karena aku adalah aku, sampai kapanpun aku tak akan pernah mampu menjadi dia dan kepribadian ku tak akan bisa menyamai kepribadian nya kami berbeda~
Cairan
itu tumpah begitu saja membasahi seragam kebangsaan sosok dingin dengan tubuh
tinggi tersebut, untung bukan cairan berbahaya. Hanya alcohol biasa. Setidaknya
alcohol tersebut menyebabkan noda kekuningan pada seragamnya. di ‘lorong
laboratorium’ sepertinya tidak ada tempat yang lebih romantis dibandingkan
sebuah lorong laboratorium sehingga mereka harus bertemu di tempat seperti itu.
dua anak manusia dari pribadi yang berbeda itu dipertemukan oleh sebuah lorong
yang sangat berjasa. Giselia velma dan Giovano dirga dua orang yang sangat jauh
berbeda. Gisel sendiri merupakan sosok yang ramah, kritis, tegas, dan selalu
teguh dengan komitmennya. Sikapnya yang sedikit sinis dan memiliki argument
yang kuat membuatnya terkesan sangat keras kepala. Sedangkan giovano sendiri
merupakan sosok yang tak mau tau, cuek, bahkan terkesan acuh tak acuh terhadap
lingkungan sekitar nya.
Gisel
yang tak sengaja menumpahkan cairan itu segera membungkuk meminta maaf.
“aduh
maaf-maaf aku gak sengaja. Maaf banget lagi buru-buru soalnya”
“aduh
lain kali hati-hati dong. Baju aku basah ni, kotor lagi”
“duh,
gimana ya. Gini aja deh kamu bawa baju ganti kan ? nanti pulang sekolah bawa
aja baju kamu ke kelas aku, nanti bakal aku cuciin”
“yaudah
deh, lain kali hati-hati ya! Untung bukan larutan berbahaya, kalau kagak bisa
hangus kulit ku”
“makasih
banget, sekali lagi maaf ya udah buat baju kamu kotor. Maaf aku buru-buru. Aku
harus ke laboratorium sekarang. Kelas aku ada di lantai dua sebelah
perpustakaan. 11 Ipa 2”
Sosok
gisel pun berlalu dan segera hilang tertelan oleh pintu laboratorium yang
tertutup dengan cepat. Gio dengan baju yang berlumur noda alkohol segera menuju
wc dan berusaha menghilangkan noda itu. sedikit berhasil namun tetap saja
terlihat noda kekuningan itu di bajunya.
Tepat
setelah bunyi “kriinngg” dari toa yang terdapat di tiap sudut gedung sekolah
itu dibunyikan gio pun buru-buru turun kelantai dua ia membaca plangkat papan
nama di tiap-tiap pintu kelas demi menemukan sebuah ruangan. Sepertinya tidak
sulit untuk menemukannya karena kelas yang ia tuju tepat berada disebelah
perpustakaan. Gio mencari-cari sosok itu, sosok yang tadi berjanji akan
bertanggungjawab dengan perbuatan yang telah ia lakukan pada seragam gio.
“heei,
eehh, ini aku Cuma mau ngasih seragam aku yang kata kamu bakal kamu bersihin”
gumam gio membuka percakapan.
“eeh
iya, oke aku bersihin hari ini terus besok bakal aku antarin ke kelas kamu”
“oh,
oke di 12 ipa 1” seru gio sembari menunjuk kearah atas gedung sekolah itu.
“sip
aku tau kok, aku kan bukan anak baru disini, nama kamu gio ya ?”
Gio
mengerlingkan mata “yapp, tau darimana ?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.
Gisel
tersenyum simpul “hah, ini dari nama yang ada diseragam kamu”.
Senyum
kecut gio tergaris diwajahnya “waduh aku
pikir aku terkenal banget sampai kamu tau nama aku, eeh ternyata dari baju aku,
tapi yasudahlah” seru gio sembari manggaruk-garuk kulit kepalanya karena rasa
kikuk yang tiba-tiba hadir menyerangnya.
Gisel
hanya tertawa kemudian pamit pulang lebih dulu. Selang beberapa saat gisel
berlalu, gio pun dengan tergesa-gesa melompati anak tangga demi menuju ruang musik
tepat waktu walaupun ia tahu ‘tepat waktu’ hanyalah bayangan dalam hidupnya.
“kliiikkk”
suara pintu ruangan yang kelihatan sudah ramai itu dibuka oleh sosok gio yang
masih ngos-ngosan akibat waktu yang mengejarnya. Seisi ruangan reflek
memusatkan perhatian pada gio yang memcahkan suasana yang telah tercipta
diruangan tersebut.
“kemana
aja lu ? dari tadi ditungguin tau gak, tau jadwal latihan kan ? lu telat 15
menit dari waktu yang udah ditentuin gio”. Celoteh seorang cowok berambut
gondrong yang kerap disapa kiki oleh teman-temannya.
“sory
ki, gua ada urusan dulu tadi “.
“alah
urusan apa ? cewek lagi kan ? mau sampai kapan sih lu jadi playboy cap teri ?”
Gio
yang kesal langsung mengambil gitar dan mulai berlatih sendiri “lu bisa diam
gak, playboy itu masa lalu gua, gak usah lu ungkit lagi. Lagian baru kali ini
kan gua telat”.
“yaaap
bener banget, baru kali ini lu telat Cuma 15 menit, biasa nya setengah jam.
Lagian kapan sih lu bisa ngehargain waktu sedikit aja, paling enggak konsisten
dong sama jadwal latihan. Kalau lu mau telat ngedate ama cewek-cewek lu ya
silahkan aja, tapi enggak buat latihan!”
“terserah
lu deh, gua udah bilang gua ada urusan. Makan tuh jadwal latihan ama lu. Lu
cari aja gitaris baru, gua udah malas gabung ama lu!”
“yaudah
sana lu pergi jauh-jauh! Gua juga udah capek ngadepin sikap lu yang acuh gak
acuh. Lu pikir lu bisa ngedapetin apa yg elu mau kalau lu masih mempertahankan
sifat buruk lu itu. makan tuh cuek ama lu”.
Gio
membuka pintu ruangan musik itu dengan kasar lalu membantingnya dengan keras.
Pikirannya kacau seketika. Ia tak mengerti mengapa semua orang tak pernah
memahaminya. Ia hanya butuh sesorang yang benar-benar paham pendiriannya
sebagai laki-laki. Ia tak suka komitmen ataupun aturan ia hanya ingin bebas.
****
Gisel
berlari kecil menelusuri lorong demi lorong lantai terakhir gedung itu. matanya
hanya tertuju pada satu ruangan ’12 Ipa 1’, yaa kelas yang terletak paling
ujung itu yang akan menjadi tujuannya kali ini. Ia berdiri di depan pintu
kecokelatan itu kemudian melongokkan kepalanya kedalam ruangan, berharap segera
menemukan yang ia cari. Saat matanya masih liar mencari-cari sebuah sentuhan
dari arah belakang mengagetkannya membuatnya secara reflek membalikkan
tubuhnya.
“eeh,
kak gio. Aku kirain siapa tadi”.
“aku
ngagetin kamu ya ? hahaha”.
“banget!
Oh iya ini sbajunya udah aku bersihin. Sekali lagi maaf banget ya kak”
“iya,
udah di maafin kok tenang aja, jangan melas gitu dong mukanya. sekarang udah
panggil kakak ya ? semalam masih ‘kamu’ deh perasaan. Hahaha.”
“hahaha.
Iya biar rada sopanan dikit, baru tau semalam kalau kakak itu udah kelas 12. Tua”.
“jiah,
tua ? umur boleh tua tapi muka always muda dong. Hahah, oh iya nama kamu siapa
?”.
Gisel
berdehem kemudian mengulurkan tangan kanannya “ eheem, giselia velma, kakak gak
tau ? padahal aku kan adik kelas paling top disekolah ini”.
Gio
menyambut tangan gisel dan kemudian mereka tertawa sangat keras, sehingga
murid-murid lain yang ada disekitar mereka serentak memalingkan wajah kearah
mereka berdua.
“kak
itu ketawa apa suara bom atom ? liat tuh orang-orang pada liatin kita”.
“bukan
kamu salah, ini suara raksasa buto ijo lagi kentut”. Telapak tangan gio segera
menutup mulut gisel yang hendak tertawa karena ulahnya sendiri.
“udah
ah kak, lama-lama aku disini bisa terdaftar jadi salah satu penghuni RSJ,
mending aku balik ke kelas aku aja deh, bahaya ngumpul sama kakak kelas sarap
kayak kak gio mah”.
“hahahaha.
Yaelah sarap-sarap gini tapi cakep kan ?. aku juga baru tau kalau adek kelas
tersarap itu kamu, pantes aja terkenal”.
“makasih
kak gio”. Gumam gisel singkat yang kemudian berlari-lari kecil menyusuri
beberapa lorong, dan melangkahkan kakinya untuk menuruni beberapa anak
tangga. Gisel kembali melakukan aktivitas seperti biasanya. Mengikuti pelajaran
dikelas, berkutat dengan buku-buku di perpustakaan, dan kembali lagi ke
laboratorium untuk melakukan percobaan yang sepertinya tak ada habis-habisnya
bagi gisel. Dari kejauhan tampak seseorang dengan rambutnya yang panjang dan
matanya yang sangat sipit berlari kearah gisel.
“gisel,
gisel! Tunggu bentar, ini ada surat buat elu, bukan surat sih isinya dikit
doang”
Gisel
menyipitkan matanya, ia selalu menikmati raut wajah gita ketika kekesalan gita
terpancing karena ledekan gisel mengenai matanya yang sipit itu.
“giseeellll!”
suara gita melengking dan naik beberapa oktaf.
“apa
gita ?" sahut gisel dengan nada manja. "lu kayak mau paduan suara aja deh. eeh dari siapa suratnya”.
“bodo
ah, gak akan gua kasih tahu sebelum lu janji gak bakalan ngejekin mata sipit gua
lagi”.
“hahaha.
Gitu aja manyun lu, mirip sama bebek mau bertelur tuh mulut. Oke-oke gua gak
akan ngeledek mata sipit lu lagi deh. tapi seriusan tuh surat buat gua ?”
“ya
iyalah masa buat gua, kalau buat gua ngapain gua repot-repot ngejar elu, ini
dari kakak kelas yang cakep itu loh yang semalam lu ceritain ke gua yang katanya
alkohol elu gak sengaja tumpah ke baju dia”.
“oh,
kak gio. Mana suratnya ? jadi penasaran gua”.
Mata
sipit gita mengerling sempurna, ia mulai mengendus sesuatu yang janggal pada
gisel. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat di wajah gisel. Senyum sumringah
ketika mendapatkan sesuatu, padahal ini hanyalah sebuah kertas apa yang begitu spesial
dari kertas begini ?.
“apaan
sih liatin gua kayak gitu, siniin suratnya gita”.
“lu
ngaku ama gua deh, ada apa lu sama kak gio. Hayo ngaku lu kalau gak gua ketekin
ni surat”. Seru gita menggoda gisel yang senyum-senyum tak menentu.
“jorok
lu! Sempat lu ketekin diari kesayanganlu gua masukin comberan, nah pilih mana ?.
gita siniin suratnya dong”. Gumam gisel mencoba meraih surat tersebut dari
tangan gita.
“jawab
dulu lu ada sesuatu ya ama kak gio ?” selidik gita penuh rasa ingin tahu.
“iih
lu kepo deh, cara satu-satunya ya gua harus……..” gisel tak meneruskan
kalimatnya, tangan nya sudah lebih cepat melakukan tindakan dibandingkan
mulutnya. Jemari nya yang lentik menggelitik setiap senti perut gita. Ia hanya
ingin segera meraih kertas itu dari gita. Ada rasa penasaran yang terlalu
dalam. Rasa penasaran yang tak biasanya gisel rasakan. Ini bukan surat pertama
yang ia terima selama ia berada di sekolah itu. sudah sangat banyak surat-surat
yang ia terima yang terakhir ia ketahui merupakan kiriman dari beberapa cowok
yang menyukainya. Namun, surat-surat sebelumnya tak begitu menimbulkan rasa
penasaran seperti yang ia rasakan saat ini. Gisel memang telah lama menyukai
sosok Gio, hanya saja gio yang selama ini terlihat sangat cuek bahkan terkesan
sangat dingin membuat gisel harus mundur beberapa langkah ketika harus
berpapasan dengan Gio. Ditambah lagi wanita-wanita yang dekat dengan Gio
bukanlah wanita sembarangan, mereka cantik, supel, dan juga cerdas. Gisel memang
cerdas, namun tetap saja ia merasa minder apabila harus membandingkan dirinya
dengan wanita-wanita itu.
“yeah
I get it” seru gisel dengan senyum lebar di wajahnya.
“curang!
Lu pakai kelemahan gua, dasar!”.
“kalau
gak begitu bakal panjang urusannya, udah ah gua buru-buru. hahaha”. Tawa gisel
santai.
“yah
gua ikut deh, ke lab kan ? lu pasti mau baca tuh surat. Gua pengen tau”.
“yah
kepo banget sih. Kalau bukan sahabat gua dari orok udah gua pidana lu, mengusik
privasi orang lain. Hahaha”.
“tega
lu! Gini-gini kan gua sahabat lu yang paling baik sel. Yaudah ayo ke lab
sekarang gua gak sabar”. Gita menarik tangan gisel agar berjalan lebih cepat
menuju laboratorium. Layaknya gita sesungguhnya gisel pun penasaran dengan isi surat
tersebut. Seolah sedang membuka kardus yang berisi bom, jantung gisel berdetak
lebih kencang dari biasanya. Rasa penasaran itu mengalir bersamaan dengan
darahnya. “gua suka gio, ta” ucapnya lirih memandang gita. Gita pun tertawa
kemudian mengusap bahu gisel. “elu berhak untuk itu sel”. Keduanya pun
berpelukan layak nya sepasang sahabat yang telah berabad-abad tidak bertemu. Aneh!
Memang aneh namun keanehan itulah yang membuat mereka satu. Setelah tertawa
terbahak-bahak seperti orang gila, keduanya bisa memancarkan mimik memelas yang
terlihat sangat miris ketika sudah bersentuhan dengan perasaan. Cinta~.
******
kak,, sekalian aja bukan dia tapi aku...
BalasHapusbukan itu judulnya -__-
BalasHapus