
“apa gita ?" sahut gisel dengan nada manja. "lu kayak mau paduan suara aja deh. eeh dari siapa suratnya”.
“bodo ah, gak akan gua kasih tahu sebelum lu janji gak bakalan ngejekin mata sipit gua lagi”.
“hahaha. Gitu aja manyun lu, mirip sama bebek mau bertelur tuh mulut. Oke-oke gua gak akan ngeledek mata sipit lu lagi deh. tapi seriusan tuh surat buat gua ?”
“ya iyalah masa buat gua, kalau buat gua ngapain gua repot-repot ngejar elu, ini dari kakak kelas yang cakep itu loh yang semalam lu ceritain ke gua yang katanya alkohol elu gak sengaja tumpah ke baju dia”.
“oh, kak gio. Mana suratnya ? jadi penasaran gua”.
Mata sipit gita mengerling sempurna, ia mulai mengendus sesuatu yang janggal pada gisel. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat di wajah gisel. Senyum sumringah ketika mendapatkan sesuatu, padahal ini hanyalah sebuah kertas apa yang begitu spesial dari kertas begini ?.
“apaan sih liatin gua kayak gitu, siniin suratnya gita”.
“lu ngaku ama gua deh, ada apa lu sama kak gio. Hayo ngaku lu kalau gak gua ketekin ni surat”. Seru gita menggoda gisel yang senyum-senyum tak menentu.
“jorok lu! Sempat lu ketekin diari kesayanganlu gua masukin comberan, nah pilih mana ?. gita siniin suratnya dong”. Gumam gisel mencoba meraih surat tersebut dari tangan gita.
“jawab dulu lu ada sesuatu ya ama kak gio ?” selidik gita penuh rasa ingin tahu.
“iih lu kepo deh, cara satu-satunya ya gua harus……..” gisel tak meneruskan kalimatnya, tangan nya sudah lebih cepat melakukan tindakan dibandingkan mulutnya. Jemari nya yang lentik menggelitik setiap senti perut gita. Ia hanya ingin segera meraih kertas itu dari gita. Ada rasa penasaran yang terlalu dalam. Rasa penasaran yang tak biasanya gisel rasakan. Ini bukan surat pertama yang ia terima selama ia berada di sekolah itu. sudah sangat banyak surat-surat yang ia terima yang terakhir ia ketahui merupakan kiriman dari beberapa cowok yang menyukainya. Namun, surat-surat sebelumnya tak begitu menimbulkan rasa penasaran seperti yang ia rasakan saat ini. Gisel memang telah lama menyukai sosok Gio, hanya saja gio yang selama ini terlihat sangat cuek bahkan terkesan sangat dingin membuat gisel harus mundur beberapa langkah ketika harus berpapasan dengan Gio. Ditambah lagi wanita-wanita yang dekat dengan Gio bukanlah wanita sembarangan, mereka cantik, supel, dan juga cerdas. Gisel memang cerdas, namun tetap saja ia merasa minder apabila harus membandingkan dirinya dengan wanita-wanita itu.
“yeah I get it” seru gisel dengan senyum lebar di wajahnya.
“curang! Lu pakai kelemahan gua, dasar!”.
“kalau gak begitu bakal panjang urusannya, udah ah gua buru-buru. hahaha”. Tawa gisel santai.
“yah gua ikut deh, ke lab kan ? lu pasti mau baca tuh surat. Gua pengen tau”.
“yah kepo banget sih. Kalau bukan sahabat gua dari orok udah gua pidana lu, mengusik privasi orang lain. Hahaha”.
“tega lu! Gini-gini kan gua sahabat lu yang paling baik sel. Yaudah ayo ke lab sekarang gua gak sabar”. Gita menarik tangan gisel agar berjalan lebih cepat menuju laboratorium. Layaknya gita sesungguhnya gisel pun penasaran dengan isi surat tersebut. Seolah sedang membuka kardus yang berisi bom, jantung gisel berdetak lebih kencang dari biasanya. Rasa penasaran itu mengalir bersamaan dengan darahnya. “gua suka gio, ta” ucapnya lirih memandang gita. Gita pun tertawa kemudian mengusap bahu gisel. “elu berhak untuk itu sel”. Keduanya pun berpelukan layak nya sepasang sahabat yang telah berabad-abad tidak bertemu. Aneh! Memang aneh namun keanehan itulah yang membuat mereka satu. Setelah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila, keduanya bisa memancarkan mimik memelas yang terlihat sangat miris ketika sudah bersentuhan dengan perasaan. Cinta~.

******


2 komentar: